Category: TMI

RTT Sebagai Wadah Refreshing dan Nambah Wawasan

Rihlah tarbawiyah tanazuhiyah (RTT) merupakan program santri kelas akhir di seluruh lembaga ponpes Al-Amien Prenduan.

Pelaksaan RTT ini dilandasi oleh tiga dasar pemikiran. Pertama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas terlaksananya seluruh program santri akhir menjelang wisuda.

Kedua sebagai wadah rekreasi ke berbagai tempat wisata yang dilaksanakan setelah menyelesaikan ujian Ebta.

Dan ketiga sebagai upaya menambah wawasan dengan melakukan studi ke berbagai lapangan pendidikan, sosial dan budaya yang berkembang di luar pondok.

Salah satunya adalah lembaga TMI.

Pada tahun ini TMI melakukan study tour ke 4 lembaga pendidikan antara lain: untuk putra ke Universitas Islam Malang, Almukmin Ngruki Solo, Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekolah Akademi Militer Magelang. Untuk putri ke Pondok Pesantren As-Salam Solo, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Aisyiyah Yogyakarta, dan Sanggar kelompok belajar Bantol Yogyakarta.

Untuk objek wisata antara lain: Masjid Cheng Hoo, Jatim Park I, Pantai Parang Tritis, Malioboro dan Candi Borobudur.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dari 10-12 April untuk putra, dan tanggal 11 April 13 April untuk putri.

JQH Lantik 31 Santri Penghafal Al-Qur’an

Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz (JQH) adalah Salah satu program unggulan Ma’had Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN Sumenep Madura.

Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz (JQH) adalah suatu program yang berfokus dalam mencetak Huffadz Al-Qur’an dan Qori-Qori’ah yang berkualitas. Yang nantinya selain disiapkan menjadi para pendidik (Mu’alliem) para santri juga diharapkan bisa menjadi Hafidh Al-Qur’an.

Pada tahun ini, sesuai dengan agenda Pondok menjelang akhir tahun pelajaran dilaksanakan acara Tasyakkur Hifdh Juz ‘Amma, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 Juz pada hari Sabtu (07/04) untuk TMI Putri di Geserna, dan TMI Putra hari Ahad (08/04) bertempat di Auditorium TMI Putra.

Para wisudawan pada tahun ini berjumlah 174 dan 135 untuk wisudawati. Sedangkan jumlah wisudawan dan wisudawati yang hafal 30 juz berjumlah 31 orang.

Alumni TMI Putri Berkarya

TMI – Dua alumni TMI Putri yang menjadi novelis hadir di tengah-tengah Seminar Menulis pada hari Jum’at kemaren (23/03/18). Mereka melaunching novel yang baru mereka tulis pada akhir tahun 2017.

Dalam kunjungannya ini, kedua alumni menyempatkan untuk melakukan bedah novel dan juga memberi motivasi khusus kepada para santriwati. Novel dengan judul ALI DAN AISYAH dengan nama pena Endang Kartini, dan PENDAR CAHAYA DI ATAS PRAHARA dalam pena Richa Muthahharah.

Dimulai dari ustadzah Endang Kartini. Dia menjelaskan apa yang tersurat dalam novel yang ia tulis hanya dalam jangka 1 ½ bulan ini, disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Lulusan TMI Putri tahun 2003 ini pernah menjadi ketua DPS. Dan ustadzah Richa Muthahharah sebagai Sekumnya.

 Ustadzah Richa Muthahharah bercerita, rupanya dia sudah mulai menulis sejak duduk di kelas syu’bah karena termotivasi dari seminar, dan majalah yang ada di pesantren. Ciri khas beliau dalam menulis adalah sesuai dengan cerita asli orang yang curhat kepadanya. Menurutnya, agar penokohannya kuat.

Salah satu cara lain yang dia terapkan untuk meningkatkan kualitas menulis yaitu dengan terus belajar serta mengambil pengalaman dari para penulis ternama seperti Asma Nadia, ustadz jamal dan yang lainnya.

“Saya memang belajar ke penulis yang lebih handal dan yang lebih dulu telah terjun dalam dunia novelis,” ungkapnya kepada wartawan Al-Amien Pos.

Ebta Nihaie, Ujian Formal Terakhir Bagi Santri kelas VI TMI

Ebta nihai pa Ebta NIhaieTMI-  Tidak ada kata kosong (faragh) bagi santri TMI kelas akhir. Karena faragh untuk anak seusia mereka, jika tidak diisi dengan kegiatan yang berkwalitas akan membawa pada kerusakan.

Setelah menyelesaikan program Khidwah Tarbawiyah selama 10 hari lamanya, keesokan harinya mereka langsung masuk ke masa-masa Ujian Ebta Nihai’e. Ujian Ebta ini resmi dimulai dari tanggal 14 Maret sampai tanggal 07 April 2018 mendatang.

Ujian ini memakan waktu 23 hari lamanya. Karena di samping terdiri dari ujian lisan dan ujian tulis, materinya juga mencakup semua pelajaran dari kelas I hingga kelas VI.

Sesuai dengan sunnah pondok yang sudah berjalan, sebelum mereka mengikuti ujian, mereka tidak lupa meminta maaf dan do’a kepada adik-adik mereka, santri kelas I sampai kelas V. Permintaan maaf dan doa ini diwakili oleh ketua shof masing-masing.

Yang jelas, ujian ini merupakan pertaruhan terakhir bagi mereka sebelum menjadi alumni. Karena nilai akhir mereka akan menjadi modal untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Menulis Bisa Membuat Panjang Umur

TMI- menulis-bisa-membuat-panjang-umur_m_59513Lebih dari 1.500 santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan mengikuti seminar literasi di Gedung Serbaguna (Geserna) Jumat (23/3). Panitia menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Redaktur Budaya Jawa Pos Radar Madura Lukman Hakim AG., Pemred Majalah Horison Jamal D. Rahman, dan budayawan Syaf Anton Wr.

Majelis Kiai PP Al-Amien Prenduan KH Moh. Zainullah Rois dalam sambutannya mengatakan, kreativitas menulis sangat penting. Seminar dengan tema Mencintai Sastra, Mencintai Kehidupan itu diharapkan bisa memotivasi para santri.

Dengan begitu, mereka mempunyai gairah atau semangat untuk menulis. Dia berpesan kepada santri dalam beproses agar tidak putus asa. ”Jika ingin panjang umur, salah satunya dengan menulis. Karena meskipun orangnya meninggal dunia, karyanya tetap bermanfaat,” katanya.

Jamal D. Rahman banyak mengupas seputar perkembangan sastra dan peradaban Islam. Banyak ilmuan Islam menuliskan ilmunya melalui karya sastra meski mereka tidak disebut sastrawan. ”Terutama syi’ir,” ucapnya.

Sementara Syaf Anton Wr. banyak bicara seputar perkembangan komunitas atau sanggar sastra. Kemudian dilanjutkan dengan materi proses kreatif dan cara menembus media massa oleh Lukman Hakim AG. Seminar itu juga dihadiri Direktur TMI Al-Amien Prenduan H A. Tijani Syadzili.

Pada kesempatan itu, dua novel karya alumni TMI putri diluncurkan sekaligus oleh Pembina Sanggar Sastra Al-Amien Moh. Hamzah Arsa. Yakni, Ali & Aisyah karya Endang Kartini serta Pendar Cahaya di Atas Prahara karya Richa Muthaharoh.

Khidmah Tarbawiyah, Bekal Santri Kelas Akhir TMI Al-Amien Prenduan Sebelum Terjun Ke Masyarakat

TMI- Khidmah Tarbawiyah merupakan satu di antara berbagai program kelas akhir TMI Al-Amien Prenduan. Program ini berupa praktek lapangan ke berbagai lembaga pendidikan diluar pondok.

Secara teoritis, mereka telah diajarkan materi tentang leadership, membership dan menejemen pendidikan. Seiring dengan itu, usaha pembentukan sikap mental (character building) juga telah dilakukan secara terus menerus selama 24 jam di dalam pondok.

Namun diakui bahwa metode yang paling ideal adalah yang paling sesuai dengan tempat dan kenyataan. Yaitu berupa pengalaman terjun langsung ke lapangan. Dalam kontek inilah kegiatan ini dilaksanakan.

Untuk tahun ini ada 36 lembaga pendidikan diluar pondok yang menjadi tempat praktikum mereka. Untuk Putra bertempat di wilayah Sumenep menempati 14 lembaga. Dan untuk putri bertempat di wilayah Sampang menempati 22 lembaga.

Praktikum ini akan berlangsung selama 10 hari mulai hari Ahad tanggal 4 Maret sampai hari Selasa 13 Maret 2018 mendatang.

Diproyeksikan dari praktikum ini dapat memberikan bekal-bekal praktis tentang pengelolaan dan menejemen pendidikan, juga yang tak kalah pentingnya, ingin menanamkan jiwa seorang pendidik sebelum mereka berkiprah dalam ajang yang sesungguhnya ditengah-tengah masyarakat.

 

Pengurus ISMI (Ikatan Santri TMI) Al-Amien Prenduan Menggelar Consulat Cup

TMI- Ada yang beda dengan kegiatan ISMI tahun ini. Jika tahun-tahun sebelumnya pertandingan sepak bola diadakan antar club dan angkatan, maka tahun ini, pengurus Organtri ISMI masa bakti 1439-1440 mempunyai inisiatif brillian, yaitu lomba antar daerah atau Consulat Cup.

Event ini mendapat sambutan yang meriah dari seluruh santri dan guru-guru, pasalnya, lomba ini diadakan pada momen yang tepat, setelah ujian Mid III.  Kemudian pesertanya juga dibolehkan dari kalangan guru.

Menurut jadwal, even ini akan berlangsung mulai tanggal 23 Februari sampai 5 Maret 2018, tapi karena sekarang lagi musim hujan, membuat pertandingan final mungkin akan diundur sampai hari Rabu tanggal 7 Maret.

Yang berlaga dalam perlombaan ini terdiri dari 9 klub konsulat. Antara lain Persebaya (terdiri dari daerah surabaya dan sekitarnya), Persija (Jakarta), Persepam (Pamekasan), Andalas Fc (Sumatra), Perseba (Bangkalan), Perssu (Sumenep), Persesa (Sampang), Arema Fc  (Malang) dan Glamour (Kepulauan, Sumenep III  dan Pragaan).

Kegiatan semacam ini diharapkan bisa menjadi media refreshing dan penyeimbang dari rutinitas kegiatan spiritual dan intelektual yang ada di pondok.

Alumni TMI Al-Amien Prenduan yang Kuliah di IDIA Sabet Best Speaker UADC 2018

best speaker idiaTMI- Seif Robert adalah salah satu dari alumni TMI asal Probolinggo yang melanjutkan studi S1 nya ke IDIA dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Bersama beberapa temannya yang lain, seperti Miftahurrahman dan Hakim, dia membina Bahasa Arab para santri dalam wadah Markazul Lughah, sebuah bagian di bawah Biro Pendidikan Yayasan Al-Amien Prenduan.

Pada bulan ini bersama Miftah dan Hakim, mewakili IDIA mereka ikut serta dalam Unisi Arabic Debating Championship (UADC) 2018 dengan tema “Pemikiran Pemuda untuk Cahaya Masa Depan” di Universitas Islam Indonesia, menghantarkan Seif Robert el Haq sebagai Best Speaker dari 88 peserta.

UADC merupakan salah satu lomba debat bahasa arab terbesar di Indonesia yang sudah menginjak tahun kedua. Dalam event kali ini, Kontingen IDIA telah mengikutinya dengan maksimal dengan raihan Best Speaker, meskipun secara tim belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Selain mendapat Best Speaker, Pendamping atas nama Ustadz Ihwan Amalih,  M.Fil.I dan Akh.  Muhammad Khairul Basyar, S.Pd termasuk 7 juri yang terpilih dari 30 juri, sebagai juri dalam acara final debat  antara tim Malaysia USIM dan Indonesia UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Karena dalam kompetisi debat UADC sistem debat beserta penilaian mengikuti model Qatar Debating, dimana setiap tim diharuskan memiliki pendamping yang akan menjadi juri bagi tim yang lain.

Pada tahun ini UADC bertempat di Gedung Auditorium Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kepindidikan (PPPPTK) Seni dan Budaya Yogyakarta, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 27 Februari – 2 Maret 2018. Diikuti oleh 88 peserta yang terbagi menjadi 22 tim dengan dukungan dari 36 juri. Para peserta datang dari Universitas Sains Islam Malaysia, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, IAIN Padangsidimpuan, Universitas Al Azhar Indonesia, IDIA Al Amin, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, STAI An-Nawawi Purworejo, Daarul Lughoh wa Da’wah dan IAIN Jember.

UADC 2018 memberikan apresiasi penghargaan kepada para debater yang mendapatkan juara 1 dengan tropi dan uang senilai Rp. 5.000.000,-, juara 2 dengan torpi dan Rp. 3.000.000, juara 3 Rp. 1.500.000,- serta kepada 10 Best Speaker.

Tarbiyah Iqtishadiyah dan Daurah Arobiyah Wal Fiqhiyyah, Bekal Santri Kelas Akhir TMI Terjun Ke Masyarakat

wirasawtaTMI- Tarbiyah Iqtishadiyah atau yang lebih dikenal dengan Pendidikan Kewiraswastaan di dauroh2TMI Al-Amien Prenduan merupakan program tahunan santri kelas akhir.

Acara ini diawali dengan pembekalan secara teoritis dari para pengusaha-pengusaha sukses yang salah satunya adalah Bapak H. A Nurawi Ketua Yayasan Cheng Hoo Indonesia. Selanjutnya melihat langsung ke kelapangan bagaimana usaha-usaha tersebut dijalankan. Acara ini berlangsung mulai tanggal 6 – 7 Februari 2018.

Beberapa hari setelah itu, akan dilaksanakan Daurah Arobiyah dan Fiqhiyah. Materi-materi yang diajarkan sangat aplikatif. Dalam Dauroh Fiqhiyyah diajarkan tentang cara merawat, memandikan, mewudhu’kan, mengkafani dan menguburkan jenazah. Juga tentang shalat safar, jama’ dan cara berwudhu’ yang benar.

Sedangkan Dauroh Arobiyah diisi dengan pembelajaran Bahasa Arab dari ringkasan Jadawilu an-Nahwi serta praktek I’rob dan Sharraf.

Acara ini akan berlangsung secara intensif selama 8 hari mulai hari Ahad (11/2) sampai hari senin (19/2) mendatang.

Menurut pengasuh TMI Al-Amien Prenduan KH. Moh. Zainullah Rois, Lc, dalam rapat konsolidasi bersama para musyrif nihaie mengatakan bahwa program-program tersebut merupakan keunggulan TMI, karena di dalamnya diajarkan tentang skill-skill yang akan banyak mereka temukan di tengah-tengah masyarakat.

FKN INGIN MENCETAK ALUMNI YANG MUTAFAQQIH FIDDIEN

TMI- Ada begitu banyak kelompok minat di lembaga TMI Al-Amien. Salah satunya adalah Kelompok FKN (Forum Kajian Tafaqquh Fiddin). Kelompok yang mengadakan kajian rutin pada setiap hari Ahad dan Kamis sore ini mempunyai anggota yang cukup banyak jumlahnya. Untuk di putri sekarang sudah mencapai 70 orang, sedangkan di putra hanya sekitar 15 orang.

Misi utama kelompok ini adalah ingin mencetak sosok alumni yang mutafaqqih fiddien. Karena itu kelompok ini melatih para anggotanya untuk selalu aktif dalam kajian-kajian keagamaan. Yang membedakan kelompok ini dengan kelompok lainnya adalah jika pada umumnya nara sumbernya berasal dari kawan-kawan mereka sendiri, maka pada kelompok ini pengajarnya terdiri dari para asatidz dan ustadzah, para kyai serta nyai. Hal ini dilakukan agar para anggotanya mendapat pengetahuan langsung dari orang-orang yang lebih berpengalaman.

Untuk lebih memantapkan niat serta meningkatkan semangat dalam kajian, penanggung jawab kelompok ini membuat aturan ketat bagi para anggotanya. Yaitu bagi siapa yang tidak hadir tanpa kabar selama tiga kali pertemuan berturut-turut, akan langsung di keluarkan dari kelompok ini. “Kita disini belajar bersama, jadi agar tidak ada yang main-main dan semua memantapkan niat untuk memperdalam agama khususnya ilmu Fiqih, terpaksa saya buat peraturan sedemikian rupa.” Tegas Anisah Khoifah Fudo, penanggung jawab FKN TMI putri Al-Amien. [Ah/Afm]