Tag: IKBAL

Sosialisasi Penerimaan Santri Baru 2016 bersama IKBAL dan Tokoh Masyarakat Bangkalan

Sosialisasi PSB Al-Amien Prenduan bersama IKBAL BangkalanDalam rangka mensukseskan Penerimaan Santri Baru 2016, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan mengadakan roadshow dan sosialisasi ke beberapa daerah yang dilaksanakan bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan (IKBAL). Untuk daerah pertama yang dikunjungi adalah Kab. Bangkalan. Kabupaten yang berada paling barat di Pulau Madura ini merupakan salah satu basis terbesar santri TMI Al-Amien Prenduan. Kurang-lebih ada 500 orang santri yang berasal dari Bangkalan saat ini masih menyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, baik di Pondok Tegal, Putri I, TMI, MTA, maupun IDIA.

Acara yang bertajuk Silaturrahim dan Sosialisasi Penerimaan Santri Baru PP. Al-Amien Prenduan, dilaksanakan di Aula Kementerian Agama Kab. Bangkalan, berlangsung pada jam 10:30 s/d 14:00 WIB. Mewakili PP. Al-Amien Prenduan, Wakil Pimpinan dan Pengasuh PP. Al-Amien Prenduan KH. Ghozi Mubarok Idris, MA bertindak sebagai ketua rombongan dengan didampingi oleh Ust. Suhaimi Zuhri, S.Ag selaku Ketua Biro Pendidikan sekaligus Project Officer PSB 2016 dan KH. Drs. Abushiri Sholehuddin selaku Koordinator Pusat IKBAL. Hadir dalam acara ini beberapa pejabat dan tokoh masyarakat Bangkalan, di antaranya KH. Moh. Faishol Anwar dan KH. Hasani Zubair Muntashor, selain itu hadir pula wali santri dan wali alumni dan juga alumni PP. Al-Amien Prenduan lintas lembaga dan angkatan.

Dalam sambutan beliau, KH. Ghozi Mubarok Idris berpesan kepada seluruh Alumni PP. Al-Amien Prenduan untuk melakukan dakwah bil haal. Karena menurut beliau, jika semua alumni Al-Amien mencerminkan sikap yang telah diajarkan kepadanya selama di Pesantren, yakni bagaimana berfikir yang baik, berakhlak yang baik, dan beribadah dengan baik, maka tanpa diminta pun masyarakat akan berbondong-bondong memondokkan anaknya Ke Al-Amien Prenduan.

Wakil Pimpinan Lepas Alumni Ke- Al-Azhar Mesir

lepas alumni pa ke mesirYAP – “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..” suara takbir menggema di masjid jami’ Al-Amien Prenduan pada Jum’at (15/8) malam. Dipimpin langsung oleh KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA selaku wakil pimpinan dan pengasuh PP. Al-Amien Prenduan seluruh santri serentak menggemakan takbir. Takbir itu  sebagai tanda pelepasan beberapa alumni dari PP. Al-Amien Prenduan yang akan melanjutkan pendidikannya ke universitas Al-Azhar Kairo lewat jalur beasiswa.

Ada 7 orang alumni yang akan melanjutkan pendidikannya ke universitas Al-Azhar Kairo. Terdiri dari 5 santri dan 1 santriwati alumni Ma’had Tahfidz Al-Qur’an (MTA)  yaitu: Muhammad dari Banten, Miftahul Umam dari Kalimantan tengah, Mufti al-faruqi dari Surabaya, Ahmad Faisol Afif Sahal dari Bangkalan, Ahlul Ulum dari Lombok, Rahmatul Husniah dari Lumajang dan 1 santri alumni Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) yaitu: Khoirul Anam dari Sumenep. Meski ada 2 alumni yang berhalangan hadir, acara tetap berjalan dengan khidmat.

Setelah memperkenalkan dirinya masing-masing, salah seorang perwakilan diminta oleh Wakil Pimpinan PP. Al-Amien Prenduan untuk memberikan sedikit motivasi kepada seluruh santri yang berjumlah ribuan dengan pengantar bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan. Dalam sambutannya ada 3 point yang disampaikan. Pertama, ucapan syukur kepada Allah Swt. Kedua, ucapan terimakasih kepada seluruh ustadz dan Kiai yang telah membimbing selama ini. Ketiga, pesan kepada santri untuk tetap mempersiapkan diri dalam 2 hal utama yaitu bahasa Arab dan al-Qur’an “selama tes tahap 1 di malang dan tahap ke-2 di Jakarta, materi ujiannya ya bahasa arab dan al-Qur’an, makanya untuk santri yang masih di pondok harus mempersiapkan 2 hal itu dengan baik ”  jelas Muhammad lepas alumni pi ke mesiryang mewakili sambutan.

Sebelum ditutup dengan do’a, KH. Ahmad Fauzi Tidjani menjelaskan bahwa semua santri wajib bersungguh-sungguh dalam belajar “man jadda wa jada”. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah. “Man shobara dhofira” Barang siapa yang sabar pasti akan menuai hasil. Supaya kalian bisa kemana saja, bukan hanya ke universitas Al-Azhar Kairo, tapi ke negara manapun kalian mau” ujar Bapak Kiai yang juga merupakan alumni dari universitas Al-Azhar tersebut. Beliau juga berpesan agar para alumni yang akan melanjutkan pendidikannya ke universitas Al-Azhar Kairo mampu menjadi pemimpin masa depan di daerahnya masing-masing.

Sebenarnya, ada 15 alumni PP. Al-Amien Prenduan yang lolos untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas al-Azhar Kairo. Namun, karena beberapa alasan hanya 7 orang yang mengambil kesempatan itu. Selamat atas diterimanya antum sekalian, alfu mabruk! (Buya)

Resonansi Doa Sang Kiyai

kh-muhammad-idris-jauhariAL-AMIEN, nama itu menggema dalam pita kognisi masyarakat yang mendengar namanya, ia adalah pesantren modern yang melahirkan generasi berkelas yang diperhitungkan di masyarakat, dibuktikan oleh aktualisasi para alumninya yang tersebar seantero nusantara. Kala itu, Al-Amien dikenal dengan beberapa keunikan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Setidaknya ada empat keunikan yang sangat menonjol, yaitu: pertama, Al-Amien tampil sebagai pesantren modern, kedua, Al-Amien membekali santri dengan kompetensi bahasa Arab dan Inggris, ketiga, Otonomi kurikulum TMI Al-Amien dan independensinya dari semua golongan, dan keempat, Al-Amien mendelegasikan santri berprestasi untuk studi lanjut ke luar negeri.

Empat keunikan itu yang membuat pesantren Al-Amien memiliki derajat pembeda dengan pesantren lainnya. Sebagai pesantren yang dilabelkan pesantren modern, ia membuka akses terhadap perkembangan yang positif dari luar dengan tetap merawat warisan luhur dalam tradisi salaf. Keharuman namanya terhembus pula dari para alumninya yang terserap dalam segala macam profesi dan pekerjaan, tentu mereka memiliki nilai lebih yaitu kecakapan berbahasa Arab dan Inggris serta kompetensi lain yang melengkapi keahlian mereka.

Santri Al-Amien memiliki kecerdasan majmuk atau multi skill (multi terampil; istilah KH. Idris Djauhari). Berbagai macam ragam program intra dan ekstra yang digelar dalam kurikulum hidup dalam pesantren, jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, membayangkan pesantren hanya belajar ilmu agama semata. Hingar-bingar di Al-Amien, nuansa pendidikan penuh dengan program dan kegiatan. Pendidikan kecakapan diprogramkan pada seluruh santri untuk memilih pendidikan keterampilan wajib dan keterampilan pilihan, mulai dari kecakapan motorik kasar hingga motorik halus. Wajar, kalau kemudian para alumninya telah memiliki kecakapan multi. Berbekal kecakapan itu mereka para alumni mampu beraktualisasi diri dan berkembang di masyarakat.

Pesona dan keharuman nama Al-Amien yang demikian itu, membuat orang tua saya terpanggil untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren Al-Amien. Keputusan yang berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, merupakan keputusan yang tidak populer karena banyak stigma negatif yang menghalangi keputusan itu. Saat itu di tahun 1980, animo dominan masyarakat lebih cenderung ke pesantren salaf, namun orang tua saya mampu menembus batas kecenderungan mayoritas. Orang tua saya berkeyakinan kuat bahwa generasi yang lahir dari Al-Amien akan menjadi generasi yang “qowiyun amiin”.

Nama Al-Amien, memiliki kekuatan resonansi yang terpancar dari kekuatan doa para kiyai dan aura keikhlasan yang menjiwai seluruh praktik kehidupan pesantren, tidak heran bila para santrinya datang dari seluruh pelosok negeri, pencitraanya menteladani penyandang titel “Al-Amien” baginda rosul Muhammad SAW. Resonansi doa dan keikhlasan para pengasuh mampu menghantarkan kesuksesan para santri. Barokah doa dan keikhlasan dalam pengasuhan itulah yang menjadikan pesantren Al-Amien layak bagai “ibu kandung”, tempat naung kita.

Menjadi santri di pondok pesantren Al-Amien selama enam tahun merupakan deret waktu yang cukup lama. Hal demikian, saya tidak memandang sebagai penjara suci tetapi sebagai proses “persemedian” untuk mendapatkan beberapa “kesaktian mandraguna”. Dalam proses persemedian banyak aral lintang yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan, tidak semua santri yang mampu melalui rentetan cobaan dan ujian dengan baik. Bersyukur, saya termasuk yang lolos dan lulus melaluinya dan menjadi santri yang sujana.

Cara nyatri yang saya praktikkan kala itu, berbeda dengan para santri pada umumnya, saya jadikan “sajadah” sebagai sarana yang multiguna. Banyak fungsi sajadah yang  digelar untuk melakukan berbagai kegiatan; (1) di atas hamparan sajadah saya melakukan ibadah shalat dan dzikir, (2) “peragihan belajar” sering saya lakukan di atas sajadah sambil menunggu waktu adzan berkumandang, dan (3) hingga tidurpun saya gelar dengan alas sajadah.

Biasanya saya menggelar sajadah di pojok depan bagian utara dari masjid (mushalla Baiturrahman saat itu), siapapun teman sudah faham bahwa sajadah dan posisi tempat itu sudah istiqomah milik saya. Di luar kesadaran saya bahwa cara-cara yang demikian ternyata telah mampu membangun kecerdasan spiritual dalam diri saya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan spiritual berkontribusi 65% terhadap kesuksesan. Istimewanya lagi, bahwa dengan mediasi sajadah, saya menemukan “halawatal iman” (manisnya iman) sebagai intisari dari proses nyantri.

Sebagai generasi santri tahun 80-an, saya diasuh dengan dua model dan iklim pendidikan, separuh dari hidup saya berada di iklim pendidikan kedisiplinan (behafioristik), pemandangannya adalah perlakuan dengan tindak kekerasan dan bentak-bentak, dan separuhnya lagi berada di iklim pendidikan dengan pendekatan kasih sayang (konstruktifistik), pemandangannya kala itu adalah  penyadaran dan pengayoman. Tulisan ini tidak untuk mendukung atau memperdebatkan salah satu dari keduanya, tetapi cenderung memilih konvergensi keduanya.

Apapun pilihannya, itu hanya suatu pendekatan dalam praktik pendidikan. Ada hal lain yang lebih penting dari kedua pendekatan tersebut yaitu pendekatan spiritual. Saya senantiasa meyakini bahwa setiap kata dan perbuatan kiyai adalah doa, dan doa itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyat dalam setting nurani dan akal budi santri. Beberapa nasihat pengasuh (almarhum; KH. Tidjani Djauhari dan KH. Idris Djauhari) yang terus segar dalam ingatan saya, adalah;

“Jangan jadi karyawan, tapi jadilah orang yang punya karyawan…”
“Jarrib wa laahidh takun aarifan…”
“Mengabdi, berjasa dan berkembang…”
“Al-Amien sudah memberi kunci hidup….”
“Al-muhafadhotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadiidil ashlah…”
“Mencetak santri sebagai mundzirul qoum…”
“Apapun profesi kamu setelah keluar dari pesantren jangan tinggalkan profesi guru…”
“Kalau kamu hidup di luar pesantren, kamu akan menemukan kehidupan sosial masyarakat yang berkotak-kotak, masuklah dari salah satu kotak komunitas sosial yang mampu memberikan perubahan dan perkembangan…”

Nasihat beliau bagai organisme yang terus hidup mencari tempat yang strategis dalam relung kalbu.

Pola pengasuhan Al-Amien begitu kuat membangun kepribadian yang “berkarakter Al-Amien”. Karakter itu dibawa hingga keluar menjadi alumni; mengabdi, berjasa dan berkembang. Itulah visi dan misi yang terbentuk dalam diri santri dan alumni. Mengemban visi dan misi itu tentu hingga kini belum selesai. Sepulang saya dari medan juang masa pengabdian di Kalimantan Timur, saya bertekad untuk kuliah. Saya bingung untuk memilih kampus, saya minta doa restu dari kiyai, sang kiyai menyarankan saya untuk kuliah di Pamekasan, karena beliau menginginkan ada alumni Al-Amien yang menonjol di Pamekasan. Beliau memberi saya doa dan restu dengan kalimat; bismillah.., kalimat itu masuk terpatri dalam hati saya yang paling dalam. Akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan (STAI Yunisma saat itu).

Resonansi doa sang kiyai menghantarkan saya menjadi pimpinan organisasi, hampir setiap organisasi yang saya masuki, saya terpilih menjadi pemimpin, diantaranya adalah; sebagai Presiden Mahasiswa di Senat Mahasiswa UIM, menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat UIM, Diangkat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Pamekasan dan terpilih sebagai Ketua Umum IPNU Cabang Pamekasan. Kemampuan memimpin organisasi sebenarnya telah terbentuk dari Pesantren Al-Amien melalui penggemblengan demi penggemblengan di organisasi santri yang ada di pesantren.

Kiprah saya di berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa membuat saya mampu beraktualisasi diri. Menjadi seorang aktifis organisasi mahasiswa menjadi modal sosial untuk tampil di ranah publik (mundzirul qoum). Banyak manfaat yang dirasakan dalam beroganisasi ekstra kampus, diantaranya; memberikan kemampuan analisis sosial, kematangan nalar dan peta berfikir, knowledge share, penyiapan mental dalam melakukan resolusi konflik dan tentu manfaat utamanya yaitu kemampuan mengorganisasi massa. Sungguh sangat penting menempa kemandirian, sikap bertanggungjawab, keteladanan (nufudz), kedisiplinan dan keleluasan berfikir, kendati itu semua sudah dibangun sejak dini di Al-amien.

Kesibukan saya dalam kegiatan ekstra kampus tidak mengabaikan untuk berprestasi di intra kampus. Walhasil, saya berhasil menyandang gelar sarjana dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Prestasi sebagai wisudawan terbaik menghantarkan saya untuk diangkat sebagai pegawai tetap dan dosen tetap di UIM. Untuk tidak menyiakan waktu, saya langsung manfaatkan kesempatan untuk studi lanjut pada jenjang S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi pendidikan ekonomi, dengan beasiswa dari DIRJEND DIKTI.Wawasan pada  program studi ekonomi itulah yang membelokkan arah hidup saya, bahwa eksistensi hidup di masa yang akan datang berada dalam genggaman tangan para ekonom. Dan ilmu ekonomi yang saya peroleh di kampus disadari tidak boleh berhenti dari teori ke teori, tetapi dari teori ke implementasi.

Maka saya rintis usaha sebagai pelaku ekonomi di ritel alat-alat kesehatan, apotek dan resto. Kesibukan ekonomi yang menjatuhkan pilihan untuk pamit mininggalkan dunia kampus. Hidup antar dunia; pesantren, kampus dan dunia usaha, apa sambungannya?. Saya sering bercerita pada teman-teman alumni Al-Amien, “kalau saya tidak digembleng di Kopontren, mungkin saya tidak pernah punya toko di tiga kabupaten, kalau saya tidak belajar melarat di pengurus KOPDA (PURUM), mungkin saya tidak pernah punya Rumah Makan (Resto) sebagaimana saat ini”. Pada puncak rintisan usaha menata ekonomi itulah, saya tersadar akan pesan sang kiyai bahwa “apapun profesi kamu, jangan tinggalkan profesi guru…”. Bersamaan dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk mewaqofkan diri sebagai dosen di IDIA Al-Amien.

Akhir cerita, saya meyakini bahwa pada setiap kenikmatan yang terjadi pada saya, ada keterlibatan sebuah kekuatan dahsyat, yaitu; dorongan supranatural yang bersumber dari resonansi doa sang kiyai. Amiin…ya mujiibassaailiin. Alhamdulillah, terimakasih Al-Amien.

Dr. H. Mashuri Toha, M.Pd

(Alumni TMI Al-Amien Tahun 1992, USIECA)

Sekarang Aktif Sebagai Dosen IDIA Prenduan

Semangat Juang dan Keikhlasan Guru Al-Amien

pimpinan melantikSetiap fase pendidikan yang saya lalui memiliki kesan tersendiri. Namun, saya mengakui bahwa nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi fase pendidikan yang paling sangat berkesan. Tujuh tahun lamanya saya nyantri di Al-Amien, enam tahun sebagai santri dan satu tahun sebagai ustadz (pengabdian).

Bukan berapa banyak ilmu ukurannya, namun nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam mengarungi hidup adalah alasannya. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Amien menjadi tempat belajar paling berkesan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya dapati. Mental kuat dengan semangat juang yang besar adalah anugerah terbesar yang saya peroleh dari pondok tercinta ini.

Mental kuat dan semangat juang adalah pelajaran yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi saya jumpai juga di masjid, kamar, lapangan, BPSK dan tempat-tempat lainnya. 24 jam hidup dalam pondok selalu mendapati setiap sudut dengan kegiatan-kegaitan positif yang mengarah pada pembentukan mental dan semangat para santri.

Benar, 24 jam proses pendidikan yang saya terima selama nyantri di Al-Amien. Bangun tidur pukul 3 pagi hingga ayyuhalikhwan memanggil pukul 9 malam, para asatidz dan muallim bergantian mendidik santri.
Tidur malam pun juga bagian dari pendidikan. Di saat jam tidur malam, di sudut-sudut pondok terdapat pendidikan tentang arti pengorbanan. Dengan mengorbankan jam tidur satu bulan satu kali, para santri bergantian menjadi bulis menjaga keamanan pondok dan seluruh penghuni pondok.

Rentetan pendidikan yang saya peroleh selama nyantri, mengajarkan saya untuk memaknai ikhlas dengan sempurna. Kita selalu mendengar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan, ikhlas tidak digaji dan konotasi lainnya yang mengartikan ikhlas sebagai bentuk jasa tanpa upah.

Tidak salah, namun hanya fokus kepada imbalan, upah dan bayaran akan menggiring pikiran kita bahwa ikhlas tidak ada kaitannya dengan kualitas kerja dan jasa itu sendiri. Di sinilah Al-Amien memaknai ikhlas dengan proporsional.
Do the best and give the best adalah makna ikhlas yang diajarkan kepada santri. Lakukan terbaik dan berikan terbaik adalah cerminan sang pelaku kegiatan melakukannya dengan ikhlas. Praktik dari nilai yang sangat mulia ini dengan mudah dijumpai di kelas-kelas, lapangan, kamar, bahkan kamar mandi.

Saya selalu mendapati para asatidz dengan penuh semangat melangkahkan kaki dari kamar menuju masjid, kelas, kamar dan lapangan untuk memberikan berbagai pendidikan dan latihan. Dari berbagai kelas terdengar suara-suara santri belajar, ada yang mengaji, menghafal, melantukan mahfudzat dengan berbagai lagu.

Di lapangan, berbagai bentuk olahraga dan beladiri. Di BPSK dan di Gugus Depan, Palang Merah Remaja dan pecinta Pramuka berlatih. Di masjid, berbagai kegiatan seperti shalat, mengaji, tasyji` (member motivasi) dan kelompok-kelopok kajian, bahasa dan sastra hanyut dalam diskusi.

Semua tempat di atas, dipimpin oleh ustadz atau muallim yang begitu semangat tak kenal lelah. Dari raut muka mereka tampak keikhlasan, bukan karena saya mengetahui gaji mereka yang tidak seberapa, tapi karena saya meyakini mereka ikhlas dari totalitas mereka mendidik, mengajar dan melatih para santri.

Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana Ust. Suhaimi Syatroh dengan penuh semangat mengajarkan “al-Adyan” dengan suara yang sangat keras dan jelas men-syarah buku yang telah dia hafal dari cover to cover.

Para wali kelas yang begitu tekun mengajar dan tak bosan menjadi tempat santri mencurahkan permasalahan yang dihadapi. Memperhatikan dan menilai seluruh kegiatan santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Untuk kemudian menjadi bahan bagaimana mendidik dan mengarahkan santri kepada kegiatan-kegiatan yang lebih baik.

Para asatidz dan muallim yang mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, memimpin kajian-kajian keilmuan dan kesusasteraan di sekitar masjid di sore hari hingga adzan maghrib berkumandang. Menggambarkan betapa saya beruntung dididik oleh mereka yang tak hanya tak digaji, namun juga berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik.

Semangat juang para asatidz dan muallim di atas, juga mengajarkan para santri akan arti tawakkal sebenar-benarnya. Manusia hanya memiliki kewajiban berusaha, usaha dengan semangat juang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Namun Allah Swt jugalah yang menentukan segalanya.

Dari itu, semangat juang yang dicontohkan oleh guru-guru di Al-Amien mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah dilihat dari hasil akhir semata. Kesuksesan adalah melalui berbagai proses kehidupan dengan semangat juang tanpa putus asa.
Demikianlah guru-guru di Al-Amien, saya selalu mendapati mereka begitu semangat dalam mengarahkan santri untuk menjadi generasi yang unggul. Semangat juang mereka mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Muwafik Maulana
Alumni TMI Al-Amien Prenduan (Angkatan 31). S1 Al-Azhar University, Egypt,
dan S2 INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) University, Malaysia.

TGB, Al-Amien, dan Pemimpin Berakhlaq

tgb dan roisTGB pemimpin berkualitas dan amanah. Sementara, Al-Amien adalan pesantren di Prenduan Sumenep – Madura dan bereputasi meyakinkan. Maka, ketika pada 12/02/2018 TGB bersilaturrahim dan memberi kuliah umum di Al-Amien, apa yang bisa kita hikmahi?

Ilmu, Akhlaq, dan Pemimpin

TGB, singkatan dari Tuan Guru Bajang. TGB, panggilan popular dari Dr. TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA. Belakangan ini, dia kerap disebut sebagai (calon) pemimpin nasional yang ideal.

Mari kita kenal TGB. Dia lahir di Pancor, Selong, 31/05/1972. Saat tulisan ini dibuat, TGB masih menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode kedua 2013-2018.

Riwayat pendidikannya mengesankan. S1 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar – Kairo, 1992. S2 jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an Al-Azhar dengan predikat Jayyid Jiddan, 1996. S3 di jurusan yang sama dengan predikat Martabah El-Ula Ma’a Haqqutba atau Summa Cumlaude, 2011.

Pemimpin yang hafal Al-Qur’an ini memunyai jejak prestasi yang membanggakan. TGB pernah menjadi anggota DPR-RI, periode 2004-2009. Dia di Komisi X yang membidangi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian dan Kebudayaan.

Di keorganisasian, TGB adalah Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdaltul Wathan (2016-2021). Juga, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia (2017-2021).

Penghargaan yang diperoleh TGB sangat banyak. Berikut ini sekadar menyebut sebagian di antaranya: Tokoh Perubahan Republika, 2010 dan 2016. Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI atas prestasi menonjol dalam pembangunan yang patut ditiru daerah lain di Indonesia, 2012. World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 2015. Gubernur Paling Visioner dalam bidang tenaga kerja, versi Majalah Profesional, 2009. (http://tgb.id, akses 15/02/2018).

Lalu, apa yang disampaikan TGB selama bersilaturrahim dan memberi kuliah umum bertema “Pemimpin Umat Masa Depan” di Pesantren Al-Amien Sumenep? Setidaknya, dapat dicatat beberapa hal penting.

Pertama, TGB menyampaikan bahwa pemimpin umat masa depan yang ideal berasal dari kaum santri. ”Pintar memang perlu. Tapi tanpa akhlaq yang baik, orang pintar akan jadi penjahat licik,” kata TGB.

Kedua, TGB menyampaikan bahwa generasi muda sekarang ini harus difikirkan. Sebagaimana dulu Nabi Ibrahim As selalu memikirkan keturunannya agar menjadi Muqimasshalah (Orang-orang yang selalu menegakkan shalat). Bahkan, Nabi Ibrahim As selalu berdoa agar keberkahan yang diberikan Allah kepadanya juga diberikan kepada seluruh sanak keluarga dan keturunannya.

Ketiga, kata TGB, seorang penuntut ilmu harus pintar memilih dalam mengomsumsi ilmu dan pengetahuan. Persis seperti lebah, ia mengambil dari yang terbaik hingga tidak ada yang keluar darinya kecuali yang baik-baik.

Alhasil, bagi TGB, pemimpin itu harus berilmu dan berakhlaq. Di titik ini, tak seorangpun bisa menolaknya. Sebab, jangankan berposisi sebagai pemimpin, sebagai “Orang biasa” saja kita harus berilmu dan berakhlaq.

Selalu Belajar

Hal lain yang tak kalah menarik, yaitu ketika TGB menyatakan rasa takjub dan tertarik ingin belajar dari Pesantren Al-Amien. “Banyak hal yang harus dipelajari dari Al-Amien,” kata TGB.

Tak pelak lagi ungkapan itu adalah, pertama, cerminan dari sikap rendah hati TGB. Kedua, menunjukkan TGB seorang pembelajar sejati. Dari sumber manapun yang sekiranya baik, dia ingin belajar.

Pesantren Al-Amien dan riwayat pemimpinnya, tentu bukan “sumber” yang salah untuk kita belajar. Untuk itu, antara lain, mari sekilas kita kenal (Almarhum) KH Mohammad Tidjani Djauhari.

Tidjani lahir pada 23/10/1945 di Prenduan Sumenep – Madura. Dia putera KH Djauhari Chotib, ulama besar dan tokoh Masyumi serta pendiri Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep.

Pada 1958 Tidjani nyantri di KMI (Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah) – Gontor. Pada 1964, ke Perguruan Tinggi Darussalam (kini bernama UNIDA Gontor).

Pada 1965 Tidjani ke Universitas Islam Madinah, di S1 Fakultas Syariah dan lulus dengan predikat mumtaz pada 1969. Pada 1970 ke S2 di Jamiah Malik Abdul Aziz –Mekkah- dan lulus 1973. Tesisnya -“Keistimewaan Al-Qur’an: Etika dan Rambu-rambunya dalam Perspektif Abu Ubaid Al-Qosim”-, dinilai mumtaz (cum laude).

Atas prestasinya, pada 1974 M. Natsir merokemendasi Tidjani bekerja di Rabithah Alam Islami. Karirnya di “Rabithah” melesat. Beberapa jabatan penting dipegangnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988). Keaktifannya di “Rabithah” mengantarkan Tidjani menjelajahi berbagai negara di Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia.

Ketika karirnya di “Rabithah” di puncak, Tidjani pulang kampung pada 1989. Inilah babak baru perjalanan dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan. Misinya, menyempurnakan Pesantren Al-Amien yang telah berdiri sejak 1971.

Dalam waktu 18 tahun (1989-2007), Al-Amien menjelma menjadi pesantren yang berwibawa. Ketokohan Tidjani mengantarkannya untuk menjabat berbagai posisi penting seperti Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jatim (1995-2000), salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren – BSPP (1998), dan Ketua II Majelis Ma’had Aly Indonesia (2002).

Tidjani ulama besar, berkiprah dari Sumenep hingga ke mancanegara. Dia pejuang Islam yang punya ghirah besar untuk menegakkan Islam melalui pendidikan. Dia wafat pada 27/09/2007.

Dari KH Mohammad Tidjani Djauhari kita banyak mendapat pelajaran. Sementara, dari TGB yang masih muda, kita juga sudah menerima banyak pelajaran.

Depan, ke Depan!

Mari kita dorong Dr. TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA atau TGB untuk terus berkiprah ke arah yang lebih bermanfaat dalam hal kualitas karya dan lebih luas cakupan skala kepemimpinannya. Untuk itu, semoga ilmu dan akhlaq selalu menjadi pijakan kukuh TGB.

Harapan senada, semoga Pesantren Al-Amien yang sekarang berada di bawah kepemimpinan Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani, MA -sahabat TGB saat kuliah di Al-Azhar- terus berkembang dengan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berilmu tinggi dan berakhlaq mulia.

Oleh M. Anwar Djaelani