Suara Ujung Telepon Cukup Meredam Rindu

TMI– Kejarlah ilmu sampai ke Indonesia. Begitu yang dijalani Che Mohammad Ilham Daleng. Santri dari Thailand itu kini mengenyam pendidikan di Ponpes Al-Amien Prenduan.

Sekilas tidak ada yang berbeda dari Che Mohammad Ilham Daleng. Santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan kelas 1-F itu tidak berbeda dari teman sebayanya. Bahkan koran ini sempat tidak percaya kalau remsantri Thailandaja 13 tahun itu berasal dari Thailand.

Dari segi berpakaian semua sama seperti anak Indonesia pada umumnya. Dengan mengenakan baju putih dan celana hitam yang sedikit kebesaran, dia mendatangi Jawa Pos Radar Madura yang sudah menunggu.

Ilham, begitu dia biasa dipanggil, adalah salah seorang santri Ponpes Al-Amien Prenduan yang berasal dari luar negeri. Empat bulan sudah Ilham menimba ilmu jauh dari orang tua dan saudaranya. Dia berperawakan kurus, kulitnya sawo matang.

Ilham cenderung pendiam. Saat itu masih dalam jam pelajaran ditemui setelah mendapat izin dari pengurus pondok. Ilham tidak sendiri saat itu. Dia ditemani Ustad Fadil. Kami duduk di atas tikar depan sebuah ruangan tempat guru berkumpul. Matahari belum terlalu tinggi saat itu. Sinarnya masih tertutup sebagian pepohonan.

Cerita tentang Ilham dimulai dari awal mula dia masuk Al-Amien Prenduan. Orang tua Ilham, Che Mohammad Nasir Daleng dan Nurwati Sanji, adalah pedagang baju. Mereka memiliki kenalan yang pernah belajar di Indonesia. Kemudian, teman tersebut mengusulkan agar Ilham mendalami ilmu agama di Al-Amien Prenduan.

Orang tuanya setuju. Lalu diberangkatkanlah anak pertama lima bersaudara itu untuk menuntut ilmu ke Indonesia. Di tempat asalnya, Ilham hidup di lingkungan mayoritas beragama Budha. Meski begitu, mereka menjunjung tinggi pluralisme.

Dia belum menguasai bahasa Indoensia dengan baik. Untuk berkomunikasi, koran ini butuh bantuan Ustad Fadil. Sehari-hari, Ilham berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dan Melayu. ”Kalau bahasa Melayu saya bisa. Tapi bahasa Indonesia masih sedikit-sedikit,” katanya dalam bahasa Indonesia terbata-bata.

Bagi setiap perantau, kerinduan pada kampung halaman sudah pasti ada. Tak terkecuali bagi Ilham. Namun, niat Ilham untuk belajar lebih besar daripada rindunya. Selain itu, dia memiliki banyak orang yang peduli padanya.

Setiap kerinduan datang, dia meminta tolong kepada saorang ustad untuk menelepon orang tuanya. Dengan berbicara melalui panggilan telepon, kerinduan kepada rumah sedikit terobati. ”Kalau kangen, saya telepoon ayah. Tapi tidak boleh terlalu sering,” katanya.

Menurut Ilham, menjadi santri adalah hal yang menyenangkan. Banyak hal yang dia dapat. Termasuk teman dan keluarga baru di Al-Amien Prenduan. Meski berbeda bahasa, Ilham mengaku tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan teman. Bahkan, dia bisa berteman tanpa harus berkomunikasi dengan bahasa lisan. ”Karena tidak tahu bahasa, dulu hanya tunjuk-tunjuk,” kata dia.

Sampai kemarin, Ilham bukanlah orang yang serakah. Cita-citanya pun sederhana. Dia hanya ingin melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai penjual baju. Di matanya, penjual baju adalah pekerjaan mulia.

Dia juga suka menjadi penjual baju karena berarti dia punya banyak baju baru. ”Pengen jual baju dengan ayah. Jadi punya banyak baju,” ungkapnya. Ilham menyukai semua jenis masakan Indonesia yang pernah dia makan. ”Saya suka satai,” katanya.

Dimuat di Radar Madura, Senin, 23 Oct 2017 06:30 | editor : Abdul Basri