Tag: Catatan Guru

Resonansi Doa Sang Kiyai

kh-muhammad-idris-jauhariAL-AMIEN, nama itu menggema dalam pita kognisi masyarakat yang mendengar namanya, ia adalah pesantren modern yang melahirkan generasi berkelas yang diperhitungkan di masyarakat, dibuktikan oleh aktualisasi para alumninya yang tersebar seantero nusantara. Kala itu, Al-Amien dikenal dengan beberapa keunikan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Setidaknya ada empat keunikan yang sangat menonjol, yaitu: pertama, Al-Amien tampil sebagai pesantren modern, kedua, Al-Amien membekali santri dengan kompetensi bahasa Arab dan Inggris, ketiga, Otonomi kurikulum TMI Al-Amien dan independensinya dari semua golongan, dan keempat, Al-Amien mendelegasikan santri berprestasi untuk studi lanjut ke luar negeri.

Empat keunikan itu yang membuat pesantren Al-Amien memiliki derajat pembeda dengan pesantren lainnya. Sebagai pesantren yang dilabelkan pesantren modern, ia membuka akses terhadap perkembangan yang positif dari luar dengan tetap merawat warisan luhur dalam tradisi salaf. Keharuman namanya terhembus pula dari para alumninya yang terserap dalam segala macam profesi dan pekerjaan, tentu mereka memiliki nilai lebih yaitu kecakapan berbahasa Arab dan Inggris serta kompetensi lain yang melengkapi keahlian mereka.

Santri Al-Amien memiliki kecerdasan majmuk atau multi skill (multi terampil; istilah KH. Idris Djauhari). Berbagai macam ragam program intra dan ekstra yang digelar dalam kurikulum hidup dalam pesantren, jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, membayangkan pesantren hanya belajar ilmu agama semata. Hingar-bingar di Al-Amien, nuansa pendidikan penuh dengan program dan kegiatan. Pendidikan kecakapan diprogramkan pada seluruh santri untuk memilih pendidikan keterampilan wajib dan keterampilan pilihan, mulai dari kecakapan motorik kasar hingga motorik halus. Wajar, kalau kemudian para alumninya telah memiliki kecakapan multi. Berbekal kecakapan itu mereka para alumni mampu beraktualisasi diri dan berkembang di masyarakat.

Pesona dan keharuman nama Al-Amien yang demikian itu, membuat orang tua saya terpanggil untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren Al-Amien. Keputusan yang berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, merupakan keputusan yang tidak populer karena banyak stigma negatif yang menghalangi keputusan itu. Saat itu di tahun 1980, animo dominan masyarakat lebih cenderung ke pesantren salaf, namun orang tua saya mampu menembus batas kecenderungan mayoritas. Orang tua saya berkeyakinan kuat bahwa generasi yang lahir dari Al-Amien akan menjadi generasi yang “qowiyun amiin”.

Nama Al-Amien, memiliki kekuatan resonansi yang terpancar dari kekuatan doa para kiyai dan aura keikhlasan yang menjiwai seluruh praktik kehidupan pesantren, tidak heran bila para santrinya datang dari seluruh pelosok negeri, pencitraanya menteladani penyandang titel “Al-Amien” baginda rosul Muhammad SAW. Resonansi doa dan keikhlasan para pengasuh mampu menghantarkan kesuksesan para santri. Barokah doa dan keikhlasan dalam pengasuhan itulah yang menjadikan pesantren Al-Amien layak bagai “ibu kandung”, tempat naung kita.

Menjadi santri di pondok pesantren Al-Amien selama enam tahun merupakan deret waktu yang cukup lama. Hal demikian, saya tidak memandang sebagai penjara suci tetapi sebagai proses “persemedian” untuk mendapatkan beberapa “kesaktian mandraguna”. Dalam proses persemedian banyak aral lintang yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan, tidak semua santri yang mampu melalui rentetan cobaan dan ujian dengan baik. Bersyukur, saya termasuk yang lolos dan lulus melaluinya dan menjadi santri yang sujana.

Cara nyatri yang saya praktikkan kala itu, berbeda dengan para santri pada umumnya, saya jadikan “sajadah” sebagai sarana yang multiguna. Banyak fungsi sajadah yang  digelar untuk melakukan berbagai kegiatan; (1) di atas hamparan sajadah saya melakukan ibadah shalat dan dzikir, (2) “peragihan belajar” sering saya lakukan di atas sajadah sambil menunggu waktu adzan berkumandang, dan (3) hingga tidurpun saya gelar dengan alas sajadah.

Biasanya saya menggelar sajadah di pojok depan bagian utara dari masjid (mushalla Baiturrahman saat itu), siapapun teman sudah faham bahwa sajadah dan posisi tempat itu sudah istiqomah milik saya. Di luar kesadaran saya bahwa cara-cara yang demikian ternyata telah mampu membangun kecerdasan spiritual dalam diri saya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan spiritual berkontribusi 65% terhadap kesuksesan. Istimewanya lagi, bahwa dengan mediasi sajadah, saya menemukan “halawatal iman” (manisnya iman) sebagai intisari dari proses nyantri.

Sebagai generasi santri tahun 80-an, saya diasuh dengan dua model dan iklim pendidikan, separuh dari hidup saya berada di iklim pendidikan kedisiplinan (behafioristik), pemandangannya adalah perlakuan dengan tindak kekerasan dan bentak-bentak, dan separuhnya lagi berada di iklim pendidikan dengan pendekatan kasih sayang (konstruktifistik), pemandangannya kala itu adalah  penyadaran dan pengayoman. Tulisan ini tidak untuk mendukung atau memperdebatkan salah satu dari keduanya, tetapi cenderung memilih konvergensi keduanya.

Apapun pilihannya, itu hanya suatu pendekatan dalam praktik pendidikan. Ada hal lain yang lebih penting dari kedua pendekatan tersebut yaitu pendekatan spiritual. Saya senantiasa meyakini bahwa setiap kata dan perbuatan kiyai adalah doa, dan doa itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyat dalam setting nurani dan akal budi santri. Beberapa nasihat pengasuh (almarhum; KH. Tidjani Djauhari dan KH. Idris Djauhari) yang terus segar dalam ingatan saya, adalah;

“Jangan jadi karyawan, tapi jadilah orang yang punya karyawan…”
“Jarrib wa laahidh takun aarifan…”
“Mengabdi, berjasa dan berkembang…”
“Al-Amien sudah memberi kunci hidup….”
“Al-muhafadhotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadiidil ashlah…”
“Mencetak santri sebagai mundzirul qoum…”
“Apapun profesi kamu setelah keluar dari pesantren jangan tinggalkan profesi guru…”
“Kalau kamu hidup di luar pesantren, kamu akan menemukan kehidupan sosial masyarakat yang berkotak-kotak, masuklah dari salah satu kotak komunitas sosial yang mampu memberikan perubahan dan perkembangan…”

Nasihat beliau bagai organisme yang terus hidup mencari tempat yang strategis dalam relung kalbu.

Pola pengasuhan Al-Amien begitu kuat membangun kepribadian yang “berkarakter Al-Amien”. Karakter itu dibawa hingga keluar menjadi alumni; mengabdi, berjasa dan berkembang. Itulah visi dan misi yang terbentuk dalam diri santri dan alumni. Mengemban visi dan misi itu tentu hingga kini belum selesai. Sepulang saya dari medan juang masa pengabdian di Kalimantan Timur, saya bertekad untuk kuliah. Saya bingung untuk memilih kampus, saya minta doa restu dari kiyai, sang kiyai menyarankan saya untuk kuliah di Pamekasan, karena beliau menginginkan ada alumni Al-Amien yang menonjol di Pamekasan. Beliau memberi saya doa dan restu dengan kalimat; bismillah.., kalimat itu masuk terpatri dalam hati saya yang paling dalam. Akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan (STAI Yunisma saat itu).

Resonansi doa sang kiyai menghantarkan saya menjadi pimpinan organisasi, hampir setiap organisasi yang saya masuki, saya terpilih menjadi pemimpin, diantaranya adalah; sebagai Presiden Mahasiswa di Senat Mahasiswa UIM, menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat UIM, Diangkat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Pamekasan dan terpilih sebagai Ketua Umum IPNU Cabang Pamekasan. Kemampuan memimpin organisasi sebenarnya telah terbentuk dari Pesantren Al-Amien melalui penggemblengan demi penggemblengan di organisasi santri yang ada di pesantren.

Kiprah saya di berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa membuat saya mampu beraktualisasi diri. Menjadi seorang aktifis organisasi mahasiswa menjadi modal sosial untuk tampil di ranah publik (mundzirul qoum). Banyak manfaat yang dirasakan dalam beroganisasi ekstra kampus, diantaranya; memberikan kemampuan analisis sosial, kematangan nalar dan peta berfikir, knowledge share, penyiapan mental dalam melakukan resolusi konflik dan tentu manfaat utamanya yaitu kemampuan mengorganisasi massa. Sungguh sangat penting menempa kemandirian, sikap bertanggungjawab, keteladanan (nufudz), kedisiplinan dan keleluasan berfikir, kendati itu semua sudah dibangun sejak dini di Al-amien.

Kesibukan saya dalam kegiatan ekstra kampus tidak mengabaikan untuk berprestasi di intra kampus. Walhasil, saya berhasil menyandang gelar sarjana dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Prestasi sebagai wisudawan terbaik menghantarkan saya untuk diangkat sebagai pegawai tetap dan dosen tetap di UIM. Untuk tidak menyiakan waktu, saya langsung manfaatkan kesempatan untuk studi lanjut pada jenjang S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi pendidikan ekonomi, dengan beasiswa dari DIRJEND DIKTI.Wawasan pada  program studi ekonomi itulah yang membelokkan arah hidup saya, bahwa eksistensi hidup di masa yang akan datang berada dalam genggaman tangan para ekonom. Dan ilmu ekonomi yang saya peroleh di kampus disadari tidak boleh berhenti dari teori ke teori, tetapi dari teori ke implementasi.

Maka saya rintis usaha sebagai pelaku ekonomi di ritel alat-alat kesehatan, apotek dan resto. Kesibukan ekonomi yang menjatuhkan pilihan untuk pamit mininggalkan dunia kampus. Hidup antar dunia; pesantren, kampus dan dunia usaha, apa sambungannya?. Saya sering bercerita pada teman-teman alumni Al-Amien, “kalau saya tidak digembleng di Kopontren, mungkin saya tidak pernah punya toko di tiga kabupaten, kalau saya tidak belajar melarat di pengurus KOPDA (PURUM), mungkin saya tidak pernah punya Rumah Makan (Resto) sebagaimana saat ini”. Pada puncak rintisan usaha menata ekonomi itulah, saya tersadar akan pesan sang kiyai bahwa “apapun profesi kamu, jangan tinggalkan profesi guru…”. Bersamaan dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk mewaqofkan diri sebagai dosen di IDIA Al-Amien.

Akhir cerita, saya meyakini bahwa pada setiap kenikmatan yang terjadi pada saya, ada keterlibatan sebuah kekuatan dahsyat, yaitu; dorongan supranatural yang bersumber dari resonansi doa sang kiyai. Amiin…ya mujiibassaailiin. Alhamdulillah, terimakasih Al-Amien.

Dr. H. Mashuri Toha, M.Pd

(Alumni TMI Al-Amien Tahun 1992, USIECA)

Sekarang Aktif Sebagai Dosen IDIA Prenduan