Category: Tausiyah Kiai

Hamba Terbaik, Hamba Terburuk

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

قَالَ رَسُولُ اللَّه ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :”خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ، وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ.”

(رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد)

Rasulullah saw. bersabda,

“Sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang membuat orang lain mengingat Allah saat melihat mereka. Dan seburuk-buruk hamba Allah adalah mereka yang berjalan ke sana ke mari menyebarkan fitnah, yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang berusaha mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang tidak bersalah.”

(HR Ahmad dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)

Berdasar hadits di atas, ada dua tipe seorang hamba di mata Allah SWT. Pertama, hamba terbaik yaitu mereka yang mampu membuat orang lain mengingat Allah ketika melihat mereka. Kedua, hamba terburuk yaitu mereka yang suka menyebarkan fitnah dan mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah. Selanjutnya →

Pengakuan Palsu

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

Imam Hatim al-Ashom r.a. berkata, “Barangsiapa mengaku cinta empat hal tampa empat hal, maka pengakuan (cinta)nya itu palsu. Yaitu, mengaku cinta Allah, tapi selalu melakukan larangan-larangan-Nya; mengaku cinta Rasul tapi ia membenci kaum fakir dan miskin; mengaku cinta surga tapi ia tidak jujur; mengaku takut api neraka tapi ia tidak berhenti berbuat dosa.” 

Hidup kita ini seringkali diwarnai dengan pengakuan palsu. Satu sikap yang bersumber dari ketidakjujuran dan kekeruhan hati kita. Pengakuan palsu yang kita ungkapkan biasanya hanya berupa kedok atau satu bentuk pelampiasan nafsu jahat kita dengan harapan memperoleh respon positif dari orang lain.

Pengakuan palsu itu—cepat atau lambat—sebenarnya akan menggerogoti hati hingga akhirnya hati itu menjadi keras dan mati. Hati tidak lagi mampu memproduksi cahaya kebenaran. Yang terjadi sebaliknya, hati menjadi sarang maksiat dan kebohongan. Lalu, apa yang diharapkan dari hati ketika ia sudah mati? Kematian hati berarti kematian diri kita. Sudah barang tentu kehidupan dunia tidak lagi memiliki makna. Diri kita tinggal jasad yang kehilangan “jiwa”. Selanjutnya →

Marhaban Ya Ramadhan

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

Rasulullah saw. bersabda:
Jibril telah datang kepadaku dan berkata:
“Hai Muhammad, barang siapa menjumpai bulan Ramadhan kemudian mati
tanpa mendapat ampunan Allah, maka ia akan masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya (dari hal tersebut). Katakan ‘Amin’ .” Maka aku pun berkata, “Amin”.
(HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Thabrani)

Subhanallah. Seorang mukmin pasti berdiri bulu kuduknya membaca hadits tadi. Perasaan ngeri, takut, khawatir bercampur aduk jadi satu dengan pertanyaan-pertanyaan berikut,  “Mengapa ancaman itu begitu dahsyat? Ada apa, ya? Apa rahasia yang terdapat di baliknya?” Boleh jadi, ini adalah cermin dari murka Allah yang luar biasa terhadap seorang muslim yang telah diberi-Nya kesempatan untuk memasuki bulan Ramadhan, dengan segala keutamaan, keistimewaan dan fadhilahnya  sebagai cermin dari kasih sayang-Nya yang tidak terbatas, tapi justru ia menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut, bahkan mungkin melakukan hal-hal yang kontra produktif, sehingga tidak memperoleh maghfirah dari Allah swt. Selanjutnya →

Sembilan Wasiat Rasulullah (Bagian Kedua)

Kalau pada edisi yang lalu, kita telah menguraikan Bagian I (Trilogi Pertama) dari Sembilan Wasiat Nabi SAW, yaitu agar kita bersikap “ikhlas” baik secara sembunyi–sembunyi atau terang-terangan, bersikap “adil” ketika marah atau ketika rela, dan bersikap “sederhana” dalam keadaan kaya atau miskin, maka dalam edisi kali ini akan kita lanjutan pada uraian selanjutnya, yaitu Bagian II (Trilogi Kedua) dari Sembilan Wasiat tersebut. yaitu :

1.   أن أعفو عمن ظلمني (agar mema’afkan orang yang mendholimi kita).

Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering kali didholimi (diperlakukan tidak adil atau tidak proporsional) oleh orang-orang lain di sekitar kita, baik langsung maupun tidak langsung, secara fisik atau non-fisik, material atau immaterial, oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya dari kita, seperti para pejabat, penguasa, bos atau orang kaya, atau oleh orang yang sederajat dengan kita, seperti teman sekantor, seprofesi atau teman seorganisasi dll, atau bahkan oleh orang yang lebih rendah kedudukannya dari kita, seperti anak kandung, anak buah. anak didik, dan lain-lainnya. Allah SWT lewat RasulNya SAW memerintahkan kita untuk memaafkan orang-orang tersebut. Selanjutnya →

Sembilan Wasiat Rasulullah (Bagian Pertama)

Dalam Kitab “Misykat al-Mashobih” lit-Tibriziy, Kitab “Al-‘Aqd al-Farid” lil Andalusy, Kitab “Al-Bayan wa at-Tabyin” lil Jaahidh, dan Kitab “Bahjah al-Majalis” li Ibni Abdil Bar disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Tuhanku telah berwasiat kepadaku dengan 9 perkara, dan aku wasiatkan kepada kalian (untuk melaksanakannya) : Tuhanku berwasiat (1). agar aku berlaku “ikhlas’ baik secara tersembunyi atau terang-terangan, (2). agar bersikap “adil” baik pada saat ridho atau marah (3) agar bersikap “sederhana” baik dalam keadaan kaya atau miskin (4) agar aku “memaafkan” orang yang dholim kepadaku, (5) agar aku “memberi” kepada orang yang mencekalku (6) agar aku “menyambung silaturrahim” dengan orang yang memutuskannya (7) agar aku menjadikan “diam”ku untuk berpikir (8) agar menjadikan “bicara”ku sebagai dzikir (9). dan agar menjadikan “pandangan” ku untuk mengambil i’tibar. (HR. Razin)

Sembilan Wasiat (Nine Commandments) yang disampaikan Allah kepada RasulNya dan beliau sampaikan kepada umatnya ini, sungguh merupakan pedoman dan tuntunan hidup kita dalam segala aspek kehidupan. Kalau kita mampu mengimplemetasi kannya dalam keseharian kita, sesuai kemampuan kita, insya Allah kita akan menjadi manusia yang “baik” di sisi Allah dan “terhormat” di mata makhluqNya. Kemudian mengingat terbatasnya ruang yang tersedia, dan mencermati kandungan isinya sekaligus untuk memudahkan ingatan, maka baiklah kita coba kelompokkan Sembilan Wasiat ini menjadi 3 (tiga) trilogi sebagai berikut : Selanjutnya →

Empat Pilar Agama dan Dunia

Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari

 عَنْ عَلِىّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ وَ الدُّنْيَا قَائِمَيْنِ مَادَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: مَادَامَ اْلأَغْنِيَاءُ لاَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا خُوِّلُوْا وَ مَادَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُوْنَ بِمَا عَلِمُوْا وَ مَادَامَ الْجُهَلاَءُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوْا وَ مَادَامَ الْفُقَرَاءُ لاَ يَبِيْعُوْنَ آخِرَتَهُمْ بِدٌنْيَاهُمْ

 Diriwayatkan dari Sayyidina Ali k.w. bahwa agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak selama ada empat perkara. Yaitu selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.

Saat ini, kita dihantui oleh bayangan keruntuhan agama dan dunia. Bayangan itu bukan lahir dari khayalan, melainkan dari deretan fakta hidup dan kehidupan yang kini banyak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat Allah. Fakta-fakta penyimpangan itu secara benderang bisa kita saksikan di mana-mana. Bahkan di dalam diri kita sendiri. Contoh kecil adalah betapa kita seringkali senang menimbun harta, padahal di dalam harta itu terdapat hak-hak orang miskin dan fakir yang wajib dipenuhi.

Menurut Sayyidina Ali k.w., agama dan dunia tidak akan runtuh selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia. Sebaliknya, keempat perkara itu menjadi indikator runtuhnya fondasi agama dan dunia, apabila tidak berjalan secara fungsional. Selanjutnya →

Jalan Menuju Kesuksesan

Manusia termasuk di antara makhluk Allah yang diciptakan berbeda-beda. Perbedaan ini adalah sebuah variasi hidup, dengannya manusia bisa berinteraksi dan saling kenal satu sama lain. Dari sudut perbedaan itu, manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok: perbedaan batiniah dan lahiriah. Kelompok batiniah tidak bisa kita ukur, karena hal ini berhubungan dengan tingkat keimanan yang bersifat kualitatif, sedangkan kelompok lahiriah sebaliknya.

Pembahasan ini akan difokuskan pada sisi manusia yang bersifat lahiriah, lebih khusus lagi masalah perbedaan tingkat intelektualitas. Dalam masalah perbedaan intelektualitas, manusia itu diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar. Pertama, kelompok orang-orang cerdas, pandai dan cerdik. Kedua, kelompok orang-orang kurang cerdas, kurang pandai atau kurang mampu menangkap ilmu-ilmu Allah dengan cepat. Selanjutnya →

Lima Hal yang Harus Dihindari

Dari Anas bin Malik r.a. berkata: setiap Rasululullah saw. selesai melakukan shalat jama’ah bersama kami, beliau selalu menghadap kami dan tidak sekalipun meninggalkan doa ini:

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ يُخْزِيْنِي، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ صَاحِبٍ يُؤْذِيْنِي، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ أَمَلٍ يُلْهِيْنِي، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ فَقْرٍ يُنْسِيْنِي، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ كُلِّ غِنًى يُطْغِيْنِي (رواه البزار)

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala “perbuatan yang menghinakan” aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “kawan yang menyakitkan” aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “angan-angan yang melalaikan” aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “kefakiran yang menyebabkan aku lupa”.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala “kekayaan yang menjerumuskan” aku.”
(HR Al-Bazzar dalam kitab Mujma’ az-Zawaid Lil-Haitsami)

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita berdzikir dan berdoa kepada Allah swt. Ada kalanya disebutkan dalam bentuk dzikir dan doa yang diucapkan oleh para nabi, rasul dan sholihin terdahulu, ketika menghadapi situasi-situasi tertentu. Ada juga doa dan dzikir yang bersifat umum, kemudian dijelaskan oleh Rasulullah saw fadhilah doa tersebut. Demikian juga dalam hadits, banyak sekali disebutkan, bahwa Rasulullah saw seringkali mengajarkan kepada para sahabat r.a. doa dan dzikir untuk diamalkan pada situasi-situasi tertentu, atau untuk diamalkan secara umum, seperti doa yang disebutkan pada awal makalah ini.

Dalam hadits tersebut, ada lima hal yang seharusnya kita mohon kepada Allah swt. agar kita terhindar darinya. Tentu saja pada saat yang sama, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk selalu menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

Selanjutnya →

Jerat Hawa Nafsu dan Panjang Angan

Diriwayatkan dari Ali k.w. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya perkara yang paling saya takutkan terhadap kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun menuruti hawa nafsu dapat menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan artinya sama dengan mencintai dunia.”

(HR Ibnu Abi-d Dunya)

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Sebagian mereka kini terjangkiti virus menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Dua virus yang bisa membunuh kepribadian bangsa dan menyebabkan kondisi kehidupan bangsa terus terpuruk.

Mega skandal Bank Century yang menilap uang negara sebesar 6,7 triliun menjadi bukti konkret bagaimana virus hawa nafsu telah menutup mata para petinggi negara ini dari kebenaran. Apa pun alasan yang dikemukakan, terutama untuk menyelematkan ekonomi bangsa ini. Sebenarnya hanya sekadar untuk menutup-nutupi fakta yang sesungguhnya. Apalagi bukti-bukti faktual menyatakan adanya tindak merugikan negara dan rakyat dalam kebijakan penyelamatan bank ini. Tapi, kebenaran tetaplah nyata. Ia tidak bisa ditutup-tutupi dengan apa pun, termasuk oleh para petinggi negara. Selanjutnya →

Diam

“Diam itu adalah paling tingginya akhlak.” (HR ad-Dailami)

 Lidah seseorang seringkali menjadi sumber bencana. Bencana ini lahir manakala lidah bergerak liar tak terkendali. Lidah tidak lagi memproduksi kata-kata yang santun dan toleran, melainkan umpatan, provokasi destruktif, kebohongan, kenistaan, dan lainnya yang berujung pada lahirnya sikap disharmoni dan penuh curiga. Ibarat harimau, lidah yang berada dalam kondisi “lapar” siap menerkam siapa saja, termasuk diri kita. Maka, lidah mesti dikendalikan dan diarahkan ke hal-hal yang positif.

Karena ulah lidah ini pula, banyak kaum muslimin yang terperangkap dalam jerat permusuhan, pertumpahan darah, pertikaian, dan bentuk kekerasan lainnya. Suatu sikap yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai agama Islam yang mencintai kedamaian, kesejukan, dan harmoni hidup.

Ada satu pilihan bijak, agar kita terhindar dari bencana yang bersumber dari bobroknya lidah, yaitu diam. Sikap diam adalah cermin kedalaman spiritual dan kebeningan hati seorang muslim. Seorang muslim yang bijak ia tidak akan pernah mengumbar kata-kata. Apalagi kata-kata itu menjurus kepada kenistaan dan kebencian. Ketika berhadapan dengan masalah yang pelik misalnya, seorang muslim yang bijak tidak akan pernah bersikap frontal dan kasar, ia akan mencerna dan memahami setiap detail masalah, lalu kemudian, ia bicara seperlunya sesuai konteks. Selanjutnya →