Category: Kabar Pondok

Yudisium Kenaikan Santri Kelas V TMI

Gembira bercampur haru. Demikian perasaan 192 santri dan 141 santriwati kelas V TMI setelah kemarin, Ahad (21/09) mereka dinyatakan lulus naik ke kelas VI dan diyudisium oleh Pengasuh Pondok, KH. Muhammad Idris Jauhari.

Dari total 192 orang santri, 188 dinyatakan naik dan 4 orang tidak naik. Sedangkan dari 141 santriwati, 140 dinyatakan naik dan 1 orang tidak naik ke kelas 6.

Proses penentuan kenaikan kelas sendiri dilakukan melalui serangkaian musyawarah yang melibatkan wali kelas, para guru, musyrif kegiatan Ramadhan, dan Majlis Pertimbangan Organisasi (MPO). Penentuan kenaikan didasarkan pada beberapa aspek, baik afektif, kognitif dan psikomotor selama mereka duduk di kelas V, terutama yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keorganisasian di organisasi santri, ISMI/ISTAMA.

Kami berharap inilah yang terbaik dari yang terbaik. Kami telah berusaha untuk seobjektif mungkin dalam menilai,” ungkap Ust. Abdul Warits, S.Pd.I selaku Mudir Ma’had TMI Putra usai acara yudisium di Geserna TMI Putri.

Santri kelas 5 sendiri setelah prosesi yudisium akan segera melakukan pergantian pengurus organtri ISMI/ISTAMA. Rencananya pada hari Senin (22/09) akan dilakukan pelantikan secara resmi susunan pengurus baru ISMI/ISTAMA. Selain itu, mereka juga harus segera merampungkan musyawarah rencana pembiayaan kegiatan kelas akhir sebelum nantinya berlibur pada tanggal 25 Ramadhan.

Gerindra Kunjungi Al-Amien

 

Al-Amien menjadi daya tarik tersendiri bagi partai politik. Apalagi menjelang Pemilu 2009. Tak heran, kalau banyak pengurus partai politik datang bersilaturrahmi ke pondok yang terkenal netral ini. Kali ini, pengurus Partai Gerindra yang datang silaturrahmi (19/08). Kedatangan pengurus partai yang baru lahir ini disambut oleh KH. Muhammad Idris Jauhari, selaku pimpinan pondok.

Dalam silaturrahmi itu, Suprayitno sebagai caleg dari partai Gerindra menyampaikan visi dan misi partainya yang berpihak pada nasib kaum petani. “Saya akan mengumpulkan seluruh kepala desa se-Indonesia. Saya akan mengajak mereka bertani dengan benar. Karena saya yakin, lewat pertanian inilah bangsa Indonesia akan maju,” papar Suprayitno. Selain itu, dia juga sangat mengharapkan teguran dan masukan dari pihak pesantren jika kelak sudah menjadi anggota dewan legislatif. “Kalau kelak kami ditakdirkan menjadi anggota dewan, kami sangat berterima kasih sekali jika Bapak Kiai inilah yang menjewer kami sebelum kami dijewer oleh Allah” tambahnya.

Saat itu pula ia menyerahkan beberapa eksemplar buku berjudul Nasionalisme Ekonomi yang ia tulis kepada pihak Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN. Lewat bukunya itu, ia mengharapkan agar semakin banyak orang yang sadar bahwa dengan mengembangkan sektor pertanian inilah bangsa Indonesia akan maju.

Pada kesempatan yang sama, KH. Muhammad Idris Jauhari mengajak fungsionaris Partai Gerindra untuk senantiasa memperbaiki niat dan komitmen, termasuk dalam ranah politik. “Apa pun tugas kita, yang paling utama adalah Niat. Komitmen. Kalau dia komitmen, dia akan memiliki niat yang tulus. Kalau dia tulus, insya-Allah, Allah akan membukakan jalan baginya. Tapi kalau ada seseorang terjun ke politik dan niatnya sudah macam-macam, ya dia tidak akan memberikan kontribusi apa-apa. Malah sangat mungkin akan menjadi bumerang bagi dirinya. Jadi yang paling penting adalah niat. Komitmen. Apa pun partainya, dari golongan apa pun dia datang. Niat adalah yang utama,” pesannya.

Kandepag Sumenep Silda ke Al-Amien

Silaturrahmi memperpanjang umur dan memperbanyak rizki, demikian sabda Nabi. Makna silaturrahmi inilah yang ingin diraih oleh Kepala Departemen Agama, Sumenep, beserta jajarannya ketika menggelar Silaturrahim Ramadhan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan (16/09).
Dalam kesempatan itu, H. Imron Rosyidi selaku Kakandepag menyampaikan harapannya agar silaturrahmi dan jaringan kerjasama antara Depag dan AL-AMIEN PRENDUAN semakian erat terjalin. Karena bagaimanapun pondok pesantren merupakan salah satu bidang garapan utama Depag. “Kenapa Depag harus bekerja sama dengan pondok pesantren seperti Al-Amien? Karena kerja-kerja Depag tidak jauh dengan pesantren. Akan selalu berhadapan dengan kiai. Dan yang dijadikan contoh adalah Al-Amien. Dengan demikian Depag harus selalu menjalin silaturrahmi dengan Al-Amien. Demikian pula dengan pondok-pondok yang lainnya,” tegasnya.
Dengan adanya silaturrahmi tersebut diharapkan tercipta sinergi kerja antara Depag dengan pondok pesantren. Sehingga nantinya akan muncul silang feedback baik dari pihak pesantren maupun Depag demi kemajuan kinerja masing-masing. Di pihak yang berbeda, pihak pondok mengharapkan informasi-informasi baru dari pihak Depag agar segera dapat disampaikan kepada pihak pondok sehingga dapat direspon dengan cepat.
Dalam pertemuan tersebut pula dibicarakan pula tentang informasi peluang-peluang yang mungkin bisa didapatkan oleh Al-Amien sebagai bentuk nyata dari kerja sama antara Al-Amien dengan Depag. Peluang tersebut bisa berbentuk beasiswa pendidikan bagi guru ataupun peluang yang berupa bantuan pengembangan dan perbaikan sarana. Selain itu juga dibicarakan tentang peluang yang berkenaan dengan perbaikan kebijakan-kebijakan sebelumnya yang harus segera diantisipasi oleh Al-Amien.
Di akhir pertemuan, Kakandepag mengharapkan agar Al-Amien dapat memberikan bantuan kepada pihak Depag untuk memberikan training kepada beberapa lembaga binaan Depag di sekitar Al-Amien berkenaan dengan sertifikasi dan dana BOS yang hingga saat ini seringkali terjadi manipulasi data.
Hadir bersama kepala Kandepag 10 orang staf yang terdiri kepala seksi serta beberapa pejabat teras Depag Sumenep. Dari pihak pondok sendiri selain pimpinan hadir pula KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I, Kepala Humas KH. Ja’far Shodiq serta Kepala Sekretariat Ust. H. Slamet Fiddien, S.Sos.I, mudir-mudir ma’had dan marhalah serta beberapa pengurus inti Yayasan AL-AMIEN PRENDUAN.

 

 

Siswa SMA 3 Pamekasan “Nyantri” di Al-Amien

Bagaimana kalau siswa SMA “nyantri” di sebuah pesantren? Pastilah mereka akan menjawab, ”Di sini,  ‘kesegaran spiritual’ didapatkan”. Setidaknya, pengalaman itu dirasakan oleh 180 orang siswa SMA 3 Pamekasan yang “nyantri” di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, selama 4 hari di bulan Ramadhan tahun ini (8-11/09).

Selama empat hari, para remaja ini, layaknya santri, mengikuti aktivitas Ramadhan di salah satu pondok terbesar di Madura ini dengan penuh antusiasme dan semangat, sejak sahur, tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan kegiatan lainnya. Selain aktivitas rutin Ramadhan, mereka juga mengikuti berbagai pengajian kitab, antara lain: pengajian kitab Riyadhus Sholihin bersama KH. Fauzi Rosul, Lc, pengajian Tafsier Al-Misbah oleh K.Drs. Suyono Khattab, serta dialog interaktif dengan Nyai. Hj. Zahratul Wardah, BA.

Kegiatan “nyantri” ini adalah rentetan acara pondok Ramadhan yang dilaksanakan SMA 3 Pamekasan secara rutin setiap tahun. Dan, selama tiga tahun terakhir, Pondok Pesantren Al-Amien terpilih sebagai tempat pelaksanaan kegiatan ini. “Kami pilih Al-Amien, karena pondok ini tidak saja sebagai lembaga pendidikan Islam semata, tapi juga sebuah pondok yang menerapkan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosisonal dan spiritual dalam proses pendidikannya,” ungkap Bapak Thohir, ketua rombongan SMA 3 Pamekasan saat menyampaikan sambutan pembukaan.

Pada kesempatan yang sama, KH. Idris Jauhari merespon positif dan menyambut hangat kedatangan siswa SMA 3 Pamekasan ini. ”Senang kembali mendapat kepercayaan ini. Kalian kami anggap sebagai santri sendiri. Terima apa adanya segala sesuatu di pondok ini,” harap pengasuh pondok.  

Ditemui terpisah, Nurul, siswi asal Sumenep mengaku senang bisa mengikuti Pondok Ramadhan di Pesantren Al-Amien Prenduan, ”Walaupun empat hari, saya merasakan pentingnya bisa hidup mandiri dan bisa beribadah puasa lebih khusyu’,” kesan siswi kelas III asal Sumenep.(MHA).

Santri TMI Raih Beasiswa 100 Juta

Wajah Darussalam terlihat sumringah. Senyum kecil menghiasi bibirnya. Hari itu, santri alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2007 mendapatkan durian runtuh yang tak pernah dinyana: beasiswa 100 juta diraihnya dari Universitas Paramadina, Jakarta. “Alhamdulillah, semuanya berkat doa orang tua, para kiai, dan guru-guru. Terima kasih yang tulus untuk mereka,” ungkapnya lirih saat ditemui di Jakarta (5/09).

Darus berhasil menyisihkan sekitar 1300-an peserta calon penerima beasiswa dari seluruh Indonesia. Setelah melalui tahapan seleksi yang super ketat, akhirnya, bersama 73 orang lainnya dia berhasil meraih prestasi itu. Menurutnya, nominal beasiswa terdiri dari dua kategori, yaitu 65 juta dan 100 juta.

Kategori pertama diberikan kepada mahasiswa yang berasal dari Jabodetabek, sementara yang kedua bagi mereka yang berasal dari luar Jabodetabek. Dan, Darussalam meraih kategori yang kedua. Beasiswa itu mencakup keseluruhan biaya pendidikan selama 4 tahun di Universitas Paramadina termasuk tunjangan buku dan biaya hidup selama di Jakarta. “Tiap bulan, saya dapat 1 juta untuk living cost,” jelasnya.

Di Paramadina, Darussalam mengambil jurusan manajemen. Pilihan ini didasari pada satu keyakinan bahwa kemampuan menguasai manajemen dengan baik akan sangat membantu dirinya mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pemimpin yang kapabel dan memiliki integritas yang tinggi. Dia aktif kuliah mulai tanggal 1 September 2008. Selama dua tahun pertama, dia tinggal di asrama yang disediakan pihak Paramadina. “Mudah-mudahan, bisa selesai dalam waktu 3.5 tahun,” harapnya.

Keberhasilan Darussalam meraih beasiswa ini, bukan dicapai dengan tangan kosong. Usahanya yang cukup gigih selama ini, terutama untuk bisa hidup mandiri dan prestasi akademik yang gemilang selama nyantri di TMI Al-Amien Prenduan, cukup ampuh sebagai bekal untuk itu, apalagi para calon adalah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan yang sangat kompetitif. Di pondok, Darus selalu meraih rangking satu. “Cara belajar seperti diterapkan di pondok, membuat saya paham bagaimana seharusnya belajar,” tukas pemuda kelahiran 1 Mei 1987 ini.

Putra pertama pasangan (alm) M. Hasan Ma’arif dan Khuzainah juga memiliki harapan lain, yaitu bagaimana bisa membiayai sekolah adik-adiknya, terutama selepas ayahnya wafat. “Mudah-mudahan saya bisa membantu keluarga, terutama adik-adik saya,” harapnya. Selamat dan sukses ya. (MHA).

Ramadhan in Campus

Gegap gempita menyambut datangnya Ramadhan dimulai tadi malam (31/08) di kompleks II Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kegiatan penyemarakan masjid dimulai dengan shalat tarawih bersama di Masjid Jami’ Al-Amien Prenduan. Seluruh santri dan guru dari 3 ma’had (TMI, MTA dan IDIA) melaksanakan shalat tarawih di masjid jami’ terbesar di Madura ini. Sedangkan Santriwati dan guru-guru putri melaksanakan shalat tarawih secara terpisah di Geserna TMI Putri. Shalat tarawih didahului dengan kuliah tujuh menit yang pada kesempatan pertama ini disampaikan oleh Ust. Moh. Said Amien. Bertindak sebagai imam KH. Abdullah Zaini, Lc.Q. Seusai shalat tarawih kegiatan dilanjutkan dengan tadarrus bersama seluruh santri dan guru hingga menjelang pukul 21.00. Perkecualiaan, beberapa santri anggota Jamiatul Qurra wal Huffadz yang tetap melanjutkan tadarrus hingga pukul 22.00.

Ketika menyampaikan kuliah subuh di hari pertama puasa, Pengasuh Pondok, KH. Muhammad Idris Jauhari, menerangkan tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi datangnya bulan Ramadhan. Selain itu, beliau juga menyampaikan rincian program yang akan dilaksanakan selama Ramadhan di pondok oleh seluruh santri dan guru yang mukim.

Dalam penjelasannya, Kiai Idris menyampaikan bahwa kegiatan sehari-hari santri selama Ramadhan in campus terbagi menjadi empat bagian. Pertama, kegiatan fajariah terdiri dari shalat tahajjud dan subuh, sahur dan kuliah subuh. Kedua, kegiatan shobahiah, terdiri dari masuk kelas dan pengisian SKKA (Syarat-syarat Kenaikan Kelas Akhir) bagi santri kelas V. Ketig, kegiatan nahariah berupa pengajian kitab kuning atau tadarrus fardli. Keempat, kegiatan lailiah, terdiri dari shalat tarawih dan tadarrus fardli. Di luar kegiatan-kegiatan wajib tersebut seluruh santri dibebaskan untuk membuat kegiatan pribagi namun dianjurkan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat terutama yang berkenaan dengan kegiatan ubudiah seperti memperbanyak tadarrus fardli maupun mengikuti kegiatan kursus-kursus yang diselenggarakan selama bulan Ramadhan. Beberapa kursus memang diselenggarakan selama bulan ramadhan ini seperti kursus qiroah, kursus membaca kitab kuning, kursus kaligrafi dan kursus cepat nahwu sharraf.

348 Santri TMI Diwisuda

Alfu mabruk. Demikian ungkapan yang cukup tepat bagi 348 santri kelas akhir TMI yang secara resmi diwisuda sebagai alumni TMI tahun 2008. Tahun ini, prosesi wisuda antara putra dan putri dipisah. Wisuda 180 santri putra dilakanakan pada 23 Agustus di depan Masjid Jami’ Al-Amien Prenduan, sementara wisuda 168 santri putri dilakukan sehari sebelumnya, 22 Agustus 2008 di Geserna TMI Putri. Pemisahan ini disebabkan karena TMI Putri sudah memiliki gedung yang cukup representatif untuk berbagai kegiatan termasuk wisuda, selain untuk mengindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat agama.

Berdasar data yang disampaikan oleh Ketua Program Nihai, Ust. Lukman Hakiem, Lc, seluruh santri kelas akhir TMI Putra yang berjumlah 180 dinyatakan lulus, dengan klasifikasi sebagai berikut: 1 orang lulus dengan predikat mumtaz (istimewa), 3 0rang dengan predikat jayyid jiddan (baik sekali), dengan predikat jayyid (baik) 21 orang, dengan predikat maqbul (cukup) 134 orang dan lulus dengan predikat dhoif (kurang) 21 orang. Demikian pula dengan santri kelas akhir putri, yang 168 orang seluruhnya juga dinyatakan lulus, dengan rincian sebagai berikut: 3 orang mumtaz, 36 orang jayyid jiddan, 38 orang jayyid, 88 orang maqbul, 3 orang dhoif. Berdasar data tersebut, tingkat kelulusan santri TMI Putri lebih baik dari santri TMI Putra.

Lulus dengan predikat Mumtaz diraih oleh Masruhin, santri kelas akhir asal Proppo Pamekasan. Sementara untuk putri diraih oleh Isnawati asal Giligenting, Alfiyah Syariatul asal Malang, dan Ummi Habibah asal Lenteng.

Dalam sambutannya, Masruhin sebagai wakil santri kelas akhir ia menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada majlis kiai, guru, orang tua dan teman-teman serta adik-adik kelas yang telah membantu mereka hingga dapat menyelesaikan pendidikan di TMI.

“Terima kasih kami haturkan kepada Bapak Kiai, Mudir Aam, Mudir Ma’had Putra, Mudir Marhalah Aliyah, dewan guru, Lajnah Nihaiyah, teman-teman Gesvanerous, adik-adik sekalian yang telah membimbing, menegur dan mengingatkan kami jika khilaf. Kepada ayah dan ibu kami sampaikan pula terima kasih tak terhingga atas segala pengorbanan yang telah diberikan untuk mendukung pendidikan kami di TMI. Tanpa itu semua kami tidak bisa berada di sini pada malam ini” ujar wisudawan teladan ini mewakili teman-temannya dalam sambutann wisuda.

Hal yang senada juga disampaikan oleh KH. Sofwan Ma’mun yang mewakili wali wisudawan. “Pada malam yang penuh bahagia ini, kami wali murid merasa senang sebab anak kami telah memperoleh ilmu yang sangat banyak di pesantren ini. Insya Allah anak kami didik selama 6 tahun di pondok pesantren ini telah menimba banyak ilmu pengetahuan. Kami merasa senang dan terima kasih bapak kiai dan dewan guru atas semua bimbingan yang telah diberikan kepada anak-anak kami. Namun begitu, kami juga merasa sedih. Karena dengan diwisudanya anak kami pada malam ini berarti tanggung jawab atas pendidikan anak kami yang sebelumnya sudah kami serahkan kepada pihak pesantren, pada malam ini akan diserahkan kembali pada kami.” demikian sambutan Kiai salah satu pondok pesantren di Bangkalan ini.

Selaku pimpinan dan pengasuh, KH. Muhammad Idris Jauhari menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan ke 33 TMI. Beliau juga berpesan agar seluruh wisudawan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip hidup yang telah diajarkan selama pendidikan di TMI. “Mulailah segala kegiatan dengan dzikir. karena i-allah kalau dimulai dengan dzikrullah maka kalian akan terhindar dari isme-isme yang merusak…seperti yang tadi telah disampaikan oleh kyai Sofwan tadi ternyata generasi muda yang kita persiapkan dengan dzikrullah ini menjadi sasaran utama dari syaitan-syaitan terkutuk. Inilah ke khawatiran kami. Ya Allah lindungi mereka dari al-jinnati dan al-khonnas yang senantiasa menggelitik dalam hati mereka. Lindungi mereka Ya Allah. Kami sudah berusaha mendekatkan mereka dengan pendidikan dzikrullah,” pesannya.

Sebagai penutup rangkaian acara wisuda ini, KH. Syarif Abadi menyampaikan pidato pelepasan. Beliau mengharapkan agar para alumni mampu terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk menjadi rahmatan bagi ummat. Rangkaian wisuda ditutup dengan doa yang di pimpin oleh KH. Moh. Khoiri Husni.

Dalam wisuda kali ini hadir pula Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Sumenep, Drs. Imron Rosyidi, MM. Dari unsur pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo diwakili oleh KH. Syarif Abadi.

Tasyakkur Perdana Hifdu Juz Amma JQH

Al-Qur’an itu mudah untuk dihafal. Itulah kalimat yang relevan untuk menggambarkan acara tasyakkur perdana hifdzu juz ‘amma yang diselenggarakan oleh Jami’atul Qurra’ wal Huffadz (JQH) TMI Putra Al-Amien Prenduan pada Minggu (21/08). Acara ini dihelat sebagai ungkapan rasa syukur para anggota yang telah selesai menghafal juz ‘amma. Sebanyak 63 orang anggota JQH yang diaktifkan kembali setahun yang lalu mengikuti acara tasyakkur bersama Majlis Kiai, guru-guru senior dan seluruh santri serta wali anggota JQH sendiri.

Menurut penanggung jawab program, Ust. H. Fahmi Fattah, Jam’iatul Qurro’ wal Huffadz sebenarnya merupakan gabungan dari Jamaah Tahfidz dan Jam’iatul Qurro. Di antara tujuannya adalah untuk memfasilitasi para santri yang punya minat di bidang qiroah dan hifdz Al-Qur’an. Tentang program JQH sendiri, KH. Moh. Khoiri Husni sebagai Mudir Aam TMI, menyatakan bahwa program ini sengaja diaktifkan kembali sebagai implementasi terhadap harapan agar para santri di TMI dapat mengembangkan kompetensinya di bidang qiroah. “Tekanan program JQH ini adalah pada membaca Al-Qur’an bukan pada hafalan seperti di MTA. Inilah yang membedakan antara JQH di TMI dengan MTA sendiri,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, KH. Muhammad Idris Jauhari selaku pengasuh, menyampaikan harapannya agar program ini dapat diikuti oleh lebih banyak lagi santri. Karena dengan menghafal Al-Qur’an diharapkan para santri dapat menjadi lebih dekat, lebih cinta, lebih meresapi pesan-pesan dan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an itu sendiri. Sehingga nantinya para santri dapat membentengi dirinya dari hal-hal yang dapat merusak akidah mereka. Beliau juga menyinggung tentang fenoma berkembangnya faham-faham sesat SIPILIS yang sengaja disebarkan oleh musuh-musuh Islam. “Dengan menghafalkan Al-Qur’an tersebut para santri diharapkan dapat terhindar dari penyakit SIPILIS,” tegasnya.

Santri MTA Kembali

Hari ini, (13/07) seluruh santri/wati MTA mengakhiri masa liburan akhir semester. Sejak kemarin beberapa santri telah kembali dan langsung melakukan proses pendaftaran ulang (heregistrasi). Seluruh santri diharuskan sudah kembali sebelum shalat Dzuhur. Mereka yang terlambat akan mendapatkan sangsi khusus.

Berdasarkan informasi dari sekretariat MTA, hingga saat ini 95 % santri MTA sudah kembali. Para guru pun telah kembali semua, hanya beberapa yang masih belum tiba karena satu dan lain hal. Tahun ajaran baru akan segera dibuka beberapa hari lagi. Normalisasi kegiatan akan segera dilakukan sejak nanti malam.

Wisuda XI IDIA Prenduan

Senyum gembira mengembang di bibir 119 mahasiswa/wi IDIA, setelah secara resmi mereka dikukuhkan sebagai wisudawan Angkatan XI IDIA Prenduan dalam Rapat Senat Terbuka di Geserna TMI Putri Al-Amien Prenduan (21/08). Secara rinci, 119 mahasisw/wi yang diwisuda saat itu terdiri atas: 36 orang dari fakultas Dakwah dengan program studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam, 55 orang dari Fakultas Tarbiyah yang terdiri atas 43 orang dari program studi Pendidikan Agama Islam dan 12 orang dari program studi Pendidikan Bahasa Arab, 28 orang dari Fakultas Ushuluddin yang terdiri atas 18 orang dari program studi Akidah Filsafat dan 10 orang dari program studi Tafsir Hadits.

Pimpinan Pondok, KH. Muhammad Idris Jauhari, dalam sambutannya, berpesan kepada seluruh wisudawan dan wisudawati untuk terus meningkatkan kualitas keilmuannya tanpa mengurangi kualitas pengabdian mereka pada nusa dan bangsa. “Saya harap, agar semua wisudawan dan wisudawati dapat melakukan indzarul qoum terutama dalam menghadapi serangan pemikiran yang sedang melanda ummat ini. Terutama melindungi ummat dari jangkitan penyakit SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme),” katanya.

Pada kesempatan berbeda, kepala BAAK IDIA Prenduan KH. Drs. Abushiri Sholahuddin menyampaikan bahwa seluruh wisudawan-wisudawati baik dari program Reguler, Intensif, Plus dan Forsika telah mengikuti seluruh program mahasiswa akhir yang berjumlah 10 program. Kesemua program tersebut dimulai sejak mereka memasuki semester genap pada awal tahun 2007. Prosesi wisuda juga ditandai dengan penyerahan 238 eksemplar buku, uang tunai sebesar 15.325.745 dan sebuah sepeda motor dari para wisudawan-wisudawati kepada pihak rektorat IDIA Prenduan baru.