Ukhuwah Islamiyah

Bulan ini, ada dua peristiwa penting yang menyita perhatian banyak pihak. Pertama, bencana jebolnya tanggul Situ Gintung yang menelan korban tewas 100 orang, 102 orang lainnya hilang, dan ratusan rumah rusak. Kerugian ditaksir ratusan miliar, ditambah derita psikologis ribuan warga di daerah itu.

Kedua, Pemilu legislatif yang kali ini diikuti 38 partai berhaluan nasionalis, Islam, maupun kombinasi nasionalis-religius. Sekitar 11.215 warga Indonesia hari-hari ini sibuk berebut 560 kursi DPR RI. Dan 1.109 orang akan sekuat tenaga berebut 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Dua peristiwa tersebut, mesti disikapi umat Islam sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas ukhuwah islamiyah antarsesama muslim. Pada peristiwa Situ Gintung misalnya, umat Islam perlu menumbuhkan sikap tolong-menolong dan empati terhadap penderitaan korban. Baik dengan memberikan bantuan materi, berupa sembako, beras, pakaian layak pakai, selimut, atau pun bantuan non-materi, seperti dorongan moral, motivasi kesabaran, ketabahan, dan tawakal.

Demikian juga pada peristiwa Pemilu legislatif. Umat Islam perlu memanfaatkan momen tersebut untuk mempererat tali ukhuwah islamiyah, meski pilihan politik dan parpol mereka berbeda. Umat Islam harus cerdas memilah mana yang menjadi kebutuhan partai, dan mana yang menjadi kebutuhan umat. Untuk umat, maka ukhuwah islamiyah harus dikedepankan di atas segala-galanya.

Ukhuwah islamiyah adalah persaudaraan sejati, yang tulus, dan tanpa pamrih. Karena itu, ukhuwah islamiyah harus ditempatkan di atas kepentingan partai. Dan umat Islam wajib memenangkan partai-partai berideologi Islam atau yang memiliki kepedulian terhadap kejayaan umat Islam Indonesia. Termasuk dalam hal ini, memilih calon anggota legislatif (Caleg) yang berakhlak islami dan peduli terhadap nasib politik dan sosial umat Islam.

Mengapa harus ukhuwah islamiyah? Karena ukhuwah tak pernah bertendensi pada materi. Ia melebihi bentuk persaudaraan lainnya, semisal ukhuwah nasabiyyah (keturunan), wathaniyyah (kebangsaan), maupun hizbiyah (partai), dan lainnya. Ukhuwah islamiyah bersifat lintas zaman dan generasi.

Pemaknaan ukhuwah islamiyah seperti di atas, banyak tersirat dalam doa-doa yang Rasulullah SAW ajarkan. Seperti, “Allahummaghfirlana wali ikhwaninal-ladzina sabaquna bil-iman, wala taj’al fi qulubina ghillal lil-ladzina amanu.”
Atau doa, “Allahummaghfir lil-muslimina wal-muslimat wal-mu’minina wal-mu’minat al-ahya’i minhum wal-amwat.”

Kedua doa tersebut menyiratkan betapa mengakarnya ukhuwah islamiyah dalam kalbu umat Islam. Sepanjang waktu mereka melafadzkannya dengan ikhlas.

Ukhuwah islamiyah termasuk salah satu program unggulan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, selain mendirikan masjid. Saat itu, beliau berhasil menyatukan faksi-faksi di dalam kaum Anshar maupun Muhajirin, sesama Anshar dan Muhajirin, dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang harmonis dan dinamis. Beda kekayaan kaum Anshar dan Muhajirin tak menghalangi mereka untuk mengikatkan diri dalam ukhuwah yang intim dan kokoh.

Allah memuji keluhuran kaum Anshar yang menerima kedatangan kaum Muhajirin dengan hati ikhlas, dan menganggap mereka layaknya saudaranya sendiri. Allah memuji mereka dengan tiga sifat.

Pertama, mereka adalah golongan yang memiliki kecintaan luar biasa. Kedua, mereka kaum yang sangat ikhlas. Ketika Rasulullah membagi-bagikan harta Bani Nadhir kepada kaum Muhajirin, tak ada sedikit pun rasa ingin menggugat dari kaum Anshar kepada Rasulullah, apalagi iri. Ketiga, mereka mendahulukan kaum Muhajirin untuk mendapatkan harta, walau sebenarnya mereka juga membutuhkan.

Andai kita bandingkan dengan kehidupan umat Islam masa kini, terlihat jurang perbedaan yang sangat curam. Kini, ukhuwah sudah tercabik-cabik. Umat Islam sudah terkotak-kotak oleh banyak kepentingan duniawi yang temporer. Barisan umat Islam di segala dimensi kehidupan pun menjadi rapuh.

Karenanya, tak ada pilihan lain, jika umat Islam ingin meraih kembali masa-masa kejayaannya, mereka harus bersatu dalam payung ukhuwah islamiyah, menyatukan segenap potensi. Kalau tidak, umat Islam akan terus terjebak pada derita perpecahan yang tiada berkesudahan. Wallahu a’lam bish-shawab.

KH. Maktum Jauhari, M.A. (Telah dimuat di Majalah Qalam Edisi I/Tahun I/2009)

Scroll to Top