Tajammu’ Nasional Pimpinan Pesantren Alumni Gontor dan Al-Amien Teguhkan “Ruhi Qobla Kulli Syai’in” di Prenduan

Al-Amien Prenduan – Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi tuan rumah Tajammu’ Nasional Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Gontor dan Alumni Al-Amien Prenduan pada Senin (26/1/2026). Pertemuan ini menjadi momentum yang berharga bagi para pimpinan pesantren alumni Gontor dan Al-Amien Prenduan untuk menyatukan visi di tengah dinamika tantangan zaman pasca disahkannya UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019.

Acara yang mengusung tema “Masa Depan Pesantren Pasca Undang-Undang Pesantren Nomor 18 Tahun 2019: Antara Peluang dan Tantangan”, menghadirkan para kiai, pimpinan pesantren, dan tokoh alumni dari berbagai daerah di Indonesia. Turut hadir pula, tokoh-tokoh kunci, di antaranya Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA; Ketua Umum FPAG, Dr. KH. Zulkifli Muhadli, S.H., M.M; serta Ketua Umum IKPM Gontor, KH. Noor Syahid, M.Pd. serta sekjen FPAG, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D.

Rentetan Acara yang Sarat Makna

Tajammu’ Nasional diawali dengan pembukaan resmi oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, ayahanda Dr. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, MA. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an, hymne Pondokku dan Hymne Al-Amien, serta sambutan dari pimpinan forum alumni menjadi pembuka rangkaian acara.

Sambutan juga disampaikan oleh Ketua Umum FPAG, Dr. KH. L. Zulkifli Muhadli, BA., SH., MM., dan Ketua Umum IKPM, KH. Noor Syahid, M.Pd., yang menegaskan pentingnya soliditas jaringan pesantren alumni Gontor dalam menghadapi tantangan zaman.

Puncak acara diisi dengan halaqah dan dialog interaktif yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan refleksi strategis para pimpinan pesantren, yang dipimpin langsung oleh Sektretaris Jenderal FPAG KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. sebelum ditutup dengan doa dan foto bersama.

Esensi “Ruhi” dan “Adabi”

Dalam sambutannya, KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, M.A. mengangkat tema besar yang menjadi ruh Tajammu’, yakni “Ruhi Qobla Kulli Syai’in”—jiwa sebelum segalanya. Beliau menekankan bahwa kekuatan pesantren tidak terletak pada kemegahan fisik atau organisasi formal semata, melainkan pada dua pilar utama: Ikatan Ruhi (jiwa) dan Ikatan Adabi (adab).

“Kita ini semua adalah ikatan pesantren yang mengedepankan ruhi qobla kulli syai’in dan adabi qobla kulli syai’in. Karena adab berada di atas ilmu, dan adab adalah segalanya,” tegas Kiai Fauzi dalam pesannya yang mendalam. Beliau mengingatkan bahwa tanpa landasan spiritual dan etika yang kuat, sebuah organisasi pendidikan akan kehilangan marwah dan esensinya.

Al-adab fauqal ‘ilm”—adab berada di atas ilmu, prinsip klasik pesantren. Tanpa adab, ilmu kehilangan cahaya. Tanpa adab, organisasi kehilangan ruh. Pesantren, menurut beliau, berdiri bukan hanya di atas bangunan kurikulum, tetapi di atas bangunan akhlak. Beliau kemudian mengingatkan hadiran pesan kakek beliau, KH. Imam Zarkasyi tentang niat mendirikan pesantren. Niat yang dilandasi panggilan jiwa, keikhlasan mengajar Al-Qur’an di tempat sederhana, dan pengabdian tanpa pamrih dinilai lebih mulia daripada gelar akademik semata.

Beliau juga mengingatkan pesan legendaris KH. Imam Zarkasyi tentang niat mendirikan pesantren. Niat yang dilandasi panggilan jiwa, keikhlasan mengajar Al-Qur’an di tempat sederhana, dan pengabdian tanpa pamrih dinilai lebih mulia daripada gelar akademik semata.

Diakhir sambutannya, beliau juga menyampaikan bahwa persatuan sejati tidak cukup dengan berkumpul secara fisik. Harmoni dalam ikatan pesantren menuntut perjuangan batin yang lebih dalam: menjaga hati, adab, dan loyalitas. Sambi mengutip QS. Al-Imron : 103, tentang pentingnya berpegang teguh pada tali Allah dan menjauhi perpecahan beliau juga dawuh, “Ujian paling berat bukan saat kita bertikai, tetapi saat kita saling terikat”.

Loyalitas dan Sanad Perjuangan

Lebih jauh, Kiai Fauzi menggarisbawahi pentingnya menjaga hirarki dan loyalitas dalam silsilah keilmuan (sanad). Beliau mengibaratkan hubungan Gontor sebagai “Orang Tua”, Al-Amien sebagai “Anak Gontor”, dan para alumni Al-Amien sebagai “Cucu Gontor”.

Prinsip “Satu Tubuh” menjadi poin sentral: jika Gontor merasa tersakiti, maka seluruh jaringan pesantren alumninya harus ikut merasakan dan wajib membela kehormatannya. Hal ini diperkuat dengan instruksi perluasan keanggotaan FPAG, di mana para kiai pengasuh pesantren yang merupakan “Cucu Gontor” wabil khusus alumni Al-Amien Prenduan, kini diwajibkan bergabung guna memperkuat barisan pendidikan pesantren di seluruh Indonesia.

Menatap Milad 75 Tahun dan Visi Global Perdamaian

Selain membahas penguatan internal, forum ini juga menyoroti peran strategis pesantren dalam peta perdamaian dunia. Di tengah kekhawatiran akan konflik global, pesantren diproyeksikan sebagai benteng Izzil Islam wal Muslimin—pusat peradaban yang membawa rahmat bagi alam semesta. Tajammu’ Nasional juga menjadi momentum konsolidasi menuju Milad 75 Tahun Al-Amien Prenduan yang direncanakan digelar tahun 2027. Momentum tersebut diharapkan menjadi tonggak sejarah perjalanan panjang pesantren dalam membangun generasi berilmu, beradab, dan berjiwa pengabdian.

Scroll to Top