Empat Pilar Agama dan Dunia

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

 عَنْ عَلِىّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ وَ الدُّنْيَا قَائِمَيْنِ مَادَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: مَادَامَ اْلأَغْنِيَاءُ لاَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا خُوِّلُوْا وَ مَادَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُوْنَ بِمَا عَلِمُوْا وَ مَادَامَ الْجُهَلاَءُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوْا وَ مَادَامَ الْفُقَرَاءُ لاَ يَبِيْعُوْنَ آخِرَتَهُمْ بِدٌنْيَاهُمْ

 Diriwayatkan dari Sayyidina Ali k.w. bahwa agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak selama ada empat perkara. Yaitu selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.

Saat ini, kita dihantui oleh bayangan keruntuhan agama dan dunia. Bayangan itu bukan lahir dari khayalan, melainkan dari deretan fakta hidup dan kehidupan yang kini banyak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat Allah. Fakta-fakta penyimpangan itu secara benderang bisa kita saksikan di mana-mana. Bahkan di dalam diri kita sendiri. Contoh kecil adalah betapa kita seringkali senang menimbun harta, padahal di dalam harta itu terdapat hak-hak orang miskin dan fakir yang wajib dipenuhi.

Menurut Sayyidina Ali k.w., agama dan dunia tidak akan runtuh selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia. Sebaliknya, keempat perkara itu menjadi indikator runtuhnya fondasi agama dan dunia, apabila tidak berjalan secara fungsional.

Tidak Kikir

Orang-orang kaya sejatinya menjadi pilar penyangga tegaknya agama dan dunia. Yaitu orang-orang kaya yang memiliki jiwa kedermawanan dan solidaritas sosial yang tinggi. Jiwa kedermawanan itu dibuktikan dengan sikap lapang dada untuk mau membantu meringankan beban ekonomi orang-orang fakir dan miskin. Sedangkan solidaritas sosial ditunjukkan dengan sikap simpati dan empati manakala menyaksikan orang yang sengaja “dianiaya” atau “terpinggirkan” dalam struktur sosial.

Realitas saat ini menunjukkan fakta berbeda. Banyak orang kaya yang bersikap egois dan sombong. Egoisme dan kesombongan itu bisa kita lihat dari keengganan mereka untuk mau membantu orang-orang tidak mampu dan berada di garis kemiskinan. Justru sebaliknya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menambah volume kekayaan yang mereka miliki. Dalam pikiran mereka, semakin kaya secara harta semakin tinggi pula derajatnya di mata masyarakat. Bangunan logika mereka berdiri kokoh di atas pondasi materialisme yang hanya “menuhankan” harta dan kekayaan.

Orang kaya yang kikir senantiasa berpikir bagaimana mengekploitasi semaksimal mungkin kekayaan yang terpendam di bumi dan di langit untuk kepentingan dirinya sendiri. Ironisnya lagi, mereka lupa bahwa harta kekayaan itu sebenarnya juga milik anak cucu mereka mendatang. Kalau setiap orang kaya bersikap seperti ini, jangan pernah berharap orang-orang miskin bisa terangkat kesejahteraan hidupnya. Dan jangan pernah berharap pula anak cucu mereka di masa mendatang bisa hidup sejahtera.

Sikap kikir orang-orang kaya inilah sesungguhnya biang keruntuhan agama dan dunia. Bagaimana mungkin para penganut agama bisa beribadah dengan baik dan khusyu’ sementara perut mereka lapar. Bagaimana dunia bisa dinikmati oleh banyak orang kalau masih ada segelintir orang yang mengekploitasi kekayaan yang terpendam di dalamnya untuk kepentingan dirinya sendiri. Memelihara sikap kikir sama halnya membiarkan ulat memakan batang kayu dari dalam. Kayu itu akan rapuh dan hancur, cepat ataupun lambat. Begitu juga agama dan dunia. Keduanya akan tinggal nama dan kenangan.

Sungguh, Allah tidak senang terhadap orang kaya yang kikir (bakhil). Sebagai balasannya, Allah akan menyiksa orang-orang kikir (bakhil) itu di hari kiamat kelak. Firman Allah SWT,

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Âli ’Imrôn: 180)

Konsisten dengan Ilmu

Ulama yang konsisten mengamalkan ilmunya termasuk salah satu faktor tegaknya agama dan dunia. Ulama yang konsisten senantiasa meniatkan seluruh amaliahnya, baik ritual keagamaan maupun aktivitas sosialnya, kepada tujuan primer “semata-mata ibadah kepada Allah.” Tidak ada tujuan lain.

Paraulama mengabdikan hidupnya untuk Allah semata. Sementara ilmu yang dimiliki, mereka manfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia. Bukan untuk mencelakakan manusia. Mereka berkeyakinan, semakin banyak ilmu yang diberikan kepada orang lain, semakin tajam ilmu yang dimiliki dan semakin besar pahala yang akan diraihnya.Paraulama meyakini bahwa ilmu akan senantiasa mengalir menjadi hikmah manakala ilmu itu secara istiqamah diamalkan.

Ulama sejati tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa yang diketahuinya. Menyembunyikan ilmu sama halnya dengan menghalangi seseorang untuk mengetahui Tuhannya dan dirinya. Sikap seperti ini tidak bisa dibenarkan bagi seorang ulama pewaris Nabi. Apalagi mereka termasuk hamba Allah yang paling takut kepada-Nya. Firman Allah SWT,

“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fâtir: 28).

Kalau kita cermati kondisi ulama saat ini, sungguh cukup memperihatinkan. Godaan harta, jabatan, dan wanita menjadi faktor dominan bagaimana ulama sekarang tidak lagi mampu memainkan perannya sebagai pewaris para Nabi. Jangankan konsisten mengamalkan ilmu, sebagian ulama kini hidupnya “tersandera” dengan jabatan-jabatan politik yang sangat kotor. Mereka seringkali lupa pulang ke “kampung halaman” untuk sekadar berdakwah menyeru umatnya kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kalau ulamanya seperti ini, kehancuran agama dan dunia tinggal menunggu hitungan waktu. Naûdzubillâh.

Tidak Sombong

Agama dan dunia senantiasa akan tegak manakala orang-orang bodoh tidak sombong terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Kesombongan inilah sumber utama yang menyebabkan orang-orang bodoh mudah terjerumus ke lubang nestapa. Orang bodoh yang sombong senantiasa akan bersikap “sok pintar” dan “sok menguasai masalah”. Kesombongan telah membawa orang-orang bodoh ke jurang egoisme yang tak berkesudahan.

Orang bodoh yang sombong tidak lagi mengenal etika sosial, apalagi kerendahan hati. Yang penting baginya adalah bagaimana bisa tampil gagah dan mengesankan. Sikap seperti ini sangat berbahaya, terutama apabila orang-orang bodoh yang sombong itu menyampaikan jawaban terkait masalah-masalah agama padahal dia tidak menguasai subtansi masalah itu. Jawaban yang diberikan pasti menyesatkan. Jawaban seperti sedikit banyak akan berakibat pada proses pendangkalan sikap keberagamaan kita. Orang-orang bodoh yang sombong itu seperti tong kosong nyaring bunyinya. Hanya penampilan fisiknya yang prima padahal hatinya hampa.

Bagaimana jadinya dunia ini kalau dipenuhi dengan orang bodoh yang sombong. Sudah dipastikan wajah dunia akan semrawut. Dunia akan menjadi sesak. Ibarat sampah, orang-orang bodoh yang sombong hanya akan menjadi beban bagi dunia. Walaupun memang sulit untuk melenyapkannya. Padahal sikap sombong termasuk sikap paling dibenci oleh Allah. Firman Allah SWT,

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al-Isrâ: 37).

Alangkah bijak kiranya, apabila orang-orang bodoh itu mengakui kebodohannya dan tidak sombong. Mengakui kekurangan dan ketidaktahuan terhadap satu persoalan adalah salah satu modal utama terciptanya suasana hidup beragama yang harmonis.

Tidak Menjual Akhirat dengan Dunia

Seringkali kita mendengar cerita orang miskin berpindah agama, hanya gara-gara uang. Cerita itu adalah sebuah ironi bagi penganut agama. Kenyataan ini menandakan betapa harta mampu menjadi panglima. Sangat disayangkan seorang beragama mengorbankan keyakinan dan akhiratnya dengan urusan dunia yang tidak kekal itu. Kalau begitu, betapa tidak berartinya akhirat, dan betapa bernilainya dunia. Satu logika terbalik, yang kini banyak merasuki pikiran orang-orang saat ini.

Memang, kefakiran menjadi salah sebab seseorang menjadi kafir. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi orang-orang fakir yang fondasi imannya kuat dan keyakinan agamanya kokoh. Biar pun langit bergoncang, orang fakir itu akan tetap kokoh dan taat kepada agamanya, serta tidak akan pernah berpindah ke agama lain. Bagi mereka, akhirat lebih abadi dan penuh kedamaian. Firman Allah SWT,

“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupn dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’lâ: 16-17)

Lalu, buat apa menukar akhirat dengan dunia yang penuh kepalsuan itu? Bisa jadi, motivasinya adalah untuk mengurangi beban hidup yang kian hari bertambah berat atau sebagai bentuk dari sikap tidak percaya dan penentangan terhadap nilai-nilai agama, seperti tidak mempercayai masalah-masalah ghoib, terutama yang berkaitan dengan akhirat.

Di sinilah pentingnya melakukan proses edukasi bagi orang-orang fakir tentang hakikat agama dan dunia. Agar mereka tidak tergiur dengan rayuan material dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya. Apalagi sampai menjual keyakinannya dengan cara pindah agama. Proses edukasi itu diarahkan juga pada pemahaman yang benar bahwa kehidupan akhirat lebih subtansial dan penting tinimbang kehidupan dunia yang fana ini

Demikianlah, empat pilar tegaknya agama dan dunia. Sekarang tinggal bagaimana kita memberi penyadaran. Bagaimana orang kaya tidak kikir, ulama bisa konsisten dengan ilmunya, orang bodoh tidak sombong, dan bagaimana orang fakir tidak mudah tergoda dengan urusan dunia. Kalau keempatnya mampu bersikap seperti itu, insya-Allah, tiang agama dan dunia akan terus tegak sampai hari kiamat nanti. Wallâhu a’lam bish-shawâb.