Pengakuan Palsu

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

Imam Hatim al-Ashom r.a. berkata, “Barangsiapa mengaku cinta empat hal tampa empat hal, maka pengakuan (cinta)nya itu palsu. Yaitu, mengaku cinta Allah, tapi selalu melakukan larangan-larangan-Nya; mengaku cinta Rasul tapi ia membenci kaum fakir dan miskin; mengaku cinta surga tapi ia tidak jujur; mengaku takut api neraka tapi ia tidak berhenti berbuat dosa.” 

Hidup kita ini seringkali diwarnai dengan pengakuan palsu. Satu sikap yang bersumber dari ketidakjujuran dan kekeruhan hati kita. Pengakuan palsu yang kita ungkapkan biasanya hanya berupa kedok atau satu bentuk pelampiasan nafsu jahat kita dengan harapan memperoleh respon positif dari orang lain.

Pengakuan palsu itu—cepat atau lambat—sebenarnya akan menggerogoti hati hingga akhirnya hati itu menjadi keras dan mati. Hati tidak lagi mampu memproduksi cahaya kebenaran. Yang terjadi sebaliknya, hati menjadi sarang maksiat dan kebohongan. Lalu, apa yang diharapkan dari hati ketika ia sudah mati? Kematian hati berarti kematian diri kita. Sudah barang tentu kehidupan dunia tidak lagi memiliki makna. Diri kita tinggal jasad yang kehilangan “jiwa”.

Ironisnya, pengakuan palsu ini banyak dilakukan oleh seorang muslim. Sumber masalahnya ada pada kedangkalan iman dan hilangnya kesadaran untuk menerapkan ajaran agama sepenuh hati.  Minimal ada empat pengakuan palsu yang seringkali—disadari atau tidak—dilakukan oleh seorang muslim. Yaitu, mengaku cinta Allah, tapi selalu melanggar larangan-larangan-Nya; mengaku cinta Rasul, tapi ia membenci kaum fakir dan miskin; mengaku cinta surga, tapi ia tidak jujur; mengaku takut api neraka tapi ia tidak berhenti berbuat dosa.

Cinta Allah, tapi Melanggar Larangan-larangan-Nya

Mencintai Allah berarti kesungguhan untuk mengakui dan meyakini sepenuh hati bahwa hanya Allah Tuhan Maha Semesta Alam. Mencintai Allah tidak cukup dengan lisan, melainkan harus keluar dari hati yang ikhlas dan diimplementasikan dalam tingkah-laku sehari-hari. Mencintai Allah harus dibarengi dengan keikhlasan untuk melaksanakan semua ajaran-Nya dan menghindari semua larangan-Nya. Bukankah kita diciptakan kecuali untuk menyembah-Nya! (QS Adz-Dzariyat: 56).

Kualitas cinta kepada Allah harus melebihi cinta kepada diri sendiri dan orang-orang di sekeliling kita. Artinya, kita rela mencintai Allah meskipun mengandung implikasi negatif: tidak dicintai oleh makhluk. Apa artinya cinta seorang makhluk, kalau Allah mengabaikan kita.

Nabi saw bersabda, “Salah satu dari doa-doa Nabi Dawud a.s. adalah, ‘Allah swt, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta mereka yang mencintai-Mu, dan perbuatan yang mendorongku menuju cinta-Mu. Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kusukai daripada jiwaku, daripada keluargaku, dan lebih kusukai daripada air dingin.’” (HR Abu Darda’)

Menjadi kontradiktif apabila di satu sisi kita “mati-matian” mencintai Allah, tapi di sisi lain, kita “mati-matian” juga melanggar larangan-larangan-Nya. Ini cinta monyet namanya. Cinta-cinta main-main yang dilandasi pamrih tertentu. Yaitu hanya untuk meraih kepuasaan nafsu dan material belaka. Tidak lebih dari itu. Sehingga ketika Allah memberi ujian atau musibah, dia akan berkata, “Allah tidak lagi mencintai saya.” Lebih ironis, kalau kemudian mengatakan, “Allah, cukup sampai di sini cintaku pada-Mu, saya akan mencari tuhan lain yang bisa mencintai saya apa adanya.” Naudzubillah.

Terkait dengan cinta palsu kepada Allah, di kalangan muslim familiar satu pernyataan ambivalen, “Sholat jalan terus, maksiat jalan terus.” Bagi seorang muslim sejati, ketika beriman kepada Allah, mestinya dia harus melaksanakan semua ajaran-Nya dan menghindari semua larangan-Nya. Ketika melaksanakan shalat misalnya, bagaimana shalat itu mampu mencegah kita dari berbuat mungkar. Kalau kita masih berbuat kemungkaran, berarti kita belum sepenuh hati mencintai Allah.

Cinta Rasul, tapi Benci Fakir Miskin

Setiap kali kita bertanya kepada umat Rasulullah saw tentang kecintaannya kepada beliau. Sudah bisa dipastikan 100 persen jawabannya “Ya”. Tapi, coba kita bertanya kepada mereka tentang kecintaannya kepada fakir miskin, bisa dipastikan jawabannya “mikir-mikir dulu”, “diam” atau “benci”. Ini pertanda bahwa cinta mereka kepada Rasulullah sesungguhnya tidak tulus dan utuh. Salah satu indikator ketulusan cinta kepada Rasulullah adalah seberapa besar kecintaan kita kepada kaum fakir miskin. Jangan pernah mengaku mencintai Rasulullah kalau kita tidak mencintai fakir miskin, apalagi membencinya.

Lihatlah bagaimana Rasulullah begitu menyayangi dan mencintai fakir miskin. Suatu hari, misalnya, ketika Rasulullah saw tiba di halaman masjid, seorang Arab Badui mencegat beliau seraya berkata, “Ya Muhammad. Berikanlah padaku harta Allah yang ada padamu”. Bagaimana sikap Nabi Mulia itu? Karena pada waktu itu Nabi saw hanya memiliki jubah yang dipakainya, lalu dengan senyum Rasul saw melepas jubah yang dikenakannya dan dengan tulus beliau berikan kepada lelaki itu.

Rasulullah saw memang terkenal senang bergaul dengan para fakir miskin. Sikap beliau itu diikuti oleh para sahabat. Kenapa mereka bersikap demikian? Sebab, satu hadis Qudsi mengatakan, “Carilah karunia Allah dengan mendekati orang yang dekat dengan orang miskin. Karena pada merekalah Aku jadikan keridhaan-Ku,“ sehingga dalam satu hadis Rasulullah saw bersabda, “Segala sesuatu itu ada kuncinya dan kunci surga itu adalah mencintai anak yatim dan orang-orang yang miskin.” (HR Ibnu Hiban).

Dalam ayat Al-Qur’an banyak sekali perintah Allah untuk menyayangi fakir miskin, termasuk larangan menghardiknya.(QS Ad-Dhuha, 9-10, QS Al-Balad, 15-16). Bagaimana cara menyayangi fakir miskin? Minimal kita membantu meringankan bebannya secara material termasuk memberi perlindungan dari bahaya yang mengancam keselamatannya. Kita harus senantiasa membesarkan hati fakir miskin, bukan justru mengeksploitasi mereka untuk kepentingan duniawi kita. Naudzubillah.

Rindu Surga, tapi Tidak Jujur

Masuk surga menjadi impian semua muslim. Apalagi gambaran tentang surga yang penuh kenikmatan pasti menjadi “magnet” tersendiri bagi kaum muslim untuk berebut memasukinya. Coba bayangkan, mereka yang masuk surga, akan memakai kain sutera dan diberi perhiasan dari emas dan mutiara. Mereka tidak merasa lelah dan lesuh (QS Fatir, 33 & 35). Memperoleh buah-buahan dan apa saja yang mereka inginkan (QS Yasin, 57). Di dalam surga, mereka bersandar di atas dipan-dipan sambil meminta buah-buahan dan minuman, di samping mereka ada bidari-bidari (QS Sad, 51-52). Tidak merasakan teriknya matahari dan tidak merasakan dingin yang menyengat. Dan banyak lagi suguhan dan fasilitas serba istimewa di surga.

Tapi, seringkali impian itu hanya angan-angan upotis belaka. Apalagi bagi mereka yang bersikap tidak jujur selama hidupnya. Kejujuran menjadi kunci utama membuka pintu surga. Kejujuran tidak semata-mata berupa ucapan, melainkan juga dalam bentuk perilaku dan tindakan, baik ketika bermu’amalah maal-Lah, mu’amalah maan-nafs, mu’amalah maan-nas wal biah.

Kejujuran bisa dimaknai dalam banyak konteks. Kejujuran dalam kata-kata misalnya, berarti mengatakan kebenaran dalam situasi dan kondisi apa pun. Kejujuran juga berarti memenuhi janji itu. Kejujuran juga berarti melakukan pekerjaan seseorang setulus dan sesempurna mungkin. Kejujuran juga menyiratkan melaksanakan tugas semaksimal mungkin apakah orang itu diawasi atau tidak.

Tentang makna kejujuran Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan membawa kepada kebaikan. Kebaikan membawa kepada surga. Seseorang tidaklah dianggap jujur hingga ia bersikap jujur. Dan, sesungguhnya dusta akan membawa kepada kejahatan. Kejahatan akan membawa kepada api neraka. Dan tidaklah seseorang berbuat dusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Bukhori-Muslim).

Takut Api Neraka, tapi Selalu Berbuat Dosa

Mendengar kata neraka, kulit kita merinding. Lalu terbayang, bagaimana kalau kita diceburkan ke neraka di akhirat kelak? Pasti tubuh kita akan hancur berkeping-keping. Kita akan dibakar di dalam api neraka. Disiksa berulang-ulang dengan tak kenal ampun. Di neraka, kita tidak dapat merasakan hidup ataupun mati, melainkan sesantiasa merasakan siksa yang pedih. (QS Al-Anbiya’, 98-100, QS Al-A’la, 12-13).

Ketakutan akan dimasukkan ke dalam neraka tidak berlaku bagi orang yang selalu berbuat dosa. Mereka tidak peduli dengan neraka, atau bahkan tidak mempercayainya. Bagi mereka, neraka tak ubahnya tungku kecil. Tempat menanak nasi. Tidak berbahaya apa-apa. Tapi, kenikmatan dunia adalah segalanya. Inilah surga sesungguhnya bagi pelaku dosa.

Bagi seorang muslim, takut kepada amuk api neraka, tapi senantiasa berbuat dosa adalah musibah. Ini yang melanda banyak orang muslim saat ini. Iming-iming harta, tahta dan wanita telah meruntuhkan benteng keimanan mereka. Lalu, mereka terjebak pada jurang dosa. Mereka senantiasa menyepelekan dosa-dosa kecil. Prinsipnya, yang penting tidak berbuat syirik: dosa yang tidak bisa diampuni oleh Allah.

Menyepelekan dosa kecil, apalagi dosa besar, inilah akar masalahnya. Wajar kalau kemudian ketakutan kepada neraka hanyalah sebatas igauan belaka. Mestinya, neraka tidak perlu ditakuti, apabila kita konsisten menjalankan ajaran agama. Dosa-dosa itulah yang sebetulnya akan membawa kita ke neraka. Menjalankan perintah Allah dan menghindari dosa secara ikhlas adalah jalan terbaik untuk menghindari amuk api neraka.

Terakhir, agar kita tidak terjebak pada “pengakuan palsu” seperti di atas, kita mesti memperbaiki pemahaman dan penghayatan kita terhadap nilai-nilai dan ajaran-ajaran agama. Pemahaman dan penghayatan inilah yang akan melahirkan kesadaran baru beragama kita. Yaitu bahwa menjalankan perintah Allah bukan semata mengharap surga atau menghindari nerakanya. Lebih dari itu, mengharap ridho dan cinta-Nya.

Prenduan, 6 Juni 201