Tasyakkur Hifdhil Qur’an JQH

wisuda jqhTMI – Sebanyak 136 orang santri dari anggota kelompok Jamiyyatul Qurro Wal Hufadz (JQH) menjalani prosesi wisuda Tasyakkur hifdzil Qur’an, Jum’at (24/05) di Auditorium TMI Putra. Acara ini dibuka oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Maktum djauhari MA.

Dalam sambutannya, Pengasuh Ma’had TMI, KH. Zainullah Rais, Lc, menyampaikan rasa haru dan bangganya terhadap para wisudawan yang telah berusaha mencuri-curi waktu untuk menyempatkan diri menghafal Al-Qur’an. “Saya yakin bapak ibu lebih mengutamakan anak-anak kita ini untuk mengahafal ayat Al-Qur’an dari pada perguruan tinggi,” tegasnya.

Beliau juga menyebutkan, bahwa JQH yang berdiri secara resmi tahun 2008 (namun sudah ada sejak lama) ini, bertambah jumlahnya dari tahun sebelumnya. Dengan rincian, 79 wisudawan kategori Juz ‘Amma, 38 wisudawan kategori 5 Juz, 6 wisudawan kategori 10 Juz, dan 1 wisudawan tiap kategori 15, 20, dan 30 Juz.

Wisudawan terbaik Juz ‘Amma didaulatkan kepada Afuza santri kelas 1 Intensif, terbaik 5 Juz oleh Farid santri kelas III Intensif, dan terbaik 10 Juz oleh Rizal Muzakki santri III Intensif. “Kami mengambil wisudawan yang dianggap terbaik dari segi kekuatan hafalan dan disiplin waktu penyetoran, “ujar Mlm. Ulul Azmi, salah satu panitia acara.

Kategori 30 Juz, seperti yang disampaikan pengasuh TMI, KH. Zainullah Rais, sebenarnya ada 3 orang. Hanya saja 2 orang berhalangan karena masih takhassus memantapkan hafalan, jadinya hanya 1 orang saja yaitu Mlm. Zainul Arifin, santri kelas akhir asal Malang.

Seusai acara prosesi wisuda, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Makum Djauhari, MA mengungkapkan rasa bangganya kepada para wisudawan yang tetap giat menghafal di tengah kesibukan kegiatan TMI dan kegiatan belajar mengajar (KBM). “Para penghafap Al-Qur’an adalah mereka yang siap menerima tantang Allah. “Walaqod yassirna qur’aana lidzdzikri fahal min mudzakkir”. Sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, apakah ada yang mau mengambil pelajaran,” tegas Kiai Maktum. Beliau juga berpesan agar tetap besyukur dan istiqamah. Tidak ada pilihan lain antara syukur dan kufur.