Lima Hal yang Harus Dihindari

KH. Moh. Idris DjauhariDari Anas bin Malik r.a. berkata: setiap Rasululullah saw. selesai melakukan shalat jama’ah bersama kami, beliau selalu menghadap kami dan tidak sekalipun meninggalkan doa ini:

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ يُخْزِيْنِي، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ صَاحِبٍ يُؤْذِيْنِي، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ أَمَلٍ يُلْهِيْنِي، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ فَقْرٍ يُنْسِيْنِي، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ غِنًى يُطْغِيْنِي (رواه البزار)

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala “perbuatan yang menghinakan” aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “kawan yang menyakitkan” aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “angan-angan yang melalaikan” aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “kefakiran yang menyebabkan aku lupa”.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “kekayaan yang menjerumuskan” aku.”
(HR Al-Bazzar dalam kitab Mujma’ az-Zawaid Lil-Haitsami)

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita berdzikir dan berdoa kepada Allah swt. Ada kalanya disebutkan dalam bentuk dzikir dan doa yang diucapkan oleh para nabi, rasul dan sholihin terdahulu, ketika menghadapi situasi-situasi tertentu. Ada juga doa dan dzikir yang bersifat umum, kemudian dijelaskan oleh Rasulullah saw fadhilah doa tersebut. Demikian juga dalam hadits, banyak sekali disebutkan, bahwa Rasulullah saw seringkali mengajarkan kepada para sahabat r.a. doa dan dzikir untuk diamalkan pada situasi-situasi tertentu, atau untuk diamalkan secara umum, seperti doa yang disebutkan pada awal makalah ini.

Dalam hadits tersebut, ada lima hal yang seharusnya kita mohon kepada Allah swt. agar kita terhindar darinya. Tentu saja pada saat yang sama, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk selalu menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

1.      Perbuatan yang Menghinakan

Perbuatan yang menghinakan adalah perbuatan yang menyebabkan pelakunya “hina dan tercela” di mata Allah dan di mata manusia. Biasanya perbuatan ini disebut “fahisyah atau fawahisy” (perbuatan keji) yang tergolong “kaba-ir” (dosa-dosa besar).  Perbuatan ini selalu menimbulkan kerugian kepada orang lain serta meninggalkan dampak-dampak sosial yang sangat negatif dan berbahaya, seperti zina, minuman keras, main judi, bergunjing (ghibah), mencuri, merampok, dll. atau yang biasa kita kenal sekarang dengan prostitusi, pornografi, pornoaksi, pelecehan seksual, melakukan kebohongan publik (buhtan), korupsi, kolusi dan nepotisme, memprovokasi, black campaign  (fitnah), dll.

2.      Kawan yang Menyakitkan

Menyakitkan bisa saja terjadi secara fisik, seperti memukul, mencederai, atau mencuri hak milik kita. Tapi bisa juga menyangkut harga diri dan kehormatan diri kita, seperti berkhianat, menohok dari belakang, menyebarkan buhtan atau fitnah, dll.  Kalau semua itu dilakukan oleh “musuh” kita, tentu saja hal yang wajar, karena dia memang musuh kita, tapi kalau ini dilakukan oleh “kawan” yang selama ini menjadi patner kita dalam suka dan duka, menjadi mitra kita dalam berbagai usaha dan bidang kehidupan, tentu saja ini sangat menyakitkan.

3.      Angan-angan yang Melalaikan

Setiap manusia normal pasti memiliki keinginan, obsesi atau ambisi. Ini adalah wajar dan manusiawi. Tetapi begitu obsesi atau ambisi tersebut muncul dari dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali, maka ia akan menjadi masalah serius yang sangat berbahaya. Inilah boleh jadi yang dimaksud “melalaikan” dalam hadits ini. Sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seseorang atau kelompok memiliki ambisi yang tak terkendali untuk kaya, berkuasa, menang, atau untuk meraih dukungan massa, umpamanya, karena ambisi yang tidak terkendali, sampai-sampai dia menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya tersebut.

4.      Kemiskinan yang Menyebabkan Lupa

Kemiskinan yang menyebabkan lupa adalah kemiskinan yang menyebabkan kita “serba tergantung” kepada orang atau makhluk yang lain, baik dalam bidang ekonomi, keamanan, kesehatan, budaya, pendidikan, dll. Ketergantungan (interdipendensi) inilah yang sangat berbahaya dalam kehidupan pribadi atau kelompok. Bahkan ada ulama yang berpendapat bahwa ketergantungan kepada makhluk adalah “awal dari syirik”, karena seseorang yang sangat tergantung kepada makhluk, pada hakikatnnya dia telah menafikan—atau paling tidak menyekutukan—Sang Khaliq, Allah swt. yang Mahakaya dan Berkuasa. Na’udzu billah min dzalik.

.5.      Kekayaan yang Menjerumuskan

Pada hakikatnya, kekayaan—sama dengan kemiskinan—adalah salah satu bentuk “ujian” dari Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya. Kalau si pemilik kekayaan lulus dalam ujian ini, maka dengan kekayaannya tersebut, dia akan lebih dekat kepada Allah, Sang Pemberi Kekayaan. Tetapi, apabila tidak lulus, maka dengan kekayaannya tersebut, dia justru akan semakin jauh dari Allah. Hal yang terakhir ini terjadi, karena dua sebab. Pertama, bisa karena proses pengumpulannya memang menyimpang atau tidak sesuai dengan syara’, atau, kedua bisa juga karena sifat tama’ dan kikir yang berlebihan yang melekat dalam dirinya. Inilah barangkali yang dimaksudkan dengan “menjerumuskan’ dalam hadits ini. Padahal kelak di akhirat, orang yang memiliki   kekayaan akan ditanya oleh Allah, dari mana dan bagaimana dia memperoleh kekayaan tersebut dan untuk apa saja dia menafkahkannya.

Demikianlah lima hal yang seharusnya kita mohon kepada Allah agar tidak sampai menimpa diri kita, karena kelima hal tersebut sungguh sangat berbahaya dan membahayakan bagi kehidupan kita, baik secara pribadi, dalam keluarga ataupun dalam berbangsa dan bermasyarakat. Tetapi doa tersebut harus sesuai dan sejalan dengan usaha yang kita lakukan. Tidak boleh berseberangan apagi bertentangan. Bagaimana doa kita akan dikabulkan (ijabah), jika kita tidak berusaha sesuai dengan apa yang kita minta (istijabah)? Memang antara ijabah dan istijabah terdapat benang halus yang saling melengkapi. Mari kita renungkan kemudian amalkan.

Prenduan, 22 Pebruari 2009