Merindukan Anak Dari Rantau

kh-muhammad-idris-jauhariKepuasan seorang ibu setelah anaknya dewasa, tidak hanya terletak pada seberapa banyak materi yang telah diraih dan dikumpulkan. Lebih dari itu, adalah seberapa besar kerinduan anak untuk kembali ke pangkuan sang ibu.

Kisah Malin Kundang merupakan perwakilan dari tesis di atas. Kekayaan dan kegagahan Malin Kundang tidak mampu menjadikan sang ibu merasa senang dan bahagia. Alih-alih menjadi suatu kebanggaan, sang ibu malah mengutuknya menjadi batu, tepat setelah Malin Kundang menampakkan kecongkakannya.

Tentu saja, tidak ada yang mau mengulang kisah Malin Kundang. Tetapi, orang-orang yang berperangai sepertinya masih ada di dunia ini, dan pasti juga ia secara tidak sadar dikutuk nasib, walaupun dalam hati ibunya tidak terbesit kalimat kutukan.

Siklus kehidupan seorang anak dengan orang tua adalah semacam pohon yang berbuah, setelah buahnya matang, maka dia akan jatuh kembali ke bumi untuk mendedikasikan dirinya kepada setiap yang membutuhkan. Bumi sejatinya adalah ibu, setiap kedewasaan berarti juga jatuhnya buah ke dasar bumi.

Dalam kehidupan pesantren, hubungan santri dengan pondok adalah semacam anak dengan orang tua. Setiap santri yang pernah diam dan menuntut ilmu adalah tanggung jawab pesantren. Pun demikian dengan keberadaan santri, ia sejatinya adalah seorang anak yang bertanggung jawab atas kedewasaan yang ditanamkan oleh sang ibu. Semakin dewasa dan menua usia, semakin bertambah juga tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi pesantren. Karenanya, menjadi sangat aneh jika ada seorang santri kehilangan rasa rindunya pada pesantren yang pernah dipijakinya.

Jika keterpurukan rasa rindu menimpa, bisa bisa jadi penyebabnya adalah rasa keterasingan. Dalam ilmu psikologi hal ini biasa dilakukan oleh seseorang dengan menarik diri dari kontak dengan yang lain, seseorang sebetulnya ingin berkomunikasi dengan orang lain, tetapi dia diacuhkan keberadaannya diabaikan, sehingga kemudian dia merasa tidak nyaman dan tidak mau berkomunikasi dengan siapa pun.

Tesis-tesis di atas, mungkin sama sekali tidak terjadi dalam diri alumni Pondok Pesantren AL-AMIEN Prenduan, akan tetapi untuk berjaga-jaga, silaturrahim nasional, atau yang selalu akrab dengan sebutan SILNAS dipilih sebagai media untuk mempererat hubungan orang tua dan anak, pesantren dan santrinya, santri dengan santri lainnya, berkisah tentang proses kreatif, memikirkan visi-misi pesantren—khoiru ummah dan mundzirul qaum yang muttafaqih fid dien—atau sekedar bernostalgia. Sebutan santri, tentu bukan hanya berlaku bagi mereka yang menyandang gelar alumni, tetapi juga bagi mereka yang pernah hidup di bawah atap asrama (rayon) pesantren, bahkan termasuk mereka yang pernah menginjakkan kaki di tanah pesantren. Dalam konteks ini menarik dikutip pepatah Belanda ”Woorden wekken, woorbeelden trekken” yang artinya: ”Kata-kata itu menyadarkan, contoh-contoh teladan itu menarik,”

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa salah satu cara yang paling baik dalam menghidupkan adat istiadat pada peserta adalah dengan mengajak mereka melihat seorang pengetua yang dihormati anak melakukan hal tersebut (Ki Hajar Dewantara, 1952:55).

Karenanya, untuk membuat anak kembali melanjutkan misi suci pesantren, alumni diharap kembali ke tanah pesantren, mendengarkan nasihat, fatwa para kiai, meresapi indahnya kenangan tidur di bawah langit-langit kamar yang semakin tua, dan mendengar bunyi lonceng yang tak pernah pekak di telinga.

Ach Nurcholis Majid