Search Results For “santri”

Keajaiban Cinta dan Sisi Lain Al-Amien

sisi lain al-amien

“Cara bersyukur seorang penulis dengan cara menulis.” (KH. Moh. Idris Jauhari)

Kegiatan tulis menulis paling tidak dirasa sangat akrab semenjak Sekolah Dasar di SDN Blega 03, namun begitu mencintai puisi dan menuliskannya, paling tidak semenjak nyantri di Al-Amien Prenduan.

Meski saya dilahirkan di kalangan pesantren salaf, yang notabennya sangat mencintai kitab kuning, menelaah peninggalan ilmu-ilmu ulama salaf namun kecintaan saya pada puisi, tak bisa saya bohongi.

Paling tidak tahun 2003-2005 kecintaan saya pada puisi diuji, ayah melarang saya untuk menekuni dunia puisi, beliau lebih menyarankan agar saya memperdalam kitab kuning, biar mutiar salaf tetap terjaga, meski pesantren Al-Amien adalah perpaduan modern dan salaf bukan berarti saya harus lari dari kitab kuning.

Kitab kuning juga diajari di Al-Amien namun perbedaan dengan pesantren salaf dalam pengajaran kitab kuning adalah cara menyikapi kitab kuning dan cara menerjemahkan. Pesantren Al-Amien lebih condong pada penerjemahan/pemaknaan hurriyah (bebas), madzhab yang dianut dalam pelajaran fiqh untuk Tsanawiyah adalah Imam Syafi’ih sementara untuk Aliyah para santri diajarkan bidayatul mujtahid agar para santri bisa memilah dan memilih madzhab yang hendak dianut, agar tak gampang menyalahkan penganut madzhab lain.

Apakah pesantren Al-Amien NU atau Muhammadiyah, hal inilah yang paling sering ditanyakan masyarakat? Pesantren Al-Amien netral, santri-santrinya boleh memilih NU atau Muhammadiyah, namun jika menjadi imam shalat subuh harus pakai qunut, sebagai media pembelajaran sementara makmum boleh ikut qunut atau tidak.

Ragam kegiatan yang ada di Al-Amien, yang merupakan perpaduan modern dan salaf yang membuat saya betah. Namun kecintaan saya pada puisi tetap berlanjut tanpa sepengetahuan orang tua.

Barulah tahun 2005 setelah karya saya dimuat di Radar Madura, ayah saya mengizinkan saya menulis puisi, di tahun yang sama dapat penghargaan dari UNESCO karena ikut menyemarakkan Hari Puisi Sedunia, kami pun dilantik jadi pengurus Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) oleh Jamal D Rahman tepatnya hari Jum’at 20 Mei 2005.

Menyadari kemampuan dalam dunia tulis menulis pas-pasan saya lebih menyukai berselancar ke dunia maya, berkenalan dan membaca karya-karya penulis lewat internet, tepatnya 2008 setelah internet masuk ke pesantren Al-Amien dengan LABKOM.NET yang dimiliki.

Internet menjadi jalan alternatif saya dalam berkarya dan mengenal ragam karya penulis dalam dan luar negeri.

Berada dalam pesantren bukan alasan menutup diri dari kemajuan teknologi, itulah yang saya rasakan. Saya pun dikirim buku oleh rekan-rekan penulis dari Malaysia, Singapura dan Taiwan, lewat internet pulalah yang membuat Pipiet Senja tertarik datang ke Al-Amien lewat perkenalan singkat kami, saat saya menjadi ketua penyelenggara pembuatan antologi cerpen reliji lintas negara, kunjungan Pipiet Senja pun berjalan tiap tahun semenjak 2010-2012.

Lewat puisi pulalah saya diberi kesempatan membacakan puisi di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011) dengan pakaian daerah Madura membaca Haiku Sakera dalam bahasa Madura. Kegiatan membacakan puisi dalam acara sastra berlanjut ke berbagai tempat di Indonesia bahkan Malaysia seperti di UPSI Perak, Rumah PENA dan Ipoh dalam acara Kongres Penyair Sedunia ke-33 pada tahun 2013.

Mencintai hobi dengan sepenuh hati, bisa menjadi jalan mengabdikan diri dengan suasa hati yang riang itulah yang saya alami. Semua takkan pernah terjadi tanpa restu Ilahi dan tanpa jasa-jasa orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung mengantarkan pada apa saja yang ingin kita raih.

Doa, kemauan yang kuat disertai usaha sepenuh hati adalah kunci sukses, tanpanya kita ibarat debu diterbangkan angin.

Mengharapkan keajaiban tanpa pernah melakukan sesuatu adalah hal yang konyol, melupakan jasa-jasa orang lain merupakan bentuk ingkar atas kehidupan, sebab tak ada kesuksesan bisa diraih tanpa bantuan orang lain. Terlalu mengantungkan kesuksesan pada bantuan orang lain, tanpa berusaha berjalan di atas kaki sendiri merupakan bentuk ingkar atas karunia Allah, karena tak percaya pada karunia yang dimiliki, sebab pada hakikatnya manusia punya naluri pemimpin dan naluri sebagai hamba bertuhan. Akhir kata izinkan saya tuang puisi berjudul RAMALAN sebagai catatan saya, yang paling tidak mencakup pandangan, harapan dan rupa doa dari saya yang telah mengajarkan ragam kembara hati, terimakasih seluruh keluarga besar pesantren, yang masih istiqomah mengabdi.

Ramalan

Kelak, Al-Amien jadi taman puisi/Berbagai negeri silih berganti/Memetik bunga imaji/Atau sekedar berbagi risalah hati//Selalu ada yang akan berganti rupa/Sekedar mengurai jejak kembara/Namun Al-Amien: madu waktu/Diperkenalkan ragam kalbu//

Madura, 29 April 2014

Moh. Ghufron Cholid, Alumni TMI Al-Amien, 2006, Majlis Keluarga Ma’had Al-Ittihad Junglong Komis, Kedungdung Sampang.

Bagai Syamsu Tabriz bagi Seorang Rumi

ust nuskholis“Bapak Kiai wafat, pukul 06.55”. Pesan singkat itu terkabar lewat akun twitter. Kemudian bersambutan kabar lewat dering telepon, facebook dan tangisan. Hanya satu tahun sejak saya pamit untuk berangkat ke Kairo, Mesir, beliau sudah terburu pergi untuk tenang. Tapi saya merasakan kepedihan seperti ombak yang dihasut angin untuk berdebur. Tak ada batasnya, tak ada ruang untuk berhenti.

Beliau tidak hanya terkenang, tetapi seperti pertunjukan. Ingatan-ingatan berhamburan. Dari bunyi kenalpot sepeda motor Bravo yang khas membangunkan kami untuk qiyamul lail sedari jam dua malam tiba. Sajadah merah atau hijau, dan tempat shalat di samping kiri bagian depan, hingga saat-saat saya benar-benar intens berdialog tentang hidup, tentang jodoh, tentang apa yang dimaksud merdeka.

Saya bertemu dengan beliau pada Juni 2002. Waktu itu saya baru mendaftar sebagai santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Pertemuan antara seorang kiai besar dengan kami yang lucu-lucu. Saya ingat senyum beliau yang tipis-tipis itu, kata-kata yang tulus penuh hikmah, dan sesekali menyebut nama kami satu-persatu seperti seorang ayah kepada anaknya.

K.H. Muhammad Idris Jauhari menjadi sosok guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya. Tidak hanya karena sejarah mencatat, perjuangannya dimulai sejak beliau berumur 19. Namun juga, karena keaktifan beliau membina dan memberi petuah-petuah yang praktis.

Sejak selesai dari Pondok Modern Gontor, beliau berjuang. Beliau tidak lagi hidup seperti kawan-kawannya yang lain, mengembara atau menikmati masa muda dengan segala kebebasan dan kegembiraan. Beliau lebih memilih jalan lain, jalan pengabdian, memperjuangkan masa muda dan mencerdaskan anak bangsa. Barangkali itu sebabnya, beliau sangat tahu cara menghadapi setiap santrinya yang bermasalah. Dari santri yang harus digenggam dengan pengawasan yang sangat erat, hingga yang dilepas degan untaian doa-doa.

Beliau seperti dikelilingi kebahagiaan hanya jika mengabdi, mengurusi santri, dan akhirnya mengorbankan yang beliau miliki. Termasuk kesehatan.

Dan kami terus saja membuat masalah. Merokok di kamar mandi, kabur dari pondok, atau tidak ikut shalat jamaah. Seperti tak tahu setiap yang bergerak akan aus. Kami tidak sadar, bahwa dengan itu, sedikit demi sedikit pikiran pak kiai semakin penuh. Akibatnya, stabilitas kesehatan beliau menurun.

Tetapi semangat pengabdian beliau adalah satu-satunya yang bergerak tanpa pernah aus. Bagi beliau, eksistensi seseorang terlihat dari dedikasinya.

 “Saya lebih bangga pada alumni yang menjadi pemimpin pondok kecil atau guru ngaji daripada alumni yang menjadi pejabat.” Demikian yang sering saya dengar dari beliau. Bahkan, setiap kali acara wisuda, beliau selalu menyelipkan kalimat ini: “Apa pun profesimu, kamu harus berjiwa guru dan pemimpin”.

Itu mungkin sebabnya beliau mengabdi sejak usia dini. Beliau memilih jalan-jalan sempit nan tenang, yang mengantarkan pejalan kaki sampai lebih selamat. “Luruskan niat, bersyukur, bershalawat, dan berterimakasihlah kepada siapa saja yang sudah mengajari kita,” lanjutnya.

Saya tidak bisa membayangkan, seorang muda yang cerdas, hanya menghabiskan waktu dengan pengabdian di tanah tembakau yang kering, sementara di waktu luang belajar secara otodidak. Tidak ada ambisi untuk meraih gelar master, doktor dan predikat-predikat lainnya. Bagi beliau, “Gelar doktor tidak lagi dibutuhkan oleh orang setua saya”. Kesuksesan beliau dalam belajar secara otodidak inilah, yang dicatat oleh Zamhari dalam buku Belajar Otodidak Sampai Mati.

Ah, mengingat itu semua, adalah seperti menyusun puzzle yang kemudian berubah jadi wayang dan film sejarah yang mengagumkan. Sementara kami teriris-iris sendiri oleh khilaf dan duka, oleh kebodohan dan kesombongan.

Lalu petuah-petuah seperti ini, “Saya tidak menyuruh kalian untuk berzikir lama-lama. Tetapi di mana pun dan dalam keadaan apa pun kamu, shalatlah pada waktunya dengan berjamaah, membaca Al-Quran walau satu ayat, dan jangan lupa, fi ayyi makanin kana anta santriyun” (di mana pun kamu berada, kamu adalah santri) seperti menjadi background dalam pewayangan itu. Kata santriyun mungkin tidak ada dalam indeks kamus bahasa Arab, tapi beliau mengartikan itu sebagai bentuk moral seorang penuntut ilmu di pesantren. Moral sebagai orang yang toro’ ocak ka reng toah (patuh kepada orangtua), memiliki niat yang lurus, beribadah dan bermanfaat.

Begitu yang sering kami dengarkan setiap malam menjelang tidur sambil menahan rasa kantuk, atau pada Jumat pagi ba’da shalat Shubuh, serta teladan dalam praktik yang sama dengan penuh tawadu dan istiqamah.

Tahun 2006 saya lulus dari pondok, kemudian mengabdi di almamater. Saat itulah saya banyak menimba ilmu dari beliau secara lebih dekat tentang banyak hal. Tentang jodoh dan hari-hari yang menggelisahkan. Itulah ketika saya harus menerima ungkapan “mak jhu kemmi?” (kok kayak orang kebelet?).

Masa itu bagi saya adalah masa galau. Pikiran-pikiran berkeliaran ke dalam ruang-ruang yang tak tercapai. “Apa yang membuatmu tenang dan lebih dekat dengan Allah, itulah yang baik.” Kata-kata itu yang membuat saya mantap untuk mendapatkan istri yang baik. Waktu itu, Kiai Idris sama sekali tidak menghakimi, apalagi mencemooh. Masalah jhu kemmi (kebelet) karena terburu-buru menikah, saya rasa beliau hanya bergurau, dan itu yang membuat saya berpikir lebih panjang dan ingin sampai pada pembuktian.

Mula-mula, beliau tidak begitu mengenal saya, kecuali ketika ada urusan kesekretariatan yang tak beres, atau saat musyawarah pimpinan untuk menjadi notulis. Beliau hanya mengenal saya sebagai salah seorang sekretaris pondok.

Dan perlombaanlah yang mendekatkan saya. Berkali-kali saya mendapat undangan penyerahan hadiah lomba, berkali-kali pula saya meminta izin untuk keluar pondok sekaligus meminta restu. Tidak bisa saya pungkiri, ketika mencium tangan beliau, seperti ada rasa lain yang menghambur. Seperti ada langit yang menurunkan embun-embun pada daun, dan rasa lega yang luar biasa. Ya, seperti mendapat dukungan alam semesta.

“Jangan lupa, nama baik pondok ada dalam sikap kamu, kubah Al-Amien ada di atas pundak kamu,” dan saya tersentuh oleh kalimat itu, seperti seorang pengantin pria yang diserahi seorang perawan solehah. Sejak itu, saya selalu bisa menangis jika berhadap-hadapan, atau menatap gambar beliau yang kharismatik beraut tenang.

Saya terus bergairah menulis, tidak hanya karena ingin lebih baik, tetapi amanah, dukungan, dan kepercayaan beliau terus menderas dalam semangat saya. Saya akan terus menulis pagi, siang dan malam, jika pun beliau menyuruh itu.

Tetapi ya, semangat adalah rasa cinta juga. Kadang tumbuh dan berkembang, kadang layu dan menunggu gugur. Jika semangat saya sudah tak bisa diandalkan, semisal darah pada musim dingin. Saya akan mendatangi beliau pada musim Shubuh. Biasanya tepat setelah zikir shalat Shubuh, saya segera menunggu di teras rumah beliau, untuk sekedar mencium tangan beliau lalu mendengar pesan atau beliau.

Itulah istimewanya, beliau adalah seorang guru yang menempatkan murid sebagai sejawat, yang tidak perlu digurui, tapi disadarkan.

“Ada apa?” tanya beliau sambil menarik kopiah putihnya ke belakang. Saya kaku, sebab saya sering susah mengutarakan sesuatu kepada orang yang saya kagumi.

“Saya terlalu banyak dosa, Pak Kiai,” jawabku. Itu tentu bukan apa yang ingin saya ucapkan. Tetapi itulah yang saya rasakan dan terucap.

“Berpikir punya dosa itu bagus!”

Saya menunduk. Saya takut itu ironi.

“Kamu berarti sadar. Orang sadar, memiliki peluang untuk baik. Sadar itu sudah potensi, tetapi potensi saja tidak cukup. Kamu harus berusaha untuk menjadikan diri kamu lebih baik.”

“Saya selalu takut, Pak Kiai.”

“Kok takut? Susah kalau kamu takut. Saat kamu jalan, kamu tidak takut kan kalau suatu saat akan jatuh? Nah hidup juga seperti itu. Niatkan yang baik, berjalan di jalan yang benar, kalau jatuh atau salah jalan, ya bangun dan cari jalan yang lebih baik. Kamu bersyukur masih bisa sadar, tapi kesadaran itu bisa hilang jika tidak dimanfaatkan untuk berbuat.”

Saya benar-benar menangis saat mendengar itu. Padahal saya selalu takut ditanyakan tentang dosa-dosa saya, apa pelanggaran yang saya lakukan di pondok, atau beliau akan marah karena saya melakukan kesalahan-kesalahan itu.

Dan saya benar-benar menemukan guru yang bisa membuat saya berubah dari seorang yang tertutup menjadi lebih terbuka, terbuka juga terhadap kemungkinan-kemungkinan.

Kesederhanaanlah yang membuat saya menaruh hormat lebih kepada beliau. Beliau, dan  kiai-kiai kami yang lain, berpenampilan sama seperti ustaz-ustaz lain yang ada. Memakai baju koko, sarung, kopiah putih, kadang hitam, sajadah, dan senter saat waktu subuh dan petang.

Beliau adalah guru yang intens mengajarkan kami cara hidup sebagai manusia. Pelajaran hidup dari hal-hal kecil, cara berjalan dengan tidak menyeret sandal, tidak mengambil barang-barang syubhat. Bahkan sabun mandi yang ada di dalam selokan sekalipun, kami tidak boleh mengambilnya. Beliau yang mengajari kami tata cara bersikap yang baik, dengan penjabaran Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah.

Tahun 2010, beliau terbaring sakit yang kesekian kalinya. Ini yang paling parah, beliau komplikasi. Beliau terus menangis saat melihat kami. “Saya hanya berdoa, ya Allah matikanlah saya, jika saya tidak bermanfaat lagi bagi orang lain. Tetapi jika sebaliknya, saya memohon kesembuhan.” Kata-kata itu keluar dari beliau seperti hendak pergi, sementara kami menampung rasa sedih yang demikian penuh.

Kami masih belum bisa secara istiqamah melakukan shalat jamaah, belum melakukan pengabdian yang baik, dan belum juga berbuat dengan niat yang tulus, seperti yang beliau pesankan hampir di setiap ceramah beliau. Padahal sering beliau katakan, “Citra pondok dan almamater ini selanjutnya benar-benar dipertaruhkan di atas pundak kalian.”

Saat itu, saya memeluk dan mencium beliau dengan tangis yang berurai.

“Terimakasih, Nak, atas doa-doa tulusmu.”

Saya menangis, lebih perih lagi. Sangat jarang saya mendengar ucapan syukur itu dari orang-orang yang berada di ketinggian derajat, tetapi bapak kiai dengan mudahnya mengucapkan itu kepada kami, murid-muridnya yang sering nakal dan tak patuh aturan.

Alhamdulillah, beliau sakit tidak lama. Beliau sudah bisa rawat jalan, dan diperbolehkan kembali ke pondok. Itu adalah rasa bahagia sekaligus menimbulkan kekhawatiran. Sebab, kehidupan bagi beliau adalah dedikasi. Dengan kursi roda, dengan tangan yang sulit digerakkan, beliau tidak pernah lepas dari shalat jamaah bersama-sama santrinya.

Beliau seperti hendak berkata, “Saya yang sakit, masih bisa berjamaah, bagaimana yang sehat?” Tapi beliau selalu membantah keadaan sakitnya, “Saya tidak sakit. Saya masih bisa berpikir dan berbuat.” Bagi beliau, rasa sakit itu adalah ketika tidak bisa lagi berbuat lebih untuk pengabdian.

Itulah sebabnya, bapak kiai selalu menegur beberapa ustaz yang menunda pekerjaan dengan alasan penyakit ringan. “Kalau ada tugas, tunda dulu lah sakitnya itu…,” begitu gurau beliau sambil menyindir. Kami yang tidak memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, kadang-kadang menunda pekerjaan, hanya karena sakit gigi, sakit kepala, dan alasan-alasan yang sepertinya terlalu dibuat-buat. Jauh dibanding pembuktian bapak kiai saat mengalami gangguan kesehatan.

Mungkin tidak ada yang kekal kecuali kenangan-kenangan, kecuali rasa cinta yang dirawat dan diperjuangkan. Pagi sekali, saya harus mendengar kabar itu: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, KH. Muhammad Idris Jauhari meninggal dunia, 28 Juni 2012, pukul 06.55 WIB. Mendengar kepergian seseorang yang berada dalam jiwa, akan terlampau sulit diurai dengan rasa sabar dan tawakkal. Rentang waktu yang tak begitu lama sejak kelahiran beliau 28 November 1952.

Beliau bagi saya adalah semisal Syamsu Tabrizi bagi seorang Rumi. Bagi Rumi, Syamsu Tabrizi adalah pribadi penuh pesona rohani, yang membakar dunia batinnya, menyalakan hatinya, dan menariknya ke dalam pusat pusaran Cinta Ilahi yang sempurna. Maka, Rumi amat terluka ketika sufi dari Tabriz, Iran, itu pergi meninggalkannya, dan tak kembali lagi. Sementara, saya terluka tidak hanya dalam hati. Saya juga terluka oleh kebodohan diri dan kekhilafan atas pesan-pesan beliau. Beliau pernah berkata, “Anak-anakku, saya dihormati bukan karena kemuliaan yang saya miliki. Tetapi karena Allah menutupi aib-aib saya.”

Saya kadang berpikir cara berjumpa, untuk sekedar meminta maaf, untuk sekedar meminta restu, mencium tangannya, lalu bergairah untuk menjalani hidup. Saya kehilangan apa yang menjadi darah bagi tubuh.

Saya takut tidak bisa mengalahkan bayang-bayang sendiri, sementara “pahlawan-pahlawan kecil” terlanjur beliau sematkan. “Di hati kami, kalian adalah pahlawan pejuang harapan kami. Menangkanlah perjuangan ini!”

“Sadarlah selalu, Anak-anakku … Kalian adalah orang yang berharga. Karena itu, hargailah diri kalian. Tapi jangan sekali-kali minta dihargai. Orang yang meminta-minta dihargai biasanya memang tidak berharga. Hargai diri kalian sesuai dengan harga yang sebenarnya. Jangan terlalu mahal, sehingga kalian tidak laku dan dijauhi orang. Tapi juga jangan terlalu murah, sehingga akhirnya kalian menjadi orang-orang yang tidak berharga sama sekali. Dan yang terpenting, letakkanlah diri kalian pada tempat yang berharga, agar harga diri kalian tetap tinggi dan tidak jatuh.”

Dan engkau terus bersama kami dalam kalimat-kalimat yang memanjang dan menghunjam. []

 

Ach. Nurcholis Majid, alumnus TMI Al-Amien Prenduan, 2006. Kini, mahasiswa Pasca Sarjana Ma’had Ad-Dirasat Al-Islamiah li Imam Al-Baquri, Kairo, Mesir. 

Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Putra Bersholawat

mta bersholawatMTA – “Sholawatan Bersama” diadakan oleh BAPERDAT (bagian peribadatan) Organisasi santri Robithotu at-Tholabah bi Ma’hadi Tahfidhil Al-qur’an Al-Amien (RITMA) masa khidmah 2013-2014, adalah acara yang mengajak santri agar lebih bersemangat dalam bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW., di manapun dan kapanpun. Acara yang dipimpin oleh Sv. Much. Fariz MA yang sekaligus menjabat di bagian Peribadatan RITMA pada malam itu (24/4) menyatakan bahwa acara malam ini berjalan dengan sukses dan lancar. Hal itu bisa dilihat dari semangat para santri dalam mengucapkan gema-gema islami.

Acara yang dibuka oleh KH. Moh. Khoiri Husni,S.Pd.I selaku Pengasuh Ma’had Tahfidh Al-Qur’an (MTA) itu dimulai pada pukul 19.40, diawali dengan penampilan Kelompok Hadroh Al-Banjari Ar-Roudhoh yang dipimpin oleh Sv. Mahfud Faiz, suasananya sangat meriah. Banyak dari para santri yang mengangkat tangan dan menggerak-gerakkannya. Ayunan kepala yang dipadu oleh pejaman mata karena khusuk dalam bershalawat pun tidak ketinggalan.

Setelah penampilan Al-Banjari kini tiba giliran penampilan hadrah Ar-Rizani. Para santri menyambut antusias penampilan mereka, terutama para penari dari hadrah Ar-Rizani yang begitu luwes dalam menggoyangkan tangan dan kepalanya. Beberapa santri pun terhipnotis oleh tarian tersebut yang dibantu oleh lantunan lagu Islami yang menyejukkan hati. Acara ditutup dengan sesi serah terima kenang-kenangan dari ketua MTA Bershalawat, Sv. Much. Fariz MA kepada pengasuh Al-Banjari Ar-Roudhoh, Ust. Ubaidillah Wahid dan dilanjutkan dengan pembagian bingkisan kepada seluruh santri. (Bz_19)

BEM IDIA Prenduan Mengadakan Acara Tadabbur Alam

Tadabbur-Alam-Batang-Batang-300x225IDIA Prenduan – Tadabbur Alam merupakan salah satu kegiatan wajib tahunan yang terdapat di IDIA Prenduan. Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, Alhamdulillah BEM IDIA Prenduan kembali sukses menyelenggarakan kegiatan Tadabbur Alam yang dalam kesempatan tahun ini bertempat di Pondok Pesantren At-Ta’awun Desa Legung Barat Kec. Batang-Batang Sumenep pada hari kamis s/d Jum’at (24-26/04/2014).

Kegiatan Tadabbur Alam tahun ini melibatkan 74 orang, baik dari kalangan Pengurus BEM Intensif, Plus, juga para peserta dan pembina. Kegiatan Tadabbur Alam ini secara resmi diberangkatkan oleh KH. Moh. Fikri Husain, MA di depan Gedung Rektorat IDIA Prenduan pada Kamis Siang (24/04/2014).

Selama pelaksanaan kegiatan Tadabbur Alam, antusias para peserta Tadabbur Alam nampak saat dihadapkan dengan berbagai agenda yang telah direncanakan sebelumnya oleh panitia diantaranya Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), Perlombaan-Perlombaan, Bakti Sosial (Baksos) dan acara inti yaitu jelajah malam mentadabburi alam.

Dari setiap acara dalam kegiatan Tadabbur Alam tersebut, tentunya yang paling menarik yaitu kegiatan Jelajah Malam yang merupakan acara inti dari pelaksanaan Tadabbur Alam, dimana setiap peserta menjalani jelajah malam dengan rute yang telah ditentukan sebelumnya. Sepanjang rute tersebut disediakan pos-pos untuk memantau penjelajahan yang dilakukan oleh peserta. Selain itu, disamping menjelajah, pada setiap pos peserta diberikan materi-materi muhasabah terhadap ciptaan Allah Swt. guna semakin memupuk keimanan, keislaman, dan keihsanan kepada Allah Swt.

Acara puncak dari Kegiatan Tadabbur Alam diisi dengan penampilan hadrah oleh mahasiswa dan santri At-Ta’awun, serta pembagian hadiah untuk para pemenang lomba. Selain itu terdapat juga penyampaian ceramah oleh KH. Jakfar Shodiq, MM. (Red.IDIA-2014)

Organtri RITMA Adakan Training Motivasi MEP Jilid II

training mep ritma 2014MTA - Jum’at pagi (25/4) sekitar pukul 07.00 WIB Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menyambut hangat kedatangan Bpk. Yusron Aminullah,  SH. MM, M.H.tph. Seorang master Trainer organisasi Motivator Nasional bersama tim Menebar Energi Positif (MEP), untuk kedua kalinya hadir kembali mengisi training motivasi di Ma’had Tahfidh Al-Qur’an. Antusias peserta pun tak jauh berbeda seperti kunjungan pertamanya pada tahun 2010. Acara yang berlangsung di lapangan gedung Marhalah Aliyah ini diikuti oleh 547 peserta yang terdiri dari lembanga MTA, TMI Pi, dan IDIA.

Tidak seperti fokus judul sebelumnya “Merancang Mindmap Masa Depan”, kali ini panitia mengusung judul yang tak kalah menarik yaitu “Optimalkan IQ dan ESQ”.

Skeptisme santriwati pra-acara akan suksesnya acara ini dipatahkan hanya dalam sekejap. Tim trainer berhasil menyulap acara menjadi training motivasi yang tidak basi dan menyenangkan. Dengan menggunakan metode yang menekankan pada perubahan Mindset diri, santriwati diajak untuk merancang masa depan dengan kekuatan hati, pikiran dan energi yang dialiri dengan sikap positif. Training tersebut yang berisikan tentang motivasi yang bermakna, menyenangkan, dan penuh dengan permainan menarik yang dapat melatih  dan mengasah otak kanan dan kiri untuk bekerja bersamaan secara optimal.

Meskipun diguyur hujan sesaat sebelum sesi kedua dimulai, acara yang digawangi oleh RITMA-Brienza ’15 dan disponsori oleh Alfa Omega (αΩ) tetap berjalan dengan lancar. “Walaupun training motivasi ini telah selesai, semoga kita semua tetap menjadi duta menebar energi positif untuk sekitar. seperti bunga Dandelion yang tak pernah berhenti menebar benih kehidupan”, harap Ust. A. H. Walidil kutub, S.Si., selaku Project Officer acara ini.

Acara ini sangat bagus sekali sehingga peserta training tidak merasa jenuh dan tetap bersemangat. Dengan diselenggarakannya event ini diharapkan tim trainer MEP dapat menebarkan energi positif kepada seluruh santri MTA pada khususnya, mewujudkan segala sesuatu menjadi lebih baik dan melahirkan para reformator bangsa. Sehingga para santri tetap bersemangat dan berjuang dalam belajar, menghapal Al-Qur’an, melaksanakan segala tugas dsn kewajiban serta mampu menggapai segala cita dan asa yang diridhai Allah Swt. Amin…

Semarak Dua Bahasa (SDB) TMI Putri

semarak dua bahasa tmi putriTMI – Semarak dua bahasa (Arab dab Inggris) yang kegiatannya berisi pelaksanaan lomba-lomba internal antar santriwati Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI), dimotori oleh Pengurus Organisasi Ikatan Santriwati Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (ISTAMA) menggelar acara puncak malam ini (25/04) ditandai dengan pembagian hadiah untuk para pemenang lomba.

Acara ini berlangsung seminggu, dibuka Jum’at Sore (18/04) oleh Pengasuh Ma’had TMI Al-Amien Prenduan, KH. Zainullah Ro’is, Lc.

“Tidak Perlu jauh-jauh untuk belajar bahasa arab dan bahasa inggris, karena kami menyediakan banyak menu sarana pengembangan dua bahasa ini di lembaga TMI ini, dengan syarat kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh …” terang pengasuh TMI memacu semangat santriwati yang akan mengikuti aneka lomba di SDB 2014 ini.

Lomba yang sengaja diadakan, untuk meningkatkan kualitas bahasa sehingga mampu menghidupkan semangat dan kreatifitas santriwati dalam keterampilan berbicara, menulis, berorasi menggunakan dua bahasa. Lomba  yang berlangsung satu pekan ini diatur dengan menegement waktu yang baik sehingga tidak mengganggu kegiatan wajib dan sunnah-sunnah pondok seperti muwajjah lailiyah (belajar malam), kutubut turots dan kegiatan intra. Karena walau bagaimanapun juga, tugas santri adalah beribadah, belajar, berlatih sehingga kemudian ia dapat melahirkan prestasi dengan kesungguhan dan keberuntungan.

“Kami sebagai pengurus berharap dengan adanya lomba ini dapat dijadikan media belajar yang efektif bagi para santriwati TMI Putri serta menumbuhkan dan memacu semangat berkompetisi secara fair dalam meraih prestasi”, berikut penuturan salah seorang panitia SDB, salah seorang pengurus organtri ISTAMA dari kelas lima (setingkat kelas XI SLTA).

Ada lebih dari dua puluh jenis lomba yang diikuti oleh santriwati a.l.: lomba pidato dua bahasa, lomba cerdas cermat dua bahasa, lomba drama dua bahasa serta pemilihan maalikatu al-lughoh 2014.

Lewat pelaksanaan lomba ini, lembaga terus berupaya menjaga keseimbangan antara domain spiritual, intelektual, dan bakat seni para santriwati dalam berbahasa resmi, dan dapat melatih jiwa dan spirit sportifitas dalam diri peserta, penonton, dan juri lomba, serta bisa menjadi wahana penjaringan bibit-bibit unggul dan bakat-bakat yang terpendam dalam diri santriwati. Ayo pompa terus semangat ISTAMA … (dh)

Info Pendaftaran

PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN 1435/2014

PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN | Sumenep Madura Jawa Timur 69465

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sesuai dengan hasil musyawarah Majelis Kyai dan Majelis A’wan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura menetapkan bahwa Pendaftaran Santri Baru (PSB) tahun ajaran 1435-1436 / 2014-2015, baik Putra maupun Putri, akan dilaksanakan secara serentak dan 2 gelombang, yaitu:

  • Gelombang I                   : Ahad s/d Selasa, Tgl. 01-10 Juni 2014 M/03-12 Sya’ban 1435 H
  • Gelombang II                 : Rabu s/d Sabtu,  Tgl. 06-16 Agustus 2014 M/ 10-20 Syawwal 1435 H
  • Waktu Pendaftaran   : Mulai Pkl. 07.00 s/d 15.00 WIB
  • Tempat Pendaftaran : Di kantor pendaftaran masing-masing lembaga (Putra & Putri terpisah).

Adapun untuk syarat-syarat pendaftaran masing-masing lembaga sebagaimana berikut:

1.      Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Putra-Putri

  • Syarat Penerimaan:
  1. Muslim/Muslimah berusia 12-22 tahun, belum menikah dan bersedia tidak menikah selama masa-masa pendidikan.
  2. Berijazah SD/MI (program Reguler) masa studi 6 tahun, dan untuk lulusan MTs/SMP (Program Intensif) masa studi 4 tahun.
  3. Memiliki latar belakang kehidupan  pribadi, keluarga dan sosial yang baik (diutamakan kader-kader lembaga).
  4. Mendapat restu dan dorongan semangat dari orang tua/walinya bersedia hidup berdisiplin di dalam pondok dan berniat menyelesaikan studinya sampai tamat ke kelas VI.
  5. Memiliki motivasi dan semangat tinggi untuk menjadi Guru/Pendidik atau Kader Pemimpin Ummat.
  6. Lulus dalam seleksi masuk yang meliputi ujian penempatan (Psikotes, Tulis dan Lisan).
  •  Syarat Pendaftaran:
  1. Menyerahkan berkas-berkas pendaftaran awal berupa:
  • 2 Fotokopi SKHUN dan Ijazah Terakhir yang telah dilegalisir
  • 2 Fotokopi Akta Lahir dan Kartu Keluarga (KK)
  • Pasfoto terbaru ukuran 3×4 (4 lembar) dan 4×6 (4 lembar) dan berjilbab (untuk putri)
  • Surat Keterangan Sehat dari dokter Klinik Al-Amien Prenduan (KAP)
  • Surat Pindah Desa (bagi yang berusia 17 tahun atau lebih)
  • Mengisi Formulir Pendaftaran yang tersedia dengan jujur dan lengkap

2. Ma’had Tahfidz Al-Qur’an (MTA) Putra-Putri

  • Syarat Penerimaan:
  1. Muslim/Muslimah berusia 12-22 tahun, belum menikah dan bersedia tidak menikah selama masa-masa pendidikan.
  2. Berijazah SD/MI (program SMP) dengan masa studi 6 atau 7 tahun, dan untuk lulusan MTs/SMP (Program SMA/MAK) dengan masa studi 3 atau 4 tahun.
  3. Memiliki latar belakang kehidupan  pribadi, keluarga dan sosial yang baik (diutamakan kader-kader lembaga).
  4. Mendapat restu dan dorongan semangat dari orang tua/walinya bersedia hidup berdisiplin di dalam pondok dan berniat menyelesaikan studinya sampai tamat ke kelas VI.
  5. Memiliki motivasi dan semangat tinggi untuk menjadi Guru/Pendidik atau Kader Pemimpin Ummat dan menjadi Hafidh Kamil Al-Qur’an
  6. Lulus dalam seleksi masuk yang meliputi ujian penempatan (Psikotes, Tulis dan Lisan).
  •  Syarat Pendaftaran:
  1. Menyerahkan berkas-berkas pendaftaran awal berupa:
  • 3 lembar fotokopi SKHUN & Ijazah Terakhir yang telah dilegalisir dan menyertakan NISN.
  • 2 Fotokopi Akta Lahir dan Kartu Keluarga (KK)
  • Pasfoto terbaru ukuran 3×4 (6 lembar) dan 4×6 (2 lembar) dan berjilbab (untuk putri)
  • Surat Keterangan Sehat dari dokter Klinik Al-Amien Prenduan (KAP)
  • Surat Pindah Desa (bagi yang berusia 17 tahun atau lebih)
  • Mengisi Formulir Pendaftaran yang disediakan panitia dengan jujur dan lengkap

3. Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Putra-Putri

  •  Syarat Pendaftaran:
  1. Pendaftaran diantar oleh orang tua/wali
  2. Menyerahkan berkas-berkas pendaftaran awal berupa:
  • 2 lembar fotokopi STTB/Ijazah Terakhir (SMA/SMK/MA/Sederajat)  yang telah dilegalisir
  • Pasfoto terbaru ukuran 2×3 (3 lembar), 3×4 (3 lembar) dan 4×6 (3 lembar)  serta berjilbab (untuk putri)
  • Mengisi Formulir Pendaftaran yang disediakan panitia dengan jujur dan lengkap.
  • Materi Ujian Tes Masuk:
  1. Pengetahuan Agama Islam
  2. Bahasa Indonesia
  3. Bahasa Arab
  4. Bahasa Inggris
  5. Psikotes
  6. Mengaji Al-Qur’an
  • Syarat Penerimaan:
  1. Memenuhi semua syarat pendaftaran
  2. Lulus Tes Masuk
  3. Telah Melakukan Her-Registras

Uraian Biaya

pembayaran

Contact Person PSB 2014:

Ust. Drs. Suhaimi Zuhri, 081703253289 (Panitia Terpadu), Ust. H. Luqman Hakim, Lc, 087750094117 (TMI), Ust. Darwis, 08175127563 (MTA), Ust. Drs. Amrullah Umar, 081808025267 (IDIA), KH. Halimi Sufyan, 087752093399 (Putri 1), Ust. Efendi, 081807536466 (Ponteg) dan KH. Bastomi Tibyan, S.Pd.I, 081913741114 (Ma’had Salafy).

NB: Kami juga melayani pendaftaran lewat jalur online. Silahkan klik banner DAFTAR ONLINE di bagian atas pojok kanan website. (Data yang diisi lewat online akan diverifikasi ketika calon santri baru datang ke pondok untuk menyelesaikan semua tahap pendaftaran)

Laporan Mubes III & SILNAS 2013

Acara Pembukaan; Meningkatkan Ilmu Alumni Dengan Dzikir dan Fikir

Acara Musyawarah Besar (MUBES) III & Silaturrahim Nasional (SILNAS) Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan (IKBAL) tahun 2013 dibuka secara resmi pada hari Sabtu, 13 Sya’ban 1434 H/22 Juni 2013 M oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan KH. Maktum Jauhari, MA. Pembukaan ini dilaksanakan selama satu jam, dari pukul 16.00-17.00 WIB.

Acara pembukaan ini dilaksanakan secara terpisah, untuk Putra dilaksanakan di Aula TMI Al-Amien Prenduan dan untuk Putri di GESERNA TMI Al-Amien Prenduan.

Ketika menyampaikan sambutan pembukaan, KH. Maktum Jauhari, MA menyampaikan informasi-informasi perkembangan Al-Amien sepeninggal almarhum KH. Moh. Idris Jauhari. Beliau mengawali dengan memperkenalkan susunan majlis kiai terbaru dan perkembangan-perkembangan selama ini, seperti produk Air Minum Dalam Kemasan LANA, pembangunan kantor Yayasan Terpadu, pengaspalan jalan di lingkungan Al-Amien II, pendirian Jasa Tour dan Travel Perjalanan PT. Mutiara Alpen. Bahkan yang tak kalah pentingnya, kia Maktum berharap kepada seluruh peserta MUBES, agar dapat memberikan masukan positif kepada pondok pesantren Al-Amien Prenduan. Menurut beliau, “Jewerlah kami, sebelum kami dijewer masyarakat bahkan Na’udzubillah sampai dijewer Allah.”

Sedangkan acara pembukaan untuk Putri, MUBES III  & SILNAS 2013 dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pengasuh Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Ny. Hj. Dra. Anisah Fatimah Zarjasyi. Dalam pembukaan tersebut beliau menyampaikan harapannya kepada para alumni. Bahwa, “Sebagai Alumni Al-Amien, kita semua senantiasa terus meningkatkan keimanan, keilmuwan dengan cara berdzikir dan berfikir” Jelas beliau.

Kedua pembukaan ini ditutup dengan do’a oleh KH. Fauzi Rosul, Lc untuk Putra dan Ny. Hj. Zahratul Wardah, BA untuk Putri.

Motivasi Alumni Untuk Santri; Ilmu Yang Diamalkan

Kegiatan Motivasi Belajar: Tokoh Alumni Bersama Santri dilaksanakan secara terpisah antara Putra dan Putri. Untuk Putra dilaksanakan di Masjid Jami’ Al-Amien Prenduan, sedangkan untuk Putri dilaksanakan di Muholla TMI Putri.

Acara yang dilaksanakn pada tanggal 22 Juni 2013 M setelah sholat maghrib ini diikuti oleh para santri dari tiga lembaga, antara lain; TMI, MTA dan IDIA Prenduan.

Diisi oleh KH. Irham Rofi’ie untuk santri putra dan Usth. Daniatul Husna untuk santri putri.  Dalam isi motivasinya, KH. Irham Rofi’ie selaku Pengasuh PP. Darul Ittihad Geger Bangkalan menyampaikan bahwa pelajarn yang ada di pondok Al-Amien, semuanya akan bermanfaat di kehidupan kelak. “kalian jangan khawatir, semuanya akan bermanfaat asalkan kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari! Insya Allah, ilmu itu akan mengantarkan kita pada kesuksesan dunia dan akhirat” Jelasnya.

Kiai yang tidak pernah mengenyam pendidikan bangku kuliah sejak lulus dari TMI Al-Amien Prenduan pada tahun 1986 ini juga menyampaikan tentang pengaruh mengamalkan mahfudzat, “jangan hanya dihafalkan, tapi harus juga diamalkan! Saya telah membuktikan, mengamalkannya, membantu saya sukses walau tanpa bangku kuliah.

Tidak jauh beda dengan KH. Irham Rofi’ie. Di depan santriwati, Usth. Daniatul Husna juga menyampaikan tentang kunci sukses di dunia dan akhirat di depan para santriwati. Alumni TMI Putri tahun 1997 ini, juga menyampaikan  bahwa sukses itu kuncinya hanya satu. “Sukses itu adalah ilmu yang bermanfaat dan diamalkan,” tegas beliau.

FORMASI PENGURUS PUSAT IKBAL | Masa Khidmah: 2013-2018 M

Dewan Pembina:

Majlis Kyai Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN

Majlis A’wan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN

Pengurus Yayasan AL-AMIEN PRENDUAN

Dewan Penasehat:

Ketua: KH. Taufiqurrahman, FM, Sumenep | Sekretaris: Sofyan Hadi, Sumenep | Anggota: KH. Lailurrahmah, Lc, Pamekasan | Drs. H. Djatim Makmun, Pamekasan | KH. Fahmi Say’ari, M.Ag., Sampang | KH. Iedul Fitri, Sampang | KH. M. Faishol Anwar, Bangkalan | KH. Abdul Hakam, Bangkalan.

Pengurus Harian:

Ketua Umum: KH. Irham Rofi’ie | Ketua I: KH. Drs. Abushiri Sholehuddin | Ketua II: KH. Nahrowi Syukairi | Sekretaris Umum: Mahfud, S.Pd.I | Sekretaris I: Maliji Jalali, S.Sos.I | Sekretaris II: Drs. Amrullah Umar | Bendahara Umum: Maimun | Bendahara I: KH. Moh. Bakri Sholihin, S.Pd.I | Bendahara II: Rusdi Subroto.

Departemen-departemen:

Pendidikan dan Pembinaan SDM: Rasyadi [Sumenep], Umar Bukhari, M.Ag. [Pamekasan], Sauqi Mubarak, S.Pd.I [Sampang], Zainullah, S.Sos.I [Bangkalan]

Da’wah dan Pengabdian Masyarakat: Susiyanto, S.Sos.I [Sumenep], KH. Nafi’, Lc [Pamekasan], Maksum Kariem, M.Pd [Sampang], KH. Hasani Zubair, S.Ip [Bangkalan]

BAZIS dan Pemberdayaan Ekonomi Umat: Nur Hayat [Sumenep], Ir. H. Nizar Asyik [Pamekasan], Moh. Shodiq Al-Akromi, S.Ag [Sampang], Dr. Abd. Rahman Tsani [Bangkalan]

Informasi dan Hubungan Masyarakat: H. Bahri Bahar [Sumenep], KH. Mannan Zarkasyi [Pamekasan], Rofi’ Ukhrowi, S.Hi [Sampang], Hadhori Fathurrosi [Bangkalan]

 

Limit dan Border

Penghujung tahun 1996, menjelang tahun baru 1997. Ujian Akhir Tahun—begitu kami biasa menyebutnya—baru saja berakhir. Tinggal Kuliah Kemasyarakatan, lalu libur panjang. Tetapi kami, santri-santri kelas akhir, punya kesibukan yang berbeda. Beberapa hari ke depan, kami akan segera diwisuda. Itu artinya kami akan bernyanyi bersama di hadapan para undangan dan hadirin. Maka sibuklah gitaris-gitaris angkatan kami menyetem gitar serta mencari not dan kunci. Di tempat lain, para pujangga kami juga sibuk menyusun puisi perpisahan, berharap akan lahir puisi paling mengharukan. Kami, termasuk yang bukan gitaris dan pujangga, terus berlatih koor 2-3 kali sehari, menyanyikan lagu Oh Pondokku (Hymne Al-Amien Prenduan belum ada saat itu) dan beberapa lagu gubahan kami sendiri. Lalu gladi kotor, gladi resik, dan segeralah kami akan tiba di puncak. Wisuda. Absah menyandang predikat alumni TMI.
Tetapi bukan itu saja. Pondok kita saat itu sedang mengadakan perhelatan besar. Peringatan dan Kesyukuran 45 Tahun Al-Amien Prenduan. Banyak alumni yang pulang. Banyak pula tokoh yang berkunjung. Beberapa di antara mereka diberi kesempatan berbicara di depan para santri. Salah satu yang saya ingat adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin (Pimpinan Muhammadiyah sekarang) yang bercerita tentang kekagumannya pada Kyai Maktum. “Beliau ini,” tutur Pak Din, “adalah satu-satunya kawan yang tidak pernah saya kalahkan di bidang akademis selama di Gontor.”  Belakangan, ketika nyantri di Gontor, saya berulangkali memperoleh kisah-kisah luar biasa tentang reputasi intelektual kyai saya yang satu ini. Kapan-kapan, saya akan ceritakan kisah-kisah tersebut.
Selain Pak Din, saya juga terkesan dengan pidato (alm.) Nurcholish Madjid. Tidak banyak yang saya tahu tentang Cak Nur waktu itu, selain bahwa beliau adalah tokoh yang kontroversial. Apa yang beliau bicarakan di hadapan para santri juga tidak sepenuhnya saya pahami. Terlalu berat, meski saya kira beliau sudah berusaha menyederhanakannya. Apalagi cara beliau menyampaikannya sangat datar. Tidak seperti Zainuddin MZ yang mengalun dan memukau. Tetapi, sejak sore ketika saya mendengar pidato Cak Nur itu, saya jadi tahu perbedaan antara dua buah kata dalam bahasa Inggris. Dan mengingat minat dan kemampuan bahasa Inggris saya yang tidak bagus-bagus amat, itu sudah bisa dibilang sebuah prestasi.
Dua kata itu adalah limit dan border. Yang pertama berarti “batas”, yang kedua berarti “perbatasan”. Yang pertama adalah sesuatu yang memang tidak bisa kita lampaui, yang kedua adalah sesuatu yang perlu dan harus kita lewati. Sore itu, menjelang Maghrib, Cak Nur mengajari kami untuk pandai-pandai membedakan antara limit dan border, antara batas dan perbatasan.
Cak Nur berbicara panjang lebar tentang perbedaan dua kata ini. Tapi saya tidak ingat sedikit pun darinya. Satu-satunya yang melekat dalam pikiran saya adalah dua kata itu berikut konteksnya. Limit dan borderLimit dan border. Baru beberapa tahun setelah itu, saya sadar bahwa pesan Cak Nur tidak sesederhana makna limit dan border yang tertera di dalam kamus. Oh ya, baru belakangan pula saya tahu bahwa untuk kata yang kedua, bisa juga digunakan kataboundary.
Saya termasuk penggemar cerita-cerita silat. Saat kuliah semester-semester awal di Yogyakarta, hampir setiap malam Minggu saya habiskan dengan membaca berjilid-jilid novel silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang saya sewa dari persewaan buku di dekat kos. Saya juga suka komik silat, seperti Kungfu Boy. Entah kenapa, saya selalu merasa bahwa para pendekar dalam cerita-cerita silat itu hadir dan membuat perbedaan melalui kemampuan mereka mengembangkan diri dan kemampuan, melintasi perbatasan.
Saya juga suka membaca buku-buku biografi. Saat kelas enam dulu, setiap santri diwajibkan menyusun tulisan tentang biografi tokoh idolanya. Saya menulis tentang Muhammad Iqbal, seorang pemikir, penyair dan filsuf dari Pakistan (lebih tepatnya, dari India, karena Pakistan baru lahir berkat jasa tokoh idola saya ini). Saya juga baca biografi Soekarno dan Hatta. Juga M. Natsir dan KH. Imam Zarkasyi. Setiap kali membaca tentang tokoh-tokoh tersebut, selalu saya ingat kutipan dari Thomas Carlyle, “Sejarah terus berputar dengan ‘orang-orang besar’ itu menjadi porosnya.” Ya, saya pikir itu benar. Kita harus menjadi “orang besar” untuk tercatat sebagai “poros sejarah”. Dan orang-orang besar itu adalah mereka yang mampu melintasi perbatasanmereka sendiri.
Lalu, masih saat kuliah di Yogyakarta, saya membaca sebuah ulasan tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Tidak saya ingat pasti siapa penulisnya. Yang jelas, tulisan itu menyadarkan saya bahwa salah satu kunci kesuksesan Rasulullah SAW terletak pada terciptanya sekelompokminoritas kreatif di sekeliling beliau. Ya, minoritas yang kreatif. Perubahan dalam skala yang besar, atau sebuah revolusi, seringkali tidak mempersyaratkan, pada awalnya, bahwa seluruh masyarakat meyakini dan memperjuangkan hal yang sama. Perbedaan antara sebuah gerakan yang sukses dan yang gagal acapkali terletak pada ada atau tidaknya segelintir orang yang memperjuangkan gerakan tersebut secara cerdas, militan dan tanpa kenal lelah—sekelompok minoritas yang kreatif. Dalam konteks sejarah hidup Rasulullah SAW, minoritas kreatif itu adalah sahabat-sahabat terdekat beliau. Mereka istimewa karena mereka meyakini sebuah cita-cita tentang kejayaan Islam, lalu memperjuangkannya habis-habisan, melintasi perbatasan.
Kita seringkali menciptakan batas bagi kemampuan kita sendiri. Kita meyakininya sebagai garis yang yang tidak mungkin kita lintasi. Padahal, ia sejatinya adalah perbatasan, sesuatu yang mestinya kita ciptakan untuk suatu saat kita lampaui. Memang selalu ada batas untuk kemampuan kita, tetapi kita barangkali tidak pernah dan tidak perlu tahu di mana batas itu. Kadang-kadang kita gagal mengembangkan diri lantaran terlampau yakin bahwa kita sudah sampai di garis batas.Sampai hari ini, misalnya, saya tidak pernah bisa memainkan gitar untuk mengiringi satu lagu secara utuh. Barangkali itu karena saya dahulu menciptakan batas yang terlalu sempit untuk kemampuan saya memainkan gitar, lalu meyakininya sebagai sebuah garis yang tidak terlampaui. Banyak kawan-kawan saya dahulu yang menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa yang sulit dipelajari. Bahkan mungkin ada juga di antara kita yang berpikir bahwa diri mereka tidak akan pernah bisa beribadah setekun dan sekhusyu’ para kyai. Mereka tidak sadar bahwa tepat pada saat mereka berpikir semacam itu, mereka sesungguhnya telah menetapkan batas yang mengungkung dan mengerdilkan diri mereka sendiri.
Menyadari perbedaan antara batas dan perbatasan itu bisa melahirkan istiqâmah, sebuah perpaduan antara optimisme, konsistensi, persistensi, dan kreativitas. Orientasinya adalah bagaimana menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dalam beribadah, kita menjadi sadar bahwa kita bisa lebih baik dari hari ini. Dalam belajar, kita menjadi yakin bahwa kita bisa lebih cerdas dari hari ini. Dalam berlatih, kita menjadi tahu bahwa kita bisa lebih terampil dari hari ini. Lantaran kita mengerti bahwa kita hari ini belum mencapai batas akhir kemampuan kita.
Seperti Rasulullah SAW yang mengingatkan kita untuk menjadikan hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Seperti para sahabat Nabi yang tidak pernah berhenti meyakini kebenaran ramalan Rasulullah SAW bahwa Islam suatu saat nanti akan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Seperti Thariq ibn Ziyad yang membakar perahu pasukannya agar mereka tidak punya pilihan lain selain menaklukkan Andalusia. Seperti Thomas Alva Edison yang tidak menyerah meski 9.994 kali gagal dalam percobaannya menciptakan bola lampu. Seperti para kyai dan guru yang tak pernah lelah memarahi dan menegur kesalahan kita. Seperti para santri yang terus beribadah dan belajar, melawan kantuk dan lelah di badan. Dan seperti banyak yang lain lagi. Karena mereka tahu bahwa yang terbentang di depan bukanlah batas, tapi perbatasan—bukan limit, tapi border.

Seperti pondok kita. Terus maju, melintasi perbatasan, dan jaya, hingga di akhir masa. Amin.

Oleh: KH. Ghozi Mubarak Idris, MA

MTA Gelar Ujian Praktek Mengajar

MTA gelar ujian praktek mengajarMTA - Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Al-Amien (MTA) mengadakan program Ujian Praktek Mengajar atau Amaliyah Tadries Al-Ikhtibariyah (ATI), untuk santri-santriwati kelas akhir MTA baik itu SMA atau MAK, tahun ini putra diikuti oleh 63 orang, dan putri diikuti oleh 70 orang.

Pagi ini (20/4) peserta putra dibekali dengan bagaimana menulis Rencana Pelaksaaan Pembelajaran (RPP) dan dilanjutkan dengan praktek mengajar dengan menunjuk dari masing-masing kelas IPA, IPS dan MAK, dibimbing oleh H.A. Tijani Syadzili, Lc, guru tarbiyah di MTA, lulusan Umm Al-Quro University Mekkah.

 “Kegiatan ini bertujuan memberi gambaran tentang bagaimana mengajar: sejak persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi” demikian kata Ustadz Fauzi Fathurrazi selaku Organizing Commitee (OC) di Putra. Dan OC putri: Ny. Ria Zaitullah, S.H.I

Para santri MTA yang walaupun kurikulumnya berinduk ke kemendiknas, mereka juga dibekali dengan materi keguruan sejak mereka duduk di kelas X-XII. “Di kelas X anak-anak belajar dasar-dasar pendidikan (tarbiyah), di kelas XI anak-anak belajar dasar-dasar pembelajaran (ta’lim), dan di kelas akhir mereka belajar bagaimana mengenal khutuwat tadries atau didaktik-metodik” demikian kata Ustadz Tijani.

Agenda ATI ini, di putri dibuka oleh KH. Moh. Zainullah Ro’is, Lc dan di putra dibuka oleh KH. Moh. Khairi Husni, S.Pd.I sebagai Pengasuh MTA. “mengajar adalah proses belajar yang sangat efektif, dan program ini agar dijadikan momentum yang selalu berusaha mendorong kalian untuk berproses menjadi guru yang baik’ demikian harapan pengasuh saat membuka acara ini.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pembekalan selama dua hari dengan materi: Asalibu ta’limi Al-Qur’an, Khutuwat Tadries, Penulisan RPP, Naqdud Tadries. Kemudian 3 hari penulisan RPP dan pelaksaaan ujiannya: putra pada 26-30 April 2014, dan putri pada 28-01 Mei 2014.

Selamat melaksanakan ujian, semoga anak-anak tahfidh mampu menghafal al-qur’an dan bisa mengajar dengan baik. (abu azhar)