Menjadi Ulul Albab dengan cara Mengenali Pondok dengan Hati

Acara tahunan yang selalu diadakan selama beberapa hari demi mengenalkan lebih dalam tentang almamater pada setiap santriwati terutama santriwati baru, berakhir pada hari ini, Senin (23/07/18) sekitar pukul 20.00 WIB. Acara tersebut resmi ditutup langsung oleh pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, MA. Tidak hanya dihadiri oleh warga TMI, namun penutupan resmi ini juga dihadiri oleh seluruh ustadzah dan santriwati Ma’had Tahfidz. Kali ini lagu wajib kepondokan dinyanyikan lebih baik dari saat pengenalan fungsionaris hari sabtu lalu (28/07/18). Hal tersebut mendapat sambutan baik dari pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien yang sempat kecewa karena adanya santriwati yang kurang menghayati lagu kepondokan tersebut.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan beberapa poin penting yang harus dimiliki oleh setiap santriwati Al-Amien. Diantaranya adalah menjadi seorang ulul albab, yaitu menjadi golongan orang-orang cerdas yang dapat menyalurkan apa yang ia dengar langsung ke hati. Tidak hanya di otak atau sekedar keluar dari salah satu telinga. Karena tidaklah sama orang yang hanya sekedar tahu (mendengar masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri) dengan orang yang benar-benar tahu hingga hatinya ikut juga memahami. Nah, diadakannya KUK ini agar orang yang awalnya hanya sekedar tahu menjadi lebih paham dengan semua seluk beluk Al-Amien. Seperti motto yang sudah dijunjung tinggi dari dulu yaitu, Al-Amien berdiri di atas semua golongan.

Oleh karena itu, diwajibkan para santriwati khususnya para santriwati baru untuk masuk ke dalam Al-Amien secara kaffah. “أدخلوا الى معهد الآمين كافة” sama halnya pesan yang disampaikan pada pembukaan tahun ajaran baru oleh K. Drs. Suyono Khatthab. Meskipun perkenalan semacam ini hanyalah bentuk formalitas, namun beliau sangat berharap bahwa kelak para santriwati tidak hilang di jalan dalam artian tidak mengenal apa dan bagaimana ia hidup di pondok ini.