Karya Sastra
Bila Malam Itu Malaikat
Matahari baru saja tenggelam di antara deru nafasku yang tersenggal-senggal. Aku sengaja berlari meninggalkan kepekatan yang memburuku. Begitu juga teman-temanku yang ada dalam pasukan ini. Magrib ini kami harus menemukan tempat persinggahan untuk sekedar berbuka puasa dan ...
3 komentar, 07 Dec 2008 - dibaca : 281 kali
Tentang Penambak Garam dan Petani Tembakau
bilamana penambak garam itu mengeluh,
nyanyian sunyi batu-batu
rimbun memenuhi geladak-geladak pertambakan
berpadu pekat dengan keakraban matahari.
merapuhkan jari-jemari baling-baling raksasa
adalah mengenal keparkasaan mereka
membimbing angin pada air menyeberangi
tanah-tanah pedih
ke dalam asin lautan.
tak pernah pensiun
tak kenal ngungun.
madura adalah saksi sempurna
setiap tetes peluh mereka.
saat menjilati air laut
dan selalu mandi api-api matahari.
wahai, saksikanlah seorang tua itu;
menderes garam ...
4 komentar, 07 Dec 2008 - dibaca : 123 kali
Kepada Anak Garam
di petak-petak tanah per-tambak-an
warna putih menjadi sebendung salju
menjadi musim beku.
nafasmu yang nanar seperti mengembara di himalaya
yang penuh dengan udara lembut
menyimpan kesederhanaan.
dengan menghitung peluh mentari
yang jatuh di persenggamaan purba
dan semedi garam-garam,
barangkali kau mampu terlepas
dari cemas dan ketakutan.
siklus air
adalah nyanyian sunyi tak henti-henti
pada tanah berbau amis.
baling-baling berhenti perlahan
memecah angin laut
menjadi selaksa arah ...
5 komentar, 07 Dec 2008 - dibaca : 144 kali
Surat untuk Mama
ma, mama tak usah sedih bila esok aku tak kembali,
di ruang tamu telah aku bersihkan puntung rokok yang selalu mengotori meja,
agar mama tenang tiada melihat kenangan bila aku tak ada.
sebab sebelum ini, di ruang tamulah aku selalu berjam-jam memandangi wajah mama
sambil tidur di pangkuan mama menghayalkan sungai mengalir
pada putik kasihmu
aku ...
4 komentar, 07 Dec 2008 - dibaca : 256 kali
Sebuah Catatan tentang Senja
senjalah yang mengalirkan sungai kecil
di dadamu. sebuah perahu putih kautambatkan
di muara. inilah kendaraan terakhir buat kita hijrah
menjelajahi urat angin yang beranak-pinak
di keluasan kening para nelayan
anak-anak kecil tanpa beban
menyaksikan wajahnya ditikam ikan
pelangi masih setia mengisahkan betapa getir
burung-burung camar memintal-mintal ombak
dan mematuk-matuk paruh ikan. luka berdarah-darah
seperti ketika khidir menenggelamkan gugus mimpi anak-anak
aku ...
2 komentar, 07 Dec 2008 - dibaca : 132 kali

