Search Results For “santri”

Rihlah Santriwati Nihaie MTA

rihlah mta 2MTA-Rihlah Tanazzuhiyah merupakan salah satu kegiatan wajib bagi santri kelas akhir MTA Al-Amien, selain merupakan sunnah pondok, kegiatan ini sarat dengan nilai pendidikan. Momen ini juga sangat tepat untuk me-refresh santri setelah sebelumnya, dikonsentrasikan untuk bisa lulus UNAS dan mampu memenuhi target al-Qur’an sebagai tiket untuk bisa wisuda hifdhu kaamilul Qur’an.

Kurang lebih pada jam 00.15, rombongan santri kelas akhir MTA Putri Al-Amien, bertolak menuju tanah jawa dengan rangkaian perjalanan, Gontor I Putri, Mantingan, dilanjutkan ke PP. Wahid Hasyim Yogyakarta pada hari pertama (Senin, 19 Juni 2014), menginap di PP. Pandanaran, bertemu dengan beberapa alumni PP. Al-Amien Prenduan di Universitas Islam Indonesia (UII), belajar lebih dekat ke TAMAN PINTAR dan refreshing menikmati hiruk-pikuk keramaian di Malioboro dan kunjungan terakhir di Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Perjalanan yang cukup melelahkan karena menempuh kurang lebih 13-14 jam perjalanan. Namun, semua itu terbayar dengan keramahan Gontor Putri I Mantingan, dan eksotis Kota pendidikan Yogyakarta, Alhamdulillah.

rihlah mta 2014Dalam perjalanan ini, santri diajak untuk mentadabburi ayat-ayat tuhan, baik dhahiran wabaatinan. Sistem pendidikan dan disiplin yang diterapkan di Gontor Putri I Mantingan, sangat inspiratif demi kesuksesan santriwati. Spirit, Sistem dan target hafalan demi menjaga kualiatas yang diterapkan PP. Pandanaran memantapkan hati para santriwati, “… santri yang tidak mampu mengikuti program ketahfidhan, maka orang tua dipanggil untuk menghadap pengasuh, namun jika masih belum mengindahkan kita kembalikan tanggung jawab pendidikannya ke orang tua!, … disini, santri/santriwati baru bisa diwisuda al-Qur’an jika mampu melewati lima tahap…,”. Begitu kurang lebih penyampaian pengasuh PP. Pandanaran. Bermuwajahah bersama kurang lebih 25 alumni Putra-Putri PP. Al-Amien Prenduan di Masjid keraton Yogyakarta, diantara mereka bahkan sudah mulai merintis Pondok Tahfidh khusus anak yatim, dan diantara yang lain pula menjadi pengusaha dalam usia masih muda.

Rangkaian perjalanan rihlah, berakhir di Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan langsung menuju kampus tercinta PP. Al-Amien Prenduan pada hari rabu dan sampai di Pondok jam 00.20 hari kamis, 22 Mei 2014 setelah kurang lebih menempuh 13 jam perjalanan. (Qutb)

1001 Kata Hikmah Yg Menginspirasi

buku ust samson

Judul Buku : 1001 Kata Hikmah Yg Menginspirasi
Penulis: KH. Samson ‘La Tahzan’ Rahman & Imron Iskandar
Jumlah Halaman: 276 Halaman
Ukuran: 17,5 x 11,5 cm
Harga: Rp.35.000,-
Pemesanan Hub:
021-8490 0935 , 0853 3064 6404, 0816 952 281, 0878 8699 2756 (WA) PIN BB 28F16214
Atau Dapatkan di Toko Buku Terdekat:

Bursa Nurul Fikri-Depok, Gramedia, Gunung Agung, Pustaka Barokah,    UD Saudara (Buyung-Senen), Pustaka Amani dll.

Untaian-untaian hikmah bersastra tinggi yang dihimpun dalam buku 1001 Kata Hikmah Yang Mengispirasi ini berasal dari ungkapan-ungkapan bijak para ulama salaf (zaman dahulu) & khalaf (masa kini), lahir dari hasil pengolahan kata, rasa, jiwa & makna yang penuh inspirasi & motivasi.
Pesan-pesan & nasehat-nasehat tersebut tidak sembarang diucapkan, ia muncul & terucap dari refleksi, reaksi & aksi mereka dari beragam peristiwa, pengalaman & pengamatan hidup.
Mutiara-mutiara hikmah dalam buku ini berisi pesan, seruan, arahan, inspirasi, peringatan, motivasi, potret kehidupan serta rambu-rambu spritual yang dikemas dalam kalimat-kalimat yang bersastra tinggi & singkat namun memikat, dibingkai dengan ungkapan-ungkapan sederhana namun menggetarkan.
Buku ini penuh dengan taburan-taburan hikmah, nasehat & pesan-pesan dari ulama salaf maupun khalaf yang sudah tidak asing lagi bagi orang-orang bijak, pendidik, santri & dunia pesantren. Tapi buku ini sangat perlu untuk dibaca & dikaji oleh siapapun, termasuk Anda!

_____________

Buku 1001 Kata Hikmah yang Menginspirasi, berkat didikan “keras” para ustadz saya belajar menaklukkan kehidupan yang keras dan tidak boleh disikapi dengan lembek.

Al-Amien Prenduan yang merangsang jiwa untuk melahirkan karya, meledakkan energi dan menepatkan potensi. Di zaman-zaman itu telah melahirkan banyak nama ada Jamal D. Rahman di ranah sastra, ada Amir Faishal Fath di wilayah tafsir, ada Mun’im Sirry di hukum Islam , ada Sahli Mahmud pimpinan pondok pesantren di Indramayu, ada Idris Thaha dosen UIN Jakarta, ada Amin Tsamud, bos travel haji, dan tentu masih banyak lagi sosok-sosok bernama yang lahir dari rahim Al-Amien Prenduan yang dulu sangat prihatin namun penuh kejuangan bert, bersendikan kemandirian.

Karya Buku ke-37 alumni TMI Al- Amien Prenduan tahun 1987

Rihlah Santri Nihaie TMI

rihlah 2014TMI – Pendidikan bagi santri/wati di TMI tidak hanya diberikan di dalam pondok saja. Pendidikan di luar pondokpun diberikan, supaya mereka “tidak ketinggalan zaman”. Pendidikan ini, diberikan kepada mereka setelah menjadi santri Niha’ie, santri ter-senior yang ada di lingkungan TMI. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk refreshing pasca melaksanakan padatnya program-program nihaie yang diakhiri dengan pelaksanaan EBTA Tahriri (tulis) dan EBTA Syafahi (lisan) selama kurang lebih 3 mingguan.

Rihlah Tarbawiyah Tanazzuhiyah (RTT) merupakan salah satu dari serangkaian agenda Niha’ie berupa study tour yang pelaksanaannya dilakukan di luar pondok. Selain sebagai bentuk silaturahim dan penambah wawasan santri, kegiatan ini sejatinya merupakan salah satu bentuk upaya mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT, dengan cara membaca, memahami, menghayati dan menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya (kauniyah) di dunia ini.

Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 24-26 Mei untuk putra dan 25-27 mei untuk putri. Untuk tahun ini, kegiatan RTT difokuskan ke daerah Jawa Timur-Jawa Tengah. Antara lain;
Rombongan Putra akan berkunjung ke PP. Al-Fatah Magetan, PP. Al-Mukmin Ngruki, PP. As-Salam Solo, PP. Al-Munawwir Krapyak dan Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sedangkan rombongan Putri akan mengunjungi PP. Sunan Drajat Lamongan, PP. Al-Muayyad Kudus, Universitas Diponegoro Semarang, Yayasan Ali Maksum Krapyak dan KMI Gontor Putri Mantingan.

Sebelum pelaksanaan, seluruh santri Niha’ie diharuskan mengikuti acara pembekalan selama 3 hari, untuk putra (21-23/05) dan untuk Putri (22-24/05). Dalam acara ini, mereka diberikan bekal-bekal tentang bagaimana seharusnya beradab saat perjalanan, bertamu dan bertanya yang baik saat berada di lokasi tujuan RTT.

Acara pembekalan dan pelaksanaan RTT sendiri dibuka secara resmi oleh Pengasuh Ma’had TMI, KH. Moh. Zainullah Rois, Lc. untuk putra, dan KH. Ghozi Mubarok, MA untuk putri. (Sekret)

Tasyakkur JQH TMI 1434-1435 H

putri

TMI – Jam’iyyatul Qurro’ wa-Huffadz (JQH) adalah program menghafal Al-Qur’an para santri Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) yang berminat untuk menghafal Al-Qur’an. Secara struktural, JQH ini berada dibawah naungan lembaga TMI, ditangani oleh Ust. H. Fahmi Fattah, S.Sos.I.

“Menghafal di JQH ini tidak ada target wajib yang harus dicapai oleh santri, melainkan tergantung pada kemampuan masing-masing santri” demikian jelas Ustad Fahmi.

Para santriwati yang ditasyakkuri hafalannya Jum’at malam (16/5) sebanyak 91 orang dengan rincian; 57 orang hafal juz ‘amma, 29 orang hafal 5 juz, 2 orang hafal 10 juz, dan 3 orang hafal 15 juz. Bertempat di Gedung Serbaguna (GESERNA) TMI Putri.

Sedangkan untuk santri putra yang ditasyakkuri pada Sabtu malam (17/5) sebanyak 78 orang juz ‘amma, 20 orang 5 juz, 8 orang 10 juz, 4 orang 15 juz, 3 orang 20 juz, 2 orang 25 juz dan 4 orang 30 juz.

Dalam sambutannya, Pimpinan dan Pengasuh pondok KH. Maktum Jauhari, MA mengajak para hadirin agar senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas semua nikmat-nikmat yang begitu besar ini. Kemudian, untuk para anggota tasyakkur JQH agar menuntaskan hafalannya sampai 30 juz, baik masih menjadi santri aktif di TMI atau setelah lulus dari TMI nanti. Sebaik-baik kalian adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Ahlul Qur’an adalah keluarga Allah Swt dan orang-orang khusus yang diiistimewakan oleh-Nya. Saya harap kalian nantinya tidak hanya menghafalnya saja, tapi mengamalkan isi Al-Qur’an di dalam kehidupan sehari-hari. Amiin..

Selamat kepada para anggota tasyakkur, teruskan semangat kalian. Selamat buat para wali anggota tasyakkur, dukung terus mereka. Berbahagialah TMI dan semua wali santri TMI Putra-Putri, ayo terus dorong anak-anak kita agar senantiasa mencintai Al-Qur’an untuk dihafal dan diamalkan. (Abu Azhar/Ishlah)

ISMI Gelar Semarak Dua Bahasa (SDB)

Gema Malam Takbiran

TMI – Upaya pengurus ISMI 2014 agar suasana berdwi bahasa di pondok tetap berjalan terus ditingkatkan. Hal ini tampak dari kegiatan “Mahrjan Lughotain” atau Semarak Dua Bahasa (SDB), Arab dan Inggris yang akan berlangsung seminggu ke depan, dimulai dari hari ini.

Dalam kegiatan SDB ini, akan diadakan berbagai macam kegiatan, seperti lomba, demonstrasi bahasa, pelatihan-pelatihan kebahasaan lainnya, dll.

SDB secara resmi dibuka oleh Pengasuh Ma’had TMI Al-Amien Prenduan KH. M0h. Zainullah Rois, Lc (05/05) di masjid jami’ Al-Amien Prenduan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan akan pentingnya penegakan bahasa di pondok ini terutama di TMI. Ingatlah anak-anakku “Bahasa Arab merupakan Mahkota Pondok” kita. Barangsiapa memahami bahasa suatu kaum, maka akan selamat.

Diharapkan dengan adanya kegiatan SDB ini, para santri lebih antusias dalam mengikuti kegiatan-kegiatan kebahasaan serta semakin cinta pada bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sehingga, mahkota pondok tetap terjaga baik. (sekret)

Santri Niha’ie TMI hadapi EBTA

nihaie putraTMI – Santri Niha’ie (kelas akhir) Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) putra berjumlah 173 orang dan putri sebanyak 133 orang, mulai hari ini (03/5) mengikuti evaluasi belajar tahap akhir (EBTA).

Sebelum ujian berlangsung digelar acara pembukaan. Putri dibuka oleh Direktur TMI K. Drs. Suyono Khattab di depan Gedung Serba Guna dan Putra dibuka oleh KH. Moh. Khairi Husni, S.Pd,I di depan Puspagatra.

EBTA ini berlangsung selama 12 hari (3-15/5) dengan materi ujian: 36 jenis materi untuk putra, dan 37 jenis materi untuk putri dibawah tanggung jawab PO-nya: KH. Abdurrahman As’ad, S.Sos.I

“Demi peningkatan konsentrasi anak dalam menghadapi EBTA, sudah diadakan pemusatan belajar selama seminggu sebelum ujian berlangsung” demikian kata panitia.

Selamat mengikuti ujian, semoga sukses selalu,,,

PT. Mutiara Alpen

pt mutiara alpen

Adalah travel yang didirikan oleh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan akhir tahun 2013, berlokasi di Pragaan Laok depan Komplek TMI Putri dengan tujuan utama melayani transportasi santri dan wali santri baik untuk pulang ke rumah kediaman atau sebaliknya.

Fasilitas transportasi yang disediakan: pelayanan tiket bus, kereta api dan pesawat; carter mobil dan bahkan melayani program umroh dan haji.

Struktur Pengurus

Komisaris; H. Moh. Ridlo Sudianto, Lc. M.S.I., Direktur; H. Lukman Hakim, Lc., Sekretaris; Firman Ali Wahyudi, Bendahara; H. Abdul Muiz, Lc.M.Th.I., Manager; Abd. Rahman Efendi, Marketing; M. Ali Ma’shum.

Haftam

Haflul Ikhtitam (GAT)

Haflul Ikhtitam (Gebyar Akhir Tahun) adalah kegiatan yang diadakan menjelang tutup tahunan ajaran pendidikan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN, Sumenep Madura. Yang akan dilaksanaakan pada tanggal 14-24 Juni 2014 M.

Tema Kegiatan

Dengan Haflul Ikhtitam (Gebyar Akhir Tahun) Kita Tingkatkan Ikatan Silaturrahim, Demi Peningkatan Potensi dan Penguatan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Bentuk Kegiatan:

  • Yudisium dan Wisuda Alumni TMI Al-Amien Prenduan Tahun Ajaran 1434-1435 H (2013-2014 M.)
  • Wisuda XVI Sarjana S-1 Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Tahun 2014
  • Yudisium dan Wisuda Alumni Ma’had Tahfidz Al-Qur’an (MTA) Al-Amien Prenduan Tahun Ajaran 1434-1435 H./2013-2014 M.
  • Malam Anugerah “TMI Award” dan Malam Apresiasi Seni Santri
  • Orasi Ilmiah “Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer dan Pengaruhnya di Indonesia” oleh: Dr. Adian Husaini, MA
  • Musyawarah Tahunan Himpunan Wali Santri (Hiwari) se-Indonesia.
  • Haul Masyayikh Al-Haramain (Alumni Mekkah-Madinah) ke-21
  • Ekspo, Bazar, Book Fair dan Warung Amal.

Agenda Kegiatan

Tanggal

Hari

Waktu

Pa-Pi

Kegiatan

14 Juni 2014

Sabtu

08.00

Pa-Pi

Pembukaan Bazar, Ekspo, dan Warung Amal

Pagi-Siang

Pa-Pi

Check In Wali Wisudawan/wati MTA

15.30-17.00

Pa-Pi

Silaturrahim Wali Wisudawan/wati MTA bersama Majelis Kiai/Dewan Pengasuh Putri

15 Juni 2014

Ahad

08.00-12.00

Pa-Pi

Wisuda Hifdu Kamilil Qur’an, Juz 30 dan Pelepasan Alumni MTA.

17 Juni 2014

Selasa

07.45-17.00

Pa-Pi

Orientasi Alumni Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan

19.30-21.00

Pa-Pi

Orasi Ilmiah: “Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer dan Pengaruhnya di Indonesia,” oleh Dr. Adian Husaini, MA

19 Juni 2014

Kamis

08.00-11.00

Pa-Pi

Prosesi Rapat Senat Terbuka & Wisuda XVI Sarjana S-1 IDIA Prenduan Tahun 2014

20 Juni 2014

Jum’at

Pagi-Siang

Pa-Pi

Check in Wali Wisudawan/Wati TMI Al-Amien Prenduan

15.30

Pa-Pi

Silaturrahim Wali Wisudawan/wati TMI Al-Amien Prenduan bersama Majelis Kiai/Dewan Pengasuh Putri

20.00

Pa-Pi

Yudisium Kelulusan

21 Juni 2014

Sabtu

07.30

Pa-Pi

Wisuda Santri Kelas Akhir TMI Al-Amien Prenduan Tahun Ajaran: 1434-1435 H./2013-2014 M.

20.00

Pa-Pi

TMI Award dan Malam Apresiasi Seni Santri/wati

22 Juni 2014

Ahad

08.00

Pi

Musyawarah Tahunan Himpunan Wali Santri (Hiwari) TMI Al-Amien Prenduan se Indonesia dan Perpulangan Santriwati

23 Juni 2014

Senin

08.00

Pa

Musyawarah Tahunan Himpunan Wali Santri (Hiwari) TMI Al-Amien Prenduan se Indonesia dan Perpulangan Santri

24 Juni 2014

Selasa

19.30

Pa

Haul Masyayikh Al-Haramain ke-21

 Peserta

Kegiatan Haflul Ikhtitam 2014 ini akan dihadiri oleh sekitar 14.775 orang, terdiri dari:

No

Jenis Kegiatan

Peserta Kegiatan

Jumlah

1

Yudisiun dan Wisuda Alumni TMI Al-Amien Prenduan Tahun Ajaran 1434-1435 H (2013-2014 M.) Wisudawan, Wali Wisudawan dan Keluarga, Majelis Kiai, Nyai dan Majelis A’wan Al-Amien Prenduan, Ulama Madura Tokoh Masyarakat, Guru-Guru TMI

1500

2

Wisuda XVI Sarjana S-1 Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Tahun 2014 Wali Wisudawan/Wati dan Keluarga, Pejabat Instansi Pemerintah Kab. Sumenep, Majelis Kiai, Nyai dan Majelis A’wan Al-Amien Prenduan, Dosen IDIA Prenduan, Tokoh-tokoh Masyarakat

950

3

Yudisium dan Wisuda Alumni Ma’had Tahfidz Al-Qur’an (MTA) Al-Amien Prenduan Tahun Ajaran 1434-1435 H./2013-2014 M. Wisudawan, Wali Wisudawan dan Keluarga, Majelis Kiai, Nyai dan Majelis A’wan Al-Amien Prenduan, Ulama Madura Tokoh Masyarakat, Guru-Guru TMI

1000

4

Musyawarah Tahunan Himpunan Wali Santri (Hiwari) se Indonesia. Wali Santri TMI dan MTA

3850

5

Malam Anugerah “TMI Award” dan Malam Apresiasi Seni Santri Santri TMI Al-Amien dan Para Guru

2700

6

Orasi Ilmiah “Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer dan Pengaruhnya di Indonesia” oleh: Dr. Adian Husaini, MA  Mahasiswa/wi dan Dosen-Dosen IDIA Prenduan

1275

7

Haul Masyayikh Al-Haramain (Alumni Mekkah-Madinah) ke-21 Alumni lembaga-lembaga pendidikan di Makkah dan Madinah (Haramain), Ulama Jawa Timur, Tokoh-tokoh masyarakat Madura,Keluarga dan santri dari lembaga yang didirikan atau dikelola oleh alumni Haramain

3000

8

Ekspo, Bazar, Book Fair dan Warung Amal. Penerbit buku, pedagang sekitar pondok, organisasi santri.

500

Keajaiban Cinta dan Sisi Lain Al-Amien

sisi lain al-amien

“Cara bersyukur seorang penulis dengan cara menulis.” (KH. Moh. Idris Jauhari)

Kegiatan tulis menulis paling tidak dirasa sangat akrab semenjak Sekolah Dasar di SDN Blega 03, namun begitu mencintai puisi dan menuliskannya, paling tidak semenjak nyantri di Al-Amien Prenduan.

Meski saya dilahirkan di kalangan pesantren salaf, yang notabennya sangat mencintai kitab kuning, menelaah peninggalan ilmu-ilmu ulama salaf namun kecintaan saya pada puisi, tak bisa saya bohongi.

Paling tidak tahun 2003-2005 kecintaan saya pada puisi diuji, ayah melarang saya untuk menekuni dunia puisi, beliau lebih menyarankan agar saya memperdalam kitab kuning, biar mutiar salaf tetap terjaga, meski pesantren Al-Amien adalah perpaduan modern dan salaf bukan berarti saya harus lari dari kitab kuning.

Kitab kuning juga diajari di Al-Amien namun perbedaan dengan pesantren salaf dalam pengajaran kitab kuning adalah cara menyikapi kitab kuning dan cara menerjemahkan. Pesantren Al-Amien lebih condong pada penerjemahan/pemaknaan hurriyah (bebas), madzhab yang dianut dalam pelajaran fiqh untuk Tsanawiyah adalah Imam Syafi’ih sementara untuk Aliyah para santri diajarkan bidayatul mujtahid agar para santri bisa memilah dan memilih madzhab yang hendak dianut, agar tak gampang menyalahkan penganut madzhab lain.

Apakah pesantren Al-Amien NU atau Muhammadiyah, hal inilah yang paling sering ditanyakan masyarakat? Pesantren Al-Amien netral, santri-santrinya boleh memilih NU atau Muhammadiyah, namun jika menjadi imam shalat subuh harus pakai qunut, sebagai media pembelajaran sementara makmum boleh ikut qunut atau tidak.

Ragam kegiatan yang ada di Al-Amien, yang merupakan perpaduan modern dan salaf yang membuat saya betah. Namun kecintaan saya pada puisi tetap berlanjut tanpa sepengetahuan orang tua.

Barulah tahun 2005 setelah karya saya dimuat di Radar Madura, ayah saya mengizinkan saya menulis puisi, di tahun yang sama dapat penghargaan dari UNESCO karena ikut menyemarakkan Hari Puisi Sedunia, kami pun dilantik jadi pengurus Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) oleh Jamal D Rahman tepatnya hari Jum’at 20 Mei 2005.

Menyadari kemampuan dalam dunia tulis menulis pas-pasan saya lebih menyukai berselancar ke dunia maya, berkenalan dan membaca karya-karya penulis lewat internet, tepatnya 2008 setelah internet masuk ke pesantren Al-Amien dengan LABKOM.NET yang dimiliki.

Internet menjadi jalan alternatif saya dalam berkarya dan mengenal ragam karya penulis dalam dan luar negeri.

Berada dalam pesantren bukan alasan menutup diri dari kemajuan teknologi, itulah yang saya rasakan. Saya pun dikirim buku oleh rekan-rekan penulis dari Malaysia, Singapura dan Taiwan, lewat internet pulalah yang membuat Pipiet Senja tertarik datang ke Al-Amien lewat perkenalan singkat kami, saat saya menjadi ketua penyelenggara pembuatan antologi cerpen reliji lintas negara, kunjungan Pipiet Senja pun berjalan tiap tahun semenjak 2010-2012.

Lewat puisi pulalah saya diberi kesempatan membacakan puisi di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011) dengan pakaian daerah Madura membaca Haiku Sakera dalam bahasa Madura. Kegiatan membacakan puisi dalam acara sastra berlanjut ke berbagai tempat di Indonesia bahkan Malaysia seperti di UPSI Perak, Rumah PENA dan Ipoh dalam acara Kongres Penyair Sedunia ke-33 pada tahun 2013.

Mencintai hobi dengan sepenuh hati, bisa menjadi jalan mengabdikan diri dengan suasa hati yang riang itulah yang saya alami. Semua takkan pernah terjadi tanpa restu Ilahi dan tanpa jasa-jasa orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung mengantarkan pada apa saja yang ingin kita raih.

Doa, kemauan yang kuat disertai usaha sepenuh hati adalah kunci sukses, tanpanya kita ibarat debu diterbangkan angin.

Mengharapkan keajaiban tanpa pernah melakukan sesuatu adalah hal yang konyol, melupakan jasa-jasa orang lain merupakan bentuk ingkar atas kehidupan, sebab tak ada kesuksesan bisa diraih tanpa bantuan orang lain. Terlalu mengantungkan kesuksesan pada bantuan orang lain, tanpa berusaha berjalan di atas kaki sendiri merupakan bentuk ingkar atas karunia Allah, karena tak percaya pada karunia yang dimiliki, sebab pada hakikatnya manusia punya naluri pemimpin dan naluri sebagai hamba bertuhan. Akhir kata izinkan saya tuang puisi berjudul RAMALAN sebagai catatan saya, yang paling tidak mencakup pandangan, harapan dan rupa doa dari saya yang telah mengajarkan ragam kembara hati, terimakasih seluruh keluarga besar pesantren, yang masih istiqomah mengabdi.

Ramalan

Kelak, Al-Amien jadi taman puisi/Berbagai negeri silih berganti/Memetik bunga imaji/Atau sekedar berbagi risalah hati//Selalu ada yang akan berganti rupa/Sekedar mengurai jejak kembara/Namun Al-Amien: madu waktu/Diperkenalkan ragam kalbu//

Madura, 29 April 2014

Moh. Ghufron Cholid, Alumni TMI Al-Amien, 2006, Majlis Keluarga Ma’had Al-Ittihad Junglong Komis, Kedungdung Sampang.

Bagai Syamsu Tabriz bagi Seorang Rumi

ust nuskholis“Bapak Kiai wafat, pukul 06.55”. Pesan singkat itu terkabar lewat akun twitter. Kemudian bersambutan kabar lewat dering telepon, facebook dan tangisan. Hanya satu tahun sejak saya pamit untuk berangkat ke Kairo, Mesir, beliau sudah terburu pergi untuk tenang. Tapi saya merasakan kepedihan seperti ombak yang dihasut angin untuk berdebur. Tak ada batasnya, tak ada ruang untuk berhenti.

Beliau tidak hanya terkenang, tetapi seperti pertunjukan. Ingatan-ingatan berhamburan. Dari bunyi kenalpot sepeda motor Bravo yang khas membangunkan kami untuk qiyamul lail sedari jam dua malam tiba. Sajadah merah atau hijau, dan tempat shalat di samping kiri bagian depan, hingga saat-saat saya benar-benar intens berdialog tentang hidup, tentang jodoh, tentang apa yang dimaksud merdeka.

Saya bertemu dengan beliau pada Juni 2002. Waktu itu saya baru mendaftar sebagai santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Pertemuan antara seorang kiai besar dengan kami yang lucu-lucu. Saya ingat senyum beliau yang tipis-tipis itu, kata-kata yang tulus penuh hikmah, dan sesekali menyebut nama kami satu-persatu seperti seorang ayah kepada anaknya.

K.H. Muhammad Idris Jauhari menjadi sosok guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya. Tidak hanya karena sejarah mencatat, perjuangannya dimulai sejak beliau berumur 19. Namun juga, karena keaktifan beliau membina dan memberi petuah-petuah yang praktis.

Sejak selesai dari Pondok Modern Gontor, beliau berjuang. Beliau tidak lagi hidup seperti kawan-kawannya yang lain, mengembara atau menikmati masa muda dengan segala kebebasan dan kegembiraan. Beliau lebih memilih jalan lain, jalan pengabdian, memperjuangkan masa muda dan mencerdaskan anak bangsa. Barangkali itu sebabnya, beliau sangat tahu cara menghadapi setiap santrinya yang bermasalah. Dari santri yang harus digenggam dengan pengawasan yang sangat erat, hingga yang dilepas degan untaian doa-doa.

Beliau seperti dikelilingi kebahagiaan hanya jika mengabdi, mengurusi santri, dan akhirnya mengorbankan yang beliau miliki. Termasuk kesehatan.

Dan kami terus saja membuat masalah. Merokok di kamar mandi, kabur dari pondok, atau tidak ikut shalat jamaah. Seperti tak tahu setiap yang bergerak akan aus. Kami tidak sadar, bahwa dengan itu, sedikit demi sedikit pikiran pak kiai semakin penuh. Akibatnya, stabilitas kesehatan beliau menurun.

Tetapi semangat pengabdian beliau adalah satu-satunya yang bergerak tanpa pernah aus. Bagi beliau, eksistensi seseorang terlihat dari dedikasinya.

 “Saya lebih bangga pada alumni yang menjadi pemimpin pondok kecil atau guru ngaji daripada alumni yang menjadi pejabat.” Demikian yang sering saya dengar dari beliau. Bahkan, setiap kali acara wisuda, beliau selalu menyelipkan kalimat ini: “Apa pun profesimu, kamu harus berjiwa guru dan pemimpin”.

Itu mungkin sebabnya beliau mengabdi sejak usia dini. Beliau memilih jalan-jalan sempit nan tenang, yang mengantarkan pejalan kaki sampai lebih selamat. “Luruskan niat, bersyukur, bershalawat, dan berterimakasihlah kepada siapa saja yang sudah mengajari kita,” lanjutnya.

Saya tidak bisa membayangkan, seorang muda yang cerdas, hanya menghabiskan waktu dengan pengabdian di tanah tembakau yang kering, sementara di waktu luang belajar secara otodidak. Tidak ada ambisi untuk meraih gelar master, doktor dan predikat-predikat lainnya. Bagi beliau, “Gelar doktor tidak lagi dibutuhkan oleh orang setua saya”. Kesuksesan beliau dalam belajar secara otodidak inilah, yang dicatat oleh Zamhari dalam buku Belajar Otodidak Sampai Mati.

Ah, mengingat itu semua, adalah seperti menyusun puzzle yang kemudian berubah jadi wayang dan film sejarah yang mengagumkan. Sementara kami teriris-iris sendiri oleh khilaf dan duka, oleh kebodohan dan kesombongan.

Lalu petuah-petuah seperti ini, “Saya tidak menyuruh kalian untuk berzikir lama-lama. Tetapi di mana pun dan dalam keadaan apa pun kamu, shalatlah pada waktunya dengan berjamaah, membaca Al-Quran walau satu ayat, dan jangan lupa, fi ayyi makanin kana anta santriyun” (di mana pun kamu berada, kamu adalah santri) seperti menjadi background dalam pewayangan itu. Kata santriyun mungkin tidak ada dalam indeks kamus bahasa Arab, tapi beliau mengartikan itu sebagai bentuk moral seorang penuntut ilmu di pesantren. Moral sebagai orang yang toro’ ocak ka reng toah (patuh kepada orangtua), memiliki niat yang lurus, beribadah dan bermanfaat.

Begitu yang sering kami dengarkan setiap malam menjelang tidur sambil menahan rasa kantuk, atau pada Jumat pagi ba’da shalat Shubuh, serta teladan dalam praktik yang sama dengan penuh tawadu dan istiqamah.

Tahun 2006 saya lulus dari pondok, kemudian mengabdi di almamater. Saat itulah saya banyak menimba ilmu dari beliau secara lebih dekat tentang banyak hal. Tentang jodoh dan hari-hari yang menggelisahkan. Itulah ketika saya harus menerima ungkapan “mak jhu kemmi?” (kok kayak orang kebelet?).

Masa itu bagi saya adalah masa galau. Pikiran-pikiran berkeliaran ke dalam ruang-ruang yang tak tercapai. “Apa yang membuatmu tenang dan lebih dekat dengan Allah, itulah yang baik.” Kata-kata itu yang membuat saya mantap untuk mendapatkan istri yang baik. Waktu itu, Kiai Idris sama sekali tidak menghakimi, apalagi mencemooh. Masalah jhu kemmi (kebelet) karena terburu-buru menikah, saya rasa beliau hanya bergurau, dan itu yang membuat saya berpikir lebih panjang dan ingin sampai pada pembuktian.

Mula-mula, beliau tidak begitu mengenal saya, kecuali ketika ada urusan kesekretariatan yang tak beres, atau saat musyawarah pimpinan untuk menjadi notulis. Beliau hanya mengenal saya sebagai salah seorang sekretaris pondok.

Dan perlombaanlah yang mendekatkan saya. Berkali-kali saya mendapat undangan penyerahan hadiah lomba, berkali-kali pula saya meminta izin untuk keluar pondok sekaligus meminta restu. Tidak bisa saya pungkiri, ketika mencium tangan beliau, seperti ada rasa lain yang menghambur. Seperti ada langit yang menurunkan embun-embun pada daun, dan rasa lega yang luar biasa. Ya, seperti mendapat dukungan alam semesta.

“Jangan lupa, nama baik pondok ada dalam sikap kamu, kubah Al-Amien ada di atas pundak kamu,” dan saya tersentuh oleh kalimat itu, seperti seorang pengantin pria yang diserahi seorang perawan solehah. Sejak itu, saya selalu bisa menangis jika berhadap-hadapan, atau menatap gambar beliau yang kharismatik beraut tenang.

Saya terus bergairah menulis, tidak hanya karena ingin lebih baik, tetapi amanah, dukungan, dan kepercayaan beliau terus menderas dalam semangat saya. Saya akan terus menulis pagi, siang dan malam, jika pun beliau menyuruh itu.

Tetapi ya, semangat adalah rasa cinta juga. Kadang tumbuh dan berkembang, kadang layu dan menunggu gugur. Jika semangat saya sudah tak bisa diandalkan, semisal darah pada musim dingin. Saya akan mendatangi beliau pada musim Shubuh. Biasanya tepat setelah zikir shalat Shubuh, saya segera menunggu di teras rumah beliau, untuk sekedar mencium tangan beliau lalu mendengar pesan atau beliau.

Itulah istimewanya, beliau adalah seorang guru yang menempatkan murid sebagai sejawat, yang tidak perlu digurui, tapi disadarkan.

“Ada apa?” tanya beliau sambil menarik kopiah putihnya ke belakang. Saya kaku, sebab saya sering susah mengutarakan sesuatu kepada orang yang saya kagumi.

“Saya terlalu banyak dosa, Pak Kiai,” jawabku. Itu tentu bukan apa yang ingin saya ucapkan. Tetapi itulah yang saya rasakan dan terucap.

“Berpikir punya dosa itu bagus!”

Saya menunduk. Saya takut itu ironi.

“Kamu berarti sadar. Orang sadar, memiliki peluang untuk baik. Sadar itu sudah potensi, tetapi potensi saja tidak cukup. Kamu harus berusaha untuk menjadikan diri kamu lebih baik.”

“Saya selalu takut, Pak Kiai.”

“Kok takut? Susah kalau kamu takut. Saat kamu jalan, kamu tidak takut kan kalau suatu saat akan jatuh? Nah hidup juga seperti itu. Niatkan yang baik, berjalan di jalan yang benar, kalau jatuh atau salah jalan, ya bangun dan cari jalan yang lebih baik. Kamu bersyukur masih bisa sadar, tapi kesadaran itu bisa hilang jika tidak dimanfaatkan untuk berbuat.”

Saya benar-benar menangis saat mendengar itu. Padahal saya selalu takut ditanyakan tentang dosa-dosa saya, apa pelanggaran yang saya lakukan di pondok, atau beliau akan marah karena saya melakukan kesalahan-kesalahan itu.

Dan saya benar-benar menemukan guru yang bisa membuat saya berubah dari seorang yang tertutup menjadi lebih terbuka, terbuka juga terhadap kemungkinan-kemungkinan.

Kesederhanaanlah yang membuat saya menaruh hormat lebih kepada beliau. Beliau, dan  kiai-kiai kami yang lain, berpenampilan sama seperti ustaz-ustaz lain yang ada. Memakai baju koko, sarung, kopiah putih, kadang hitam, sajadah, dan senter saat waktu subuh dan petang.

Beliau adalah guru yang intens mengajarkan kami cara hidup sebagai manusia. Pelajaran hidup dari hal-hal kecil, cara berjalan dengan tidak menyeret sandal, tidak mengambil barang-barang syubhat. Bahkan sabun mandi yang ada di dalam selokan sekalipun, kami tidak boleh mengambilnya. Beliau yang mengajari kami tata cara bersikap yang baik, dengan penjabaran Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah.

Tahun 2010, beliau terbaring sakit yang kesekian kalinya. Ini yang paling parah, beliau komplikasi. Beliau terus menangis saat melihat kami. “Saya hanya berdoa, ya Allah matikanlah saya, jika saya tidak bermanfaat lagi bagi orang lain. Tetapi jika sebaliknya, saya memohon kesembuhan.” Kata-kata itu keluar dari beliau seperti hendak pergi, sementara kami menampung rasa sedih yang demikian penuh.

Kami masih belum bisa secara istiqamah melakukan shalat jamaah, belum melakukan pengabdian yang baik, dan belum juga berbuat dengan niat yang tulus, seperti yang beliau pesankan hampir di setiap ceramah beliau. Padahal sering beliau katakan, “Citra pondok dan almamater ini selanjutnya benar-benar dipertaruhkan di atas pundak kalian.”

Saat itu, saya memeluk dan mencium beliau dengan tangis yang berurai.

“Terimakasih, Nak, atas doa-doa tulusmu.”

Saya menangis, lebih perih lagi. Sangat jarang saya mendengar ucapan syukur itu dari orang-orang yang berada di ketinggian derajat, tetapi bapak kiai dengan mudahnya mengucapkan itu kepada kami, murid-muridnya yang sering nakal dan tak patuh aturan.

Alhamdulillah, beliau sakit tidak lama. Beliau sudah bisa rawat jalan, dan diperbolehkan kembali ke pondok. Itu adalah rasa bahagia sekaligus menimbulkan kekhawatiran. Sebab, kehidupan bagi beliau adalah dedikasi. Dengan kursi roda, dengan tangan yang sulit digerakkan, beliau tidak pernah lepas dari shalat jamaah bersama-sama santrinya.

Beliau seperti hendak berkata, “Saya yang sakit, masih bisa berjamaah, bagaimana yang sehat?” Tapi beliau selalu membantah keadaan sakitnya, “Saya tidak sakit. Saya masih bisa berpikir dan berbuat.” Bagi beliau, rasa sakit itu adalah ketika tidak bisa lagi berbuat lebih untuk pengabdian.

Itulah sebabnya, bapak kiai selalu menegur beberapa ustaz yang menunda pekerjaan dengan alasan penyakit ringan. “Kalau ada tugas, tunda dulu lah sakitnya itu…,” begitu gurau beliau sambil menyindir. Kami yang tidak memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, kadang-kadang menunda pekerjaan, hanya karena sakit gigi, sakit kepala, dan alasan-alasan yang sepertinya terlalu dibuat-buat. Jauh dibanding pembuktian bapak kiai saat mengalami gangguan kesehatan.

Mungkin tidak ada yang kekal kecuali kenangan-kenangan, kecuali rasa cinta yang dirawat dan diperjuangkan. Pagi sekali, saya harus mendengar kabar itu: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, KH. Muhammad Idris Jauhari meninggal dunia, 28 Juni 2012, pukul 06.55 WIB. Mendengar kepergian seseorang yang berada dalam jiwa, akan terlampau sulit diurai dengan rasa sabar dan tawakkal. Rentang waktu yang tak begitu lama sejak kelahiran beliau 28 November 1952.

Beliau bagi saya adalah semisal Syamsu Tabrizi bagi seorang Rumi. Bagi Rumi, Syamsu Tabrizi adalah pribadi penuh pesona rohani, yang membakar dunia batinnya, menyalakan hatinya, dan menariknya ke dalam pusat pusaran Cinta Ilahi yang sempurna. Maka, Rumi amat terluka ketika sufi dari Tabriz, Iran, itu pergi meninggalkannya, dan tak kembali lagi. Sementara, saya terluka tidak hanya dalam hati. Saya juga terluka oleh kebodohan diri dan kekhilafan atas pesan-pesan beliau. Beliau pernah berkata, “Anak-anakku, saya dihormati bukan karena kemuliaan yang saya miliki. Tetapi karena Allah menutupi aib-aib saya.”

Saya kadang berpikir cara berjumpa, untuk sekedar meminta maaf, untuk sekedar meminta restu, mencium tangannya, lalu bergairah untuk menjalani hidup. Saya kehilangan apa yang menjadi darah bagi tubuh.

Saya takut tidak bisa mengalahkan bayang-bayang sendiri, sementara “pahlawan-pahlawan kecil” terlanjur beliau sematkan. “Di hati kami, kalian adalah pahlawan pejuang harapan kami. Menangkanlah perjuangan ini!”

“Sadarlah selalu, Anak-anakku … Kalian adalah orang yang berharga. Karena itu, hargailah diri kalian. Tapi jangan sekali-kali minta dihargai. Orang yang meminta-minta dihargai biasanya memang tidak berharga. Hargai diri kalian sesuai dengan harga yang sebenarnya. Jangan terlalu mahal, sehingga kalian tidak laku dan dijauhi orang. Tapi juga jangan terlalu murah, sehingga akhirnya kalian menjadi orang-orang yang tidak berharga sama sekali. Dan yang terpenting, letakkanlah diri kalian pada tempat yang berharga, agar harga diri kalian tetap tinggi dan tidak jatuh.”

Dan engkau terus bersama kami dalam kalimat-kalimat yang memanjang dan menghunjam. []

 

Ach. Nurcholis Majid, alumnus TMI Al-Amien Prenduan, 2006. Kini, mahasiswa Pasca Sarjana Ma’had Ad-Dirasat Al-Islamiah li Imam Al-Baquri, Kairo, Mesir.