Tag: Warkat

Resonansi Doa Sang Kiyai

kh-muhammad-idris-jauhariAL-AMIEN, nama itu menggema dalam pita kognisi masyarakat yang mendengar namanya, ia adalah pesantren modern yang melahirkan generasi berkelas yang diperhitungkan di masyarakat, dibuktikan oleh aktualisasi para alumninya yang tersebar seantero nusantara. Kala itu, Al-Amien dikenal dengan beberapa keunikan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Setidaknya ada empat keunikan yang sangat menonjol, yaitu: pertama, Al-Amien tampil sebagai pesantren modern, kedua, Al-Amien membekali santri dengan kompetensi bahasa Arab dan Inggris, ketiga, Otonomi kurikulum TMI Al-Amien dan independensinya dari semua golongan, dan keempat, Al-Amien mendelegasikan santri berprestasi untuk studi lanjut ke luar negeri.

Empat keunikan itu yang membuat pesantren Al-Amien memiliki derajat pembeda dengan pesantren lainnya. Sebagai pesantren yang dilabelkan pesantren modern, ia membuka akses terhadap perkembangan yang positif dari luar dengan tetap merawat warisan luhur dalam tradisi salaf. Keharuman namanya terhembus pula dari para alumninya yang terserap dalam segala macam profesi dan pekerjaan, tentu mereka memiliki nilai lebih yaitu kecakapan berbahasa Arab dan Inggris serta kompetensi lain yang melengkapi keahlian mereka.

Santri Al-Amien memiliki kecerdasan majmuk atau multi skill (multi terampil; istilah KH. Idris Djauhari). Berbagai macam ragam program intra dan ekstra yang digelar dalam kurikulum hidup dalam pesantren, jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, membayangkan pesantren hanya belajar ilmu agama semata. Hingar-bingar di Al-Amien, nuansa pendidikan penuh dengan program dan kegiatan. Pendidikan kecakapan diprogramkan pada seluruh santri untuk memilih pendidikan keterampilan wajib dan keterampilan pilihan, mulai dari kecakapan motorik kasar hingga motorik halus. Wajar, kalau kemudian para alumninya telah memiliki kecakapan multi. Berbekal kecakapan itu mereka para alumni mampu beraktualisasi diri dan berkembang di masyarakat.

Pesona dan keharuman nama Al-Amien yang demikian itu, membuat orang tua saya terpanggil untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren Al-Amien. Keputusan yang berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, merupakan keputusan yang tidak populer karena banyak stigma negatif yang menghalangi keputusan itu. Saat itu di tahun 1980, animo dominan masyarakat lebih cenderung ke pesantren salaf, namun orang tua saya mampu menembus batas kecenderungan mayoritas. Orang tua saya berkeyakinan kuat bahwa generasi yang lahir dari Al-Amien akan menjadi generasi yang “qowiyun amiin”.

Nama Al-Amien, memiliki kekuatan resonansi yang terpancar dari kekuatan doa para kiyai dan aura keikhlasan yang menjiwai seluruh praktik kehidupan pesantren, tidak heran bila para santrinya datang dari seluruh pelosok negeri, pencitraanya menteladani penyandang titel “Al-Amien” baginda rosul Muhammad SAW. Resonansi doa dan keikhlasan para pengasuh mampu menghantarkan kesuksesan para santri. Barokah doa dan keikhlasan dalam pengasuhan itulah yang menjadikan pesantren Al-Amien layak bagai “ibu kandung”, tempat naung kita.

Menjadi santri di pondok pesantren Al-Amien selama enam tahun merupakan deret waktu yang cukup lama. Hal demikian, saya tidak memandang sebagai penjara suci tetapi sebagai proses “persemedian” untuk mendapatkan beberapa “kesaktian mandraguna”. Dalam proses persemedian banyak aral lintang yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan, tidak semua santri yang mampu melalui rentetan cobaan dan ujian dengan baik. Bersyukur, saya termasuk yang lolos dan lulus melaluinya dan menjadi santri yang sujana.

Cara nyatri yang saya praktikkan kala itu, berbeda dengan para santri pada umumnya, saya jadikan “sajadah” sebagai sarana yang multiguna. Banyak fungsi sajadah yang  digelar untuk melakukan berbagai kegiatan; (1) di atas hamparan sajadah saya melakukan ibadah shalat dan dzikir, (2) “peragihan belajar” sering saya lakukan di atas sajadah sambil menunggu waktu adzan berkumandang, dan (3) hingga tidurpun saya gelar dengan alas sajadah.

Biasanya saya menggelar sajadah di pojok depan bagian utara dari masjid (mushalla Baiturrahman saat itu), siapapun teman sudah faham bahwa sajadah dan posisi tempat itu sudah istiqomah milik saya. Di luar kesadaran saya bahwa cara-cara yang demikian ternyata telah mampu membangun kecerdasan spiritual dalam diri saya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan spiritual berkontribusi 65% terhadap kesuksesan. Istimewanya lagi, bahwa dengan mediasi sajadah, saya menemukan “halawatal iman” (manisnya iman) sebagai intisari dari proses nyantri.

Sebagai generasi santri tahun 80-an, saya diasuh dengan dua model dan iklim pendidikan, separuh dari hidup saya berada di iklim pendidikan kedisiplinan (behafioristik), pemandangannya adalah perlakuan dengan tindak kekerasan dan bentak-bentak, dan separuhnya lagi berada di iklim pendidikan dengan pendekatan kasih sayang (konstruktifistik), pemandangannya kala itu adalah  penyadaran dan pengayoman. Tulisan ini tidak untuk mendukung atau memperdebatkan salah satu dari keduanya, tetapi cenderung memilih konvergensi keduanya.

Apapun pilihannya, itu hanya suatu pendekatan dalam praktik pendidikan. Ada hal lain yang lebih penting dari kedua pendekatan tersebut yaitu pendekatan spiritual. Saya senantiasa meyakini bahwa setiap kata dan perbuatan kiyai adalah doa, dan doa itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyat dalam setting nurani dan akal budi santri. Beberapa nasihat pengasuh (almarhum; KH. Tidjani Djauhari dan KH. Idris Djauhari) yang terus segar dalam ingatan saya, adalah;

“Jangan jadi karyawan, tapi jadilah orang yang punya karyawan…”
“Jarrib wa laahidh takun aarifan…”
“Mengabdi, berjasa dan berkembang…”
“Al-Amien sudah memberi kunci hidup….”
“Al-muhafadhotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadiidil ashlah…”
“Mencetak santri sebagai mundzirul qoum…”
“Apapun profesi kamu setelah keluar dari pesantren jangan tinggalkan profesi guru…”
“Kalau kamu hidup di luar pesantren, kamu akan menemukan kehidupan sosial masyarakat yang berkotak-kotak, masuklah dari salah satu kotak komunitas sosial yang mampu memberikan perubahan dan perkembangan…”

Nasihat beliau bagai organisme yang terus hidup mencari tempat yang strategis dalam relung kalbu.

Pola pengasuhan Al-Amien begitu kuat membangun kepribadian yang “berkarakter Al-Amien”. Karakter itu dibawa hingga keluar menjadi alumni; mengabdi, berjasa dan berkembang. Itulah visi dan misi yang terbentuk dalam diri santri dan alumni. Mengemban visi dan misi itu tentu hingga kini belum selesai. Sepulang saya dari medan juang masa pengabdian di Kalimantan Timur, saya bertekad untuk kuliah. Saya bingung untuk memilih kampus, saya minta doa restu dari kiyai, sang kiyai menyarankan saya untuk kuliah di Pamekasan, karena beliau menginginkan ada alumni Al-Amien yang menonjol di Pamekasan. Beliau memberi saya doa dan restu dengan kalimat; bismillah.., kalimat itu masuk terpatri dalam hati saya yang paling dalam. Akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan (STAI Yunisma saat itu).

Resonansi doa sang kiyai menghantarkan saya menjadi pimpinan organisasi, hampir setiap organisasi yang saya masuki, saya terpilih menjadi pemimpin, diantaranya adalah; sebagai Presiden Mahasiswa di Senat Mahasiswa UIM, menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat UIM, Diangkat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Pamekasan dan terpilih sebagai Ketua Umum IPNU Cabang Pamekasan. Kemampuan memimpin organisasi sebenarnya telah terbentuk dari Pesantren Al-Amien melalui penggemblengan demi penggemblengan di organisasi santri yang ada di pesantren.

Kiprah saya di berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa membuat saya mampu beraktualisasi diri. Menjadi seorang aktifis organisasi mahasiswa menjadi modal sosial untuk tampil di ranah publik (mundzirul qoum). Banyak manfaat yang dirasakan dalam beroganisasi ekstra kampus, diantaranya; memberikan kemampuan analisis sosial, kematangan nalar dan peta berfikir, knowledge share, penyiapan mental dalam melakukan resolusi konflik dan tentu manfaat utamanya yaitu kemampuan mengorganisasi massa. Sungguh sangat penting menempa kemandirian, sikap bertanggungjawab, keteladanan (nufudz), kedisiplinan dan keleluasan berfikir, kendati itu semua sudah dibangun sejak dini di Al-amien.

Kesibukan saya dalam kegiatan ekstra kampus tidak mengabaikan untuk berprestasi di intra kampus. Walhasil, saya berhasil menyandang gelar sarjana dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Prestasi sebagai wisudawan terbaik menghantarkan saya untuk diangkat sebagai pegawai tetap dan dosen tetap di UIM. Untuk tidak menyiakan waktu, saya langsung manfaatkan kesempatan untuk studi lanjut pada jenjang S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi pendidikan ekonomi, dengan beasiswa dari DIRJEND DIKTI.Wawasan pada  program studi ekonomi itulah yang membelokkan arah hidup saya, bahwa eksistensi hidup di masa yang akan datang berada dalam genggaman tangan para ekonom. Dan ilmu ekonomi yang saya peroleh di kampus disadari tidak boleh berhenti dari teori ke teori, tetapi dari teori ke implementasi.

Maka saya rintis usaha sebagai pelaku ekonomi di ritel alat-alat kesehatan, apotek dan resto. Kesibukan ekonomi yang menjatuhkan pilihan untuk pamit mininggalkan dunia kampus. Hidup antar dunia; pesantren, kampus dan dunia usaha, apa sambungannya?. Saya sering bercerita pada teman-teman alumni Al-Amien, “kalau saya tidak digembleng di Kopontren, mungkin saya tidak pernah punya toko di tiga kabupaten, kalau saya tidak belajar melarat di pengurus KOPDA (PURUM), mungkin saya tidak pernah punya Rumah Makan (Resto) sebagaimana saat ini”. Pada puncak rintisan usaha menata ekonomi itulah, saya tersadar akan pesan sang kiyai bahwa “apapun profesi kamu, jangan tinggalkan profesi guru…”. Bersamaan dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk mewaqofkan diri sebagai dosen di IDIA Al-Amien.

Akhir cerita, saya meyakini bahwa pada setiap kenikmatan yang terjadi pada saya, ada keterlibatan sebuah kekuatan dahsyat, yaitu; dorongan supranatural yang bersumber dari resonansi doa sang kiyai. Amiin…ya mujiibassaailiin. Alhamdulillah, terimakasih Al-Amien.

Dr. H. Mashuri Toha, M.Pd

(Alumni TMI Al-Amien Tahun 1992, USIECA)

Sekarang Aktif Sebagai Dosen IDIA Prenduan

Semangat Juang dan Keikhlasan Guru Al-Amien

pimpinan melantikSetiap fase pendidikan yang saya lalui memiliki kesan tersendiri. Namun, saya mengakui bahwa nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi fase pendidikan yang paling sangat berkesan. Tujuh tahun lamanya saya nyantri di Al-Amien, enam tahun sebagai santri dan satu tahun sebagai ustadz (pengabdian).

Bukan berapa banyak ilmu ukurannya, namun nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam mengarungi hidup adalah alasannya. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Amien menjadi tempat belajar paling berkesan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya dapati. Mental kuat dengan semangat juang yang besar adalah anugerah terbesar yang saya peroleh dari pondok tercinta ini.

Mental kuat dan semangat juang adalah pelajaran yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi saya jumpai juga di masjid, kamar, lapangan, BPSK dan tempat-tempat lainnya. 24 jam hidup dalam pondok selalu mendapati setiap sudut dengan kegiatan-kegaitan positif yang mengarah pada pembentukan mental dan semangat para santri.

Benar, 24 jam proses pendidikan yang saya terima selama nyantri di Al-Amien. Bangun tidur pukul 3 pagi hingga ayyuhalikhwan memanggil pukul 9 malam, para asatidz dan muallim bergantian mendidik santri.
Tidur malam pun juga bagian dari pendidikan. Di saat jam tidur malam, di sudut-sudut pondok terdapat pendidikan tentang arti pengorbanan. Dengan mengorbankan jam tidur satu bulan satu kali, para santri bergantian menjadi bulis menjaga keamanan pondok dan seluruh penghuni pondok.

Rentetan pendidikan yang saya peroleh selama nyantri, mengajarkan saya untuk memaknai ikhlas dengan sempurna. Kita selalu mendengar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan, ikhlas tidak digaji dan konotasi lainnya yang mengartikan ikhlas sebagai bentuk jasa tanpa upah.

Tidak salah, namun hanya fokus kepada imbalan, upah dan bayaran akan menggiring pikiran kita bahwa ikhlas tidak ada kaitannya dengan kualitas kerja dan jasa itu sendiri. Di sinilah Al-Amien memaknai ikhlas dengan proporsional.
Do the best and give the best adalah makna ikhlas yang diajarkan kepada santri. Lakukan terbaik dan berikan terbaik adalah cerminan sang pelaku kegiatan melakukannya dengan ikhlas. Praktik dari nilai yang sangat mulia ini dengan mudah dijumpai di kelas-kelas, lapangan, kamar, bahkan kamar mandi.

Saya selalu mendapati para asatidz dengan penuh semangat melangkahkan kaki dari kamar menuju masjid, kelas, kamar dan lapangan untuk memberikan berbagai pendidikan dan latihan. Dari berbagai kelas terdengar suara-suara santri belajar, ada yang mengaji, menghafal, melantukan mahfudzat dengan berbagai lagu.

Di lapangan, berbagai bentuk olahraga dan beladiri. Di BPSK dan di Gugus Depan, Palang Merah Remaja dan pecinta Pramuka berlatih. Di masjid, berbagai kegiatan seperti shalat, mengaji, tasyji` (member motivasi) dan kelompok-kelopok kajian, bahasa dan sastra hanyut dalam diskusi.

Semua tempat di atas, dipimpin oleh ustadz atau muallim yang begitu semangat tak kenal lelah. Dari raut muka mereka tampak keikhlasan, bukan karena saya mengetahui gaji mereka yang tidak seberapa, tapi karena saya meyakini mereka ikhlas dari totalitas mereka mendidik, mengajar dan melatih para santri.

Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana Ust. Suhaimi Syatroh dengan penuh semangat mengajarkan “al-Adyan” dengan suara yang sangat keras dan jelas men-syarah buku yang telah dia hafal dari cover to cover.

Para wali kelas yang begitu tekun mengajar dan tak bosan menjadi tempat santri mencurahkan permasalahan yang dihadapi. Memperhatikan dan menilai seluruh kegiatan santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Untuk kemudian menjadi bahan bagaimana mendidik dan mengarahkan santri kepada kegiatan-kegiatan yang lebih baik.

Para asatidz dan muallim yang mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, memimpin kajian-kajian keilmuan dan kesusasteraan di sekitar masjid di sore hari hingga adzan maghrib berkumandang. Menggambarkan betapa saya beruntung dididik oleh mereka yang tak hanya tak digaji, namun juga berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik.

Semangat juang para asatidz dan muallim di atas, juga mengajarkan para santri akan arti tawakkal sebenar-benarnya. Manusia hanya memiliki kewajiban berusaha, usaha dengan semangat juang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Namun Allah Swt jugalah yang menentukan segalanya.

Dari itu, semangat juang yang dicontohkan oleh guru-guru di Al-Amien mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah dilihat dari hasil akhir semata. Kesuksesan adalah melalui berbagai proses kehidupan dengan semangat juang tanpa putus asa.
Demikianlah guru-guru di Al-Amien, saya selalu mendapati mereka begitu semangat dalam mengarahkan santri untuk menjadi generasi yang unggul. Semangat juang mereka mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Muwafik Maulana
Alumni TMI Al-Amien Prenduan (Angkatan 31). S1 Al-Azhar University, Egypt,
dan S2 INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) University, Malaysia.

Alhamdulillah, Saya Mendapat Beasiswa Belajar Bahasa Spanyol di Kolombia

kolombia rezise “من جدّ وجد

(Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan).

 Kalimat itulah yang yang pertama kali saya pelajari ketika belajar di bumi Djauhari dan selalu saya ingat. Tidak terasa sudah sembilan tahun saya meninggalkan amamater tercinta, Al-Amien Prenduan, guna mengimplementasikan ilmu yang telah saya pelajari di sana. Tahun 2008 menjadi tahun pelepasan bagi saya dan teman-teman angkatan 3319 dari pondok pesantren Al-Amien yang telah menjadi rumah kedua saya selama 5 tahun lamanya. Di tahun itu pula saya mulai berkelana menuntut ilmu di kota pelajar, Yogyakarta. Di kota yang menjadi tujuan favorit pelajar nusantara inilah saya menghabiskan waktu setelah selesai studi di TMI AL-AMIEN Prenduan.

Guru-guru saya di Al-amien selalu berpesan agar tidak lupa berikhtiar, berdo’a, dan bertawakkal. Alhamdulillah berkat barokah ilmu dari beliau dan semangat belajar, akhirnya pada tahun ini saya punya kesempatan untuk belajar bahasa Spanyol di negara yang mempunyai perbedaan 12 jam dengan Indonesia yaitu Kolombia, Amerika Selatan. Saya mendapatkan beasiswa yang ditawarkan langsung oleh negara ini (Kolombia red.) yang ditujukan kepada mahasiswa dan tour guide dari berbagai negara di Asia Australia, dan New Zealand selama 4 bulan dari Agustus – November 2017.

Tanggal 30 mei yang lalu saya menerima pemberitahuan via e-mail bahwa saya lulus dan terpilih sebagai peserta Program ELE FOCALAE / ASIA + yang diadakan pemerintah Kolombia pada semester II tahun 2017 di Kolombia. Bahagia sekali rasanya mendapat kabar tersebut, bahkan sempat tidak percaya sampai saya cek dan baca berulang-ulang e-mail tersebut. Dari ribuan pelamar beasiswa dari berbagai negara di Asia ditambah Australia dan New Zealand, saya menjadi salah satu peserta yang terpilih dari Indonesia. Bangga sekali rasanya bisa terpilih menjadi salah satu peserta dan juga jerih payah yang telah saya lakukan dan persiapkan selama kurang lebih  berbulan-bulan terbayar sudah. Tanggal 21 Juli 2017 menjadi hari pemberangkatan saya bersama 6 orang peserta dari Indonesia lainnya dari berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Jakarta, Magelang, Semarang, Bandung, dan Garut.

Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari program ini guna meningkatkan SDM di Indonesia khususnya dalam bahasa Spanyol. Mengingat di Indonesia minim sekali tempat kursus, sekolah, institusi, atau perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Spanyol. Sehingga jumlah SDM yang bisa berbahasa Spanyol di Indonesia sangatlah sedikit sementara kebutuhan guide berbahasa spanyol yang mumpuni terus meningkat mengingat wisata Indonesia dengan slogannya “wonderful Indonesia” terus diminati turis asing khususnya dari spanyol dan negara Amerika Latin yang mayoritas berbahasa spanyol.

Prakarsa program ELE FOCALAE (sekarang lebih dikenal dengan ELE ASIA+ krna cakupan negara yang berpartisipasi telah bertambah) lahir pada tahun 2012 dengan kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri, Patti Londoño Jaramillo, ke beberapa negara di Asia Tenggara. Selama kunjungan ini otoritas pariwisata di wilayah tersebut menyoroti peningkatan wisatawan yang berasal dari negara-negara berbahasa Spanyol dan meminta Pemerintah Kolombia untuk melakukan kolaborasi untuk melatih pemandu wisata mereka dalam bahasa Spanyol.

Komitmen Kolombia diwujudkan pada pertemuan Kelompok Kerja Kebudayaan, Olahraga, dan Pendidikan Amerika Latin dan Asia Timur (FOCALAE), yang terdiri dari delapan belas negara di Amerika Latin dan enam belas negara di Asia Timur.

Dengan demikian, pada tahun 2012, Kementerian Luar Negeri Kolombia membentuk Badan Kerjasama Internasional Kolombia (APC-Colombia), ICETEX, Instituto Caro y Cuervo, dan institusi pendidikan tinggi dengan program pengajaran bahasa Spanyol yang diakui sebagai bahasa untuk mengembangkan inisiatif. Program ini terlaksana sejak tahun 2013 berkat kerja sama entitas tersebut dan menerima 60 orang setiap tahunnya untuk belajar bahasa Spanyol di Kolombia.

Pada tahun 2016, dalam versi keempat dari program ini terdapat peserta yang berjumlah 32 pemandu wisata dan 28 siswa berasal dari Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, China, Mongolia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Brunei dan Selandia Baru. Universitas tuan rumah yang terpilih adalah Universidad Autónoma de Bucaramanga dan Universidad Santo Tomás de Aquino di Bucaramanga; EAFIT dan Universidad Pontificia Bolivariana di Medellín; Universidad la Gran Colombia di Armenia; Universidad de Caldas di Manizales; Pontificia Universidad Javeriana dan Universidad de la Sabana di Bogotá.

Program ini merupakan full bright schoolarship, dengan kata lain program ini membayar semua keperluan peserta mulai dari tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Kolombia, pembuatan Visa, biaya living cost perbulan, dll. Jadi, kita benar-benar tidak lagi harus mengeluarkan uang sepeserpun krna setiap bulan kita menerima uang dari pemerintah Kolombia yang ditransfer langsung ke akun bank kita yang juga dibuatkan oleh pihak pemerintah Kolombia.

Pada tahun 2017, peserta yang mengikuti program ini bertambah menjadi 74 orang. Tahun ini peserta yang diambil memang lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang diikuti oleh 60 orang. Hal ini dikarenakan penyelenggara merasa program yang berjalan selama 4 tahun (sejak 2013 sampai tahun 2016) telah sukses dan mendapat respon positif dari berbagai negara di Asia, maka dari itu pada edisi ke-V ini mereka menambah kuota penerima beasiswa dengan memperluas negara yang berpartisipasi seperti (India, Nepal, Bangladesh, Maladewa, Butan, Mongolia, Australia, dan New Zealand). Indonesia mendapat jatah peserta terbanyak yaitu 7 orang di antara peserta negara-negara lainnya. Setelah mengikuti training selama 5 hari di ibukota kolombia, Bogota, seluruh peserta yang berjumlah 74 orang berangkat ke kota yang telah dibagi guna menghabiskan 4 bulan selanjutnya belajar bahasa spanyol.

Saya ditempatkan di kota Armenia, ibukota dari Departamento del Quindio. Suatu kota yang sangat tenang, orang-orangnnya baik dan ramah, tidak terlalu banyak kemacetan, dan yang paling penting adalah kota ini merupakan sumbu dari pertanian kopi terpenting di Kolombia “eje del cafetero” yang daerahnya diakui dan dilindungi oleh UNESCO, jadi kualitas kopinya tidak perlu diragukan lagi. Di kota ini saya belajar di sebuah universitas bernama Universidad La Gran Colombia Armenia mulai dari agustus sampai akhir november nanti.

Saya sangat senang mendapatkan beasiswa belajar bahasa spanyol di tempat terbaik untuk belajar bahasa spanyol, Kolombia. Bukan hanya bahasa, saya juga belajar budaya, gastronomi, gaya hidup, wisata, dan tarian local di sini seperti Ballenato, Horoppo, Merengge, Salsa, Bachata, dll.

Saya ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada guru-guru saya di TMI Al-Amien Prenduan khususnya kepada KH. Tidjani Djauhari (alm.), KH. Idris Djauhari (alm.), dan KH. Mahtum Djauhari (alm.) allahummaghfirlahum. Karena berkat ilmu dan barokah yang telah beliau berikan dan ajarkan, alhamdulillah saya dapat kesempatan belajar di Kolombia. Terima kasih pula kepada asatidz (guru-guru) yang telah mengajari saya banyak hal dari awal saya mondok sampai saya lulus.

Pesan saya untuk para santri dan alumni Al-Amien prenduan agar tetap berijtihad dalam menuntut dan mengamalkan ilmu agar apapun yang kita dapatkan menjadi barokah dan berguna bagi diri kita, keluarga, masyarakat, dan agama.

Romi Maulidi

Alumni TMI AL-AMIEN Prenduan tahun 2008