“Ta’jil” Buku Karya Ust. Ach. Nurcholis Madjid, S.Kom.I

buku-takjilJudul    : Ta’jil
Penulis : Ach. Nurcholis Majid
Tebal     : x + 120 hlm
Harga    : Rp. 29.400,-
ISBN      : 978-602-225-456-0

Mungkin ini isyarat bagi pintu yang kehilangan kuncinya. Ramadhan datang lagi, sementara orang-orang telah pergi begitu tenteram. Bahkan ada yang pergi begitu pagi sekali, pagi sekali lewat jendela bulan.

Seperti penanda waktu, kita tidak pernah benar-benar tahu Ramadhan datang lagi. Saat banyak orang yang memiliki kesehatan jauh lebih baik dari kita, memiliki kekayaan jauh lebih banyak, pergi tak kembali. Ada banyak kisah tak terulang, ada banyak keceriaan jauh menghilang. Lalu siapa yang menjamin Ramadhan kembali saat ini?

Barangkali ini memang isyarat, sebelum lampu dimatikan. Sebab saat Ramadhan datang, sementara kita mengucapkan marhaban ya Ramadhan, sudah banyak masa lalu menjadi asing. Termasuk juga, kegelisahan-kegelisahan yang belum terselamatkan dengan Ramadhan lalu.

Ramadhan, barangkali merupakan rekreasi spiritual yang teramat perlu disambut dengan meriah. Tetapi tidak melupakan cara terbaik untuk melepasnya sebagai masa lalu yang dirindukan. Tubuh dan pikiran menemukan tujuan hidup yang hilang dari kesibukan. Tubuh yang telah lama jadi ulat, agar bersegera jadi kupu-kupu.

Karenanya, setiap kali berekreasi, harusnya kita selalu berusaha untuk lebih lapang, tidak membawa semua barang di rumah untuk dipindahkan ke dalam list barang bawaan. Perjalanan diam-diam mencari ketenangan agar lebih membahagiakan. Rekreasi adalah bentuk penyegaran untuk lebih tentram. Mereka yang tentram, akan jauh lebih nikmat menjalani rekreasi. Mereka yang lebih gampang bergerak dengan kelapangan, akan lebih cepat menemukan beragam keindahan.

Suatu ketika Rasulullah bersabda. “Di dalam surga ada delapan pintu, salah satunya bernama rayyan, hanya orang berpuasa yang dapat memasukinya”. Tentu ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Puasa menjadi rekreasi yang begitu membahagiakan. Karena tidak berakhir dengan tuntutan kembali yang melelahkan. Sebab tujuan akhirnya adalah bunga-bunga, dan kefitrahan sebagai manusia suci, ada banyak khilaf yang bisa termaafkan, dan ada banyak maaf yang bisa tersampaikan.

Tapi sekarang saya merenung, benarkah saya adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang lapang, sehingga bisa menikmati Ramadhan dengan nyaman dan penuh kedamaian. Sebagaimana orang-orang yang pergi dengan damai itu. Sebagaimana orang-orang yang melupakan benci dan dendam seperti membuang sampah itu.

Saya terus merenung, bukankah saya sering berdusta. Selain sering juga mengkhianati Allah, dengan menempatkanNya sebagai malaikat yang patuh, dengan terus memaksa untuk mengikuti keinginan yang saya pinta. Bukankah sambil lalu mengucapkan marhaban ya Ramadhan, saya masih saja membawa beban ke dalam Ramadhan. Kadang terbawa juga kebencian dan dendam. Padahal yang paling harus dibenci adalah dendam. Padahal Ramadhan hanya untuk orang yang berluas ketabahan dan berlapang permaafan.

Marhaban ya Ramadan. Ya Allah, jika Engkau rela, lapangkanlah kami dengan kasih sayangMu, kuatkan kami dalam kesederhanaan, sempurnakanlah kami dengan keikhlasan. Kami percaya Engkau maha Mendengar dan Pengabul segala permintaan. Terimakasih Allah, masukkan kami dalam kedamaian Ramadhan. Sebab, setiap daun akan kemuning, kuningkanlah kami pada saat yang matang. Amien.

#Alumni TMI Tahun 2006 dan saat ini aktif mengajar di TMI