Category: Tausiyah Kiai

Jerat Hawa Nafsu dan Panjang Angan

KH. Moh. Idris Djauhari

Diriwayatkan dari Ali k.w. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya perkara yang paling saya takutkan terhadap kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun menuruti hawa nafsu dapat menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan artinya sama dengan mencintai dunia.”

(HR Ibnu Abi-d Dunya)

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Sebagian mereka kini terjangkiti virus menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Dua virus yang bisa membunuh kepribadian bangsa dan menyebabkan kondisi kehidupan bangsa terus terpuruk.

Mega skandal Bank Century yang menilap uang negara sebesar 6,7 triliun menjadi bukti konkret bagaimana virus hawa nafsu telah menutup mata para petinggi negara ini dari kebenaran. Apa pun alasan yang dikemukakan, terutama untuk menyelematkan ekonomi bangsa ini. Sebenarnya hanya sekadar untuk menutup-nutupi fakta yang sesungguhnya. Apalagi bukti-bukti faktual menyatakan adanya tindak merugikan negara dan rakyat dalam kebijakan penyelamatan bank ini. Tapi, kebenaran tetaplah nyata. Ia tidak bisa ditutup-tutupi dengan apa pun, termasuk oleh para petinggi negara. Read more →

Diam

KH. Moh. Idris Djauhari

“Diam itu adalah paling tingginya akhlak.” (HR ad-Dailami)

Lidah seseorang seringkali menjadi sumber bencana. Bencana ini lahir manakala lidah bergerak liar tak terkendali. Lidah tidak lagi memproduksi kata-kata yang santun dan toleran, melainkan umpatan, provokasi destruktif, kebohongan, kenistaan, dan lainnya yang berujung pada lahirnya sikap disharmoni dan penuh curiga. Ibarat harimau, lidah yang berada dalam kondisi “lapar” siap menerkam siapa saja, termasuk diri kita. Maka, lidah mesti dikendalikan dan diarahkan ke hal-hal yang positif.

Karena ulah lidah ini pula, banyak kaum muslimin yang terperangkap dalam jerat permusuhan, pertumpahan darah, pertikaian, dan bentuk kekerasan lainnya. Suatu sikap yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai agama Islam yang mencintai kedamaian, kesejukan, dan harmoni hidup.

Ada satu pilihan bijak, agar kita terhindar dari bencana yang bersumber dari bobroknya lidah, yaitu diam. Sikap diam adalah cermin kedalaman spiritual dan kebeningan hati seorang muslim. Seorang muslim yang bijak ia tidak akan pernah mengumbar kata-kata. Apalagi kata-kata itu menjurus kepada kenistaan dan kebencian. Ketika berhadapan dengan masalah yang pelik misalnya, seorang muslim yang bijak tidak akan pernah bersikap frontal dan kasar, ia akan mencerna dan memahami setiap detail masalah, lalu kemudian, ia bicara seperlunya sesuai konteks. Read more →