Tag: Warkat

Resonansi Doa Sang Kiyai

kh-muhammad-idris-jauhariAL-AMIEN, nama itu menggema dalam pita kognisi masyarakat yang mendengar namanya, ia adalah pesantren modern yang melahirkan generasi berkelas yang diperhitungkan di masyarakat, dibuktikan oleh aktualisasi para alumninya yang tersebar seantero nusantara. Kala itu, Al-Amien dikenal dengan beberapa keunikan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Setidaknya ada empat keunikan yang sangat menonjol, yaitu: pertama, Al-Amien tampil sebagai pesantren modern, kedua, Al-Amien membekali santri dengan kompetensi bahasa Arab dan Inggris, ketiga, Otonomi kurikulum TMI Al-Amien dan independensinya dari semua golongan, dan keempat, Al-Amien mendelegasikan santri berprestasi untuk studi lanjut ke luar negeri.

Empat keunikan itu yang membuat pesantren Al-Amien memiliki derajat pembeda dengan pesantren lainnya. Sebagai pesantren yang dilabelkan pesantren modern, ia membuka akses terhadap perkembangan yang positif dari luar dengan tetap merawat warisan luhur dalam tradisi salaf. Keharuman namanya terhembus pula dari para alumninya yang terserap dalam segala macam profesi dan pekerjaan, tentu mereka memiliki nilai lebih yaitu kecakapan berbahasa Arab dan Inggris serta kompetensi lain yang melengkapi keahlian mereka.

Santri Al-Amien memiliki kecerdasan majmuk atau multi skill (multi terampil; istilah KH. Idris Djauhari). Berbagai macam ragam program intra dan ekstra yang digelar dalam kurikulum hidup dalam pesantren, jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, membayangkan pesantren hanya belajar ilmu agama semata. Hingar-bingar di Al-Amien, nuansa pendidikan penuh dengan program dan kegiatan. Pendidikan kecakapan diprogramkan pada seluruh santri untuk memilih pendidikan keterampilan wajib dan keterampilan pilihan, mulai dari kecakapan motorik kasar hingga motorik halus. Wajar, kalau kemudian para alumninya telah memiliki kecakapan multi. Berbekal kecakapan itu mereka para alumni mampu beraktualisasi diri dan berkembang di masyarakat.

Pesona dan keharuman nama Al-Amien yang demikian itu, membuat orang tua saya terpanggil untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren Al-Amien. Keputusan yang berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, merupakan keputusan yang tidak populer karena banyak stigma negatif yang menghalangi keputusan itu. Saat itu di tahun 1980, animo dominan masyarakat lebih cenderung ke pesantren salaf, namun orang tua saya mampu menembus batas kecenderungan mayoritas. Orang tua saya berkeyakinan kuat bahwa generasi yang lahir dari Al-Amien akan menjadi generasi yang “qowiyun amiin”.

Nama Al-Amien, memiliki kekuatan resonansi yang terpancar dari kekuatan doa para kiyai dan aura keikhlasan yang menjiwai seluruh praktik kehidupan pesantren, tidak heran bila para santrinya datang dari seluruh pelosok negeri, pencitraanya menteladani penyandang titel “Al-Amien” baginda rosul Muhammad SAW. Resonansi doa dan keikhlasan para pengasuh mampu menghantarkan kesuksesan para santri. Barokah doa dan keikhlasan dalam pengasuhan itulah yang menjadikan pesantren Al-Amien layak bagai “ibu kandung”, tempat naung kita.

Menjadi santri di pondok pesantren Al-Amien selama enam tahun merupakan deret waktu yang cukup lama. Hal demikian, saya tidak memandang sebagai penjara suci tetapi sebagai proses “persemedian” untuk mendapatkan beberapa “kesaktian mandraguna”. Dalam proses persemedian banyak aral lintang yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan, tidak semua santri yang mampu melalui rentetan cobaan dan ujian dengan baik. Bersyukur, saya termasuk yang lolos dan lulus melaluinya dan menjadi santri yang sujana.

Cara nyatri yang saya praktikkan kala itu, berbeda dengan para santri pada umumnya, saya jadikan “sajadah” sebagai sarana yang multiguna. Banyak fungsi sajadah yang  digelar untuk melakukan berbagai kegiatan; (1) di atas hamparan sajadah saya melakukan ibadah shalat dan dzikir, (2) “peragihan belajar” sering saya lakukan di atas sajadah sambil menunggu waktu adzan berkumandang, dan (3) hingga tidurpun saya gelar dengan alas sajadah.

Biasanya saya menggelar sajadah di pojok depan bagian utara dari masjid (mushalla Baiturrahman saat itu), siapapun teman sudah faham bahwa sajadah dan posisi tempat itu sudah istiqomah milik saya. Di luar kesadaran saya bahwa cara-cara yang demikian ternyata telah mampu membangun kecerdasan spiritual dalam diri saya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan spiritual berkontribusi 65% terhadap kesuksesan. Istimewanya lagi, bahwa dengan mediasi sajadah, saya menemukan “halawatal iman” (manisnya iman) sebagai intisari dari proses nyantri.

Sebagai generasi santri tahun 80-an, saya diasuh dengan dua model dan iklim pendidikan, separuh dari hidup saya berada di iklim pendidikan kedisiplinan (behafioristik), pemandangannya adalah perlakuan dengan tindak kekerasan dan bentak-bentak, dan separuhnya lagi berada di iklim pendidikan dengan pendekatan kasih sayang (konstruktifistik), pemandangannya kala itu adalah  penyadaran dan pengayoman. Tulisan ini tidak untuk mendukung atau memperdebatkan salah satu dari keduanya, tetapi cenderung memilih konvergensi keduanya.

Apapun pilihannya, itu hanya suatu pendekatan dalam praktik pendidikan. Ada hal lain yang lebih penting dari kedua pendekatan tersebut yaitu pendekatan spiritual. Saya senantiasa meyakini bahwa setiap kata dan perbuatan kiyai adalah doa, dan doa itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyat dalam setting nurani dan akal budi santri. Beberapa nasihat pengasuh (almarhum; KH. Tidjani Djauhari dan KH. Idris Djauhari) yang terus segar dalam ingatan saya, adalah;

“Jangan jadi karyawan, tapi jadilah orang yang punya karyawan…”
“Jarrib wa laahidh takun aarifan…”
“Mengabdi, berjasa dan berkembang…”
“Al-Amien sudah memberi kunci hidup….”
“Al-muhafadhotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadiidil ashlah…”
“Mencetak santri sebagai mundzirul qoum…”
“Apapun profesi kamu setelah keluar dari pesantren jangan tinggalkan profesi guru…”
“Kalau kamu hidup di luar pesantren, kamu akan menemukan kehidupan sosial masyarakat yang berkotak-kotak, masuklah dari salah satu kotak komunitas sosial yang mampu memberikan perubahan dan perkembangan…”

Nasihat beliau bagai organisme yang terus hidup mencari tempat yang strategis dalam relung kalbu.

Pola pengasuhan Al-Amien begitu kuat membangun kepribadian yang “berkarakter Al-Amien”. Karakter itu dibawa hingga keluar menjadi alumni; mengabdi, berjasa dan berkembang. Itulah visi dan misi yang terbentuk dalam diri santri dan alumni. Mengemban visi dan misi itu tentu hingga kini belum selesai. Sepulang saya dari medan juang masa pengabdian di Kalimantan Timur, saya bertekad untuk kuliah. Saya bingung untuk memilih kampus, saya minta doa restu dari kiyai, sang kiyai menyarankan saya untuk kuliah di Pamekasan, karena beliau menginginkan ada alumni Al-Amien yang menonjol di Pamekasan. Beliau memberi saya doa dan restu dengan kalimat; bismillah.., kalimat itu masuk terpatri dalam hati saya yang paling dalam. Akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan (STAI Yunisma saat itu).

Resonansi doa sang kiyai menghantarkan saya menjadi pimpinan organisasi, hampir setiap organisasi yang saya masuki, saya terpilih menjadi pemimpin, diantaranya adalah; sebagai Presiden Mahasiswa di Senat Mahasiswa UIM, menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat UIM, Diangkat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Pamekasan dan terpilih sebagai Ketua Umum IPNU Cabang Pamekasan. Kemampuan memimpin organisasi sebenarnya telah terbentuk dari Pesantren Al-Amien melalui penggemblengan demi penggemblengan di organisasi santri yang ada di pesantren.

Kiprah saya di berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa membuat saya mampu beraktualisasi diri. Menjadi seorang aktifis organisasi mahasiswa menjadi modal sosial untuk tampil di ranah publik (mundzirul qoum). Banyak manfaat yang dirasakan dalam beroganisasi ekstra kampus, diantaranya; memberikan kemampuan analisis sosial, kematangan nalar dan peta berfikir, knowledge share, penyiapan mental dalam melakukan resolusi konflik dan tentu manfaat utamanya yaitu kemampuan mengorganisasi massa. Sungguh sangat penting menempa kemandirian, sikap bertanggungjawab, keteladanan (nufudz), kedisiplinan dan keleluasan berfikir, kendati itu semua sudah dibangun sejak dini di Al-amien.

Kesibukan saya dalam kegiatan ekstra kampus tidak mengabaikan untuk berprestasi di intra kampus. Walhasil, saya berhasil menyandang gelar sarjana dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Prestasi sebagai wisudawan terbaik menghantarkan saya untuk diangkat sebagai pegawai tetap dan dosen tetap di UIM. Untuk tidak menyiakan waktu, saya langsung manfaatkan kesempatan untuk studi lanjut pada jenjang S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi pendidikan ekonomi, dengan beasiswa dari DIRJEND DIKTI.Wawasan pada  program studi ekonomi itulah yang membelokkan arah hidup saya, bahwa eksistensi hidup di masa yang akan datang berada dalam genggaman tangan para ekonom. Dan ilmu ekonomi yang saya peroleh di kampus disadari tidak boleh berhenti dari teori ke teori, tetapi dari teori ke implementasi.

Maka saya rintis usaha sebagai pelaku ekonomi di ritel alat-alat kesehatan, apotek dan resto. Kesibukan ekonomi yang menjatuhkan pilihan untuk pamit mininggalkan dunia kampus. Hidup antar dunia; pesantren, kampus dan dunia usaha, apa sambungannya?. Saya sering bercerita pada teman-teman alumni Al-Amien, “kalau saya tidak digembleng di Kopontren, mungkin saya tidak pernah punya toko di tiga kabupaten, kalau saya tidak belajar melarat di pengurus KOPDA (PURUM), mungkin saya tidak pernah punya Rumah Makan (Resto) sebagaimana saat ini”. Pada puncak rintisan usaha menata ekonomi itulah, saya tersadar akan pesan sang kiyai bahwa “apapun profesi kamu, jangan tinggalkan profesi guru…”. Bersamaan dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk mewaqofkan diri sebagai dosen di IDIA Al-Amien.

Akhir cerita, saya meyakini bahwa pada setiap kenikmatan yang terjadi pada saya, ada keterlibatan sebuah kekuatan dahsyat, yaitu; dorongan supranatural yang bersumber dari resonansi doa sang kiyai. Amiin…ya mujiibassaailiin. Alhamdulillah, terimakasih Al-Amien.

Dr. H. Mashuri Toha, M.Pd

(Alumni TMI Al-Amien Tahun 1992, USIECA)

Sekarang Aktif Sebagai Dosen IDIA Prenduan

Semangat Juang dan Keikhlasan Guru Al-Amien

pimpinan melantikSetiap fase pendidikan yang saya lalui memiliki kesan tersendiri. Namun, saya mengakui bahwa nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi fase pendidikan yang paling sangat berkesan. Tujuh tahun lamanya saya nyantri di Al-Amien, enam tahun sebagai santri dan satu tahun sebagai ustadz (pengabdian).

Bukan berapa banyak ilmu ukurannya, namun nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam mengarungi hidup adalah alasannya. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Amien menjadi tempat belajar paling berkesan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya dapati. Mental kuat dengan semangat juang yang besar adalah anugerah terbesar yang saya peroleh dari pondok tercinta ini.

Mental kuat dan semangat juang adalah pelajaran yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi saya jumpai juga di masjid, kamar, lapangan, BPSK dan tempat-tempat lainnya. 24 jam hidup dalam pondok selalu mendapati setiap sudut dengan kegiatan-kegaitan positif yang mengarah pada pembentukan mental dan semangat para santri.

Benar, 24 jam proses pendidikan yang saya terima selama nyantri di Al-Amien. Bangun tidur pukul 3 pagi hingga ayyuhalikhwan memanggil pukul 9 malam, para asatidz dan muallim bergantian mendidik santri.
Tidur malam pun juga bagian dari pendidikan. Di saat jam tidur malam, di sudut-sudut pondok terdapat pendidikan tentang arti pengorbanan. Dengan mengorbankan jam tidur satu bulan satu kali, para santri bergantian menjadi bulis menjaga keamanan pondok dan seluruh penghuni pondok.

Rentetan pendidikan yang saya peroleh selama nyantri, mengajarkan saya untuk memaknai ikhlas dengan sempurna. Kita selalu mendengar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan, ikhlas tidak digaji dan konotasi lainnya yang mengartikan ikhlas sebagai bentuk jasa tanpa upah.

Tidak salah, namun hanya fokus kepada imbalan, upah dan bayaran akan menggiring pikiran kita bahwa ikhlas tidak ada kaitannya dengan kualitas kerja dan jasa itu sendiri. Di sinilah Al-Amien memaknai ikhlas dengan proporsional.
Do the best and give the best adalah makna ikhlas yang diajarkan kepada santri. Lakukan terbaik dan berikan terbaik adalah cerminan sang pelaku kegiatan melakukannya dengan ikhlas. Praktik dari nilai yang sangat mulia ini dengan mudah dijumpai di kelas-kelas, lapangan, kamar, bahkan kamar mandi.

Saya selalu mendapati para asatidz dengan penuh semangat melangkahkan kaki dari kamar menuju masjid, kelas, kamar dan lapangan untuk memberikan berbagai pendidikan dan latihan. Dari berbagai kelas terdengar suara-suara santri belajar, ada yang mengaji, menghafal, melantukan mahfudzat dengan berbagai lagu.

Di lapangan, berbagai bentuk olahraga dan beladiri. Di BPSK dan di Gugus Depan, Palang Merah Remaja dan pecinta Pramuka berlatih. Di masjid, berbagai kegiatan seperti shalat, mengaji, tasyji` (member motivasi) dan kelompok-kelopok kajian, bahasa dan sastra hanyut dalam diskusi.

Semua tempat di atas, dipimpin oleh ustadz atau muallim yang begitu semangat tak kenal lelah. Dari raut muka mereka tampak keikhlasan, bukan karena saya mengetahui gaji mereka yang tidak seberapa, tapi karena saya meyakini mereka ikhlas dari totalitas mereka mendidik, mengajar dan melatih para santri.

Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana Ust. Suhaimi Syatroh dengan penuh semangat mengajarkan “al-Adyan” dengan suara yang sangat keras dan jelas men-syarah buku yang telah dia hafal dari cover to cover.

Para wali kelas yang begitu tekun mengajar dan tak bosan menjadi tempat santri mencurahkan permasalahan yang dihadapi. Memperhatikan dan menilai seluruh kegiatan santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Untuk kemudian menjadi bahan bagaimana mendidik dan mengarahkan santri kepada kegiatan-kegiatan yang lebih baik.

Para asatidz dan muallim yang mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, memimpin kajian-kajian keilmuan dan kesusasteraan di sekitar masjid di sore hari hingga adzan maghrib berkumandang. Menggambarkan betapa saya beruntung dididik oleh mereka yang tak hanya tak digaji, namun juga berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik.

Semangat juang para asatidz dan muallim di atas, juga mengajarkan para santri akan arti tawakkal sebenar-benarnya. Manusia hanya memiliki kewajiban berusaha, usaha dengan semangat juang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Namun Allah Swt jugalah yang menentukan segalanya.

Dari itu, semangat juang yang dicontohkan oleh guru-guru di Al-Amien mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah dilihat dari hasil akhir semata. Kesuksesan adalah melalui berbagai proses kehidupan dengan semangat juang tanpa putus asa.
Demikianlah guru-guru di Al-Amien, saya selalu mendapati mereka begitu semangat dalam mengarahkan santri untuk menjadi generasi yang unggul. Semangat juang mereka mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Muwafik Maulana
Alumni TMI Al-Amien Prenduan (Angkatan 31). S1 Al-Azhar University, Egypt,
dan S2 INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) University, Malaysia.

Tidak Sekedar “AL-AMIEN PRENDUAN”

sisi lain al-amienSungguh suatu nikmat pengalaman dan perjalanan hidup yang amat berharga sekaligus kebanggaan bagi penulis sebagai orang yang ditakdirkan pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien. Kiranya perasaan serupa juga dialami oleh segenap santri yang pernah mondok di almamater tercinta kita ini. Rasa kecintaan dan kebanggaan sebagai bagian dari Al-Amien akan terpatri kepada setiap alumninya, dan akan terus terpancar dalam sepak terjang peran dan aktivitasnya di masyarakat luas.

Melekatnya identitas sebagai ‘orang pondok’ begitu kuat, bahkan sampai dalam hal cara penyebutan nama mereka dalam pergaulan sehari-hari. Tidak jarang kita dengar ada penyebutan, misalnya si-Fulan Al-Amien, si-B Al-Amien, si-Anu Al-Amien, dan seterusnya, untuk mengindikasikan bahwa seseorang tersebut adalah santri atau alumni dari pondok ini. Tentu saja, kecenderungan penyematan label demikian bukan sekedar sebagai laqob saja, melainkan lebih merupakan bentuk entitas dan indentitas yang membawa konsekuensi bagi penyandangnya bahwa mereka menjadi agen-agen individu dan sosial yang bertugas serta bertanggung jawab menyebarkan nilai-nilai ke-Al-Amien-an itu di tengah-tengah masyarakat.

Perihal penggunaan nama Al-Amien bagi lembaga pondok kita tentu ada latar belakang naskah pemikiran yang biasanya sudah disosialisasikan dan ditatarkan sewaktu acara Kuliah Kepondokan tahunan bagi setiap santri baru. Berdasarkan ingatan penulis, wawasan tentang alasan kemengapaan (reasoning) dari penggunaan nama Al-Amien antara lain sebagai bentuk penghormatan dan kenangan kepada pendiri pondok yaitu nama kecil beliau: Amin, sebagai bentuk pemberian kepercayaan dan amanah dari masyarakat kepada lembaga, sekaligus sebagai bentuk do’a dan harapan bagi perkembangan pondok di masa mendatang.

Setelah sekitar tiga dasawarsa perkembangan, pimpinan pondok memandang penting untuk menambah-sandingkan ‘Prenduan’ di belakang Al-Amien, dan jadilah “Al-Amien Prenduan” sebagai nama kelembagaan resmi pondok pesantren ini. Pemberian nama ini lebih memberikan penguatan aspek kesejarahan di mana cikal-bakal pondok ada di desa Prenduan. Lengkapnya, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep Madura Jawa Timur Indonesia.

Belajar dari Nama Klub Sepakbola

Bagi para penggemar kompetisi sepak bola di tanah air tentu tidak akan asing dengan klub-klub besar kontestan LSI (Liga Super Indonesia), untuk sekedar disebutkan di antaranya Persija Jakarta, Persib Bandung, Persipura Jayapura, Arema Malang, Madura United. Nama-nama klub tersebut begitu familiar di telinga dan mempermudah penyimpanannya dalam memori seseorang karena dalam penamaan tersebut ada penisbahan langsung secara proporsional kepada daerah/area tempat klub tersebut berada.

Pandangan Jean Peaget, seorang pakar psikologi kognitif dari Prancis, tentang teori asosiasi-akomodasi dalam proses berpikir dan memori seseorang, dalam tataran konteks bagaimana sebuah informasi nama diterima secara khas dan bermakna tampaknya juga relevan sebagai dasar pemikiran. Secara kognitif, orang akan mudah menghubungkan informasi luar dengan struktur kognitif yang sudah ada jika sebelumnya terdapat informasi nama lain yang bermakna. Ingatan seseorang tentang nama-nama klub sepakbola yang dilekatkan langsung kepada nama daerah sebagai dimensi yang bernuansa primordial di satu sisi akan mudah dan tahan lama diingat, dan pada saat yang sama ikut pula dimasukkan semangat dan kebanggaan kapasitas dalam jangkauan konstalasi nasional-global. Ketika disebutkan Persija Jakarta atau  Madura United sebagai contoh, selain tentu orang akan berpikir tentang sebuah klub sepak bola yang ada di Jakarta dan Madura, juga dengan sendirinya terbersit pandangan tentang sebuah klub yang besar dalam kancah nasional, menyejarah, khas, dan disegani. Belum lagi jika klub (=group) itu dalam kiprahnya berikutnya benar-benar cemerlang tentu penamaan itu akan semakin berkharisma. Mengapa demikian, salah satu faktornya adalah penggunaan identitas tersebut yang selain bermuatan nilai kebanggaan daerah tetapi juga mengandung semangat progresif serta potensi kapasitas keorganisasian yang luas, marketabel, dan lebih bisa diandalkan.

Sebenarnya tidak ada yang salah pada nama “Al-Amien Prenduan” pondok kita tercinta. Hanya saja sebagai sebuah wacana, menurut penulis bisa saja juga dimunculkan alternatif nama yang lebih berpeluang dapat meningkatkan dan memperkuat kapasitas dan progesivitas kelembagaan tanpa kehilangan jatidiri. Dalam hal ini terkadang penulis berpikir seandainya pondok kita bernama misalnya “Al-Amien Madura”. Dari identitas ini kapasitas kelembagaan tampak lebih terlihat secara meyakinkan. Sebagai sebuah pondok pesantren yang kredibel di pulau Madura, ya Al-Amien Madura; sebuah pondok yang sangat megah berdiri sisi jalan poros lintas Madura, ya Al-Amien Madura; sebuah pondok unggul dan menjadi rujukan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan pesantren, ya Al-Amien Madura, Al-Amien ya Madura, Madura ya Al-Amien. Kiprah pondok kita secara nasional yang sejak berdiri hingga saat ini terus berkembang pesat dan terus diprospek ke depan dengan lompatan-lompatan inovasi bil jadiidil ashlah, kiranya tidak berlebihan dan menjadi garansi apabila diwujudkan identitas sebagai Al-Amien Madura, Prenduan Sumenep Jawa Timur Indonesia.

Semoga lembaga pondok kita tercinta terus berkibar, kita berdo’a dan berharap akan terus berkiprah abadi di tengah amanat umat ila yamil qiyamah, tidak se-temporal kiprah klub sepak bola yang seketika pamornya bisa turun dratis bahkan tidak terdengar lagi kharismanya manakala sering kalah dalam kompetisi dan bahkan terdegradasi. Penyematan nama identitas yang lebih berkapasitas dan progresif bagi pondok kita kiranya juga tidak berlebihan, atau setidaknya sebagai wacana sementara yang didasari semangat kecintaan dan kebanggaan, serta rasa ikut memiliki lembaga pondok kita agar terus berkembang dan berjaya. Karena itu, diskursus lanjutan yang lebih dalam kiranya dapat memperkuat khazanah berbagai perspektif terhadap nama dan identitas lembaga idaman kita bersama.

AGUS WEDI

Alumni TMI Al Amien Tahun 1994 (GENOSTIECA)

Saat ini, Tim Penjaminan Mutu dan Dosen Universitas Negeri Malang

aguswedi123@gmail.com