Dosen Baruku

Etika Thartila

7 November 1992

Kurasakan kepalaku pening, sementara hidungku tek henti-hentinya mengeluarkan cairan. Pergantian cuaca yang terjadi sering membuatku terkena pilek. Biasa, aku memang retan sekali dengan penyakit musiman ini. Kebiasaan jelek.

Materi kuliah yang diberikan dosen baru di kampus juga turut membebani kepalaku. Tiga bab !! Alamak, apa yang harus kulakukan agar semua materi itu nyantol di kapalaku. Evaluasi dan evaluasi. Bagaimana mungkin aku dapat melaluinya dengan baik sementara penyakit lamaku kambuh kembali.

Di kota ini jarang ada yang menjual wedang Tape. Harus menyusuri sampai ke sudut-sudut sampai aku menemukan warung yang sering menjualnya. Ya, hanya dengan meminum wedang tape tiap pagi dan malam plus istirahat yang cukup, pilekku segera terobati. Payah.

Namun menyususri tepian kota dengan kantong kerng begini, apa bukan tindakan konyol namanmya. Apalagi buat pendatang baru seperti aku ini. Kecuali ada yang bersedia menjadi ‘guide’ dadakan dan tentu saja tanpa bayaran.

12 November 1992

Ecaluasi baru saja berlalu, yah kemaren selesai semuanya. Perasaanku plong dan lega walaupun tugas kuliah yang lain masih menunggu. Tapi setidaknya satu tugas telah selesai dan dapat kulalui dengan baik. Selamat.

Di, ada hal menarik yang harus kutulis dalam lembaran putihmu. Kemaren tanpa sengaja aku mendengar percakapan beberapa mahasiswa.

Dosen baruku yang kutahu sangat elegan dan memegang teguh keprofesionalannya itu terlibat skandal serius. Tentang apa…? akupun tak begitu mendengar dengan baik percakapan mereka. Tapi yang pasti aku tertarik untuk lebih mengetahui lebih jelas pribadi Bapak Drs. Handoko itu.

21 November 1992

Sayang Di, tak ada seorangpun dari teman-temanku yang memiliki informasi yang valid tentang Bapak Handoko itu.

Kuakui di dalam ruangan beliau tampak begitu mementingkan privasi. Tidak boleh ada yang membahas hal di luar materi. Cara mengajarnya cukup bagus tapi kalau ditanya mengenai pribadi -alamat rumah sekalipun- beliau tidak akan mengacuhkannya.

21 Desember 1992

Bapak Handoko memasuki ruang kuliahku dengan raut gelisah. Sesekali beliau mengelap wajah bersihnya yang tanpa jerawt itu dengan sapu tangan sutera.

Saou tang sutera !?! entahlah Di. Aku aneh dengan kelakuan Bapak Handoko. Terutama dengan cara dudukny yang kadang membuat risih sebagian mahasiswa.

Tidak seperti biasanya Bapak Handoko hanya memberikan penjelasan singkat mengenai materi yang seharusnya beliau secara terperinci. Setelah itu beliau izin keluar.

20 Desember 1992

Rektor memberitahukan bahwa Bapak Handoko tidak mengajar lagi. Karena alasan apa Bapak rektor tidak menjelaskannya. Yang jelas, Bapak Handoko juga tidak mengajar di universitas manapun. Berhenti total.

Tadi Silvi membisikkan sesuatu yang membuatku agak jengah.

“Sofie, apa kamu tidak merasa kalau ada yang janggal dengan kalakuan beliau selama ini..?”

Janggal? Memoriku langsung tertuju pada saapu tangan sutera berwarna biru itu. Tapi apakah ada hubungan antara sapu tangan itu dengan dinonaktifkannya Bapak Handoko.

Entahlah Di. Semakin aku memikirkannya semakin ruwet saja persoalannya.

1 Januari 1993

Tahun baru beserta lembaran keghdupan baru akan segera dimulai. Sengaja aku mengganti sampulmu yang kurasa agak lusuh dan tentu saja penggantinya adalah sampul kado motif bungan-bunga kecil yang manis agar sedap dipandang mata.

Sengaja aku memilihkan warna biru untuk mengganti sampul lamamu yang berwarna uangu pastel, karena biru adalah warna favorit Silvi teman seangkatanku yang menghadiahkan dirimu sewaktu aku berultah yang kesembilan belas.

Hujan yang turun agak deras membuatku menunggu di depan emperan toko. Kamu tahu Di, aku rentan flu. Oleh karena itu aku lebih memilih berlama-lama menungu sementara orang-orang tak peduli wlaupun air hujan menembus pakaian yang mereka kenakan.

Sementara aku memegang diktat, seseorang dengan pakaian agak necis memasuki toko. Kehadiran laki-laki berumur tiga puluhan itu agak menarik perhatian sebagian orang yang berlindung di bawah atap toko yang tergolong besar ini. Tak lama kemudian dia keluar sambil membawa payung yang tergulung rapat.

Tiba-tiba saja ia berdiri tepat di sampingku. Dia tersenyum sekilas sambil diulurkannya sebuah payung. Ternyata ia sengaja membelinya dua buah. Mulanya aku belum menyadari maskud baiknya. Aku menerima saja sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Tapi begitu aku mendapati sosoknya sudah lenyap, aku baru sadar mengapa ia bermaksud baik padaku. Orang itu mengenali aku sebagai salah seorang anak didiknya. Tapi terlambat aku begitu asik dengan pikiranku sendiri, sampai kehadirannya tak aku hiraukan.

3 Februari 1993

Kau tahu Di, hari ini kepalaku pening lagi. Bukan karena flu maupun penyakit lainnya. Tapi oleh sederetan angka dalam formulir yang disodorkan Silvi di kampus tadi.

Satu juta lima ratus ribu rupiah. Bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran anak pegawai negri sepertiku. Padahal jumlah itu sudah dipangkas sampai duapuluh lima persennya.

Untuk menelpon ayah dan ibu di rumah jelas tidak mungkin karena aku yakin mereka harus pontang-panting untuk mendapatkan nominal sebesar itu dalam waktu yang sangat singkat. Sementara mbak Wita juga butuh uang untuk program skripsinya.

Formulir itu begitu berharga bagiku. Kesempatan praktikum plus menjelajah ke pelosok pedesaan. Memperhatikan dari dekat teknik terasering untuk tanaman holtikultura, menghirup udara segar pegunungan dan tentunya memenuhi keinginanku untuk ikut pendakian yang baru kesampaian sekarang.

Tapi jumlah yang harus kubayar itu membuat kepalaku berdenyut-denyut. Ayah dan ibu tidak mungkin diharapkan bantuannya. Karena ada pertimbangan-pertimbangan penting yang harus selalu diperhatikan.

Pertama di minggu awal bulan ini (tepatnya kemaren) aku sudah meminta uang untuk biaya praktikum. Kedua, mbak Wita juga butuh biaya untuk pembuatan skripsi. Ketiga program ini bukanlah program wajib bagi setiap mahasiswa.

Jadi dengan pertimbangan-pertimbangan ini ayah dan ibu belum tentu akan mengabulkan permintaanku. Kecuali… tentu saja ada yang bermurah hati.

6 Februari 1993

Tidak sia-sia usahaku mencari informasi tentang perusahaan yang biasa memberi beasiswa. informasi mengenai perusahaan agro bisnis itu kudapat dari salah seorang rekanku di BDM.

Syaratnya gampang, segampang kriteria yang harus dimiliki oleh penerima beasiswa. Aku harus datang sendiri kekantor cabang perusahaan itu untuk menerima uang tunjangan secara langsung.

Kebetulan ada beberapa mahasiswa yang juga bermaksud sepertiku. Sehingga setidaknya aku tidak sendiri jika harus mendatangi kantor cabang perusahaan itu.

8 Februari 1993

Alhamdulillah Di, aku termasuk dari sepuluh orang yang menerima beasiswa tersebut. Jumlahnya, insya Allah cukup bahkan berlebihan. Yang penting hari ini kau tak henti-hentinya bersyukur. Akupun berencana akan mentransfer sisa uangku ke rekening yang menyalurkan dana bagi orang cacat.

Eh, Di. kabarnya perusahaan itu selalu memberikan beasiswa tiap tahun bagi pelajar di beberapa universitas tertentu. Oleh karena itu, mereka juga rajin mencari informasi tentang universitas yang betul-betul sesuai dengan kriteria. Dan kebetulan universitasku adalah salah satu contohnya.

10 Februari 1993

Lelaki berjas hitam dengan rambut tersisir rapi itu baru keluar dari BMW-nya. Sejurus kemudian ia merapikan jasnya sebelum akhirnya melangkah memasuki gedung dengan wajah cerahnya.

“Cool man…” pekik Silvi jika ia menyaksikan ‘gaya’ Pak Handoko atau Edi (Edi adalah panggilan akrab Pak Handoko) di pelataran kampus.

Aku benar-benar tidak menduga akan kembali bertemu dengan beliau di tempat ini. Awalnya aku kira salah lihat, tapi setelah kuperhatikan orang yang baru saja keluar dari BMW abu-abu itu memang dia.

Sewaktu pemberian beasiswa, aku sempat bertanya-tanya tentang pekerjaan belaiu kepada petugas, tapi petugasnya malah memperlihatkan raut wajah tak suka. Aku heran sekali Di, tapi aku tak mau mengorek lebih jauh. Raut tersinggung itu cukup mengisyaratkan bahwa aku tidak boleh lebih banyak bertanya.

15 Februari 1993

Hari ini aku, Silvi dan seluruh rekan mahasiswa dikejutkan dengan kedatangan Bapak Handoko . Bukan hanya oleh penampilannya yang agak terkesan asal dan gentel, tapi juga oleh kehadiran seorang gadis semampai yang selalu ia gandeng.

Gadis belia itu tidak terlampau cantik memang, tapi penampilannya pasti menarik hati yang memandangnya. Well groomednya terasa.

Menurut selentingan kabar, Bapak Handoko yang memakai setelan hem itu akan mengambil surat izin pengunduran diri yang telah ditanda tangai oleh rektor. Entahlah, aku tak tahu pasti.

Saat temu muka terakhir bersama beliau, aku merasa kehilangan, bukan hanya oleh keprofesionalannya tapi beliau juga mampu menjadi pembina yang baik. Selamat tinggal guruku bagaimana jasa anda takkan pernah kami lupakan.

1 Maret 1993

Di, kabarnya Bapak Handoko akan segera menikah, kabar ini kudapat dari Dinda. Karena paman Dinda yang ternyata teman dekat Bapak Handoko turut diundang. Kabar ini tentunya dapat meredakan isu yang beredar di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini bahwa beliau tidak normal. Juga memadamkan dugaanku yang mengatakan kalau Bapak Handoko sedikit aneh.

3 Maret 1993

Berita pagi yang disodorkan teman kosku membuatku beralih dari kebiasaanku membaca buku-buku ringan. Kuambil bagian yang menyedot perhatian dan rasa ingin tahuku. Halaman pertama bagian bawah:

“Kasus pergantian kelamin mulai marak di antara kaum waria. Bahkan para waria yang telah melakukan operasi pergantian kelamin mulai menuntut pengesahan status mereka.

Diantara mereka ada nama Heni Sagita Putri alias Handoko Edi Saputra yang menuntut pengesahan statusnya sebagai laki-laki terhadap PN Jakarta Selatan. ‘Lelaki’ yang kabarnya akan menikahi wanita normal ini pernah menjadi dosen di universitas…”

Aku tidak meneruskan kalimat yang selanjutnya. Aku masih belum mempercayai apa yang aku baca. Pandanganku mengabur. Tiba-tiba korang yang kupegang jatuh dengan sendirinya.

Etika Thartila, alumni TMI Putri Al-Amien Prenduan, 2004. Saat ini sedang menyelesaikan studinya di IDIA Prenduan.