Amaliyah Tadries Ikhtibariyah (ATI)

ATITMI – Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mencetak Guru-guru Islam sesuai dengan namanya Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyah  (TMI) Al-amien Prenduan, terus mendidik para santri-santriwatinya untuk berproses menjadi guru-guru profesional yang siap mengabdi di tengah masyarakat luas. Salah satu program untuk mencapai arah tujuan ini adalah pelaksanaan program Amaliyah Tadris Ikhtibariyah (Ujian Praktek Mengajar), salah satu program kelas akhir. Tahun ini, ATI diikuti oleh putra 178 orang dan putri 162 orang, ditunjuk sebagai Penanggung Jawabnya: Ust. H.A. Tijani Syadzili, Lc. Program ini resmi dibuka pada hari ini selasa (23/04/2013) secara terpisah, putra di aula TMI Putra dan putri di GESERNA TMI Putri.

Mengikuti ujian praktek mengajar ini merupakan tahap akhir setelah sebelumnya mereka dibekali dasar-dasar ilmu didaktik methodik mulai kelas III di TMI. Sejak kelas V tatkala mereka diangkat menjadi Pengurus Organisasi Santri (ISMI di Putra, ISTAMA di Putri), mereka dipercaya untuk memulai praktek mengajar pada kegiatan kursus siang (KOMDAS B). Tiba saatnya kini mereka diuji dalam program ATI. Karena ujian kata KH. Ghozi Mubarok Idris, MA saat membuka acara ini di putra beliau mengatakan bahwa dengan adanya ujian, manusia bisa dibedakan: ada yang mulia dan ada yang tercela.

Kiyai Drs. Suyono Khattab dalam sambutannya saat membuka acara ini di putri menyampaikan bahwa sebuah Lembaga pendidikan, seorang guru dapat dikatakan baik apabila ia dapat melakukan lima hal penting:

Pertama, dapat menghantarkan muridnya lillahi ta’ala menuju akhlaq karimah, bertaqwa, ta’at pada Allah dan rasulnya.

Kedua, dapat menciptakan dan memotivasi para santri senang membaca. Ketiga, dapat memotivasi muridnya dapat atau mampu menciptakan sesuatu yang belum ada. Keempat, dapat mendorong santrinya mampu berta’awun atau membangun jaringan dengan orang lain (network) juga bersosialisasi dengan semua orang.  Kelima, dapat mendorong siswanya  agar memiliki kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving) atau menjadi seorang pemecah masalah (problem solver).

Sependapat dengan Kiai Suyono Khattab, KH. Ghozi Mubarok Idris, MA mengatakan bahwa para guru yang selalu digugu dan ditiru haruslah ispiratif karena guru yang inspiratif itu adalah guru yang akan dikenang sepanjang masa. Beliau juga menambahkan “…attoriiqotu ahammu minal maaddah, tapi almudarris ahammu minat toriiqoh … namun, yang lebih penting ruuhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi.” Karenanya Kiai Ghozi mengharapkan para santri dapat memiliki i’dad dan isti’dad yang baik dalam mengajar.

Di akhir nasihatnya Kiai Suyono Khattab menghimbau agar seluruh santriwati mengikuti acara ini dengan amat sungguh-sungguh karena acara pendidikan yang selalu dilakukan setiap tahunnya ini merupakan salah satu kegiatan identitas TMI Al-amien Prenduan, yang kelak akan memproses mereka semua menjadi seorang pendidik dalam bidangnya masing-masing. (oce)