Merasakan Manisnya Iman

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah saw., bersabda,

 ”Ada tiga sifat yang jika ketiganya ada dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada apa pun selain keduanya. Kedua, jika ia mencintai orang lain hanya karena Allah. Ketiga, jika ia tidak suka untuk kembali ke dalam kekafiran sama seperti ia tidak suka dilemparkan ke dalam api neraka. 

(HR Bukhari dan Muslim)

Setiap Muslim pasti berkeinginan merasakan manisnya iman. Satu harapan yang senantiasa bergema dalam doa harian mereka. Betapa tidak, seorang Muslim yang sudah merasakan manisnya iman ia pasti akan terbebas dari segala belenggu, ia mampu membuat manis segala yang pahit, membuat lapang segala kesempitan, dan membuat nikmat segala penderitaan.

Untuk meraih itu, sesuai hadits Rasululllah SAW di atas, seorang Muslim harus memiliki minimal tiga sifat. Pertama, lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada apa pun selain keduanya. Kedua, mencintai seseorang karena Allah, dan ketiga, tidak suka kembali ke dalam kekafiran seperti dia tidak suka dilemparkan ke api neraka.        

Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Mencintai Allah dan Rasul-Nya secara tulus, ikhlas, dan penuh totalitas menjadi syarat utama apabila seorang Muslim berharap manisnya iman. Kecintaan kepada keduanya harus melebihi kecintaan kepada apa pun dan siapa pun. Artinya, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus dijadikan sebagai tujuan puncak dan kehidupan seorang Muslim.

Mencintai Allah berarti kejujuran mengakui dengan hati, jiwa, pikiran, lisan, dan tingkah laku bahwa Allah-lah Tuhan yang menciptakan manusia dan kehidupan ini. Allah pula yang menciptakan langit, bumi, sungai, gunung, dan menurunkan air dari langit sehingga pepohonan tumbuh dan berbuah lebat. (QS An-Naml [27]: 60-61).

Seorang Muslim yang mencintai Allah sepenuh hati, ia hanya akan menggantungkan hidupnya kepada Allah semata. Ia tidak akan pernah menyekutukan-Nya. Allah menjadi titik tolak dan muara  akhir dari segala amal ibadahnya. Tiada detik terlewatkan dari kehidupannya tanpa Allah. Ia tidak akan mudah terpengaruh dengan godaan materi, karena ia yakin bahwa Allah Maha Kaya dan hidupnya sudah dijamin Allah. Seorang Muslim yang mencintai Allah akan senantiasa selamat dari tindakan destruktif manusia lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia.” (HR Ad-Dailami)

Lalu, kenapa kita harus mencintai Rasulullah? Alasannya, ia adalah pribadi agung dan sempurna. Sosok yang terjaga dari salah dan dosa. Suri teladan terbaik. Nabi akhir zaman yang mampu menyelamatkan umat manusia dari alam jahiliah ke alam bertabur cahaya Allah.  Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Mencintai Rasulullah memiliki derajat tertentu dalam keberimanan seorang Muslim. Bahkan kecintaan kepada Rasulullah menentukan apakah seorang Muslim itu beriman atau tidak. Rasulullah bersabda, Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.(HR Bukhari)

Bagaimana mewujudkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya? Tidak ada jalan untuk mewujudkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya kecuali totalitas dan kesungguhan kita melaksanakan semua perintah Allah dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah serta menjauhi apa yang menjadi larangan bagi keduanya. Selain itu, bagaimana kita berakhlak sebagaimana Rasulullah berakhlak mulia selama hidupnya.

Akhirnya, kita harus senantiasa berdoa agar kita mampu mencintai Allah secara kaffah sebagaimana diajarkan Rasulullah, “Allâhumma innî as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa kulla amalin yuqarribunî ila hubbika.” (Ya Allah aku minta cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu dan segala amalan yang mendekatkan diriku pada cinta-Mu).” (HR Tirmidzi)

Cinta karena Allah

Sifat kedua yang harus dimiliki adalah mencintai orang lain hanya karena Allah, bukan cinta hawa nafsu dan melanggar syariat. Seperti kecintaan seorang laki-laki kepada perempuan yang dimabuk asmara. Cinta karena Allah seperti dicontohkan kecintaan seseorang yang sedang berjihad di jalan Allah, tidak untuk tujuan duniawi. Juga, seperti kecintaan seseorang untuk beramal dan berjuang dalam lapangan pendidikan dengan tujuan semata mencari keridhaan Allah SWT.

Mencintai orang lain karena Allah artinya bahwa orang mencintai dan dicintai yakin bahwa pertemuan keduanya terjadi semata karena kehendak Allah. Mereka meniatkan cintanya itu semata sebagai proses ibadah kepada Allah bukan untuk mereguk keuntungan material apalagi hawa nafsu belaka.

Seseorang yang mencintai orang lain karena Allah senantiasa berharap bahwa proses percintaannya itu benar-benar berbuah sesuatu yang bermanfaat dan mendapat barokah dari Allah. Percintaannya itu dilakukan untuk menegakkan kalimat-kalimat Allah bukan justru meniadakan Allah. Karena itu, tidak ada istilah cinta palsu bagi seorang Muslim yang mencintai orang lain karena Allah. Dan percintaan itu tidaklah sia-sia dan semu karena bernilai pahala di sisi Allah SWT. Inilah sesungguhnya yang disebut cinta sejati itu.

Mencintai orang lain karena Allah menjadi barometer kesempurnaan keimanan seseorang. Semakin ia mencintai orang lain karena Allah, semakin sempurna pula iman dia kepada Allah. Karena itu, amatlah merugi seseorang yang mencintai orang lain bukan karena Allah. Selain karena Allah akan murka terhadap orang itu, juga perbuatannya tidak akan bernilai pahala dan menghasilkan apa-apa yang berguna bagi keduanya kecuali kesia-siaan.  Rasulullah saw., bersabda, “Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya.” (HR Hakim)  

Orang-orang yang mencintai orang lain karena Allah kelak akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Seperti sabda Rasulullah, Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR Muslim)

Menjauhi Kekafiran

Seorang Muslim yang berharap merasakan manisnya iman akan meninggalkan jauh-jauh segala perbuatan yang berpotensi menyebabkannya kembali terjebak pada lubang kekafiran. Di antara perbuatan yang menyesatkan adalah tidak lagi meyakini Allah sebagai Tuhan melainkan lebih percaya kepada hal-hal yang mistis, memberikan kewenangan menetapkan kepastian hukum dan pembuatan undang-undang kepada selain Allah, membenci perundang-undangan dan hukum Islam,  mencemooh sesuatu yang datangnya dari Al-Qur’an, mengejek sunnah yang suci dan mencibir syiar-syiar Islam, menuduh buruk pada Nabi Muhammad saw dan keluarganya, menyifati Allah dengan sesuatu yang tidak layak, dan banyak lagi perbuatan lainnya.

Di sinilah pentingnya sikap kehati-hatian dipegang teguh oleh setiap Muslim. Jangan sampai kita tidak paham atau terlena ketika melakukan suatu perbuatan padahal perbuatan itu sesungguhnya akan menggiring kita pada kekafiran. Untuk itu, sebelum melakukan satu perbuatan, seorang Muslim harus paham betul hakikat perbuatan itu, apakah bertentangan dengan syariat Allah atau tidak.

Kemampuan kita menjauhi kekafiran sesungguhnya ditentukan oleh kualitas keimanan kita kepada Allah. Kekafiran hanya akan menimpa orang Muslim yang keimanannya masih samar-samar. Sementara bagi orang Muslim yang kualitas imannya kuat, kekafiran pasti menjadi musuh nyata yang akan dilawan secara keras hingga ia keluar sebagai pemenangnya. Karena ia yakin bahwa Allah akan memberikan kekuatan dan kemenangan, sebagaimana ia yakin bahwa Allah sesantiasa melindunginya kapan dan di mana pun berada.

Orang Muslim yang berharap manisnya iman senantiasa menjauhi kekafiran. Karena dalam kekafiran itu api neraka dinyalakan. Dan sudah pasti orang-orang beriman tidak akan pernah berharap dan mau dilempar ke dalam api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu (QS Al-Baqarah [2]: 24). Panasnya berkali-kali lipat dari api yang kita lihat di dunia. Kalau tembaga saja bisa lumat dalam sekejab,  bagaimana tubuh manusia yang lempar ke dalam api neraka? Pasti luluh-lantah. Karena itu, jauhilah kekafiran niscaya kita dijauhkan dari siksa api neraka. Wallâhu a’lam bish-showâb.

Prenduan, 13 November 2011