Tag: catatan

Semangat Juang dan Keikhlasan Guru Al-Amien

pimpinan melantikSetiap fase pendidikan yang saya lalui memiliki kesan tersendiri. Namun, saya mengakui bahwa nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi fase pendidikan yang paling sangat berkesan. Tujuh tahun lamanya saya nyantri di Al-Amien, enam tahun sebagai santri dan satu tahun sebagai ustadz (pengabdian).

Bukan berapa banyak ilmu ukurannya, namun nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam mengarungi hidup adalah alasannya. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Amien menjadi tempat belajar paling berkesan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya dapati. Mental kuat dengan semangat juang yang besar adalah anugerah terbesar yang saya peroleh dari pondok tercinta ini.

Mental kuat dan semangat juang adalah pelajaran yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi saya jumpai juga di masjid, kamar, lapangan, BPSK dan tempat-tempat lainnya. 24 jam hidup dalam pondok selalu mendapati setiap sudut dengan kegiatan-kegaitan positif yang mengarah pada pembentukan mental dan semangat para santri.

Benar, 24 jam proses pendidikan yang saya terima selama nyantri di Al-Amien. Bangun tidur pukul 3 pagi hingga ayyuhalikhwan memanggil pukul 9 malam, para asatidz dan muallim bergantian mendidik santri.
Tidur malam pun juga bagian dari pendidikan. Di saat jam tidur malam, di sudut-sudut pondok terdapat pendidikan tentang arti pengorbanan. Dengan mengorbankan jam tidur satu bulan satu kali, para santri bergantian menjadi bulis menjaga keamanan pondok dan seluruh penghuni pondok.

Rentetan pendidikan yang saya peroleh selama nyantri, mengajarkan saya untuk memaknai ikhlas dengan sempurna. Kita selalu mendengar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan, ikhlas tidak digaji dan konotasi lainnya yang mengartikan ikhlas sebagai bentuk jasa tanpa upah.

Tidak salah, namun hanya fokus kepada imbalan, upah dan bayaran akan menggiring pikiran kita bahwa ikhlas tidak ada kaitannya dengan kualitas kerja dan jasa itu sendiri. Di sinilah Al-Amien memaknai ikhlas dengan proporsional.
Do the best and give the best adalah makna ikhlas yang diajarkan kepada santri. Lakukan terbaik dan berikan terbaik adalah cerminan sang pelaku kegiatan melakukannya dengan ikhlas. Praktik dari nilai yang sangat mulia ini dengan mudah dijumpai di kelas-kelas, lapangan, kamar, bahkan kamar mandi.

Saya selalu mendapati para asatidz dengan penuh semangat melangkahkan kaki dari kamar menuju masjid, kelas, kamar dan lapangan untuk memberikan berbagai pendidikan dan latihan. Dari berbagai kelas terdengar suara-suara santri belajar, ada yang mengaji, menghafal, melantukan mahfudzat dengan berbagai lagu.

Di lapangan, berbagai bentuk olahraga dan beladiri. Di BPSK dan di Gugus Depan, Palang Merah Remaja dan pecinta Pramuka berlatih. Di masjid, berbagai kegiatan seperti shalat, mengaji, tasyji` (member motivasi) dan kelompok-kelopok kajian, bahasa dan sastra hanyut dalam diskusi.

Semua tempat di atas, dipimpin oleh ustadz atau muallim yang begitu semangat tak kenal lelah. Dari raut muka mereka tampak keikhlasan, bukan karena saya mengetahui gaji mereka yang tidak seberapa, tapi karena saya meyakini mereka ikhlas dari totalitas mereka mendidik, mengajar dan melatih para santri.

Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana Ust. Suhaimi Syatroh dengan penuh semangat mengajarkan “al-Adyan” dengan suara yang sangat keras dan jelas men-syarah buku yang telah dia hafal dari cover to cover.

Para wali kelas yang begitu tekun mengajar dan tak bosan menjadi tempat santri mencurahkan permasalahan yang dihadapi. Memperhatikan dan menilai seluruh kegiatan santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Untuk kemudian menjadi bahan bagaimana mendidik dan mengarahkan santri kepada kegiatan-kegiatan yang lebih baik.

Para asatidz dan muallim yang mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, memimpin kajian-kajian keilmuan dan kesusasteraan di sekitar masjid di sore hari hingga adzan maghrib berkumandang. Menggambarkan betapa saya beruntung dididik oleh mereka yang tak hanya tak digaji, namun juga berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik.

Semangat juang para asatidz dan muallim di atas, juga mengajarkan para santri akan arti tawakkal sebenar-benarnya. Manusia hanya memiliki kewajiban berusaha, usaha dengan semangat juang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Namun Allah Swt jugalah yang menentukan segalanya.

Dari itu, semangat juang yang dicontohkan oleh guru-guru di Al-Amien mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah dilihat dari hasil akhir semata. Kesuksesan adalah melalui berbagai proses kehidupan dengan semangat juang tanpa putus asa.
Demikianlah guru-guru di Al-Amien, saya selalu mendapati mereka begitu semangat dalam mengarahkan santri untuk menjadi generasi yang unggul. Semangat juang mereka mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Muwafik Maulana
Alumni TMI Al-Amien Prenduan (Angkatan 31). S1 Al-Azhar University, Egypt,
dan S2 INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) University, Malaysia.

TGB, Al-Amien, dan Pemimpin Berakhlaq

tgb dan roisTGB pemimpin berkualitas dan amanah. Sementara, Al-Amien adalan pesantren di Prenduan Sumenep – Madura dan bereputasi meyakinkan. Maka, ketika pada 12/02/2018 TGB bersilaturrahim dan memberi kuliah umum di Al-Amien, apa yang bisa kita hikmahi?

Ilmu, Akhlaq, dan Pemimpin

TGB, singkatan dari Tuan Guru Bajang. TGB, panggilan popular dari Dr. TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA. Belakangan ini, dia kerap disebut sebagai (calon) pemimpin nasional yang ideal.

Mari kita kenal TGB. Dia lahir di Pancor, Selong, 31/05/1972. Saat tulisan ini dibuat, TGB masih menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode kedua 2013-2018.

Riwayat pendidikannya mengesankan. S1 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar – Kairo, 1992. S2 jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an Al-Azhar dengan predikat Jayyid Jiddan, 1996. S3 di jurusan yang sama dengan predikat Martabah El-Ula Ma’a Haqqutba atau Summa Cumlaude, 2011.

Pemimpin yang hafal Al-Qur’an ini memunyai jejak prestasi yang membanggakan. TGB pernah menjadi anggota DPR-RI, periode 2004-2009. Dia di Komisi X yang membidangi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian dan Kebudayaan.

Di keorganisasian, TGB adalah Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdaltul Wathan (2016-2021). Juga, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia (2017-2021).

Penghargaan yang diperoleh TGB sangat banyak. Berikut ini sekadar menyebut sebagian di antaranya: Tokoh Perubahan Republika, 2010 dan 2016. Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI atas prestasi menonjol dalam pembangunan yang patut ditiru daerah lain di Indonesia, 2012. World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 2015. Gubernur Paling Visioner dalam bidang tenaga kerja, versi Majalah Profesional, 2009. (http://tgb.id, akses 15/02/2018).

Lalu, apa yang disampaikan TGB selama bersilaturrahim dan memberi kuliah umum bertema “Pemimpin Umat Masa Depan” di Pesantren Al-Amien Sumenep? Setidaknya, dapat dicatat beberapa hal penting.

Pertama, TGB menyampaikan bahwa pemimpin umat masa depan yang ideal berasal dari kaum santri. ”Pintar memang perlu. Tapi tanpa akhlaq yang baik, orang pintar akan jadi penjahat licik,” kata TGB.

Kedua, TGB menyampaikan bahwa generasi muda sekarang ini harus difikirkan. Sebagaimana dulu Nabi Ibrahim As selalu memikirkan keturunannya agar menjadi Muqimasshalah (Orang-orang yang selalu menegakkan shalat). Bahkan, Nabi Ibrahim As selalu berdoa agar keberkahan yang diberikan Allah kepadanya juga diberikan kepada seluruh sanak keluarga dan keturunannya.

Ketiga, kata TGB, seorang penuntut ilmu harus pintar memilih dalam mengomsumsi ilmu dan pengetahuan. Persis seperti lebah, ia mengambil dari yang terbaik hingga tidak ada yang keluar darinya kecuali yang baik-baik.

Alhasil, bagi TGB, pemimpin itu harus berilmu dan berakhlaq. Di titik ini, tak seorangpun bisa menolaknya. Sebab, jangankan berposisi sebagai pemimpin, sebagai “Orang biasa” saja kita harus berilmu dan berakhlaq.

Selalu Belajar

Hal lain yang tak kalah menarik, yaitu ketika TGB menyatakan rasa takjub dan tertarik ingin belajar dari Pesantren Al-Amien. “Banyak hal yang harus dipelajari dari Al-Amien,” kata TGB.

Tak pelak lagi ungkapan itu adalah, pertama, cerminan dari sikap rendah hati TGB. Kedua, menunjukkan TGB seorang pembelajar sejati. Dari sumber manapun yang sekiranya baik, dia ingin belajar.

Pesantren Al-Amien dan riwayat pemimpinnya, tentu bukan “sumber” yang salah untuk kita belajar. Untuk itu, antara lain, mari sekilas kita kenal (Almarhum) KH Mohammad Tidjani Djauhari.

Tidjani lahir pada 23/10/1945 di Prenduan Sumenep – Madura. Dia putera KH Djauhari Chotib, ulama besar dan tokoh Masyumi serta pendiri Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep.

Pada 1958 Tidjani nyantri di KMI (Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah) – Gontor. Pada 1964, ke Perguruan Tinggi Darussalam (kini bernama UNIDA Gontor).

Pada 1965 Tidjani ke Universitas Islam Madinah, di S1 Fakultas Syariah dan lulus dengan predikat mumtaz pada 1969. Pada 1970 ke S2 di Jamiah Malik Abdul Aziz –Mekkah- dan lulus 1973. Tesisnya -“Keistimewaan Al-Qur’an: Etika dan Rambu-rambunya dalam Perspektif Abu Ubaid Al-Qosim”-, dinilai mumtaz (cum laude).

Atas prestasinya, pada 1974 M. Natsir merokemendasi Tidjani bekerja di Rabithah Alam Islami. Karirnya di “Rabithah” melesat. Beberapa jabatan penting dipegangnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988). Keaktifannya di “Rabithah” mengantarkan Tidjani menjelajahi berbagai negara di Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia.

Ketika karirnya di “Rabithah” di puncak, Tidjani pulang kampung pada 1989. Inilah babak baru perjalanan dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan. Misinya, menyempurnakan Pesantren Al-Amien yang telah berdiri sejak 1971.

Dalam waktu 18 tahun (1989-2007), Al-Amien menjelma menjadi pesantren yang berwibawa. Ketokohan Tidjani mengantarkannya untuk menjabat berbagai posisi penting seperti Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jatim (1995-2000), salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren – BSPP (1998), dan Ketua II Majelis Ma’had Aly Indonesia (2002).

Tidjani ulama besar, berkiprah dari Sumenep hingga ke mancanegara. Dia pejuang Islam yang punya ghirah besar untuk menegakkan Islam melalui pendidikan. Dia wafat pada 27/09/2007.

Dari KH Mohammad Tidjani Djauhari kita banyak mendapat pelajaran. Sementara, dari TGB yang masih muda, kita juga sudah menerima banyak pelajaran.

Depan, ke Depan!

Mari kita dorong Dr. TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA atau TGB untuk terus berkiprah ke arah yang lebih bermanfaat dalam hal kualitas karya dan lebih luas cakupan skala kepemimpinannya. Untuk itu, semoga ilmu dan akhlaq selalu menjadi pijakan kukuh TGB.

Harapan senada, semoga Pesantren Al-Amien yang sekarang berada di bawah kepemimpinan Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani, MA -sahabat TGB saat kuliah di Al-Azhar- terus berkembang dengan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berilmu tinggi dan berakhlaq mulia.

Oleh M. Anwar Djaelani