Catatan

Suatu Malam di Manhattan

Dengan langkah gontai Jason menyusuri Lavayette Avenue. Dari wajahnya tampak keputusasaan, terselit di antara semburat wajahnya yang sesekali meringis menahan rasa sakit. Dilihatnya lagi kertasa hasil pemeriksaan dokter, yang baginya adalah vonis hukuman mati bagi seorang narapidana. Tiba-tiba dari arah samping kirinya, sebuah Porchet kecil berhenti. Warnanya yang merah metalik sangat mencolok mata. “Excus me…hey..tunggu!!” panggil seorang pemuda dari dalam mobil. Jason pun berhenti sejenak.

“Anda tahu alamat ini?” tanpa turun dari mobil, pemuda itu menyodorkan sebuah kartu nama. Dibacanya kartu nama itu.”Hm…Bradley Warehouse? Oh ya…terus saja, kemudian jika anda melihat…” ”Bagaimana jika kau ikut saja bersama kami?” Potong pemuda penanya itu.

“Oh, tidak. Saya harus segera pulang, sebab…,” jason terpekik, sebelum sempat melanjutkan kata-katanya. Sebab pemuda berperawakan kekar tadi sudah menodongkan sebuah pistol kaliber 38.

“Masuk!!” kali ini nadanya tidak ramah lagi. Jason terpaksa menurut. Dia tahu hidupnya memang tak lama lagi. Tapi mati konyol tertembak sebagai korban penodongan bukanlah keinginannya. Apalagi di sekitar situ sepi sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi saksi sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi saksi peristiwa itu.

“Kalian mau apa?” tanyanya setelah berada di dalam mobil. Dia diapit di antara pengemudi dan si penodong tadi. “Ikut sajalah…nanti kau akan mengerti!” kali ini si sopir angkat bicara.

“Apa salahku?” Jason masih juga bertanya, walau pun jantungnya berdebar sangat kencang.

“Salahmu adalah…terlahir sebagai anak orang kaya. Sudah mengerti, kan?” Jason mulai berpikir, dirinya menjadi korban penculikan.

“Kalian ingin tebusan berapa?”

“Dengar Jason Stockwell…! Kami sudah lama mengincarmu. Jadi, kami tidak akan memasang harga sembarangan.” kata si penodong. Kali ini dia telah menyimpan kembali pistolnya. Namun Jason tak mau bertindak bodoh. Dua pemuda itu pasti dengan mudah dapat meremukkan tulang-tulangnya. “Tutup matamu!” kata pemuda penodong dengan kasar. Di tangannya ada dua helai kain hitam. Satu untuk menutup mata, satu lagi untuk menutup mulut Jason.

“Frank…kemana tujuan kita?” tanya si pengemudi.

“Kita keliling kota dulu, Ben. Setelah malam tiba, baru kita ke tempat tujuan,” ujar yang seorang lagi. Jason tidak dapat melihat apa-apa lagi. Matanya tertutup rapat, demikian juga mulutnya. Dia hanya bisa mendengar sayup-sayup suara-suara diluar mobil. Irama dan nada yang sudah tidak asing lagi baginya. Susana senja di Manhattan.

***

Jason tidak tahu lagi berapa kali mobil melalui tempat yang sama. Mereka masih di sekita Lavayette Avenue. Begitulah yang diperkirakan Jason dari irama-irama yang dia dengar berulang-ulang. Tak lama kemudian mobil itu berhenti. Suasana sekitar tampak sepi.

“Cepat…keluar…!” Frank setengah berbisik, Ben pun segera keluar, mengiringi langkah-langkah Frank sedemikian mungkin agar keadaan Jason tidak terlihat orang-orang di sekitar situ. Jason berjalan di antara mereka berdua. Frank dan Ben menggandengnya, namun tak lebih menyeret.

“Hmmmph…,” Jason ingin mengatakan sesuatu. Tapi sumpalan di mulutnya terlalu erat mengikat. Dua bandit itu tak mengacuhkannya. Betul-betul tidak berperasaan.

“Hmmmmmmpphhh…,” jason mencoba lagi. Bertepatan waktu itu ada seseorang yang sedang melalui tempat tersaebut. Frank segera melepas ikatan yang menutup mata dan mulut Jason, dengan ancaman agar dia tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang menyolok perhatian. Jason lagi-lagi menurut. Mereka bertiga masuk sebuah gedung tua yang di luarnya tampak kumuh. Jason belum menyaksikan bangunan seburuk itu di Manhattan. Namun kali ini dia justru akan memasukinya. “Cepat…menuju tangga…!!” perintah Frank.

“Please…jangan tangga! Apakah tidak ada lift saja” pinta Jason.

“Lift di gedung tua ini sering macet. Sudahlah…jangan banyak bicara!!” hardik Frank. Jason menurut saja, walau pun badannya sudah merasa lemah sekali. Dia juga ingat peasan dokter siang tadi bahwa harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Sebab bukan hanya penyakit ginjal saja yang diidapnya, tapi jug ajantung koroner, diabetes militus, dan animea yang sudah sanagt parah. Dia dulu sangat malas untuk pergi ke dokter, dan menahan saja segala keluhannya. Hingga pagi tadi ibunya memaksa dia untuk pergi ke dokter. Namun hingga sekarang belum ada yang mengetahui penyakit yang dideritanya.

“Lantai berapa?” tanya Jason takut-takut. Dia paling tidak suka dihardik.

“Dua puluh satu…” jawab Frank, semoga dia hanya bercanda, pikir Jason. Ternyata Frank tidak main-main. Mereka belum sampaijuga ke tempat tujuan. Jason tidak dapat melihat dengan jelas, karena di beberapa lantai yang mereka lalui tidak ada cahaya sama sekali. Kedua bandit itu seolah dapat melihat dalam gelap. Jason mulai terengah-engah. Dia tak kuat lagi, namun Ben dengan kasar menyeretnya. Kadangkala sia terjatuh lemas. Di hidungnya dia rasakan cairan hangat. Darah.

“Frank…dia…dia mimisan!” ben tampakkhawatir.

“Ah…biasa. Pergantian musim,” ujar Frank seenaknya.

‘Please…aku…aku mengidap banyak penyakit…aku..tidak boleh terlalu lelah begini…please…!!” Jason memohon. Suasana gedung itu benar-benar mencekam. Seolah-olah tak ada satu makhluk pun yang tinggal di sana.

“Ahhh..jangan cengeng! Masih tinggal sembilan lantai lagi…!” kata Frank. Mendengarnya saja Jason sudah pening. Pandangan matranya berkunang-kunang, perutnya mual. Dipaksanya untuk kembali melangkah, walau pun dengan sisa tenaga akhirnya. Sesekali Ben protes, tidk tega dengan perlakuan Frank yang begitu kasar. Satu persatu lantai gedung tersebut berhasi ditelusuri. Walau pun dalam kesunyian itu, desah nafas Jason terdengar jelas. Dia bagai orang yang kekurangan oksigen. Wajahnya terasa panas, seluruh inderanya tak lagi dapat berfungsi dengan baik. Mata berkunang-kunang, telinga berdengung, dan hidungnya terus mengucurkan darah segar. Ben terus protes, namun dia tak berdaya. Frank selalu menghardiknya.

“Nah…kita sudah sampai…” kata Frank tanpa beban. Baginya menyusuri dua puluh satu lantai bukan hal yang berat. Frank mengetuk pintu dengan kasar. Pintu pun terkuak sedikit. Jason didorongnya masuk. Rupanya Jason tak lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Dia limbung, terhuyung-huyung sempoyongan…lalau terjerembab jatuh. Terdengar pekik teriakan ribut. Lampu-lampu di ruangan itu serta merta menyala.

“Tidaaak…!! Jason…anakku…!” pekik Nyonya Stockwell histeris. Diguncang-guncangkannya tubuh Jason yang sudah tak bergerak lagi. Wanita itu berteriaklagi dengan histeris…”Sudah kukatakan…jangan ada pesta kejutan seperti ini…TIDAAAK…!!”

Sementara kawan-kawan Jason yang telah berkumpuldi situ hanya berdiri mematung. Di tangan mereka terdapat aneka ragam karton bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. Di dinding ruangan itu terdapat kain dekorasi ekstra besar bertuliskan “SURPRISE…!!”

“Siapa yang harus bertanggung jawaaab…siapaaaa..?!?!” Nyonya Stockwell semakin histeris demi dilihatnya Jason tak bergerak-gerak lagi. Dick, sahabat Jason yang merencanakan kejutan ulang tahun ini maju ke depan. Dia merasa sangat bersalah. Diperiksanya detak jantung Jason, lalu dia menggeleng pelan. Tidak ada harapan. Suasana ulangtahun yang seharusnya meriah penuh hura-hura itu berubah menjadi ratapan tangis yang memilukan. Dick memungut secarik kertas yang menyembul dari saku Jason. Menyendiri, dia membaca kertas yang ternyata hasil pemeriksaan dokter. Sementara Nyonya Stockwell sudah tak sadarkan diri. Putra semata wayangnya telah pergi, tepat di hari ulang tahunnya yang ke kedelapan belas, sebagai korban “keisengan”. Dick menggeleng kepala penuh penyesalan. Ratapnya sudah tak berguna lagi.

“Hey, Man! Mana sisa bayaran kami?” tanya Frank tanpa perasaan.

“Kurang ajar!! Tidak thukah kau apa yang sedang terjadi? Bisa jadi ini karena perbuatan kalian yang keterlaluan.

“Apa? Keterlaluan? Hey…lift yang mati itu bukan atas kehendak kami. Kalian yang ingin agar tiba tepat pukul sembilan malam. Bukankah lift di gedung ini tiap pukul delapan hingga pukul sepuluh selalu padam?” Frank membela diri, malah cenderung mengancam, “Jangan buat kami marah. Crusoe bersaudara tidak bisa disakiti…atau…hufh!” ujarnya sambil meniup ujung pistol. Beberapa gadis yang hadir di pesta itu menjerit ketakutan. Dick terdiam. Dia tidak mengira bahwa kawannya mengidap penyakit parah. Dia tidak mengira bahwa Crusoe bersaudara adalah bandit asli yang terbiasa dibayar untuk penculikan yang sebenarnya. Dia tak mengira bahwa kejutan yang direncanakannya, mengejutkannya sendiri.

Fera Andriyani Jakfar, alumni TMI Putri Al-Amien Prenduan. Menyelesaikan S1 di Universitas Cairo, Mesir.