Masjid Joko Kudis

Masjid itu indah. Berdiri megah di tengah-tengah kota Adijaya, sebuah kota besar yang sedang menjalani proses pembangunannya. Orang-orang yang melihatnya, satu kali atau lebih, pasti berdecak kagum. Berpasang-pasang mata pasti terbelalak melihat masjid itu. Dan lebih terbelalak lagi ketika melihat nama masjid itu.

Ya. Pada papan nama yang terpampang di depan tempat ibadah umat Islam itu memang tertulis dengan huruf indah meliuk-liuk : Masjid Joko Kudis. Orang-orang pun saling bertanya-tanya. Saling mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa masjid yang begitu indah dan megah itu dinamai ’Joko Kudis’? Kudis itu ‘kan semacam penyakit kulit yang menjurus ke sesuatu yang buruk. Mengapa? Bagaimana bisa?

Beginilah ceritanya…

Dulu… berpuluh-puluh tahun yang lalu, kota Adijaya adalah kota yang kecil. Kota yang terbelakang. Listrik pun baru satu-dua rumah yang memiliki. Untunglah, setelah Bupati yang lama lengser, lantas diganti Bupati baru yang lebih berbakat memimpin, kota itu mulai menapaki kemajuan. Sedikit demi sedikit.

Bupati menggalakkan gaya hidup disiplin dan gotong-royong. Motto dan semboyan tentang semangat giat bekerja keras (dan semacamnya) pun ditempel di mana-mana. Pokoknya, rakyat digodok untuk menjadi manusia-manusia yang lurus. Buah kerja keras Bupati pun dapat dipetik masyarakat kota Adijaya. Bangunan-bangunan makin berkembang dan bertambah. Kota mempunyai perusahaan listrik sendiri. Perdagangan makin lancar. Transportasi ke luar kota makin mudah. Hiburan dan trend mode makin menyapa semua kalangan. Karenanya, masyarakat pun mengelu-elukan, dan menusbatkan Bupati sebagai Pemimpin Terbaik Dekade Ini.

Namun… sayangnya, kota yang sedang dalam perkembangannya itu tidak memiliki tempat beribadah satu pun. Bupati khawatir, tanpa adanya kepercayaan di hati masyarakat, walaupun mereka pekerja yang baik, itu bisa menyebabkan keruntuhan kota. Bisa saja terjadi sifat takabur di antara masyarakat. Atau saling mengolok. Atau perseteruan. Atau hal-hal buruk lainnya. Untungnya, Islam sudah masuk ke kota Adijaya. Itu salah satu kemajuan yang dicapai. Maka, Bupati yang berbakat itupun mengundang seorang ulama yang datang dari pengelanaannya. Seorang kakek berambut dan berpakaian serba putih. Dengan wajah tenang dan mata yang menyejukkan. Bupati mengundang kakek itu ke rumahnya.

Setelah dijamu dengan makanan dan basa-basi ala kadarnya, Bupati itu pun menyampaikan maksud hatinya.

“Begini, ‘Ki… Saya ingin di kota ini ada –paling tidak– sebuah tempat beribadah…”

“Woo… itu bagus, Anakku!! Bagus! Bagus!” komentar kakek tua itu sambil mengelus-elus janggutnya.

“Menurut Aki, apakah sebaiknya membangun langsung yang buesar…?”

“Hmm… itu terserah kamu dan rakyatmu. Apakah ingin membangun beberapa surau yang kecil, atau sebuah masjid yang besar sekalian…”

“Kalau begitu… Sebaiknya masjid yang megah sekalian, ya, ‘Ki? Biar tidak nanggung…”

“Änakku… Menurut Aki, kita bangun surau-surau atau musholla-musholla kecil di seluruh pelosok kota dahulu. Supaya semua orang dapat menjangkau. Tapi… masjid harus dibangun secepatnya juga. Karena dibutuhkan untuk sholat Jumat. Ah, itu tergantung kamu, Anakku… Musholla, no problem! Masjid, oke juga!”

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Bupati memutuskan untuk membangun masjid yang besar saja. Baru kemudian musholla-musholla kecil. Alasannya? Supaya di kota itu ada ‘induk’ tempat beribadah. Pusat ibadah. Bukankah induk lahir sebelum anak?

Tidak tanggung-tanggung, Bupati mendatangkan arsitek dari ibukota. Masjid itu rencananya akan dibangun di tengah-tengah kota. Di dekat alun-alun. Untunglah, lokasi pembangunannya tepat di tanah lapang kosong. Tidak ada rumah atau ladang milik orang. Tanahnya pun cocok untuk ‘ditanami’ bangunan berjenis masjid.

Lokasi ada. Rancangan ada. Para pekerja dan kuli ada. Sekarang tinggal masalah dana. Setelah dapat bantuan dari negara, dan mengambil dari pajak rakyat, uang pun terkumpul. Namun itu masih dibawah anggaran yang jumlahnya milyaran. Maka dibukalah : Sumbangan Sukarela…

Bupatilah orang yang pertama kali menyumbang dananya. Baru kemudian para pejabat, konglomerat, orang-orang kaya dan masyarakat awam. Di dekat lokasi pembangunan itu ada sebuah kotak dari besi yang bergembok besar. Sudah banyak orang yang memasukkan sebagian rezekinya ke dalam kotak itu. Dan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, ditaruhlah seseorang yang menjaga kotak itu. Penjaga ini juga bertugas untuk mengambil uang yang terkumpul setiap malam datang.

Suatu senja, di hari-hari pasca pembangunan masjid, ketika uang yang terkumpul di kotak sudah waktunya untuk diambil, datang seorang bocah laki-laki yang kumal, dekil, dan compang-camping. Di sekujur tubuhnya terdapat banyak bekas penyakit kudis. Pokoknya sudah dapat dianggap gelandangan yang menyedihkan. Sungguh aneh, ada kalangan seperti itu di kota Adijaya. Entah bagaimana garis nasibnya hingga bisa seperti itu…

Penjaga kotak sumbangan itu merasa senewen melihat bocah kotor itu mendekat-dekat. Dia pun berniat mengusir.

“Hey, bocah jorok!! Mau apa kamu ke sini!! Mau minta-minta?!” Sungguh kasar ucapan penjaga itu. Namun bocah itu malah tersenyum.

“Sebaliknya, ‘Bang…” sahut bocah kumal itu, “…saya datang untuk menyumbang.” katanya polos.

Sang penjaga kotak itu tertegun.

“Kamu?! Mau ikut menyumbang?! Wah wah! Coba lihat dirimu! Coba bercermin! Sudah kecil dekil miskin masih sok menyumbang!! Sana pergi! Kami tak menerima sumbangan orang-orang miskin!”

Wajah kotor itu memelas.

“Tapi saya ikhlas, ‘Bang…”

“Ikhlas?! Coba perlihatkan berapa rupiah yang mau kau sumbangkan?!”

Tangan bocah itu membuka. Tampak sekeping uang seratus rupiah. Koin logam itu nampak seperti yang memilikinya. Kusam, dekil dan kotor.

“Uang cepek itu?! Wahahaha!!” penjaga itu ngakak, “… buat beli apa sekeping uang itu? Segenggam semen saja tidak cukup! Ha ha ha… Sudah sana pergi!!”

Bocah itu bergeming. Si penjaga menjadi jengkel.

“Hush!! Sana pergi!! Ayo, pergi!!”

“Tapi uang ini?!”

“Kantongi saja uang itu! Biarkan beranak dulu sampai sepuluh ribu, baru sumbangkan di sini… Sudah sana!!“

Penjaga itu mengambil kotak sumbangan dan dibawanya untuk dihitung. Si bocah yang banyak kudisnya itu berjalan gontai menjauh.

Ternyata… setelah perhitungan akhir, dana sudah terkumpul hingga melebihi anggaran. Maka masjid pun mulai dibangun. Waktu itu bulan Juli. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Bupati sendiri.

Semula, pembangunan masjid berlangsung dengan lancar. Bulan Agustus, pondasi sudah selesai dan tahap pengerjaan utama pun dimulai. Bahan-bahan material lancar dan para kuli pun bekerja dengan giat dan penuh semangat. Pertengahan Agustus, bagian belakang masjid sudah selesai. Tiang-tiang penyangga utama pun mulai dipasang. Lalu, suatu yang aneh pun terjadi.

Masjid itu dibangun dengan delapan tiang penyangga utama. Tiap dua tiang kebagian satu arah mata angin. Nah, ketika dua tiang sebelah utara selesai, pembangunan dilanjutkan dengan tiang sebelah timur. Anehnya… Ketika kedua tiang timur itu hampir selesai, dua tiang di sebelah utara itu retak, dan salah satunya runtuh. Untung tidak ada yang tertimpa reruntuhan.

Mandor dan arsitek pun marah-marah. Setelah reda, kedua tiang sebelah timur diselesaikan lantas tiang yang runtuh itu diperbaiki. Kejadian yang sama terulang. Ketika diperbaiki, tiang sebelah timur gantian yang retak, dan runtuh.

Kejadian ini mengherankan orang-orang. Maka dicari penyebabnya.

Semennya tidak bermasalah. Air juga tidak. Pasir juga. Pokoknya, bahan-bahan material itu bersih. Jadi, apa penyebab runtuhnya tiang itu?

Untuk mengatasi itu, para pekerja ditambah. Tiang-tiang utama akan dibangun secara bersamaan. Ternyata berhasil. Tiang-tiang itu sukses tertancap kokoh di pondasi. Namun, masalah lain datang dan tak kalah anehnya. Bentuk dan sudut-sudut tiang itu miring dan tak sejajar. Beda dari rancangan. Ini tentu membuat heran. Karena para arsitek ibukota itu telah menghitung dengan cermat dan teliti. Para pekerja pun tak merasa salah ketika membangun. Mereka bekerja seperti biasa…

Bupati bukan main bingungnya dengan masalah pembangunan masjid itu. Beberapa pakar bangunan dan geometri didatangkan untuk ditanyai tentang itu, namun hasilnya nol. Bupati malah semakin pusing dengan angka-angka ruwet yang disodorkan para ahli itu. Tiba-tiba, di sela-sela rasa peningnya, Pak Bupati teringat akan kakek tua yang menyejukkan itu. Barangkali, dia bisa dimintai nasehat, pikirnya.

Sebelum Bupati menyuruh ajudannya untuk mencari, kakek itu ternyata sudah datang duluan ke kediamannya. Wah, kebetulan, sorak Bupati. Seperti biasa… Setelah dijamu dan basa-basi ala kadarnya, Bupati yang lagi bingung itu pun menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Ki… Aki sudah dengar tentang keanehan dalam pembangunan masjid itu?”

“Woo… sudah, Anakku!! Dan aku merasa ada yang tidak beres…”

“Wah!! Dari segi apa itu, ‘Ki?!”Semen? Pasir? Konstruksi? Pondasi?”

“Bukan, Anakku… Bukan masalah material… Aku merasa ada yang tidak beres pada bahan-bahan ‘spiritual’-nya…”

“Maksud Aki, doa kita kurang mustajab?”

Kakek tua itu mengelus-elus janggutnya.

“Hmmm…. Aku rasa bukan yang semacam itu… Coba kau tanyai anak buahmu! Apakah selama merancang, membeli bahan-bahan, ketika pengumpulan uang sumbangan ada sesuatu yang janggal… Kalau memang benar ada, harus cepat diperbaiki!!”

“Ng… Misalnya Aki?!”

“Misalnya… Uang untuk membeli semen itu hasil curian… Atau, air untuk menyirm dan mengolah adonan itu mengambil tanpa seiizin pemilik, ätau… ya, yang semacam itulah…”

Bupati manggut-manggut mendengar kata-kata kakek tua berilmu itu.

Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung memanggil seluruh anak-buah dan karyawannya. Mereka semua itu dikumpulkan di ruang tamunya. Ada sekretaris Bupati. Para arsitek. Penjaga uang sumbangan. Para kuli, karena begitu banyaknya, maka diwakili oleh seorang mandor. Hadir juga di sana kakek tua yang berilmu itu.

“Saudara-saudara sekalian… Saya mengumpulkan anda semua ini untuk membicarakan suatu masalah. Dan tentu di antara anda ada yang sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan. Ini tentu menyangkut masalah pembangunan masjid…”

Terdengar bisik-bisik di sana-sini. Bupati mendehem.

“Dengarkan sejenak… Sudah kita ketahui bersama. Bahwa pada pembangunannya, terjadi beberapa kejadian aneh yang tidak lazim. Untuk itulah saya bertanya pada saudara-saudara sekalian : Apakah tidak ada kejadian yang janggal sewaktu saudara melaksanakan tugas?”

Terdengar lagi kasak-kusuk. Ada yang minta penjelasan.

Lalu diterangkan tentang sesuatu yang janggal itu, oleh kakek tua berjanggut putih. Semuanya manggut-manggut, dan mulai mengingat-ingat.

Ternyata kesemuanya mengaku tidak ada kejadian janggal. Namun, tiba-tiba penjaga uang sumbangan mengacungkan tangannya.

“Ya, saudara Penjaga… Ada kejadian apa?!” tanya Bupati.

Penjaga uang itu diam. Sepertinya malu mengungkapkannya.

“Ayo… Tak apa-apa!! Manusia itu pasti khilaf dan bersalah, kok!! Ada apa?!”

Setelah didesak, akhirnya penjaga itu membuka mulutnya.

“Begini Pak… Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Waktu hari terakhir pengumpulan uang sumbangan, kalau tak salah sebelum Maghrib… Ada seorang bocah laki-laki kumal, kotor, compang-camping, bau wah… pokoknya amburadul… Mendekat ke saya. Saya kira dia minta-minta, eh ternyata mau menyumbang. Saya tanya, ‘Berapa yang mau kau sumbang?’ dia membuka tangannya dan tampak satu keping uang logam seratusan… ‘Saya ikhlas, Bang!’ katanya… ”

“Lalu?!”

“Saya tolak sumbangannya itu… Karena, saya pikir : Untuk hidup saja dia tak bisa mencukupi kebutuhannya, malah sok menyumbang. Saya pikir tidak pantas uang dari seorang bertangan kotor dan bau melebur menjadi masjid… Mungkin ini kejadian janggal yang saya alami…”

Semua orang mengangguk-angguk mendengar ceria Penjaga itu. Kemudian sang kakek berjenggot putih angkat suara.

“Hmm… Sikapmu yang menolak tadi itu salah, Penjaga… Kenapa? Karena, pemberian siapa pun, sekecil apa pun, kalau si pemberi ikhlas, kita tak boleh menolaknya. Kalaupun menolak, itu harus dengan cara yang halus… Yang tak melukai perasaan pemberinya…”

Penjaga itu tersentak. Teringat ketika dia membentak-bentak bocah itu.

“Mungkin… Tuhan tidak rela kita membangun masjid, hanya karena ada sedikit ‘kesombongan’ kita : Menolak sekeping logam yang masuk. Akhirnya jadi….”

Penjaga itu menangis.

“Sekarang. Apa yang harus kita perbuat, Aki?!” tanya Bupati, setelah merenung cukup lama.

“Hmm… Sekarang kita harus menemukan si bocah gelandangan itu! Meminta maaf atas perlakuan salah seorang dari kita, kemudian menerima sumbangannya dengan senang hati…”

Semua orang kembali mengangguk-anggukkan kepala.

“Bagaimana ciri-ciri bocah itu?!” tanya salah seorang.

“Bocah itu… Kotor, hitam, kumal… Pokoknya seperti gelandangan jalan!” jawab penjaga itu, “… Dan tubuhnya… Mulai dari wajah, tangan sampai kaki dipenuhi dengan penyakit kudis…”

“Oo… Joko Kudis?!” teriak salah seorang, yang ternyata adalah seorang mandor dengan kumis melengkung.

“Joko Kudis?! Oo… Bocah itu, tho…?!”

“Ya… ya… Bocah itu memang terkenal karena penyakit kudisnya, sehingga dijuluki Joko Kudis. Entah siapa nama aslinya?!”

“Ayo kitä cari dia!!”

“Ya, benar!!”

“Äyo!!”

Beberapa orang pun berpencar mencari Joko Kudis ke seluruh penjuru kota Adijaya. Akhirnya, ketika hari menjelang malam, bocah itu baru ditemukan : sedang asyik berdendang di jembatan hijau di daerah selatan.

“Joko Kudis?!” tanya salah seorang. “…Ayo ikut!!”

“Kemana?!” tanyanya dengan wajah polos.

“Dipanggil Pak Bupati…”

“Pak Bupati?! Benar?!”

“Iya, benar!! Ayo… Naik mobil!!”

Joko Kudis langsung mau diajak ke rumah Bupati, walaupun tidak tahu ada apa dan mau diapakan. Sampai di sana, sudah banyak yang menyambut. Si penjaga uang menyeruak.

“Joko Kudis!! Masih ingat, Abang?! Maafkan Abang, ya?!”

Bocah lelaki itu melihatnya dengan kening berkerut. Lantas tersenyum.

“Oo… Abang yang menjaga uang untuk masjid, ya?! Apa kabar, Bang?!”

Semua orang terenyak. Terharu. Bocah ini pernah dibentak, diusir, dicaci-maki dengan kasar… Eh, dengan polosnya bertanya ‘Apa kabar?’

Bupati itu turun tangan, lantas bertanya.

“Joko sekarang mau nyumbang buat masjid lagi?!”

Mata bocah itu langsung berbinar-binar. “Wah?! Bolehkah saya ikut nyumbang?! Benar?! Bolehkah?!”

“Tentu saja, ‘Cah bagus…” kata kakek berjenggot putih sambil mengelus-elus rambut Joko Kudis yang acak-acakan itu.

“Untung uang seratusan ini masih ada… Ini, saya menyumbang!!” kata Joko Kudis sambil menyerahkan uang logam kumal dan hitam ke tangan Bupati.

“Terima kasih, Joko Kudis…”

Lantas. Uang dari Joko Kudis itu pun dicampur dengan dana yang ada. Dan akhirnya melebur menjadi semen, pasir, keramik dan lain sebagainya.

Pembangunan masjid pun dilaksanakan ulang.

Dan ternyata memang benar apa yang dikatakan kakek tua yang menyejukkan itu. Pembangunan berjalan sesuai rencana, tanpa ada kejadian-kejadian aneh seperti sebelumnya. Dalam waktu yang cukup singkat, masjid itu pun sudah bediri megah di tengah-tangah kota. Semua orang mengaguminya.

Dan untuk mengenang jasa bocah kecil kumal yang sekarang tak ketahuan rimbanya itu, maka nama Joko Kudis digunakan sebagai nama masjid kebanggaa kota Adijaya itu.

Ternyata. Pemberian barang kecil dan kumal, dari orang yang juga kecil dan kumal, ternyata tidak bisa kita ukur hanya dengan sekelebatan. Ternyata bisa menimbulkan kesan yang luar biasa. Sebaliknya, pemberian barang yang besar dan hebat, dari orang yang juga besar dan hebat, biasanya tidak berkesan apa-apa… Kecuali tentunya, pemberian oleh Yang Maha Besar dan Yang Maha Hebat, yang tiada taranya….

Bisri Mustova, alumni TMI Al-Amien Prenduan, 2003. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.