Search Results For “santri”

Workshop Riset Ilmiah, Fahmul Kutub wa Bahtsul Masail Santri Nihaie MTA

pengasuh mta membuka workshopMTA – Pagi itu (11/9), majlis MTA yang bisanya kosong ditinggalkan para santri menuju  kelas, tampak terisi oleh santri niha’ie dan para asatidz yang sedang menghadiri acara pembukaan Workshop Riset Ilmiah, Fahmul Kutub wa Bahtsul Masail oleh KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I.

Setelah workshop dibuka oleh pengasuh MTA tersebut, acara dilanjutkan dengan workshop tentang Pengantar Penelitian untuk siswa SMA yang berlangsung di majlis. Sedangkan siswa MAK, pergi ke kelas untuk mengikuti workshop tentang Pengantar Fahmul Kutub wa Bahtsul Masail oleh KH. Mujammi’ Musyfi, Lc. Ust. Encung Haryadi, M.Fil.I, selaku tutor materi Pengantar Penelitian untuk siswa SMA, menjelaskan tentang riset dan penelitian  lebih mendalam. Beliau juga bercerita tentang pengalaman penelitiannya sewaktu di Kanada.

Pukul setengah delapan sampai pukul sembilan, santri mendapat jatah istirahat. Lalu dilanjutkan dengan tata cara penulisan proposal analisa data dan karya ilmiah untuk SMA dan pemaparan teknik penulisan Fahmul Kutub wa Bahtsul Masail untuk MAK. Secara berurutan, tutor diisi oleh Ust. Hamzah Arsa dan Ust. Zainal Abidin.

Barulah di sesi ketiga, siswa SMA pergi ke kelas untuk mendapatkan meteri dari masing-masing tutor, siswa IPA dengan materi Metodologi Penelitian Ilmu Eksakta oleh Ust. Khusnul Arifin, S.Si; Siswa IPS dengan materi Metodologi Penelitian Ilmu sosial oleh Ust. Drs. Moh Rusli, M.Pd; dan MAK dengan materi Praktek Fahmul kutub Bahtsul Masail oleh KH. Bustomi Thibyan, S.Pd.I. Dan pada pukul sebelas baik siswa SMA maupun MAK  melakukan  konsultasi bersama pembimbing masing-masing. Setelah itu barulah workshop resmi selesai.

Menurut penuturan A. Tsiqqif  Asyiqulloh, santri kelas akhir asal Sumenep, adanya kegietan Riset Ilmiah, Fahmul Kutub wa Bahtsul Masail sangat positif bagi santri kelas akhir. ”Karena ini merupakan perkenalan wawasan, demi mengasah keterampilan dalam berpikir kritis kami dalam suatu permasalahan pengetahuan dan juga sosial” tambahnya. Dan itu sejalan dengan misi MTA itu sendiri, berjiwa IMTAQ dan berwawasan IPTEK. (bezghy)

Wakil Pimpinan Lepas Alumni Ke- Al-Azhar Mesir

lepas alumni pa ke mesirYAP – “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..” suara takbir menggema di masjid jami’ Al-Amien Prenduan pada Jum’at (15/8) malam. Dipimpin langsung oleh KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA selaku wakil pimpinan dan pengasuh PP. Al-Amien Prenduan seluruh santri serentak menggemakan takbir. Takbir itu  sebagai tanda pelepasan beberapa alumni dari PP. Al-Amien Prenduan yang akan melanjutkan pendidikannya ke universitas Al-Azhar Kairo lewat jalur beasiswa.

Ada 7 orang alumni yang akan melanjutkan pendidikannya ke universitas Al-Azhar Kairo. Terdiri dari 5 santri dan 1 santriwati alumni Ma’had Tahfidz Al-Qur’an (MTA)  yaitu: Muhammad dari Banten, Miftahul Umam dari Kalimantan tengah, Mufti al-faruqi dari Surabaya, Ahmad Faisol Afif Sahal dari Bangkalan, Ahlul Ulum dari Lombok, Rahmatul Husniah dari Lumajang dan 1 santri alumni Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) yaitu: Khoirul Anam dari Sumenep. Meski ada 2 alumni yang berhalangan hadir, acara tetap berjalan dengan khidmat.

Setelah memperkenalkan dirinya masing-masing, salah seorang perwakilan diminta oleh Wakil Pimpinan PP. Al-Amien Prenduan untuk memberikan sedikit motivasi kepada seluruh santri yang berjumlah ribuan dengan pengantar bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan. Dalam sambutannya ada 3 point yang disampaikan. Pertama, ucapan syukur kepada Allah Swt. Kedua, ucapan terimakasih kepada seluruh ustadz dan Kiai yang telah membimbing selama ini. Ketiga, pesan kepada santri untuk tetap mempersiapkan diri dalam 2 hal utama yaitu bahasa Arab dan al-Qur’an “selama tes tahap 1 di malang dan tahap ke-2 di Jakarta, materi ujiannya ya bahasa arab dan al-Qur’an, makanya untuk santri yang masih di pondok harus mempersiapkan 2 hal itu dengan baik ”  jelas Muhammad lepas alumni pi ke mesiryang mewakili sambutan.

Sebelum ditutup dengan do’a, KH. Ahmad Fauzi Tidjani menjelaskan bahwa semua santri wajib bersungguh-sungguh dalam belajar “man jadda wa jada”. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah. “Man shobara dhofira” Barang siapa yang sabar pasti akan menuai hasil. Supaya kalian bisa kemana saja, bukan hanya ke universitas Al-Azhar Kairo, tapi ke negara manapun kalian mau” ujar Bapak Kiai yang juga merupakan alumni dari universitas Al-Azhar tersebut. Beliau juga berpesan agar para alumni yang akan melanjutkan pendidikannya ke universitas Al-Azhar Kairo mampu menjadi pemimpin masa depan di daerahnya masing-masing.

Sebenarnya, ada 15 alumni PP. Al-Amien Prenduan yang lolos untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas al-Azhar Kairo. Namun, karena beberapa alasan hanya 7 orang yang mengambil kesempatan itu. Selamat atas diterimanya antum sekalian, alfu mabruk! (Buya)

Santri MTA Sabet Juara Lomba MHQ

mta juara mhq 2014 aMTA – Tiga utusan santri Ma’had Tahfidh Al-Amien Prenduan akhirnya pulang dengan kepala tegak. Pasalnya, mereka baru saja membawa pulang 3 trofi kejuaran sekaligus dalam Musabaqoh Hifdul Qur’an (MHQ) juz 30 se-Madura di  PP. Al-Fudhola Desa Baturambat Kab. Pamekasan. Lomba yang diadakan  dalam rangka Haflatul Imtihan ke-21 itu berlangsung dari tanggal 27-29 Agustus yang lalu. Sebanyak 30 peserta dari berbagai lembaga yang tersebar di Madura mengikuti lomba tersebut. Butuh waktu 2 malam untuk menentukan  10 peserta yang berhak lolos ke putaran final. Dan akhirnya, ketiga santri utusan MTA yang keluar sebagai juara lomba.

Ketiga santri MTA tersebut ialah: Izzul Islam, santri kelas 2 B SMP sebagai juara 1. Santri kelahiran sampang 3 Januari 2001 tersebut memang sering mengikuti perlombaan dalam dunia tarik suara dan hafalan, bahkan hampir selalu tampil sebagai juara. Ditanya resepnya, santri yang sudah memiliki hafalan 7 juz ini mengaku bahwa persiapan yang matang, mengetahui tekniknya serta konsentrasi menjadi modal utama disamping do’a para guru dan orang tua. Baginya orang tua adalah yang paling berjasa mengantarkannya pada kesuksesan ini. “paling berjasa adalah orang tua, karena beliau sering mengetes hafalan saya” ungkapnya.

Kemudian, Amar Shiddieqy. Santri asal Batam ini juga mengaku bahwa dulu  sering ikut lomba namun selalu mentok di tingkat kota. Namun, dia tidak pernah putuas asa. Kebiasan inilah yang membuat santri kelahiran 8 november 1999 ini tidak begitu grogi ketika di panggung.  Dan akhirnya dia pun keluar sebagai juara 2. Santri yang telah menghafal al-Qur’an sebanyak 10 juz ini merasa senang bisa memberikan penghargaan untuk pondok. Santri yang termotivasi untuk selalu membahagiakan orang tua ini pun siap jika dikemudian hari kembali di tunjuk pondok untuk mengikuti lomba. “jadilah santri berprestasi, agar orang tua bangga dan tidak kecewa membiayai kita” begitu pesan santri yang masih duduk di kelas 3 A SMP ini kepada seluruh santri lainnya.

Lain lagi cerita Deva. Santri asal jember itu merasa sangat senang meski hanya keluar sebagai juara harapan 2. Pasalnya, ini kali pertama dia mengikuti perlombaan diluar pondok. Meski baru pertama dia mengaku tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menjawab pertanyaan juri. Santri yang berulang tahun setiap tanggal 12 Juni ini telah menghafal al-Qur’an sebanyak 7 juz dan saat ini sedang duduk di kelas 2A SMP.

Tak lupa, ketiga santri ini juga berterima kasih kepada para pendamping utusan, Ust. Ali Wafa dan K. Junaidi Rosyidi, S.Pd.I, yang telah mendampingi mereka hingga akhirnya berhasil meraih juara. Kepada masing-masing juara diberikan uang tunai + piala + piagam. Selamat… alfu mabrukk!!! semoga dengan kemenangan tersebut semakin memotivasi untuk lebih baik lagi kedepannya. Amin… (Hamka)

Resonansi Doa Sang Kiyai

kh-muhammad-idris-jauhariAL-AMIEN, nama itu menggema dalam pita kognisi masyarakat yang mendengar namanya, ia adalah pesantren modern yang melahirkan generasi berkelas yang diperhitungkan di masyarakat, dibuktikan oleh aktualisasi para alumninya yang tersebar seantero nusantara. Kala itu, Al-Amien dikenal dengan beberapa keunikan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Setidaknya ada empat keunikan yang sangat menonjol, yaitu: pertama, Al-Amien tampil sebagai pesantren modern, kedua, Al-Amien membekali santri dengan kompetensi bahasa Arab dan Inggris, ketiga, Otonomi kurikulum TMI Al-Amien dan independensinya dari semua golongan, dan keempat, Al-Amien mendelegasikan santri berprestasi untuk studi lanjut ke luar negeri.

Empat keunikan itu yang membuat pesantren Al-Amien memiliki derajat pembeda dengan pesantren lainnya. Sebagai pesantren yang dilabelkan pesantren modern, ia membuka akses terhadap perkembangan yang positif dari luar dengan tetap merawat warisan luhur dalam tradisi salaf. Keharuman namanya terhembus pula dari para alumninya yang terserap dalam segala macam profesi dan pekerjaan, tentu mereka memiliki nilai lebih yaitu kecakapan berbahasa Arab dan Inggris serta kompetensi lain yang melengkapi keahlian mereka.

Santri Al-Amien memiliki kecerdasan majmuk atau multi skill (multi terampil; istilah KH. Idris Djauhari). Berbagai macam ragam program intra dan ekstra yang digelar dalam kurikulum hidup dalam pesantren, jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, membayangkan pesantren hanya belajar ilmu agama semata. Hingar-bingar di Al-Amien, nuansa pendidikan penuh dengan program dan kegiatan. Pendidikan kecakapan diprogramkan pada seluruh santri untuk memilih pendidikan keterampilan wajib dan keterampilan pilihan, mulai dari kecakapan motorik kasar hingga motorik halus. Wajar, kalau kemudian para alumninya telah memiliki kecakapan multi. Berbekal kecakapan itu mereka para alumni mampu beraktualisasi diri dan berkembang di masyarakat.

Pesona dan keharuman nama Al-Amien yang demikian itu, membuat orang tua saya terpanggil untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren Al-Amien. Keputusan yang berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, merupakan keputusan yang tidak populer karena banyak stigma negatif yang menghalangi keputusan itu. Saat itu di tahun 1980, animo dominan masyarakat lebih cenderung ke pesantren salaf, namun orang tua saya mampu menembus batas kecenderungan mayoritas. Orang tua saya berkeyakinan kuat bahwa generasi yang lahir dari Al-Amien akan menjadi generasi yang “qowiyun amiin”.

Nama Al-Amien, memiliki kekuatan resonansi yang terpancar dari kekuatan doa para kiyai dan aura keikhlasan yang menjiwai seluruh praktik kehidupan pesantren, tidak heran bila para santrinya datang dari seluruh pelosok negeri, pencitraanya menteladani penyandang titel “Al-Amien” baginda rosul Muhammad SAW. Resonansi doa dan keikhlasan para pengasuh mampu menghantarkan kesuksesan para santri. Barokah doa dan keikhlasan dalam pengasuhan itulah yang menjadikan pesantren Al-Amien layak bagai “ibu kandung”, tempat naung kita.

Menjadi santri di pondok pesantren Al-Amien selama enam tahun merupakan deret waktu yang cukup lama. Hal demikian, saya tidak memandang sebagai penjara suci tetapi sebagai proses “persemedian” untuk mendapatkan beberapa “kesaktian mandraguna”. Dalam proses persemedian banyak aral lintang yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan, tidak semua santri yang mampu melalui rentetan cobaan dan ujian dengan baik. Bersyukur, saya termasuk yang lolos dan lulus melaluinya dan menjadi santri yang sujana.

Cara nyatri yang saya praktikkan kala itu, berbeda dengan para santri pada umumnya, saya jadikan “sajadah” sebagai sarana yang multiguna. Banyak fungsi sajadah yang  digelar untuk melakukan berbagai kegiatan; (1) di atas hamparan sajadah saya melakukan ibadah shalat dan dzikir, (2) “peragihan belajar” sering saya lakukan di atas sajadah sambil menunggu waktu adzan berkumandang, dan (3) hingga tidurpun saya gelar dengan alas sajadah.

Biasanya saya menggelar sajadah di pojok depan bagian utara dari masjid (mushalla Baiturrahman saat itu), siapapun teman sudah faham bahwa sajadah dan posisi tempat itu sudah istiqomah milik saya. Di luar kesadaran saya bahwa cara-cara yang demikian ternyata telah mampu membangun kecerdasan spiritual dalam diri saya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan spiritual berkontribusi 65% terhadap kesuksesan. Istimewanya lagi, bahwa dengan mediasi sajadah, saya menemukan “halawatal iman” (manisnya iman) sebagai intisari dari proses nyantri.

Sebagai generasi santri tahun 80-an, saya diasuh dengan dua model dan iklim pendidikan, separuh dari hidup saya berada di iklim pendidikan kedisiplinan (behafioristik), pemandangannya adalah perlakuan dengan tindak kekerasan dan bentak-bentak, dan separuhnya lagi berada di iklim pendidikan dengan pendekatan kasih sayang (konstruktifistik), pemandangannya kala itu adalah  penyadaran dan pengayoman. Tulisan ini tidak untuk mendukung atau memperdebatkan salah satu dari keduanya, tetapi cenderung memilih konvergensi keduanya.

Apapun pilihannya, itu hanya suatu pendekatan dalam praktik pendidikan. Ada hal lain yang lebih penting dari kedua pendekatan tersebut yaitu pendekatan spiritual. Saya senantiasa meyakini bahwa setiap kata dan perbuatan kiyai adalah doa, dan doa itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyat dalam setting nurani dan akal budi santri. Beberapa nasihat pengasuh (almarhum; KH. Tidjani Djauhari dan KH. Idris Djauhari) yang terus segar dalam ingatan saya, adalah;

“Jangan jadi karyawan, tapi jadilah orang yang punya karyawan…”
“Jarrib wa laahidh takun aarifan…”
“Mengabdi, berjasa dan berkembang…”
“Al-Amien sudah memberi kunci hidup….”
“Al-muhafadhotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadiidil ashlah…”
“Mencetak santri sebagai mundzirul qoum…”
“Apapun profesi kamu setelah keluar dari pesantren jangan tinggalkan profesi guru…”
“Kalau kamu hidup di luar pesantren, kamu akan menemukan kehidupan sosial masyarakat yang berkotak-kotak, masuklah dari salah satu kotak komunitas sosial yang mampu memberikan perubahan dan perkembangan…”

Nasihat beliau bagai organisme yang terus hidup mencari tempat yang strategis dalam relung kalbu.

Pola pengasuhan Al-Amien begitu kuat membangun kepribadian yang “berkarakter Al-Amien”. Karakter itu dibawa hingga keluar menjadi alumni; mengabdi, berjasa dan berkembang. Itulah visi dan misi yang terbentuk dalam diri santri dan alumni. Mengemban visi dan misi itu tentu hingga kini belum selesai. Sepulang saya dari medan juang masa pengabdian di Kalimantan Timur, saya bertekad untuk kuliah. Saya bingung untuk memilih kampus, saya minta doa restu dari kiyai, sang kiyai menyarankan saya untuk kuliah di Pamekasan, karena beliau menginginkan ada alumni Al-Amien yang menonjol di Pamekasan. Beliau memberi saya doa dan restu dengan kalimat; bismillah.., kalimat itu masuk terpatri dalam hati saya yang paling dalam. Akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan (STAI Yunisma saat itu).

Resonansi doa sang kiyai menghantarkan saya menjadi pimpinan organisasi, hampir setiap organisasi yang saya masuki, saya terpilih menjadi pemimpin, diantaranya adalah; sebagai Presiden Mahasiswa di Senat Mahasiswa UIM, menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat UIM, Diangkat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Pamekasan dan terpilih sebagai Ketua Umum IPNU Cabang Pamekasan. Kemampuan memimpin organisasi sebenarnya telah terbentuk dari Pesantren Al-Amien melalui penggemblengan demi penggemblengan di organisasi santri yang ada di pesantren.

Kiprah saya di berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa membuat saya mampu beraktualisasi diri. Menjadi seorang aktifis organisasi mahasiswa menjadi modal sosial untuk tampil di ranah publik (mundzirul qoum). Banyak manfaat yang dirasakan dalam beroganisasi ekstra kampus, diantaranya; memberikan kemampuan analisis sosial, kematangan nalar dan peta berfikir, knowledge share, penyiapan mental dalam melakukan resolusi konflik dan tentu manfaat utamanya yaitu kemampuan mengorganisasi massa. Sungguh sangat penting menempa kemandirian, sikap bertanggungjawab, keteladanan (nufudz), kedisiplinan dan keleluasan berfikir, kendati itu semua sudah dibangun sejak dini di Al-amien.

Kesibukan saya dalam kegiatan ekstra kampus tidak mengabaikan untuk berprestasi di intra kampus. Walhasil, saya berhasil menyandang gelar sarjana dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Prestasi sebagai wisudawan terbaik menghantarkan saya untuk diangkat sebagai pegawai tetap dan dosen tetap di UIM. Untuk tidak menyiakan waktu, saya langsung manfaatkan kesempatan untuk studi lanjut pada jenjang S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi pendidikan ekonomi, dengan beasiswa dari DIRJEND DIKTI.Wawasan pada  program studi ekonomi itulah yang membelokkan arah hidup saya, bahwa eksistensi hidup di masa yang akan datang berada dalam genggaman tangan para ekonom. Dan ilmu ekonomi yang saya peroleh di kampus disadari tidak boleh berhenti dari teori ke teori, tetapi dari teori ke implementasi.

Maka saya rintis usaha sebagai pelaku ekonomi di ritel alat-alat kesehatan, apotek dan resto. Kesibukan ekonomi yang menjatuhkan pilihan untuk pamit mininggalkan dunia kampus. Hidup antar dunia; pesantren, kampus dan dunia usaha, apa sambungannya?. Saya sering bercerita pada teman-teman alumni Al-Amien, “kalau saya tidak digembleng di Kopontren, mungkin saya tidak pernah punya toko di tiga kabupaten, kalau saya tidak belajar melarat di pengurus KOPDA (PURUM), mungkin saya tidak pernah punya Rumah Makan (Resto) sebagaimana saat ini”. Pada puncak rintisan usaha menata ekonomi itulah, saya tersadar akan pesan sang kiyai bahwa “apapun profesi kamu, jangan tinggalkan profesi guru…”. Bersamaan dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk mewaqofkan diri sebagai dosen di IDIA Al-Amien.

Akhir cerita, saya meyakini bahwa pada setiap kenikmatan yang terjadi pada saya, ada keterlibatan sebuah kekuatan dahsyat, yaitu; dorongan supranatural yang bersumber dari resonansi doa sang kiyai. Amiin…ya mujiibassaailiin. Alhamdulillah, terimakasih Al-Amien.

Dr. H. Mashuri Toha, M.Pd

(Alumni TMI Al-Amien Tahun 1992, USIECA)

Sekarang Aktif Sebagai Dosen IDIA Prenduan

Semangat Juang dan Keikhlasan Guru Al-Amien

pimpinan melantikSetiap fase pendidikan yang saya lalui memiliki kesan tersendiri. Namun, saya mengakui bahwa nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi fase pendidikan yang paling sangat berkesan. Tujuh tahun lamanya saya nyantri di Al-Amien, enam tahun sebagai santri dan satu tahun sebagai ustadz (pengabdian).

Bukan berapa banyak ilmu ukurannya, namun nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam mengarungi hidup adalah alasannya. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Amien menjadi tempat belajar paling berkesan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya dapati. Mental kuat dengan semangat juang yang besar adalah anugerah terbesar yang saya peroleh dari pondok tercinta ini.

Mental kuat dan semangat juang adalah pelajaran yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi saya jumpai juga di masjid, kamar, lapangan, BPSK dan tempat-tempat lainnya. 24 jam hidup dalam pondok selalu mendapati setiap sudut dengan kegiatan-kegaitan positif yang mengarah pada pembentukan mental dan semangat para santri.

Benar, 24 jam proses pendidikan yang saya terima selama nyantri di Al-Amien. Bangun tidur pukul 3 pagi hingga ayyuhalikhwan memanggil pukul 9 malam, para asatidz dan muallim bergantian mendidik santri.
Tidur malam pun juga bagian dari pendidikan. Di saat jam tidur malam, di sudut-sudut pondok terdapat pendidikan tentang arti pengorbanan. Dengan mengorbankan jam tidur satu bulan satu kali, para santri bergantian menjadi bulis menjaga keamanan pondok dan seluruh penghuni pondok.

Rentetan pendidikan yang saya peroleh selama nyantri, mengajarkan saya untuk memaknai ikhlas dengan sempurna. Kita selalu mendengar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan, ikhlas tidak digaji dan konotasi lainnya yang mengartikan ikhlas sebagai bentuk jasa tanpa upah.

Tidak salah, namun hanya fokus kepada imbalan, upah dan bayaran akan menggiring pikiran kita bahwa ikhlas tidak ada kaitannya dengan kualitas kerja dan jasa itu sendiri. Di sinilah Al-Amien memaknai ikhlas dengan proporsional.
Do the best and give the best adalah makna ikhlas yang diajarkan kepada santri. Lakukan terbaik dan berikan terbaik adalah cerminan sang pelaku kegiatan melakukannya dengan ikhlas. Praktik dari nilai yang sangat mulia ini dengan mudah dijumpai di kelas-kelas, lapangan, kamar, bahkan kamar mandi.

Saya selalu mendapati para asatidz dengan penuh semangat melangkahkan kaki dari kamar menuju masjid, kelas, kamar dan lapangan untuk memberikan berbagai pendidikan dan latihan. Dari berbagai kelas terdengar suara-suara santri belajar, ada yang mengaji, menghafal, melantukan mahfudzat dengan berbagai lagu.

Di lapangan, berbagai bentuk olahraga dan beladiri. Di BPSK dan di Gugus Depan, Palang Merah Remaja dan pecinta Pramuka berlatih. Di masjid, berbagai kegiatan seperti shalat, mengaji, tasyji` (member motivasi) dan kelompok-kelopok kajian, bahasa dan sastra hanyut dalam diskusi.

Semua tempat di atas, dipimpin oleh ustadz atau muallim yang begitu semangat tak kenal lelah. Dari raut muka mereka tampak keikhlasan, bukan karena saya mengetahui gaji mereka yang tidak seberapa, tapi karena saya meyakini mereka ikhlas dari totalitas mereka mendidik, mengajar dan melatih para santri.

Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana Ust. Suhaimi Syatroh dengan penuh semangat mengajarkan “al-Adyan” dengan suara yang sangat keras dan jelas men-syarah buku yang telah dia hafal dari cover to cover.

Para wali kelas yang begitu tekun mengajar dan tak bosan menjadi tempat santri mencurahkan permasalahan yang dihadapi. Memperhatikan dan menilai seluruh kegiatan santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Untuk kemudian menjadi bahan bagaimana mendidik dan mengarahkan santri kepada kegiatan-kegiatan yang lebih baik.

Para asatidz dan muallim yang mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, memimpin kajian-kajian keilmuan dan kesusasteraan di sekitar masjid di sore hari hingga adzan maghrib berkumandang. Menggambarkan betapa saya beruntung dididik oleh mereka yang tak hanya tak digaji, namun juga berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik.

Semangat juang para asatidz dan muallim di atas, juga mengajarkan para santri akan arti tawakkal sebenar-benarnya. Manusia hanya memiliki kewajiban berusaha, usaha dengan semangat juang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Namun Allah Swt jugalah yang menentukan segalanya.

Dari itu, semangat juang yang dicontohkan oleh guru-guru di Al-Amien mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah dilihat dari hasil akhir semata. Kesuksesan adalah melalui berbagai proses kehidupan dengan semangat juang tanpa putus asa.
Demikianlah guru-guru di Al-Amien, saya selalu mendapati mereka begitu semangat dalam mengarahkan santri untuk menjadi generasi yang unggul. Semangat juang mereka mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Muwafik Maulana
Alumni TMI Al-Amien Prenduan (Angkatan 31). S1 Al-Azhar University, Egypt,
dan S2 INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) University, Malaysia.

Tidak Sekedar “AL-AMIEN PRENDUAN”

sisi lain al-amienSungguh suatu nikmat pengalaman dan perjalanan hidup yang amat berharga sekaligus kebanggaan bagi penulis sebagai orang yang ditakdirkan pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien. Kiranya perasaan serupa juga dialami oleh segenap santri yang pernah mondok di almamater tercinta kita ini. Rasa kecintaan dan kebanggaan sebagai bagian dari Al-Amien akan terpatri kepada setiap alumninya, dan akan terus terpancar dalam sepak terjang peran dan aktivitasnya di masyarakat luas.

Melekatnya identitas sebagai ‘orang pondok’ begitu kuat, bahkan sampai dalam hal cara penyebutan nama mereka dalam pergaulan sehari-hari. Tidak jarang kita dengar ada penyebutan, misalnya si-Fulan Al-Amien, si-B Al-Amien, si-Anu Al-Amien, dan seterusnya, untuk mengindikasikan bahwa seseorang tersebut adalah santri atau alumni dari pondok ini. Tentu saja, kecenderungan penyematan label demikian bukan sekedar sebagai laqob saja, melainkan lebih merupakan bentuk entitas dan indentitas yang membawa konsekuensi bagi penyandangnya bahwa mereka menjadi agen-agen individu dan sosial yang bertugas serta bertanggung jawab menyebarkan nilai-nilai ke-Al-Amien-an itu di tengah-tengah masyarakat.

Perihal penggunaan nama Al-Amien bagi lembaga pondok kita tentu ada latar belakang naskah pemikiran yang biasanya sudah disosialisasikan dan ditatarkan sewaktu acara Kuliah Kepondokan tahunan bagi setiap santri baru. Berdasarkan ingatan penulis, wawasan tentang alasan kemengapaan (reasoning) dari penggunaan nama Al-Amien antara lain sebagai bentuk penghormatan dan kenangan kepada pendiri pondok yaitu nama kecil beliau: Amin, sebagai bentuk pemberian kepercayaan dan amanah dari masyarakat kepada lembaga, sekaligus sebagai bentuk do’a dan harapan bagi perkembangan pondok di masa mendatang.

Setelah sekitar tiga dasawarsa perkembangan, pimpinan pondok memandang penting untuk menambah-sandingkan ‘Prenduan’ di belakang Al-Amien, dan jadilah “Al-Amien Prenduan” sebagai nama kelembagaan resmi pondok pesantren ini. Pemberian nama ini lebih memberikan penguatan aspek kesejarahan di mana cikal-bakal pondok ada di desa Prenduan. Lengkapnya, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep Madura Jawa Timur Indonesia.

Belajar dari Nama Klub Sepakbola

Bagi para penggemar kompetisi sepak bola di tanah air tentu tidak akan asing dengan klub-klub besar kontestan LSI (Liga Super Indonesia), untuk sekedar disebutkan di antaranya Persija Jakarta, Persib Bandung, Persipura Jayapura, Arema Malang, Madura United. Nama-nama klub tersebut begitu familiar di telinga dan mempermudah penyimpanannya dalam memori seseorang karena dalam penamaan tersebut ada penisbahan langsung secara proporsional kepada daerah/area tempat klub tersebut berada.

Pandangan Jean Peaget, seorang pakar psikologi kognitif dari Prancis, tentang teori asosiasi-akomodasi dalam proses berpikir dan memori seseorang, dalam tataran konteks bagaimana sebuah informasi nama diterima secara khas dan bermakna tampaknya juga relevan sebagai dasar pemikiran. Secara kognitif, orang akan mudah menghubungkan informasi luar dengan struktur kognitif yang sudah ada jika sebelumnya terdapat informasi nama lain yang bermakna. Ingatan seseorang tentang nama-nama klub sepakbola yang dilekatkan langsung kepada nama daerah sebagai dimensi yang bernuansa primordial di satu sisi akan mudah dan tahan lama diingat, dan pada saat yang sama ikut pula dimasukkan semangat dan kebanggaan kapasitas dalam jangkauan konstalasi nasional-global. Ketika disebutkan Persija Jakarta atau  Madura United sebagai contoh, selain tentu orang akan berpikir tentang sebuah klub sepak bola yang ada di Jakarta dan Madura, juga dengan sendirinya terbersit pandangan tentang sebuah klub yang besar dalam kancah nasional, menyejarah, khas, dan disegani. Belum lagi jika klub (=group) itu dalam kiprahnya berikutnya benar-benar cemerlang tentu penamaan itu akan semakin berkharisma. Mengapa demikian, salah satu faktornya adalah penggunaan identitas tersebut yang selain bermuatan nilai kebanggaan daerah tetapi juga mengandung semangat progresif serta potensi kapasitas keorganisasian yang luas, marketabel, dan lebih bisa diandalkan.

Sebenarnya tidak ada yang salah pada nama “Al-Amien Prenduan” pondok kita tercinta. Hanya saja sebagai sebuah wacana, menurut penulis bisa saja juga dimunculkan alternatif nama yang lebih berpeluang dapat meningkatkan dan memperkuat kapasitas dan progesivitas kelembagaan tanpa kehilangan jatidiri. Dalam hal ini terkadang penulis berpikir seandainya pondok kita bernama misalnya “Al-Amien Madura”. Dari identitas ini kapasitas kelembagaan tampak lebih terlihat secara meyakinkan. Sebagai sebuah pondok pesantren yang kredibel di pulau Madura, ya Al-Amien Madura; sebuah pondok yang sangat megah berdiri sisi jalan poros lintas Madura, ya Al-Amien Madura; sebuah pondok unggul dan menjadi rujukan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan pesantren, ya Al-Amien Madura, Al-Amien ya Madura, Madura ya Al-Amien. Kiprah pondok kita secara nasional yang sejak berdiri hingga saat ini terus berkembang pesat dan terus diprospek ke depan dengan lompatan-lompatan inovasi bil jadiidil ashlah, kiranya tidak berlebihan dan menjadi garansi apabila diwujudkan identitas sebagai Al-Amien Madura, Prenduan Sumenep Jawa Timur Indonesia.

Semoga lembaga pondok kita tercinta terus berkibar, kita berdo’a dan berharap akan terus berkiprah abadi di tengah amanat umat ila yamil qiyamah, tidak se-temporal kiprah klub sepak bola yang seketika pamornya bisa turun dratis bahkan tidak terdengar lagi kharismanya manakala sering kalah dalam kompetisi dan bahkan terdegradasi. Penyematan nama identitas yang lebih berkapasitas dan progresif bagi pondok kita kiranya juga tidak berlebihan, atau setidaknya sebagai wacana sementara yang didasari semangat kecintaan dan kebanggaan, serta rasa ikut memiliki lembaga pondok kita agar terus berkembang dan berjaya. Karena itu, diskursus lanjutan yang lebih dalam kiranya dapat memperkuat khazanah berbagai perspektif terhadap nama dan identitas lembaga idaman kita bersama.

AGUS WEDI

Alumni TMI Al Amien Tahun 1994 (GENOSTIECA)

Saat ini, Tim Penjaminan Mutu dan Dosen Universitas Negeri Malang

aguswedi123@gmail.com

Cetak Kader Pemimpin Umat Dengan Diklat KKS

diklat kks 2014TMI – (22/08/2014). Diklat Kepemimpinan Kelompok Santri (KKS) kembali dilaksanakan. Acara yang rutin diadakan setiap awal semester ini melingkupi seluruh kelompok santri baik yang bentuknya wajib maupun minat. Selama satu hari penuh, mereka dibekali dengan pendidikan-pendidikan kepemimpinan dan manajemen dari para instruktur.

Diklat KKS kali ini diikuti oleh 574 santri dan 504 santriwati yang terdiri dari seluruh santri kelas V, VI dan ketua kelompok-kelompok beserta wakilnya. Pembukaan KKS dilaksanakan di tempat berbeda yang sekaligus menjadi lokasi pembekalan. Untuk putra ditempatkan di Audiorium TMI, sedangkan di putri ditempatkan di Geserna.

Dalam pembukaan ini pengasuh TMI, KH. M. Zainullah Rois, Lc. membuka secara resmi di putra dan wakil pengasuh Ma’had TMI Al-amien prenduan KH. Ghozi Mubarok, MA. di putri.

Selain bertujuan untuk mencetak pemimpin ummat yang mutafaqquh fid-dien, acara ini juga bertujuan memberikan wawasan yang luas bagi santri-santrinya. Terlebih dari itu, TMI Al-Amien prenduan menjadikan acara ini sebagai sarana untuk menambah wawasan keilmuan, pendidikan dasar kepemimpinan serta melatih mereka menjadi pemimpin yang andal di bidangnya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Ghozi Mubarok, MA  dalam fatwa dan nasehatnya, “Setiap orang memang memiliki potensi untuk memimpin. Namun pemimpin tidaklah dilahirkan melainkan dicetak atau dipersiapkan dan dibentuk. Maka tujuan dari diadakannya acara ini ialah membentuk kalian sebagai pemimpin-pemimpin yang kompeten di bidangnya”. (Sulhan)

Pembukaan Tahun Ajaran Baru TMI

Pembukaan TA Baru 1435 HTMI - Menjadi sebuah sunnah bagi lembaga TMI untuk memulai segala bentuk program ma’had dengan pembukaan. Dan pada hari ini (09/08)  secara resmi KH. M. Zainullah Rois, Lc selaku Pengasuh Ma’had TMI membuka tahun ajaran baru 1435-1436 H./2014-2015 M. untuk putra bertempat di Puspagatra dan Direktur TMI, K. Drs. Suyono Khatthab untuk putri di depan Geserna TMI Putri.

Acara  ini diikuti oleh seluruh mudir-mudir, asatidz dan asatidzah serta seluruh santri/wati. Dalam pembukaan ini, pengasuh TMI menyampaikan ucapan selamat “alfu mabruk” kepada para santri yang telah lulus dan naik ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, dalam kesempatan tersebut beliau juga menyampaikan bahwa status ijazah TMI (mu’adalah) sudah diakui langsung oleh Mentri Agama. “Jangan ragu dengan ijazah TMI!” tegas beliau.

Beliau juga menyampaikan secara tegas kepada para santri untuk lebih giat dalam belajar serta menghimbau seluruh santri, pengurus dan asatidz/ah untuk  senantiasa menegakkan disiplin yang ada di TMI.

Setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan acara perkenalan bersama wali kelas baru, penentuan fungsionaris kelas, dan lain-lain.  Setelah ini, santri akan mulai aktif mengikuti KBM di tahun ajaran baru. (Sulhan)

Selamat Datang Siswa-Siswi SMA 3 Pamekasan Di AL-AMIEN

pondok ramadan sma 3 pmkYAP – SMA 3 Pamekasan tiap tahun mengirimkan siswa-siswinya ke Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan untuk ber-Ramadhan In Campus bersama para santri-sanriwati Al-Amien yang mukim di Pondok. Tahun ini diikuti siswa-siswi kelas X-XII dengan jumlah peserta, putra: 65 orang dan putri berjumlah 132 orang.

Acara ini belangsung selama empat hari, 17-20 Juli dengan agenda kegiatan: sholat taraweh, tadarrus Al-Qur’an dan menimba ilmu kepada para masyayikh dengan berbagai materi: dialog interaktif keagamaan (aqidah, fiqh, hadits, tafsir), Praktek Sholat (perbaikan sholat), Praktek Adab Sopan Santun, Kajian Aqidah tentang Taqwa dan Tawakkal, Mengenal Pondok Pesantren Al-Amien dan acara puncak diisi dengan renungan malam.

Acara Ramadhan in kampus ini dibuka (17/7) oleh Anggota Majlis Kiyai Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Moh. Khairi Husni yang diadakan terpadu di Majlis Ma’had Tahfidh Al-Qur’an. Dalam sambutannya, KH. Moh. Khairi berpesan: “ … program ini sangat besar manfaatnya antara lain untuk menjalin silaturrahim antara Al-Amien dengan SMA 3 Pamekasan, antara kami dengan kalian, kerjasama ini berlangsung tiap tahun alhamdulillah, kalian bisa menikmati mondok (tholabul ilmi) di Al-Amien ini, menimba ilmu walau hanya dalam waktu singkat. Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, ikuti acara dengan penuh ikhlas” “Semoga kita semua mendapatkan ilmu nafi’ dan barokah, karena dengan mendapatkan ilmu nafi’ dan barakah kita akan memperoleh mardhotillah (ridha allah), karena apapun tanpa ridha Allah akan sia-sia.“

Selamat ber-Ramadhan in Campus buat siswa-siswi SMA 3 Pamekasan, semoga besar manfaatnya, amien. (abu azhar)

Seribu Motivasi Pipit Senja untuk santri Al-Amien di Bulan Ramadhan

pipit senja 1TMI – Sabtu (5/7) gemuruh ratusan santriwati Al-Amien (TMI, MTA dan IDIA) terdengar dari lantai bawah mushola Asma lathifah yang terletak di komplek pondok TMI putri Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Berbeda dari hari-hari lainnya, biasanya suasana khusyu’ sholat dhuha dan dentuman ayat suci Al-Quran yan terdengar namun pagi ini sorak sorai tepuk tangan menggema memenuhi bangunan ini

Ratusan mata kini tertuju kagum kepada tamu kehormatan yang namanya sudah tidak asing di telinga para penikmat novel, beliau berdiri kokoh menggetarkan hati para santriwati dengan ribuan kata yang sarat motivasi. Teh Pipit Senja, begitulah beliau biasa dipanggil. Suara tangguw perempuan asal Sumedang ini sangat membahana dan memotivasi para santriwati untuk menulis.

Acara yang mengusung tema “Gerakan Zakat Melalui Goresan Pena” ini bekerja sama dengan dompet dhuafa, sebuah organisasi penghimpun zakat nasioanal. Acara yang dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-quran yang dibacakan oleh salah seorang santriwati kelas V TMI Putri tersebut kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Mudir Aam TMI Al-Amien Prenduan, K. Drs. Suyono Khottob, beliau melontarkan sebuah pertanyaan pilihan kepada para hadirin dengan jawaban berteriak untuk menjadi seorang penulis.

Jawaban ini seolah-olah menjadi lem perekat dengan kata-kata yang disampaikan teh Pipit “berdakwah dengan pena lebih efektif dan menyenangkan, seperti yang saya jalani saat ini.” tutur teh Pipit dengan nada Sunda yang begitu kental.pipiet senja 2

Kemudian sesi dilanjutkan dengan sesi menulis bebas nan serentak oleh para santriwati. Dengan tempo waktu yang tidak banyak, para santriwati begitu antusias dan semangat ketika diperintahkan untuk menulis apa saja yang dipikirkan mereka saat itu sesuai dengan tema workshop.

Tidak perlu waktu lama, segepok kertas beberapa santriwati telah terkumpulkan dan dikoreksi langsung oleh teh Pipit. Dan akhirnya terpilihlah 5 karya terbaik dari, 3 santriwati TMI Putri dan 2 santriwati MTA yang berhak menerima hadiah berupa buku gratis plus tanda tangan langsung dari teh Pipit.

Acara diakhiri dengan foto bersama sebagai kenang-kenangan bagi beliau serta untuk dokumentasi acara pondok. “Semoga setelah acara ini, akan ada kunjungan-kunjungan dari penulis lain yang semakin memotivasi kami untuk menulis.” Tutur salah satu santriwati kelas V asal Sepulu, Bangkalan.

Merupakan harapan besar, dengan diadakan acara ini dapat memotivasi seluruh santriwati untuk tidak pernah berputus asa untuk menulis, menulis dan menulis. (dh)