Catatan

Menyelaraskan Antara Keimanan dan Progresifitas Ijtihad

….mencukupkan pemahaman Islam dari apa yang telah dihasilkan para ulama terdahulu, meggambarkan realita kemandekan bernalar, bahkan mengkerdilkan makna Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Islam harus tetap kita yakini akan selalu sejalan dengan realita kehidupan hingga akhir zaman. Sebuah keyakinan yang berdampak pada ranah sinergitas ijtihad.

Masalahnya kemudian, akal sering dijadikan senjata oleh sebagian kelompok manusia secara berlebihan, hingga melupakan realita keterbatasannya. Menjadikan akal sebagai standar mutlak kebenaran dan menafikan bimbingan ilahi melalui wahyu, tak ubahnya “memupuk” benih sikap sombong yang rentan menjurus pada kehancuran.

Pendahuluan

Penulis membayangkan pemikiran Islam saat ini mirip sebuah terminal besar dengan puluhan bahkan ratusan bus angkutan umum yang sedang parkir menunggu calon penumpang. Di sana kita temukan penjajah “tiket” Islam melewati jalur Cak Nur ditawarkan. Ada juga loket yang menawarkan Islam lewat jurusan Gus Dur. Ada sebuah loket lain yang ramai didatangi orang, terutama anak-anak muda; di sana kita lihat tujuan Islam sebagaimana ditafsirkan oleh Ustadz Ja’far Umar ditawarkan. Ada lagi loket yang menjajahkan tiket Islam ala Nasr Hamid Abu Zeid, Muhammad Arkoun, Abid Al Jabiri, Sayyid Qutb, Yusuf Qardlawi, Ali Syari’ati, dan tiket-tiket bus jalur “pintas” juga ramai dikerubuti oleh para mahasiswa.

Semua loket itu ramai didatangi oleh para calon penumpang yang rata-rata para anak muda. Memang bisa dimaklumi, anak-anak muda dengan darah mudanya, masih mempunyai semangat besar untuk melewati jurusan-jurusan yang mereka anggap baru. Orang-orang tua yang sudah mapan dan terbiasa melewati jalur tertentu, biasanya kurang minat untuk beralih jalur lain yang kian ramai dan padat itu. Kalangan sepuh sudah cukup nrimo menumpang bus Islam yang sudah menjadi langganan sejak nenek dan kakek mereka. Orang-orang tua biasanya tidak perlu lagi melewati jalur-jalur baru menuju Islam yang belum tentu terjamin “keselamatannya”.

Gambaran ini jelas hanya merupakan cara untuk menerangkan bagaimana hidupnya diskursus pemikiran Islam yang berkembang di kalangan muslimin Indonesia atau bahkan seantero alam saat ini. Pandangan-pandangan yang berbeda saling berebut menarik celah dalam perdebatan publik yang makin hidup dan bersemangat. Orang-orang Islam saat ini dengan mudah melakukan semacam “rayuan-rayuan”: memakai satu cara ke cara lain, dengan satu tafsir ke tafsir yang lain. Tidak jarang terjadi perdebatan di kalangan para “penjajah tiket” yang tidak searah, namun tujuan sama, untuk menarik simpatisan publik. Hal ini tidak lain karena faktor perbedaan cara berfikir, termasuk teori yang dipakai dalam menafsirkan sumber-sumber Islam; al-Qur’an dan Hadits.

Problem yang kemudian mengedepan, adalah terus meluasnya dampak “perang” wacana keislaman dalam menjalankan keberagamaan. Dalam hal ini, setidaknya, ada dua kubu besar yang saling “berhadapan”. Pertama, kelompok yang mencukupkan ajaran tekstual agama: menjadikan apa yang telah tertulis sebagai aturan baku tak tertawar dengan mengkebiri kreatifitas berfikir dalam berijtihad. Dan kedua, kelompok yang terlalu menuhankan akal pemikiran, hingga berupaya mengakalkan Tuhan. Yang pertama kita kenal sebagai kelompok Islam fundamental, dan lainnya kita sebut kelompok Islam Liberal. Pertanyaannya, apa dan bagaimana semestinya upaya yang harus kita lakukan dalam rangka membentengi akidah?


Keharusan Terus Belajar


Menyadari kenyataan di atas, hal terpenting yang harus selalu kita ingat sebagai seorang muslim, bahwa Islam adalah agama Allah. Karenanya se­tiap usaha untuk memahami agama Islam, maka juga bermakna percobaan untuk memahami kehendak Allah, percobaan untuk memetik sebagian dari ilmu Allah. Dalam Al-Quran surat Al-Kahfi dilukiskan bah­wa ilmu Allah luas tak terhing­ga. Sedemikan luasnya, sehingga sean­dainya seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah, maka ia akan habis sebelum ilmu Allah habis (QS 18:109). Ini sekaligus menjadi isyarat bahwa tidak ada jaminan bagi kita untuk dapat menguasai seluruh pengeta­huan yang diberikan oleh Allah, sebab hanya Dia yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.


Oleh karenanya, kita harus terus be­lajar, dan setiap yang kita capai da­lam belajar, sama sekali tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang final. Karena anggapan sema­cam itu, selain merefleksikan kes­em­purnaan, juga mengisyaratkan bah­wa kita telah meliputi seluruh pengetahuan Allah swt. Suatu anggapan yang bahkan bertentangan dengan iman kita sendiri: bahwa Allah adalah Dzat Maha Tahu, dan di atas setiap orang yang tahu ada Dia Yang Maha Tahu. Realita inilah yang mensyaratkan bagi penuntut ilmu untuk selalu  tawadhdhu‘ (rendah hati), yaitu sebuah sikap pengakuan dan kesadaran bahwa diri kita sendiri belum dan tidak akan pernah sempurna. Bahkan Rasulullah pun, sebagai makh­luk yang kita yakini paling sempurna, masih dibimbing oleh Allah supaya berdoa agar ilmunya ditambah, Katakanlah, Tuhanku, berilah tam­bahan ilmu kepadaku” (QS 20: 114). Jadi, Jika Rasulullah yang ma’sum (mendapat penjagaan langsung dari Allah), diperintah untuk terus belajar, apalagi kita sebagai umatnya!?


Maka wajar jika Nabi memerintahkan kepada kita agar terus menuntut ilmu sejak lahir hingga ajal menjemput. Tidak pernah ada kata cukup dalam memahami ilmu termasuk agama Allah. Maka, mencukupkan pemahaman Islam dari apa yang telah dihasilkan para ulama terdahulu, meggambarkan realita kemandekan bernalar, bahkan mengkerdilkan makna Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Islam harus tetap kita yakini akan selalu sejalan dengan realita kehidupan hingga akhir zaman. Sebuah keyakinan yang berdampak pada ranah sinergitas ijtihad. 


Membentengi Pemikiran dengan Keimanan


Benar jika dikatakan bahwa keunggulan manusia dengan makhluk lainnya adalah penganugrahan akal fikiran. Pemberian Allah yang hanya dikhususkan bagi anak Adam, sebagai modal utama menjadi khalifah Allah di muka bumi: satu hal yang pernah diragukan oleh para Malaikat, namun ditampik tegas oleh Allah. (QS 2:30)


Masalahnya kemudian, akal sering dijadikan senjata oleh sebagian kelompok manusia secara berlebihan, hingga melupakan realita keterbatasannya. Menjadikan akal sebagai standar mutlak kebenaran dan menafikan bimbingan ilahi melalui wahyu, tak ubahnya “memupuk” benih sikap sombong yang rentan menjurus pada kehancuran. Kenyataan inilah yang digambarkan dalam al-Qur’an ketika Iblis dengan kecongkakannya menafikan otoritas perintah tegas dari Allah untuk bersujud di hadapan Nabi Adam as, hanya karena beranggapan penciptaannya lebih mulia dari Adam. (QS 2:34)


Jadi, di tengah tuntutan berijtihad, keimanan harus menjadi pijakan dasar: sebagai syarat mutlak ketundukan pada otoritas Tuhan. Karena tanpa keimanan, capaian kretivitas berfikir, tidak akan menyadarkan diri akan kemahakuasaan Allah, tapi sebaliknya justru semakin menyuburkan benih kesombongan pribadi. (QS 10:101)


Tepat sekali jika Asy-Syahrastani dalam kitabnya, al-Ahwa’ wa an-Nihl menggambarkan Iblis sebagai prototipe pemikir bebas; yang pertama kali dilaknat, karena dia menggunakan kekuatan nalar untuk persoalan yang tidak dapat diatur oleh nalar. Dari sini penulis cenderung membayangkan kehancuran yang tak terelak saat kebebasan berfikir tanpa dibatasi keimanan dijadikan amunisi dalam kehidupan beragama.


Sebuah kenyataan yang kerap dilakoni oleh mereka yang belakangan ini menamakan diri sebagai komunitas pemikir Islam Liberal, yang bahkan bertentangan dengan pernyataan Cak Nur, sapaan akrab Nurcholis Madjid, dalam pengakuannya tentang banyak hal, karena keterbatasan akal, tidak bisa dinalar. Ia hanya bisa diimani tanpa membutuhkan teori ilmiah.


Lebih tegas tokoh yang di jadikan ikon liberalisasi Islam di Indonesia ini menyatakan, seperti yang ditulis oleh Budhy Munawwar Rachman dalam bukunya Ensiklopedi Nurcholish Madjid Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, bahwa ada bagian-bagian yang tidak mungkin diterang­kan secara ilmiah; semua ini harus dengan percaya saja. Malaikat digambarkan sebagai makhluk yang terbuat dari cahaya. dalam bahasa Einstein, malai­kat itu dari energi. Tentu ini termasuk bagian-bagian yang ilmiah, artinya tidak perlu diimani. Cuma perlu diketahui bahwa tugas malaikat itu tidak bisa digambarkan oleh manusia, karena menyangkut hal yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah, seperti mengirim wahyu dan sebagainya. Dan masih banyak lagi contoh keyakinan yang sama sekali tidak dibutuhkan metode-metode ilmiah untuk membuktikannya.  


Intinya, sehebat apa pun konstribusi akal dalam kehidupan, kesadaran bahwa itu merupakan secuil anugrah ilmu Allah swt., harus kuat terpatri dalam kalbu sebagai landasan teologi keimanan. Inilah beberapa argumen yang penulis maksudkan dalam wacana menyelaraskan antara keimanan dan progresifitas berfikir.


Sebagai penutup, berikut penulis ketengahkan janji Allah dalam al-Qur’an, yang menyatakan bahwa suatu umat akan mencapai keunggulan yang sangat tinggi jika dapat menyelaraskan antara iman dan ilmu sekaligus. Ayat tersebut, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 58: 11).


Wallhu a’lam bisshawab.


Zulfan Syahansyah, alumni TMI 1999. Kini tinggal di Malang.