Category: Catatan

Ramadhan dalam Imajinasi Nabi

Keagungan bulan Ramadhan seringkali digambarkan dengan imajinasi yang luar biasa. Saya begitu terpukau dengan imajinasi Nabi Muhammad melukiskan keunggulan bulan Ramadhan dalam banyak hadis. Imajinasi Nabi Muhammad terasa segar, kaya, dan hidup. Sebuah hadis mendeskripsikan suasana sorga pada awal bulan Ramadhan, lengkap dengan detail alam sorga, pakaian, makanan, tempat tidur, dan pasangan bermata jelita yang disediakan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Berikut hadis dimaksud (saya kutip dari kitab klasik di pesantren, Durrotunnashihin):

Pada awal Ramadhan, angin berembus dari bawah singgasana Tuhan, dan daun-daun pepohonan sorga pun bergoyang, hingga terdengar desir semilir teramat merdu. Tak pernah terdengar desir semilir semerdu itu. Menyaksikan hari pertama Ramadhan itu, orang-orang bermata jelita (baca: bidadari) berdoa, “Ya Allah, pada bulan Ramadhan ini jadikanlah salah seorang di antara hambamu sebagai pasangan hidupku.”

Maka, Allah pun mengawinkan orang yang berpuasa dengan salah seorang dari orang bermata jelita itu. Bagi setiap orang bermata jelita tersedia 70 perhiasan warna-warni dan dipan dari batu mulia warna merah berhiaskan mutiara. Disiapkan pula 70 kasur dan 70 aneka makanan. Semua itu khusus untuk orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan, tanpa memperhitungkan amal kebaikannya yang lain.

Imajinasi kreatif Nabi Muhammad itu sangat indah. Adalah menarik bahwa dalam banyak hadisnya, Nabi Muhammad menggambarkan keutamaan bulan Ramadhan dengan fiksi dan imajinasi kreatif yang memukau. Dalam imajinasi kreatifnya, Nabi Muhammad seringkali melibatkan alam dan malaikat. Hal itu segera memperlihatkan pertalian antara manusia, alam, malaikat, dan Tuhan sendiri. Maka keagungan bulan Ramadhan merupakan pertalian spiritual dan kosmis keempat wujud tersebut. Kadangkala fiksi dan imajinasi kreatif Nabi Muhammad lebih lengkap menyebut detail alam dan lingkungan ketuhanan. Hal tersebut tentu menambah nuansa dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan, misalnya hadis berikut ini:

Pada bulan Ramadhan, aras dan singgasana Tuhan berteriak, sementara malaikat berkata lirih, “Beruntunglah umat Muhammad SAW. Mereka dianugerahi kemuliaan. Matahari, bulan, bintang, burung di udara, ikan di air, dan semua makhluk ber-ruh di muka bumi –kecuali setan– berdoa memohonkan ampun untuk mereka, siang malam.”

Lalu Allah berkata kepada malaikat, “Persembahkan shalat dan tasbihmu di bulan Ramadhan pada umat Muhammad SAW.”

Dan, akhir Ramadhan adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dalam imajinasi Nabi Muhammad. Memang, selepas Ramadhan kita segera memasuki hari raya Idul Fitri. Namun Nabi Muhammad tidak melulu menggambarkannya sebagai hari kebahagiaan dan kemenangan, melainkan juga mengingatkan akan musibah yang teramat berat. Dengan datangnya hari kebahagiaan dan kemenangan itu berarti kita kehilangan sesuatu yang amat berharga. Bahkan, kata Nabi, kehilangan sesuatu yang amat berharga itu merupakan musibah. Inilah gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang akhir Ramadhan:

Di malam terakhir bulan Ramadhan, langit, bumi, dan malaikat pada menangis karena musibah yang menimpa umat Muhammad Saw.

“Musibah apa, ya Rasulallah?” tanya sahabat.

“Kepergian bulan Ramadhan.”

Gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang kepergian bulan Ramadhan sebagai musibah itu menggambarkan dengan baik betapa berharganya bulan Ramadhan. Bukan saja orang-orang saleh yang merasa kehilangan dengan kepergian bulan Ramadhan, melainkan juga langit, bumi, dan malaikat. Perasaan kehilangan langit, bumi, dan malaikat atas kepergian bulan Ramadhan tampak sedemikian dalam, sehingga digambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat bukan saja bersedih, melainkan semuanya pada menangis.

Seluruh keutamaan bulan Ramadhan sebenarnya dipersembahkan kepada manusia. Tetapi, secara imajinatif Nabi Muhammad menggambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat pun turut berduka dengan kepergian bulan Ramadhan. Itu berarti, langit, bumi, dan malaikat pun turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, meskipun seluruh keutamaannya tidak untuk mereka, melainkan untuk manusia. Dengan imajinasi tersebut, pesan hadis di atas jadi dalam: jika langit, bumi, dan malaikat saja turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan dan turut berduka dengan kepergiannya, alangkah malang manusia yang tidak berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan dan tidak pula berduka dengan kepergiannya.

Bagi saya, imajinasi kreatif Nabi Muhammad tersebut sungguh luar biasa: indah, hidup, memukau, dan pesannya jelas (dan hadis bagaimanapun bersifat didaktis). Apalagi kalau kita membayangkan bahwa imajinasi kreatif tersebut dikemukakan Nabi Muhammad sekitar abad ke-7 M. Bagaimanakah imajinasi kreatif Nabi Muhammad bisa sampai pada deskripsi menakjubkan seperti itu?

Sengaja di sini saya menekankan bahwa gambaran keagungan bulan Ramadhan oleh Nabi Muhammad sebagai fiksi dan imajinasi. Bukan maksud saya mengagungkan imajinasi lebih dari apa yang seharusnya. Sama sekali bukan maksud saya juga menafikan pengalaman spiritual sebagaimana berkembang terutama di dunia tasawuf, atau spekulasi intelektual seperti berkembang dalam tasawuf falsafi. Di sini imajinasi ditempatkan sebagai cara-pandang, perspektif, cara-memaknai sesuatu, sekaligus cara menyampaikan pesan.

Imajinasi adalah anugerah Tuhan yang, saya rasa, diberikan hanya dan hanya kepada manusia. Bersama rasio, imajinasi mendorong kehidupan dan kebudayaan manusia berkembang mencapai kemajuan demi kemajuan. Imajinasi membuka pintu kemungkinan yang paling jauh bahkan mustahil. Sementara, rasio menyiapkan jalan agar apa yang semula diimajinasikan sebagai mustahil kelak jadi mungkin dan nyata. Tidaklah aneh kalau Nabi Muhammad memiliki imajinasi yang demikian tinggi dan begitu kreatif. Tidaklah aneh juga kalau Nabi Muhammad berbicara dengan menggunakan imajinasi, sebab dia berbicara kepada umat yang juga mendapatkan anugerah imajinasi.

Dalam konteks ini, sebagai fiksi dan imajinasi kreatif, hadis-hadis tersebut di atas memiliki logika imajinasinya sendiri. Yang terpenting di antaranya adalah tidak berartinya kesesuaian apa yang dikemukakan dengan fakta yang dikemukakan.

Maka tidaklah terlalu penting apakah langit, bumi, dan malaikat benar-benar menangis di malam terakhir bulan Ramadhan. Yang penting adalah, apakah fiksi atau imajinasi bahwa langit, bumi, dan malaikat menangis di akhir bulan Ramadhan bermakna bagi kita. Begitu juga tidaklah penting apakah singgasana Tuhan benar-benar berteriak dan malaikat berkata bahwa umat Nabi Muhammad beruntung dengan datangnya bulan Ramadhan. Yang penting adalah, apakah keindahan kisah tersebut bermakna dan menggugah perasaan kita.

Demikian juga hadis tentang angin yang berhembus dari bawah singgasana Tuhan dan berdesir di sela daunan pohon sorga pada bulan Ramadhan: sejauhmana keindahan kisah itu menggetarkan hati kita; sejauhamana pula kita merasakan pesan spiritual melalui metafor-metafornya yang fantastis?

Kita wajib mengembangkan kekuatan imajinasi sebagai anugerah Tuhan. Dengan imajinasi yang tajam dan peka, kita akan memiliki peluang lain dalam menghayati Islam, sebab dalam banyak hal Islam diuraikan dengan imajinasi seperti antara lain tampak dari hadis-hadis di atas. Bahkan Tuhan pun berfirman dalam bahasa imajinasi. Dan Dia pasti tahu: berbicara dengan bahasa imajinasi hanya mungkin dilakukan kepada makhluknya yang telah dianugerahi imajinasi, yaitu manusia.

Saya membayangkan, di akhir Ramadhan ini Nabi Muhammad menangis duka bersama langit, bumi, dan malaikat. Juga bersama orang-orang bermata jelita di sorga. Mudah-mudahan kita berada di tengah-tengah mereka semua, bersama-sama melinangkan airmata duka. Jika tidak, saya rasa Nabi Muhammad menangis bukan karena kepergian bulan Ramadhan, tapi berduka karena kita tidak berduka …. ***

Jamal D. Rahman, alumni TMI Al-Amien Prenduan 1986. Kandidat doktor Universitas Indonesia.

Palestina: Krisis Tak Berujung

Isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya di bumi Palestina yang kian hari semakin menggurita seolah tak pernah menemukan titik temu penyelesaiannya. Pelbagai langkah damai Palestina versus Israel telah ditempuh, bahkan yang dimediasi oleh organisasi dunia pun selalu berakhir dengan kebuntuan, semisal PBB, G7, dan Liga Arab. Belum lepas dari persoalannya dengan Israel, Palestina mengalami kemandulan dan “borok” berkepanjangan dalam wilayah intern nasionalnya. Adalah Hamas vis a vis Fatah yang secara frontal saling melancarakan manuver permusuhan, walhasil fenomena keruh tersebut justru menambah suramnya masa depan Palestina di segala lini.

Hamas yang unggul sebagai kekuatan kelompok pembebasan Palestina, mengalami kemenangan dalam pemilihan partai politik pada Januari 2006 silam. Kemenangan Hamas di parlemen tersebut, sekaligus memaksa Fatah harus menelan pil pahit karena menjadi partai yang dinomor-duakan setelah sekian tahun menguasai kebijakan pemerintahan lebih-lebih pada masa Yasser Arafat (pemimpin PLO; 1969-2004) memimpin partai ini. Padahal jika ditilik dari konteks background kemunculan dua kubu tersebut, sama-sama memiliki tujuan penting guna membebaskan Palestina dari ancaman Israel; Hamas berjuang mempertahankan Jalur Gaza di  Palestina, yang sampai saat ini masih menjadi sengketa dan kerap menjadi sasaran empuk pendudukan Israel di wilayah tersebut. Sementara Fatah menguasai wilayah dhiffah (terbagi ke dalam beberapa daerah teritorial Palestina di bagian utara, tengah, dan selatan sejak tahun 1995) agar tidak tersentuh tank-tank Israel.

Tak pelak jika konflik terbuka Hamas vs Fatah berdampak negatif pada sikap nasionalisme Palestina, bukan usaha perlawanan Palestina terhadap Israel yang selama ini dikedepankan, malah sebaliknya Palestina dijadikan lahan perang kedua partai politik tersebut. Terbaginya wilayah Palestina menjadi dua (Jalur Gaza milik Hamas dan Dhiffah milik Fatah) merupakan indikasi semakin lemahnya Palestina di mata Israel, maka kemerdekaan Palestina dari ancaman Israel boleh jadi hanya sebatas mimpi di siang bolong!

Latar Belakang  

Semakin kronisnya derita yang dialami Palestina tidak pula lepas dari kepentingan politik, kekuasaan, dan ideologi yang dianut oleh masing-masing faksi. Hamas yang berasaskan islamis merupakan kepanjangan-tangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, menginginkan Palestina berdiri sebagai negara Islam. Sebaliknya, Fatah yang merupakan bagian dari PLO (Palestine Liberation Organisation atau Organisasi Pembebasan Palestina –adalah organisasi resmi yang diakui dunia) berniat mendirikan negara sekuler Palestina. Faktor ideologi inilah yang disebut-sebut sebagai sumber utama munculnya konflik antara kedua faksi.

Dari kacamata politik kepentingan dan kekuasaan, boleh jadi kelompok Hamas merasa dimarjinalkan tatkala Fatah –dengan PLO sebagai lembaga yang dikuasainya— menguasai kebijakan Palestina selama bertahun-tahun (1969-sampai sekarang). Pasca meninggalnya Yasser Arafat yang nota bene salah satu founding father kelompok Fatah, partai ini akhirnya kalah dalam pemilu 2006 dan secara mengejutkan Hamas mampu menduduki 76 kursi di parlemen dari 132, sementara Fatah cukup 43 kursi. Genap setahun pasca pemilu yang demokratis di Palestina, pada awal Februari 2007 Hamas terlibat konflik terbuka dengan Fatah, dan baku hantam antara dua belah pihak berlawanan pun berangsur-angsur menjadi pemandangan –untuk tidak mengatakan gaya hidup— biasa disaksikan di tanah Palestina.

Fatah ketika masa berkuasa –karena bermain cantik di bawah payung PLO—memang melakukan gaya politik double movement dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel, dalam arti lain; Fatah menginginkan kemerdekaan untuk Palestina dengan jalan kooperatif bersama Israel dan negara-negara pro-Israel sendiri, karena ada bias kepentingan ekonomi di balik itu demi keberlangsungan hidup bangsa Palestina. Tentu, niat agung tersebut sangat apresiatif di mata dunia internasional sehingga tak sedikit dari sejumlah negara yang memberikan donor bantuan kepada Palestina melalui PLO, sementara tubuh dalam organisasi tersebut didominasi oleh tokoh-tokoh Fatah yang pada gilirannya memberikan ruang bebas bagi Fatah sendiri untuk memanfaatkan kekuasaannya di PLO, sekaligus melanggengkan hak politik dan kekuasaan mereka di Palestina.

Sudah barang tentu, PLO di mata Hamas bukanlah kelompok yang murni membebaskan Palestina dari krangkeng Israel karena kebijakan Fatah amat dominan di dalamnya. Bisa ditebak pula bahwa Hamas sebagai rival partai politik Fatah menyimpan sikap skeptis yang bakal mengundang sinisme dan kecurigaan berlebihan terhadap kubu Fatah. dMemang sulit untuk dibuktikan secara faktual, akan tetapi, bukankah posisi Fatah di PLO amat menguntungkan kubu dan konstituennya? Sehingga masuk akal pula bilamana selama bertahun-tahun kebijakan Fatah cukup langgeng mengatur langkah Palestina. Di sisi lain, bukankah partai atau kelompok yang mendapatkan kenyamanan secara ekonomi cenderung mempertahankan kekuasaannya?

Saya melihat bahwa jawabannya adalah hasil pemilu demokratis yang digelar Palestina pada tanggal 25 Januari 2006 lalu, secara mengejutkan Hamas hadir sebagai pemenang sedangkan Fatah yang secara kekuatan politik dan ekonomi mapan, justru harus menerima kekalahan. Maka dari sinilah semua konflik itu berawal, ketika Hamas merasa dipecundangi Fatah –karena kemenangan partainya di parlemen menjadi satu indikator kecurangan Fatah selama berkuasa, sehingga mereka pun menuntut haknya: hak akan tanah kekuasaannya, dan Jalur Gaza resmi menjadi milik Hamas. Dus, situasi politik, stabilitas keamanan, dan ekonomi mikro-makro  negeri Palestina pun semakin semrawut.

Sebuah Otokritik

Jika Hamas menilai bahwa selama ini Fatah bermain curang, itu boleh jadi tidak seluruhnya benar dan tidak bisa digeneralisir, karena bagaimanapun Fatah yang berpayung pada PLO berhasil menempuh cara-cara damai maupun ekstrem guna mempertahankan tanah Palestina.

Dan Fakta saat ini berbicara lain, ketika Hamas menjadi kekuatan mayoritas di parlemen, pihak Fatah tidak puas dengan cara-cara politik yang ditempuh Hamas; tercium rumor bahwa keputusan politik yang diambil pemerintah rentan dipengaruhi pihak luar dan kental intervensi pihak asing. Keadaan inilah yang tidak bisa diterima kubu Fatah, karena hal itu menandakan bahwa keputusan Palestina tidak independen.

Persoalan njlimet yang dialami Palestina memang sangat luar biasa sulit, sangat kompleks dan butuh penanganan serius dari pelbagai pihak terutama dari dunia Arab. Tidak hanya di Palestina, bahkan Irak dengan problem antara Sunni-Syiahnya, Lebanon dengan permusuhan terhadap Israel, dan Iran dengan isu nuklirnya cukup dijadikan pelajaran bagi negara-negara Arab secara global. Ini menandakan betapa negara Arab –yang kental dengan ajaran keislamannya— rupanya masih lemah dalam menciptakan perdamaian di wilayahnya sendiri.

Pun demikian Konflik Hamas-Fatah pasca perundingan guna mencapai kata damai di Saudi Arabia pertengahan Februari 2007, sepatutnya sudah berakhir dan menjalankan ketentuan yang telah disepakati. Palestina secara nasional membutuhkan solidaritas dan kerjasama setiap element terutama dari kubu Hamas dan Fatah, agar pendirian negara Palestina secara utuh bisa tercapai. Akan tetapi sebaliknya, jika problem intern Palestina antara Hamas-Fatah masih berlanjut, lambat laun, ia akan berubah jadi bom waktu yang siap meluluhlantahkan cita-cita bersama rakyat Palestina. Rakyat Palestina tidak hanya sebagai bangsa yang tanpa negara, tapi lebih dari itu mereka akan kehilangan tanah kelahiran dan anak-cucunya, akibat perselisihan antar golongan yang masing-masing memiliki kepentingan politik dan korban dari perbedaan ideologi semata. Bila keadaan itu tetap dibiarkan, maka –lagi-lagi saya katakan— obsesi untuk membangun negara Palestina yang berdaulat hanya sebatas mimpi di siang bolong! Wal-lLahu A’lam Bi As-Showab

Cairo, 11 Juli 2007 M.

*Falahuddin Qudsi, alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2004. Saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir

Suatu Malam di Manhattan

Dengan langkah gontai Jason menyusuri Lavayette Avenue. Dari wajahnya tampak keputusasaan, terselit di antara semburat wajahnya yang sesekali meringis menahan rasa sakit. Dilihatnya lagi kertasa hasil pemeriksaan dokter, yang baginya adalah vonis hukuman mati bagi seorang narapidana. Tiba-tiba dari arah samping kirinya, sebuah Porchet kecil berhenti. Warnanya yang merah metalik sangat mencolok mata. “Excus me…hey..tunggu!!” panggil seorang pemuda dari dalam mobil. Jason pun berhenti sejenak.

“Anda tahu alamat ini?” tanpa turun dari mobil, pemuda itu menyodorkan sebuah kartu nama. Dibacanya kartu nama itu.”Hm…Bradley Warehouse? Oh ya…terus saja, kemudian jika anda melihat…” ”Bagaimana jika kau ikut saja bersama kami?” Potong pemuda penanya itu.

“Oh, tidak. Saya harus segera pulang, sebab…,” jason terpekik, sebelum sempat melanjutkan kata-katanya. Sebab pemuda berperawakan kekar tadi sudah menodongkan sebuah pistol kaliber 38.

“Masuk!!” kali ini nadanya tidak ramah lagi. Jason terpaksa menurut. Dia tahu hidupnya memang tak lama lagi. Tapi mati konyol tertembak sebagai korban penodongan bukanlah keinginannya. Apalagi di sekitar situ sepi sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi saksi sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi saksi peristiwa itu.

“Kalian mau apa?” tanyanya setelah berada di dalam mobil. Dia diapit di antara pengemudi dan si penodong tadi. “Ikut sajalah…nanti kau akan mengerti!” kali ini si sopir angkat bicara.

“Apa salahku?” Jason masih juga bertanya, walau pun jantungnya berdebar sangat kencang.

“Salahmu adalah…terlahir sebagai anak orang kaya. Sudah mengerti, kan?” Jason mulai berpikir, dirinya menjadi korban penculikan.

“Kalian ingin tebusan berapa?”

“Dengar Jason Stockwell…! Kami sudah lama mengincarmu. Jadi, kami tidak akan memasang harga sembarangan.” kata si penodong. Kali ini dia telah menyimpan kembali pistolnya. Namun Jason tak mau bertindak bodoh. Dua pemuda itu pasti dengan mudah dapat meremukkan tulang-tulangnya. “Tutup matamu!” kata pemuda penodong dengan kasar. Di tangannya ada dua helai kain hitam. Satu untuk menutup mata, satu lagi untuk menutup mulut Jason.

“Frank…kemana tujuan kita?” tanya si pengemudi.

“Kita keliling kota dulu, Ben. Setelah malam tiba, baru kita ke tempat tujuan,” ujar yang seorang lagi. Jason tidak dapat melihat apa-apa lagi. Matanya tertutup rapat, demikian juga mulutnya. Dia hanya bisa mendengar sayup-sayup suara-suara diluar mobil. Irama dan nada yang sudah tidak asing lagi baginya. Susana senja di Manhattan.

***

Jason tidak tahu lagi berapa kali mobil melalui tempat yang sama. Mereka masih di sekita Lavayette Avenue. Begitulah yang diperkirakan Jason dari irama-irama yang dia dengar berulang-ulang. Tak lama kemudian mobil itu berhenti. Suasana sekitar tampak sepi.

“Cepat…keluar…!” Frank setengah berbisik, Ben pun segera keluar, mengiringi langkah-langkah Frank sedemikian mungkin agar keadaan Jason tidak terlihat orang-orang di sekitar situ. Jason berjalan di antara mereka berdua. Frank dan Ben menggandengnya, namun tak lebih menyeret.

“Hmmmph…,” Jason ingin mengatakan sesuatu. Tapi sumpalan di mulutnya terlalu erat mengikat. Dua bandit itu tak mengacuhkannya. Betul-betul tidak berperasaan.

“Hmmmmmmpphhh…,” jason mencoba lagi. Bertepatan waktu itu ada seseorang yang sedang melalui tempat tersaebut. Frank segera melepas ikatan yang menutup mata dan mulut Jason, dengan ancaman agar dia tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang menyolok perhatian. Jason lagi-lagi menurut. Mereka bertiga masuk sebuah gedung tua yang di luarnya tampak kumuh. Jason belum menyaksikan bangunan seburuk itu di Manhattan. Namun kali ini dia justru akan memasukinya. “Cepat…menuju tangga…!!” perintah Frank.

“Please…jangan tangga! Apakah tidak ada lift saja” pinta Jason.

“Lift di gedung tua ini sering macet. Sudahlah…jangan banyak bicara!!” hardik Frank. Jason menurut saja, walau pun badannya sudah merasa lemah sekali. Dia juga ingat peasan dokter siang tadi bahwa harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Sebab bukan hanya penyakit ginjal saja yang diidapnya, tapi jug ajantung koroner, diabetes militus, dan animea yang sudah sanagt parah. Dia dulu sangat malas untuk pergi ke dokter, dan menahan saja segala keluhannya. Hingga pagi tadi ibunya memaksa dia untuk pergi ke dokter. Namun hingga sekarang belum ada yang mengetahui penyakit yang dideritanya.

“Lantai berapa?” tanya Jason takut-takut. Dia paling tidak suka dihardik.

“Dua puluh satu…” jawab Frank, semoga dia hanya bercanda, pikir Jason. Ternyata Frank tidak main-main. Mereka belum sampaijuga ke tempat tujuan. Jason tidak dapat melihat dengan jelas, karena di beberapa lantai yang mereka lalui tidak ada cahaya sama sekali. Kedua bandit itu seolah dapat melihat dalam gelap. Jason mulai terengah-engah. Dia tak kuat lagi, namun Ben dengan kasar menyeretnya. Kadangkala sia terjatuh lemas. Di hidungnya dia rasakan cairan hangat. Darah.

“Frank…dia…dia mimisan!” ben tampakkhawatir.

“Ah…biasa. Pergantian musim,” ujar Frank seenaknya.

‘Please…aku…aku mengidap banyak penyakit…aku..tidak boleh terlalu lelah begini…please…!!” Jason memohon. Suasana gedung itu benar-benar mencekam. Seolah-olah tak ada satu makhluk pun yang tinggal di sana.

“Ahhh..jangan cengeng! Masih tinggal sembilan lantai lagi…!” kata Frank. Mendengarnya saja Jason sudah pening. Pandangan matranya berkunang-kunang, perutnya mual. Dipaksanya untuk kembali melangkah, walau pun dengan sisa tenaga akhirnya. Sesekali Ben protes, tidk tega dengan perlakuan Frank yang begitu kasar. Satu persatu lantai gedung tersebut berhasi ditelusuri. Walau pun dalam kesunyian itu, desah nafas Jason terdengar jelas. Dia bagai orang yang kekurangan oksigen. Wajahnya terasa panas, seluruh inderanya tak lagi dapat berfungsi dengan baik. Mata berkunang-kunang, telinga berdengung, dan hidungnya terus mengucurkan darah segar. Ben terus protes, namun dia tak berdaya. Frank selalu menghardiknya.

“Nah…kita sudah sampai…” kata Frank tanpa beban. Baginya menyusuri dua puluh satu lantai bukan hal yang berat. Frank mengetuk pintu dengan kasar. Pintu pun terkuak sedikit. Jason didorongnya masuk. Rupanya Jason tak lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Dia limbung, terhuyung-huyung sempoyongan…lalau terjerembab jatuh. Terdengar pekik teriakan ribut. Lampu-lampu di ruangan itu serta merta menyala.

“Tidaaak…!! Jason…anakku…!” pekik Nyonya Stockwell histeris. Diguncang-guncangkannya tubuh Jason yang sudah tak bergerak lagi. Wanita itu berteriaklagi dengan histeris…”Sudah kukatakan…jangan ada pesta kejutan seperti ini…TIDAAAK…!!”

Sementara kawan-kawan Jason yang telah berkumpuldi situ hanya berdiri mematung. Di tangan mereka terdapat aneka ragam karton bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. Di dinding ruangan itu terdapat kain dekorasi ekstra besar bertuliskan “SURPRISE…!!”

“Siapa yang harus bertanggung jawaaab…siapaaaa..?!?!” Nyonya Stockwell semakin histeris demi dilihatnya Jason tak bergerak-gerak lagi. Dick, sahabat Jason yang merencanakan kejutan ulang tahun ini maju ke depan. Dia merasa sangat bersalah. Diperiksanya detak jantung Jason, lalu dia menggeleng pelan. Tidak ada harapan. Suasana ulangtahun yang seharusnya meriah penuh hura-hura itu berubah menjadi ratapan tangis yang memilukan. Dick memungut secarik kertas yang menyembul dari saku Jason. Menyendiri, dia membaca kertas yang ternyata hasil pemeriksaan dokter. Sementara Nyonya Stockwell sudah tak sadarkan diri. Putra semata wayangnya telah pergi, tepat di hari ulang tahunnya yang ke kedelapan belas, sebagai korban “keisengan”. Dick menggeleng kepala penuh penyesalan. Ratapnya sudah tak berguna lagi.

“Hey, Man! Mana sisa bayaran kami?” tanya Frank tanpa perasaan.

“Kurang ajar!! Tidak thukah kau apa yang sedang terjadi? Bisa jadi ini karena perbuatan kalian yang keterlaluan.

“Apa? Keterlaluan? Hey…lift yang mati itu bukan atas kehendak kami. Kalian yang ingin agar tiba tepat pukul sembilan malam. Bukankah lift di gedung ini tiap pukul delapan hingga pukul sepuluh selalu padam?” Frank membela diri, malah cenderung mengancam, “Jangan buat kami marah. Crusoe bersaudara tidak bisa disakiti…atau…hufh!” ujarnya sambil meniup ujung pistol. Beberapa gadis yang hadir di pesta itu menjerit ketakutan. Dick terdiam. Dia tidak mengira bahwa kawannya mengidap penyakit parah. Dia tidak mengira bahwa Crusoe bersaudara adalah bandit asli yang terbiasa dibayar untuk penculikan yang sebenarnya. Dia tak mengira bahwa kejutan yang direncanakannya, mengejutkannya sendiri.

Fera Andriyani Jakfar, alumni TMI Putri Al-Amien Prenduan. Menyelesaikan S1 di Universitas Cairo, Mesir.

Jika Tuhan Menyapa

Fera Andriyani Djakfar

Suara denting besi itu masih terdengar di sela-sela gemuruh hujan dan suara petir. Sementara waktu menunjukan pukul tiga dini hari, saat yang terlalu dini bagi siapapun di komplek itu untuk mulai menjalankan roda aktivitas. Hal membuat Pak Munir yang sedari tadi tidak mengindahkan suara tersebut mulai menyadari bahwa ada gelagat yang tidak beres. Perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju ruang tamu. Langkah-langkahnya dia tahan sepelan mungkin agar istrinya yang sedang demam tidak ikut terjaga.

Dinyalakannya lampu di ruang tamu yang perabotan dan pernak-perniknya masih tampak baru. Maklum, usaha tambak udang windu yang terbesar di beberapa kota sedang mengalami kemajuan pesat. Dengan semakin merangkak tinggi nilai tukar dolar terhadap rupiah, setinggi itu pula dia mendapat keuntungan. Sebab para importir pelanggannya tentu saja membayar dengan dolar. Pak Munir mengintip celah-celah tirai yang menutupi jendela kaca nakonya. Tampaklah pemandangan yang sangat mengerikan, mimpi buruk bagi setiap orang yang baru saja menggapai keberhasilan materi.

Di luar sana, di hadpan pagar besinya yang menjulang kokkoh setinggi dua setengah meter, tampak sekawanan pemuda berandalan sedang berusaha merusak gembok pagar dengan sebilak kapak. Mereka juga memebawa sebuah mobil pick-up yang biasa digunakan mengangkut barang. Rupanya denting kapak beradu dengan besi pagar itulah keributan yang sedari tadi dia dengar . tampak mereka sedang memapas habis ujung-ujung atas pagar yang berbentuk lancip dan tajam. Hal itu agar memudahkan mereka memanjat. Ternyata hujan deras tidak menghalangi mereka. Justru pancaran kilat yang mengantarkan suara petir memantu menerangi aksi brutal mereka, selain lampu mobil yang sinarnya tak terlalu kuat dikarenakan derunya yang agak tertaha.

“Pak…!!” sejenak Pak Munir terperanjat.

Ternyata istrinya telah berdiri tepat di belakangnya, dengan mimik khawatir dan cemas. “Ada apa, Pak?” tanya istrinya. Ada nada ketakutan di serak suaranya, bersaing dengan gemuruh hujan di luar sana.

“Bu…ada yang mau masuk rumah kita secara paksa…,” ajawab Pak Munir tanpa manatap istrinya. Matanya masih mengawasi poalh pera berandalan di luar rumahnya.

“Aduh…bagaimana ini…Pak…ayo bertindak! Pak…bangunkan Anto…!!” usul istrinya cukup bagus walaupun dibumbui kepanikan.

“Bu…masuklah ke kamar dan kunci pintu rapat-rapat. Saya akan…”

“Mau apa, Pak? Jangan nekat…sudahlah…telepon polisi saja…! Atau sekarang juga kita lari lewat pintu belakang sama-sama…” usul Bu Munir meski sebenarnya dalam keadaan demam itu dia tak mungkin dapat berlari menembus hujan. Hal itu juga telah dipikirkan Pak Munir.

“Pak…ada apa?” tanya Anto, putra mereka, yang ternyata terbangun juga. Tanpa menunggu jawaban ayahnya dia melongok ke jendela.

“Wah…gawat!! Ada yang berhasil melompati pagar…sekarang dia menghancurkan gembok dari dalam…”Anto memaparkan pengintaiannya.

Sebenarnya rumah Pak Munir dengan pagar tinggi yang berujung lancip seperti tombak itu cukup kokoh. Apalagi diperkuat dengan tiga buah gembok besar yang dipasang sekaligus. Jadi untuk masuk pagar secara paksa, siapapun jharus menghancurkan tiga gembok besar tersebut. Hal itu tentunya tidak mudah. Namun kali ini…

“Pak…hanya tinggal satu gembok lagi…” seru Anto yang juga mulai panik. Dia tentu tidak menyangka dan tidak mau liburan akhir tahunnya berisi kisah tragedi. Diraihnya pesawat telepon di ruang tamu itu . tapi tidak terdengar nada sambung sekalipun. Saluran telepon telah diputus.

“Sudahlah…begini saja. Anto, kau pergi melalui pagar belakang,lalu hubungu Pak Atmo. Usahakan cari bantuan ke tetangga-tetangga yang lain.”

“Lalu…Bapak dan Ibu bagaimana?” tanya Anto bingung. Dia tak sampai hati meninggalakan kedua orang tuanya di rumah yang akan dijarah itu. Tapi mengingat kondisi ibunya yang sedang lemah itu, semangat baru muncul kembali untukmencari bantuan. Segera ia pergi ke kamarnya untuk mengenakan jaket tebal dan meraih jas hujannya.

“Anto… hati-hati, Nak!” Pesan Bu Munir mengiringi kepergian Anto. Berbeda dengan Pak MunirYang hanya menepuk pundak puteeranya, isyarat bahwa saat itu hanya Antolah harapan satu-satunya, demi keselamatan seluruh harta dan terutama…nyawa.

Anto hanya mengangguk mantap, pernyataan yang lebih ekspresif dari kesanggupannya. Kemudian dia segera menyelinap melalui pintu belakang. Dia segera menuju kediaman Pak Atmo, sopir pribadi keluarga Pak Mmunir yang tinggal di sebuah ruamah kecil beberapa meterr jaraknya dari bagian belakang rumah keluarga Munir.

Sementara itu, gembok ke tiga telah berhasil pula dihancurkan oleh gerombolan perampok itu. Tak lama kemudian terdengar deru mobil memasuki pelataran rumah. Rupanya mobil milik gerombolan itu telah berhasil memasuki pekarangan.

Bu Munir tampak semakin pias, menahan rasa takut yang tidak terkira. Ini pengalaman pertamanya, yang dia harap menjadi pengalamn terakhir juga. Sebagai kepala keluarga Pak Munir lebih khawatir lagi. Dia ingat bahwa ia mempunyai dua tanggungan nyawa. Istrinya, serta Anto yang tadi disuruhnya mencari bantuan.

Para perampok itu semakin nekat. Kini pintu rumah yang jadi sasaran kapak mereka. Bunyoinya jauh lebih menggelegar, mencekem hatisiapa saja yang mendengarnya. Ritme ayunan kapak yang sangat tidak teratur itu semakin mengiris hati dan mengukir bayangan hantu kematian di pelupuk mata. Suara pecahan kaca pun semakin memperburuk suasana hatiyang dalam lemahnya masih mencoba menyusun harap meski tipis.

Untungnya dibalik setiap kaca jendela rumah Pak Munir terdapat palang-palang besi yang tersusun rapat. Hal itu ayng membuat berandalan itu memilih menghancurkan pintu kayu setelah beraadu dengan besidi luar pagar tadi.

“Dzikir, Bu…dzikir…” Pak Munir menenangkan istrinya sambil mendorong sebuah meja untuk menahan pintu.

Tiba-tiba ritme ayunan kapak semakin jarang, hanya satu dua ayunan lagi, kemudian sepi. Bapak dan Ibu Munir yang kini bersembunyi dengan pasrahnya di ruang tengah mengira pasti kawanan perampok iyu telah berhasil menjebol pintu sehiungga menghentikan pekerjaannya. Namun mereka juga meragukan dugaan itu karena jika benar mereka telah masuk, pastilah terdengar derit meja yang bergeser.

Seiring dengan redanya hujan, rupanya satu dua orang sudah mulai berangkat ke masjid. Jumlah itu kan semakin meningkat menjelang adzan shubuh. Hal itulah yang membuat berandalan itu menghentikan aksinya. Tanpoa tersa waktu telah menunjukan pukul empat pagi, adzan shubuh telah dekat. Pak Munir memberanikan diri mengintip dari ruang tengah. Sayup-sayup dia mendengarsuara orang menggerutu dan sesekali saling menyalahkan. Rupanya berandalan itu merasa aksinya telah gagal. Sebentar kemudian terdengar deru mobil di pekarangan, kemudian suaranya kian jauh.

Pak Munir menarik nafas lega.

“Ya Allah …apa salahku hingga Kau beri kami cobaan seperti ini?” bisiknya lirih.

“Pak…”, panggil istrinya lirih, “Bapak sudah bayar zakat mal, belum?”

“Astaghfirullah……lupa…!!!

Fera Andriyani Jakfar, alumni TMI Putri Al-Amien Prenduan. Menyelesaikan S1 di Universitas Cairo, Mesir.

Matikan TV-mu

Keselong 

Tuan-tuan. Suatu hari di kampung saya gempar. Anak-anak menghilang secara tiba-tiba. Tidak ada lagi yang berkeliaran di jalanan dengan teriakan-teriakan khas anak-anaknya. Tidak ada lagi yang berlarian di pematang sawah atau bersepeda di jalan-jalan kampung. Kampung jadi sepi dari rengekan mereka meminta uang pada ibunya atau ketika jatuh kesakitan. Semakin lama suasana pun semakin sepi akan suara dan hawa mereka, hanya suara orang tua mereka yang semakin panik dan riuh berdengung kerena anaknya hilang. Mereka kini berkumpul di rumah Pak Lurah.

“Tidak salah lagi, anak dikampung ini keselong!” Kata seorang tua yang berpakaian serba hitam di sepan rumah Pak Lurah. Ki Jenggot, begitu mereka menyebutnya. 

Tiba-tiba saja suasana menjadi semakin riuh seperti lebah yang bergerumun. Masyarakat semakin cemas akan anak-anaknya. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menemukan anak-anak mereka.

Tulisan di atas saya kutip dari sebuah cerita pendek yang sempat saya baca beberapa hari lalu. Cerpen ”Keselong” karya Yons Ababil itu saya dapatkan dari sebuah majalah tengah bulanan nasional. Tiba-tiba, ketika sampai pada batas ini, saya tersentak. Lho! Bukannya ini memang benar-benar sedang terjadi? Ya, sedang terjadi di waktu kita bernafas dan di tempat kita berpijak. Tidak salah lagi, di sini. Anak-anak kita sedang menghilang. Entah siapa yang membawa mereka dari sini, pangkuan kita. Juga entah, mereka keselong (disembunyikan makhluk halus) atau tidak, seperti dalam cerpen ini. Yang jelas penulis di sini telah mengingatkan kita akan satu hal ini.

Bukankah mereka masih ada. Masih bisa kita lihat mereka bermain sepak bola dekat lapangan Pak Kepala Desa? Mereka juga masih ramai bersepeda di jalanan ketika pagi menuju ke sekolah?

Jika itu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan berontak untuk segera keluar, maka jawabannya, tidak. Mereka memang masih bisa kita lihat dengan mata telanjang. Tapi coba rasakan, hawa mereka tidak lagi terasa. Hawa khas anak-anak ketika bergerak berloncatan ke sana kemari. Ketika berteriak meneriakkan keinginannya. Bisa dikatakan jiwa mereka yang telah hilang. Entah siapa yang telah mengambilnya diam-diam dari kita. Kemudian menukarnya dengan jiwa-jiwa misterius yang tidak pernah kita ketahui. Anak-anak bukan lagi anak-anak kita dulu. Mereka telah benar-benar berubah.

Ingat-ingat saja tentang berita yang muncul setiap pagi di rubrik berita kriminal, hampir setiap hari kita akan melihat, beberapa kasus kejahatan yang sudah sering dilakukan anak-anak. Sebut saja seperti mencuri, mengedarkan sekaligus memakai narkoba, bahkan sampai berani berpesta seks di kelas. Semua pekerjaan yang sebenarnya juga tidak pantas untuk dilakukan orang dewasa. Tidak hanya itu anak-anak sekarang adalah anak yang kecanduan dengan sesuatu bernama hiburan, juga segala sesuatu yang bersifat konsumtif. Meskipun tidak semua mengalami kejadian seperti itu, tapi ini patut untuk kita khawatirkan. Karena melihat begitu pesatnya virus ini menyebar, rasanya tidak akan lama lagi seluruh anak-anak di negeri ini akan menjadi korban.

Matikan TV-Mu

“Saudara-saudara, memang benar apa yang dikatakan Ki Jenggot. Anak-anak kita keselong. Tapi kita tidak akan pernah menemukan mereka di tempat-tempat yang kita cari sedari tadi. Tidak di pohon-pohon beringin atau batu-batu yang kita keramatkan. Makhluk-makhluk itu kini sudah mempunyai tempat baru yang lebih nyaman bagi mereka.” 

“Lalu dimana anak kami Wak?”

“Ayolah Wak tolong kami”

“Di mana anak kami Wak?”

“Ikuti saya ! “

Lalu seseorang yang biasa dipanggil Wak Haji Muksin itu masuk ke dalam rumah Pak Lurah. Sebagian masyarakat yang berada di luar ikut masuk menuruti keingintahuannya, sampai berdesak-desakan. Padahal masih banyak sekali orang lain yang masih berada di luar. Apa yang kira-kira akan dilakukan olehnya. Wak Haji Muksin lalu mendekati sebuah benda berwarna hitam berkaca dengan beberapa tombol di sisinya. Masyarakat yang melihatnya semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Di sinilah anak-anak kalian disembunyikan.” kata Wak Haji sambil mengangkat benda itu tinggi-tinggi.

“Lho, Wak Haji, bukankah itu televisi?”

“Siapa bilang ini gethuk”

“Jadi ada dimana sebenarnya mereka wak?”

“Ayolah wak buktikan kata-katamu.”

Lalu Wak Haji Muksin mengangkat lagi benda itu lebih tinggi dan membantingnya ke lantai. Pak Lurah mencoba menahannya, tapi sudah terlambat. Benda bernama televisi itu sudah hancur berkeping-keping. Kini semua memperhatikan pecahan televisi pak lurah di lantai tanpa ada suara.

Tiba-tiba muncul Ria dan Husein dari kepingan pecahan kaca televisi itu. Semua terperanjak. Bu Lurah dan suaminya, Pak Lurah, langsung memeluk kedua anaknya itu sambil menciumnya berkali-kali. Saluruh masyarakat yang mengetahuinya tersentak kaget.  

Sekali lagi saya tersentak, sebagaimana orang-orang di sana kaget kerena tidak pernah menyadarinya lebih dulu. Sekali lagi saya merasa kejadian pada kelanjutan cerpen tadi juga benar-benar terjadi di dunia kita. Ya, televisilah pelakunya. Penyebab dari kebingungan kita menemukan anak-anak kita yang telah ia bawa pelan-pelan dari rumah kita berkedok musuh dalam selimut. Televisi yang sengaja disediakan di rumah untuk membantu menyegarkan pikiran, sebagai media hiburan, menambah ilmu pengetahuan, fasilitas penambah pengetahuan tentang informasi dari seluruh dunia, ternyata malah menyembunyikan jiwa-jiwa original anak-anak kita. Lalu menukarnya dengan jiwa-jiwa bermental uang, baju bagus, kekuasaan, senang-senang tanpa memikirkan masa depan.

Maka segera matikannlah televisimu. Matikan segera sebelum ia kembali dan meracuni anak-anak kita dengan berbagai macam racun mematikannya. Yang dengan dosis tingginya bisa dengan segera merasuk ke dalam pikiran anak dan merubahnya menjadi makhluk lain. Padahal, seperti yang sudah kita ketahui, merekalah calon-calon kuat pengganti generasi-generasi tua yang tidak lama lagi akan semakin rapuh dan berhenti bernafas dimakan usia. Mereka harus benar-benar dipersiapkan untuk itu. Dalam hal ini, Seto Mulyadi (Komnas Perlindungan Anak), juga mengakui bahwa tayangan televisi berpengaruh terhadap pola perilaku anak-anak atau remaja.

Kalau masih belum percaya, coba saja ingat-ingat apa yang telah televisi sajikan kepada kita akhir-akhir ini. Tayangan berita-berita kriminal, yang semakin mengajari anak-anak kita untuk berani melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Atau sinetron-sinetron dengan tema tetap, tanpa perubahan di setiap sinetronnya. Hanya tentang cinta, harta, kekuasaan, kemudian tokoh antagonis melakukan segala cara untuk menang, hingga akhirnya begini, begini dan begitu. Seakan sudah bisa ditebak. Dan parahnya lagi, hanya sedikit saja perilaku yang berbau edukatif. Karakter negatif lebih sering muncul daripada karakter positif. Juga banyak ditemukan unsur kental seksualitas. Tercatat dalam sebuah penelitian, sikap berpakaian tidak senonoh 49 % dari 196 pemunculan, merayu 14 %, merangkul 11 %, menatap penuh hasrat terhasap lawan jenis 11 % (Republika, 30 Desember 2005). Tidak seperti yang orang tua harapkan pada sebuah televisi ketika membelinya. Sehingga tayangan yang lebih banyak mendominasi tayangan-tayangan televisi tersebut mengajak anak untuk meniru apa yang ada di dalamnya. Dari cara berpakaian, menggunakan uang jajan, budaya konsumtif, juga dalam menghadapi sebuah masalah atau menjatuhkan lawan dengan segala cara. Apalagi, seperti yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda, ada kira-kira 140 sinetron jiplakan yang beredar di Indonesia. Baik dari tema, cara bersikap, sampai alur cerita dan model tokohnya. Selain menunjukan bahwa itu adalah bukti kekurangkreativan SDM industri persinetronan kita, ini juga menyatakan bahwa kebanyakan unsur-unsur budaya yang menyebar lewat sinetron adalah bukan dari negeri sendiri. Melainkan budaya asing yang sangat jelas banyak berlawanan dengan budaya asli kita.

Juga reality show yang mulai menjamur akhir-akhir ini. Yang mengedepankan bagaimana mendapatkan uang dengan mudah tanpa harus berusaha keras. Hanya tinggal melakukan apa yang dikatakan oleh presenter. Jika bisa, maka dalam waktu sekejap uang yang cukup banyak bisa diperoleh. Memang itu akan membantu sang pemenang dalam kebutuhan hidupnya. Tapi, pelan-pelan sang pemirsa akan termakan doktrin bahwa mencari uang dan apa yang kita inginkan tidak perlu dengan bekerja keras, hanya cukup mempersiapkan diri mengikuti acara-acara semisal yang kini sudah bisa dijangkau dengan mudah di serbagai tempat, juga dengan berbagai media. Selain langsung, melewati HP misalnya, atau lewat E-mail. Menjadikan pemirsa yang terpancing untuk itu berhenti memprioritaskan bekerja keras untuk mencapai tujuan. Mematikan aktif mereka dan menghidupkan budaya pasif.

Televisi juga media yang cocok untuk menyebarkan virus pornografi dan pornoaksi yang semakin menebal saja di negara kita. Kita telah tahu sendiri bagaimana dampak keduanya bagi anak dan remaja-remaja kita.

Maka, kini kita semakin tahu akan bahaya yang mengancam. Segeralah matikan televisimu. Dan sebenarmya bukan hanya itu, masih ada film-film berbau klenik yang bertebaran di setiap stasiun televisi. Yang semakin menambah sosok aneh dalam dunia anak-anak. Juga ada tongkat-tongkat ibu peri yang bisa menolong siapa saja yang kesulitan. Tanpa berusaha lebih keras, hanya tinggal memanggilnya dan meminta tolong untuk mengerjakan ini dan itu. Maka ia mendapatkan segalanya.

Intinya, menonton televisi membuat kita menjadi pasif, juga anak-anak. Seorang penonton televisi hanya tinggal diam dan memikirkan, apa yang akan masuk ke pikiran hari ini? Sekali lagi matikan televisimu sekarang juga.

Kemudian, ada satu hal yang mengganjal di benak saya. Sebuah pertanyaan yang mungkin akan muncul pada setiap orang dewasa maupun anak-anak. Yaitu, bagaimana kita bisa hidup tanpa televisi? Bagaimana kita bisa langsung mamatikan televisi begitu saja? Benda yang menghiasi hari-hari kita di rumah. Hidup akan sangat tidak berwarna. Akan terasa tawar jam-jam yang kita lalui setiap harinya. Kita tidak akan bisa lagi menikmati acara-acara hiburan ketika lelah dan capek, tidak bisa lagi memenuhi otak kita dengan beragam informasi yang tersaji begitu rapi, kita hanya tinggal duduk dan bersiap menonton dan mendengarkannya dengan seksama. Saya juga seorang anak. Saya juga tahu rasa tentang bagaimana hidup tanpa televisi. Pasti akan sangat sulit sekali dan memberatkan. Saya tidak akan lagi bisa menonton acara-acara favorit saya yang menghiasi hari libur, tidak bisa lagi berdiskusi dengan teman-teman tentang film yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi tadi malam.

Tidak terasa memang, televisi telah begitu dekat dengan kita. Seakan-akan telah menjadi kebutuhan primer. Ya, kebutuhan pokok manusia ketika hidup. Sejajar dengan pakaian yang kita pakai, makanan dan tempat tinggal. Televisi telah menjadi bagian hidup kita yang tidak bisa kita tinggalkan begitu saja.

Kemudian Bagaimana?

Setelah beberapa minggu, penduduk kampung ini sudah bisa hidup normal tanpa televisi. Anak-anak kini sudah kembali mewarnai kehidupan kami. Mereka juga mulai rajin mengaji di musholla menjelang maghrib. Para orang-orang tua juga mulai meramaikan majlis-majlis taklim. Tidak ada lagi keributan yang berarti semenjak kejadian dulu.

Sekarang aku sedang berada di pasar melanjutkan usahaku sebagai penjual. Tiba-tiba  ada kabar yang menggemparkan seluruh pasar. Anak-anak di kecamatan menghilang tanpa jejak. Ah tidak! Ternyata bukan cuma di kecamatan, tapi juga di kabupaten, juga provinsi, bahkan seluruh negeri. Negeri ini menjadi sepi dari suara anak-anak. 

Akhirnya seluruh warga kampung aman dari suara-suara bising televisi. Tapi, kejadian hilangnya anak-anak ternyata malah meluas. Bukan hanya di kampung itu saja. Tapi ke daerah-daerah lain di seluruh pelosok negeri. Dan akhirnya, kabar bahwa anak-anak disekap di dalam televisi menyebar. Bisa dipastikan setelah itu, jika seluruh orang tua masih menginginkan anaknya, maka ia harus rela mengorbankan televisi yang sudah menjadi bagian hidupnya demi kehadiran anaknya kembali.

Mungkin di sinilah seharusnya saya, dan mungkin kita, tidak sependapat dengan si penulis cerpen. Biar bagaimanapun, televisi adalah bagian hidup kita. Dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu saja. Saya yakin, penciptaan televisi dilakukan untuk bisa diambil manfaat sebesar-besarnya darinya. Bukan dengan sengaja menghancurkan generasi yang nantinya akan menggantikannya. Jadi pasti ada masalah di dalam perantara antara penyelenggara penyiaran televisi dengan pemirsa televisi di rumah-rumah.

Banyak sekali yang berhubungan dengan sebuah kotak mungil berkaca bernama televisi ini. Yang biasa kita singkat dengan TV saja. Yang pertama yang tidak mungkin bisa lepas darinya adalah organisasi penyiaran itu sendiri. Karena merekalah yang memegang kendali jalannya TV.

Ini juga ada hubungannya dengan pemerintah, selaku wakil-wakil rakyat yang diutus untuk memberikan manfaat yang sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya, mereka harus memberi kebijakan yang jelas dan aplikasinya yang riil dan nyata di lapangan. Tentang mereka yang melanggar peraturan penyiaran, maka harus ada sanksi tersendiri. Dan jika ada sebuah stasiun televisi atau acara yang terbukti mengamalkannya dan berhasil untuk bermanfaat bagi penontonnya, maka penghargaanlah yang mereka peroleh. Dalam hal ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menampakkan dirinya. Mereka memperingatkan stasiun-stasiun televisi untuk tidak melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Dan Standar Program Siaran (P3SPS), jika masih saja belum di respon, maka jalur hukum akan ditempuh, dengan konsekuensi, izin tayang akan dicabut. Tapi ini tentu saja masih belum cukup.

Yang kedua, harus ada pengawasan terhadap anak-anak itu sendiri. Akan percuma saja jika anak tidak diawasi dalam kesehariannya. Pisau dapur yang sebenarnya digunakan untuk mengupas buah bisa saja digunakan untuk membunuh kucing tetangga, atau juga bisa adik kecil anak kita yang sedang tidur di dalam kamar. Begitu juga dengan televisi, ia memang bisa bermanfaat bagi kita, tapi jika tanpa pengawasan, sama saja bohong. Semua bisa saja melakukan apa-apa yang melenceng dari ketentuan sebenarnya, apalagi anak-anak yang kondisinya memang masih sangat mudah untuk menerima dan memasukkan apa saja dalam pikirannya untuk segera dilakukan.

Cara ini bisa dilakukan dengan mencari tahu, acara apa saja yang ditonton anak kita. Kalau sekiranya itu pantas dan bermanfaat baginya maka itulah yang terbaik baginya. Dan kalau jelas-jelas yang ditonton adalah tayangan kekerasan misalnya, atau acara-acara lain yang akan berakibat buruk baginya, segera saja alihkan perhatiannya ke hal lain. Tidak hanya itu, seorang ayah atau ibu hendaknya tidak bosan untuk memberi pengertian tentang apa yang pernah masuk dalam pikiran anak atau tentang apa yang dia tanyakan tentang kejanggalan-kejanggalan yang didapatinya. Juga lebih baik orang tua harus aktif menanyai si anak tentang apa yang di dapat anak sehari itu, bisa dilakukan malam hari sebelum tidur. Ditakutkan ada hal-hal yang dapat berdampak negatif jika kita tidak memberinya pengertian.

Sebenarnya segala sesuatu yang ada dunia ini seperti halnya dua mata pedang, pasti mempunyai manfaat dan kebalikannya, yatiu mudlarat. Semua. Nuklir saja, sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai bom yang bisa meledak dengan efek yang luar biasa. Pada dasarnya nuklir diciptakan untuk pembangkit listrik yang efisien. Kemudian tentang bagaimana efek negatif dan positif ini bisa terjadi adalah karena pemakainya. Dia berniat baik atau tidak. Atau jika si pemakai salah dalam menggunakannya, orang-orang di sekitarnya akan mengingatkan atau tidak.

Begitu juga dengan televisi, jika kita bisa mengambil manfaatnya dan menggunakannya seoptimal mungkin, maka akan sangat banyak sekali yang kita dapatkan. Jika seseorang pernah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia, maka menurut saya, ‘televisi adalah buku lain yang lebih besar yang berada di dinding yang lain pula’. Ya, adalah jendela yang lebih besar. Sebagai salah satu komponen globalisasi yang membuat besarnya jarak menjadi kian tak berarti. Kejadian di belahan bumi sana akan bisa seseorang ketahui di belahan bumi yang lain dalam waktu sekejap. Ya, salah satunya adalah melalui benda ini. Juga, media audio visual ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemirsanya. Maka akan sangat bermanfaat sekali jika menggunakannya untuk meningkatkan taraf pendidikan di Negara kita.

Dengan begitu, diharapkan akan muncul acara-acara televisi yang baik bagi pemirsanya, terutama anak-anak. Yaitu acara yang menyajikan kebaikan dan tentunya yang berdampak positif bagi anak-anak kita untuk menciptakan lingkungan yang baik pula.

Marilah kita mengambil manfaat sebesar-besarnya darinya. Saya berharap RUU APP akan segera disahkan, mekipun 30 % di antara kita menolaknya (Repubilka, 11 Maret 2005), juga pengawasan acara-acara yang akan tayang di televisi untuk segera kembali digalakkan, kekhawatiran orang tua terhadap perkembangan anaknya, terutama yang berhubungan dengan televisi, dengan mengurangi menyeleksi porsi menonton segera ditingkatkan. Juga yang paling penting, agar energi potensi positif televisi dapat segera kita nikmati bersama. Tentunya itu semua tidak bisa ditangani oleh hanya satu orang saja, tapi dengan uluran tangan kita semua. Akhirnya, ada satu harapan lagi yang ingin saya sampaikan pada mereka yang bertanggung jawab atas ini. Mengertilah, saya, juga seluruh anak-anak di negeri ini, kelak akan menjadi pelaku regenerasi pelaku negeri ini. Bukan hanya dalam pemerintahan, tapi dalam segala bidang. Juga yang paling penting adalah membentuk sejarah kebaikan untuk masa depan.

Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Matikan TV-mu. Ya, matikanlah televisimu untuk sementara ini. Lebih cepat lebih baik. Jangan biarkan ia menguasai waktu kita. Cukup sediakan sedikit saja waktu untuknya. Itu juga untuk acara-acara yang jelas-jelas bermanfaat. Terutama untuk anak-anak kita. Kita telah tahu, akan jadi apa mereka nanti.

* Luthfi Andi Z, alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2007, asal Lumajang. Kini, sedang menyelesaikan S-1nya di IDIA Prenduan.  

** Tulisan ini terpilih sebagai 20 Besar dalam Lomba Penulisan Esai Remaja Nasional oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Jakarta,  dan Unicef 2006.

Dosen Baruku

Etika Thartila

7 November 1992

Kurasakan kepalaku pening, sementara hidungku tek henti-hentinya mengeluarkan cairan. Pergantian cuaca yang terjadi sering membuatku terkena pilek. Biasa, aku memang retan sekali dengan penyakit musiman ini. Kebiasaan jelek.

Materi kuliah yang diberikan dosen baru di kampus juga turut membebani kepalaku. Tiga bab !! Alamak, apa yang harus kulakukan agar semua materi itu nyantol di kapalaku. Evaluasi dan evaluasi. Bagaimana mungkin aku dapat melaluinya dengan baik sementara penyakit lamaku kambuh kembali.

Di kota ini jarang ada yang menjual wedang Tape. Harus menyusuri sampai ke sudut-sudut sampai aku menemukan warung yang sering menjualnya. Ya, hanya dengan meminum wedang tape tiap pagi dan malam plus istirahat yang cukup, pilekku segera terobati. Payah.

Namun menyususri tepian kota dengan kantong kerng begini, apa bukan tindakan konyol namanmya. Apalagi buat pendatang baru seperti aku ini. Kecuali ada yang bersedia menjadi ‘guide’ dadakan dan tentu saja tanpa bayaran.

12 November 1992

Ecaluasi baru saja berlalu, yah kemaren selesai semuanya. Perasaanku plong dan lega walaupun tugas kuliah yang lain masih menunggu. Tapi setidaknya satu tugas telah selesai dan dapat kulalui dengan baik. Selamat.

Di, ada hal menarik yang harus kutulis dalam lembaran putihmu. Kemaren tanpa sengaja aku mendengar percakapan beberapa mahasiswa.

Dosen baruku yang kutahu sangat elegan dan memegang teguh keprofesionalannya itu terlibat skandal serius. Tentang apa…? akupun tak begitu mendengar dengan baik percakapan mereka. Tapi yang pasti aku tertarik untuk lebih mengetahui lebih jelas pribadi Bapak Drs. Handoko itu.

21 November 1992

Sayang Di, tak ada seorangpun dari teman-temanku yang memiliki informasi yang valid tentang Bapak Handoko itu.

Kuakui di dalam ruangan beliau tampak begitu mementingkan privasi. Tidak boleh ada yang membahas hal di luar materi. Cara mengajarnya cukup bagus tapi kalau ditanya mengenai pribadi -alamat rumah sekalipun- beliau tidak akan mengacuhkannya.

21 Desember 1992

Bapak Handoko memasuki ruang kuliahku dengan raut gelisah. Sesekali beliau mengelap wajah bersihnya yang tanpa jerawt itu dengan sapu tangan sutera.

Saou tang sutera !?! entahlah Di. Aku aneh dengan kelakuan Bapak Handoko. Terutama dengan cara dudukny yang kadang membuat risih sebagian mahasiswa.

Tidak seperti biasanya Bapak Handoko hanya memberikan penjelasan singkat mengenai materi yang seharusnya beliau secara terperinci. Setelah itu beliau izin keluar.

20 Desember 1992

Rektor memberitahukan bahwa Bapak Handoko tidak mengajar lagi. Karena alasan apa Bapak rektor tidak menjelaskannya. Yang jelas, Bapak Handoko juga tidak mengajar di universitas manapun. Berhenti total.

Tadi Silvi membisikkan sesuatu yang membuatku agak jengah.

“Sofie, apa kamu tidak merasa kalau ada yang janggal dengan kalakuan beliau selama ini..?”

Janggal? Memoriku langsung tertuju pada saapu tangan sutera berwarna biru itu. Tapi apakah ada hubungan antara sapu tangan itu dengan dinonaktifkannya Bapak Handoko.

Entahlah Di. Semakin aku memikirkannya semakin ruwet saja persoalannya.

1 Januari 1993

Tahun baru beserta lembaran keghdupan baru akan segera dimulai. Sengaja aku mengganti sampulmu yang kurasa agak lusuh dan tentu saja penggantinya adalah sampul kado motif bungan-bunga kecil yang manis agar sedap dipandang mata.

Sengaja aku memilihkan warna biru untuk mengganti sampul lamamu yang berwarna uangu pastel, karena biru adalah warna favorit Silvi teman seangkatanku yang menghadiahkan dirimu sewaktu aku berultah yang kesembilan belas.

Hujan yang turun agak deras membuatku menunggu di depan emperan toko. Kamu tahu Di, aku rentan flu. Oleh karena itu aku lebih memilih berlama-lama menungu sementara orang-orang tak peduli wlaupun air hujan menembus pakaian yang mereka kenakan.

Sementara aku memegang diktat, seseorang dengan pakaian agak necis memasuki toko. Kehadiran laki-laki berumur tiga puluhan itu agak menarik perhatian sebagian orang yang berlindung di bawah atap toko yang tergolong besar ini. Tak lama kemudian dia keluar sambil membawa payung yang tergulung rapat.

Tiba-tiba saja ia berdiri tepat di sampingku. Dia tersenyum sekilas sambil diulurkannya sebuah payung. Ternyata ia sengaja membelinya dua buah. Mulanya aku belum menyadari maskud baiknya. Aku menerima saja sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Tapi begitu aku mendapati sosoknya sudah lenyap, aku baru sadar mengapa ia bermaksud baik padaku. Orang itu mengenali aku sebagai salah seorang anak didiknya. Tapi terlambat aku begitu asik dengan pikiranku sendiri, sampai kehadirannya tak aku hiraukan.

3 Februari 1993

Kau tahu Di, hari ini kepalaku pening lagi. Bukan karena flu maupun penyakit lainnya. Tapi oleh sederetan angka dalam formulir yang disodorkan Silvi di kampus tadi.

Satu juta lima ratus ribu rupiah. Bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran anak pegawai negri sepertiku. Padahal jumlah itu sudah dipangkas sampai duapuluh lima persennya.

Untuk menelpon ayah dan ibu di rumah jelas tidak mungkin karena aku yakin mereka harus pontang-panting untuk mendapatkan nominal sebesar itu dalam waktu yang sangat singkat. Sementara mbak Wita juga butuh uang untuk program skripsinya.

Formulir itu begitu berharga bagiku. Kesempatan praktikum plus menjelajah ke pelosok pedesaan. Memperhatikan dari dekat teknik terasering untuk tanaman holtikultura, menghirup udara segar pegunungan dan tentunya memenuhi keinginanku untuk ikut pendakian yang baru kesampaian sekarang.

Tapi jumlah yang harus kubayar itu membuat kepalaku berdenyut-denyut. Ayah dan ibu tidak mungkin diharapkan bantuannya. Karena ada pertimbangan-pertimbangan penting yang harus selalu diperhatikan.

Pertama di minggu awal bulan ini (tepatnya kemaren) aku sudah meminta uang untuk biaya praktikum. Kedua, mbak Wita juga butuh biaya untuk pembuatan skripsi. Ketiga program ini bukanlah program wajib bagi setiap mahasiswa.

Jadi dengan pertimbangan-pertimbangan ini ayah dan ibu belum tentu akan mengabulkan permintaanku. Kecuali… tentu saja ada yang bermurah hati.

6 Februari 1993

Tidak sia-sia usahaku mencari informasi tentang perusahaan yang biasa memberi beasiswa. informasi mengenai perusahaan agro bisnis itu kudapat dari salah seorang rekanku di BDM.

Syaratnya gampang, segampang kriteria yang harus dimiliki oleh penerima beasiswa. Aku harus datang sendiri kekantor cabang perusahaan itu untuk menerima uang tunjangan secara langsung.

Kebetulan ada beberapa mahasiswa yang juga bermaksud sepertiku. Sehingga setidaknya aku tidak sendiri jika harus mendatangi kantor cabang perusahaan itu.

8 Februari 1993

Alhamdulillah Di, aku termasuk dari sepuluh orang yang menerima beasiswa tersebut. Jumlahnya, insya Allah cukup bahkan berlebihan. Yang penting hari ini kau tak henti-hentinya bersyukur. Akupun berencana akan mentransfer sisa uangku ke rekening yang menyalurkan dana bagi orang cacat.

Eh, Di. kabarnya perusahaan itu selalu memberikan beasiswa tiap tahun bagi pelajar di beberapa universitas tertentu. Oleh karena itu, mereka juga rajin mencari informasi tentang universitas yang betul-betul sesuai dengan kriteria. Dan kebetulan universitasku adalah salah satu contohnya.

10 Februari 1993

Lelaki berjas hitam dengan rambut tersisir rapi itu baru keluar dari BMW-nya. Sejurus kemudian ia merapikan jasnya sebelum akhirnya melangkah memasuki gedung dengan wajah cerahnya.

“Cool man…” pekik Silvi jika ia menyaksikan ‘gaya’ Pak Handoko atau Edi (Edi adalah panggilan akrab Pak Handoko) di pelataran kampus.

Aku benar-benar tidak menduga akan kembali bertemu dengan beliau di tempat ini. Awalnya aku kira salah lihat, tapi setelah kuperhatikan orang yang baru saja keluar dari BMW abu-abu itu memang dia.

Sewaktu pemberian beasiswa, aku sempat bertanya-tanya tentang pekerjaan belaiu kepada petugas, tapi petugasnya malah memperlihatkan raut wajah tak suka. Aku heran sekali Di, tapi aku tak mau mengorek lebih jauh. Raut tersinggung itu cukup mengisyaratkan bahwa aku tidak boleh lebih banyak bertanya.

15 Februari 1993

Hari ini aku, Silvi dan seluruh rekan mahasiswa dikejutkan dengan kedatangan Bapak Handoko . Bukan hanya oleh penampilannya yang agak terkesan asal dan gentel, tapi juga oleh kehadiran seorang gadis semampai yang selalu ia gandeng.

Gadis belia itu tidak terlampau cantik memang, tapi penampilannya pasti menarik hati yang memandangnya. Well groomednya terasa.

Menurut selentingan kabar, Bapak Handoko yang memakai setelan hem itu akan mengambil surat izin pengunduran diri yang telah ditanda tangai oleh rektor. Entahlah, aku tak tahu pasti.

Saat temu muka terakhir bersama beliau, aku merasa kehilangan, bukan hanya oleh keprofesionalannya tapi beliau juga mampu menjadi pembina yang baik. Selamat tinggal guruku bagaimana jasa anda takkan pernah kami lupakan.

1 Maret 1993

Di, kabarnya Bapak Handoko akan segera menikah, kabar ini kudapat dari Dinda. Karena paman Dinda yang ternyata teman dekat Bapak Handoko turut diundang. Kabar ini tentunya dapat meredakan isu yang beredar di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini bahwa beliau tidak normal. Juga memadamkan dugaanku yang mengatakan kalau Bapak Handoko sedikit aneh.

3 Maret 1993

Berita pagi yang disodorkan teman kosku membuatku beralih dari kebiasaanku membaca buku-buku ringan. Kuambil bagian yang menyedot perhatian dan rasa ingin tahuku. Halaman pertama bagian bawah:

“Kasus pergantian kelamin mulai marak di antara kaum waria. Bahkan para waria yang telah melakukan operasi pergantian kelamin mulai menuntut pengesahan status mereka.

Diantara mereka ada nama Heni Sagita Putri alias Handoko Edi Saputra yang menuntut pengesahan statusnya sebagai laki-laki terhadap PN Jakarta Selatan. ‘Lelaki’ yang kabarnya akan menikahi wanita normal ini pernah menjadi dosen di universitas…”

Aku tidak meneruskan kalimat yang selanjutnya. Aku masih belum mempercayai apa yang aku baca. Pandanganku mengabur. Tiba-tiba korang yang kupegang jatuh dengan sendirinya.

Etika Thartila, alumni TMI Putri Al-Amien Prenduan, 2004. Saat ini sedang menyelesaikan studinya di IDIA Prenduan.

Masjid Joko Kudis

Masjid itu indah. Berdiri megah di tengah-tengah kota Adijaya, sebuah kota besar yang sedang menjalani proses pembangunannya. Orang-orang yang melihatnya, satu kali atau lebih, pasti berdecak kagum. Berpasang-pasang mata pasti terbelalak melihat masjid itu. Dan lebih terbelalak lagi ketika melihat nama masjid itu.

Ya. Pada papan nama yang terpampang di depan tempat ibadah umat Islam itu memang tertulis dengan huruf indah meliuk-liuk : Masjid Joko Kudis. Orang-orang pun saling bertanya-tanya. Saling mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa masjid yang begitu indah dan megah itu dinamai ’Joko Kudis’? Kudis itu ‘kan semacam penyakit kulit yang menjurus ke sesuatu yang buruk. Mengapa? Bagaimana bisa?

Beginilah ceritanya…

Dulu… berpuluh-puluh tahun yang lalu, kota Adijaya adalah kota yang kecil. Kota yang terbelakang. Listrik pun baru satu-dua rumah yang memiliki. Untunglah, setelah Bupati yang lama lengser, lantas diganti Bupati baru yang lebih berbakat memimpin, kota itu mulai menapaki kemajuan. Sedikit demi sedikit.

Bupati menggalakkan gaya hidup disiplin dan gotong-royong. Motto dan semboyan tentang semangat giat bekerja keras (dan semacamnya) pun ditempel di mana-mana. Pokoknya, rakyat digodok untuk menjadi manusia-manusia yang lurus. Buah kerja keras Bupati pun dapat dipetik masyarakat kota Adijaya. Bangunan-bangunan makin berkembang dan bertambah. Kota mempunyai perusahaan listrik sendiri. Perdagangan makin lancar. Transportasi ke luar kota makin mudah. Hiburan dan trend mode makin menyapa semua kalangan. Karenanya, masyarakat pun mengelu-elukan, dan menusbatkan Bupati sebagai Pemimpin Terbaik Dekade Ini.

Namun… sayangnya, kota yang sedang dalam perkembangannya itu tidak memiliki tempat beribadah satu pun. Bupati khawatir, tanpa adanya kepercayaan di hati masyarakat, walaupun mereka pekerja yang baik, itu bisa menyebabkan keruntuhan kota. Bisa saja terjadi sifat takabur di antara masyarakat. Atau saling mengolok. Atau perseteruan. Atau hal-hal buruk lainnya. Untungnya, Islam sudah masuk ke kota Adijaya. Itu salah satu kemajuan yang dicapai. Maka, Bupati yang berbakat itupun mengundang seorang ulama yang datang dari pengelanaannya. Seorang kakek berambut dan berpakaian serba putih. Dengan wajah tenang dan mata yang menyejukkan. Bupati mengundang kakek itu ke rumahnya.

Setelah dijamu dengan makanan dan basa-basi ala kadarnya, Bupati itu pun menyampaikan maksud hatinya.

“Begini, ‘Ki… Saya ingin di kota ini ada –paling tidak– sebuah tempat beribadah…”

“Woo… itu bagus, Anakku!! Bagus! Bagus!” komentar kakek tua itu sambil mengelus-elus janggutnya.

“Menurut Aki, apakah sebaiknya membangun langsung yang buesar…?”

“Hmm… itu terserah kamu dan rakyatmu. Apakah ingin membangun beberapa surau yang kecil, atau sebuah masjid yang besar sekalian…”

“Kalau begitu… Sebaiknya masjid yang megah sekalian, ya, ‘Ki? Biar tidak nanggung…”

“Änakku… Menurut Aki, kita bangun surau-surau atau musholla-musholla kecil di seluruh pelosok kota dahulu. Supaya semua orang dapat menjangkau. Tapi… masjid harus dibangun secepatnya juga. Karena dibutuhkan untuk sholat Jumat. Ah, itu tergantung kamu, Anakku… Musholla, no problem! Masjid, oke juga!”

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Bupati memutuskan untuk membangun masjid yang besar saja. Baru kemudian musholla-musholla kecil. Alasannya? Supaya di kota itu ada ‘induk’ tempat beribadah. Pusat ibadah. Bukankah induk lahir sebelum anak?

Tidak tanggung-tanggung, Bupati mendatangkan arsitek dari ibukota. Masjid itu rencananya akan dibangun di tengah-tengah kota. Di dekat alun-alun. Untunglah, lokasi pembangunannya tepat di tanah lapang kosong. Tidak ada rumah atau ladang milik orang. Tanahnya pun cocok untuk ‘ditanami’ bangunan berjenis masjid.

Lokasi ada. Rancangan ada. Para pekerja dan kuli ada. Sekarang tinggal masalah dana. Setelah dapat bantuan dari negara, dan mengambil dari pajak rakyat, uang pun terkumpul. Namun itu masih dibawah anggaran yang jumlahnya milyaran. Maka dibukalah : Sumbangan Sukarela…

Bupatilah orang yang pertama kali menyumbang dananya. Baru kemudian para pejabat, konglomerat, orang-orang kaya dan masyarakat awam. Di dekat lokasi pembangunan itu ada sebuah kotak dari besi yang bergembok besar. Sudah banyak orang yang memasukkan sebagian rezekinya ke dalam kotak itu. Dan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, ditaruhlah seseorang yang menjaga kotak itu. Penjaga ini juga bertugas untuk mengambil uang yang terkumpul setiap malam datang.

Suatu senja, di hari-hari pasca pembangunan masjid, ketika uang yang terkumpul di kotak sudah waktunya untuk diambil, datang seorang bocah laki-laki yang kumal, dekil, dan compang-camping. Di sekujur tubuhnya terdapat banyak bekas penyakit kudis. Pokoknya sudah dapat dianggap gelandangan yang menyedihkan. Sungguh aneh, ada kalangan seperti itu di kota Adijaya. Entah bagaimana garis nasibnya hingga bisa seperti itu…

Penjaga kotak sumbangan itu merasa senewen melihat bocah kotor itu mendekat-dekat. Dia pun berniat mengusir.

“Hey, bocah jorok!! Mau apa kamu ke sini!! Mau minta-minta?!” Sungguh kasar ucapan penjaga itu. Namun bocah itu malah tersenyum.

“Sebaliknya, ‘Bang…” sahut bocah kumal itu, “…saya datang untuk menyumbang.” katanya polos.

Sang penjaga kotak itu tertegun.

“Kamu?! Mau ikut menyumbang?! Wah wah! Coba lihat dirimu! Coba bercermin! Sudah kecil dekil miskin masih sok menyumbang!! Sana pergi! Kami tak menerima sumbangan orang-orang miskin!”

Wajah kotor itu memelas.

“Tapi saya ikhlas, ‘Bang…”

“Ikhlas?! Coba perlihatkan berapa rupiah yang mau kau sumbangkan?!”

Tangan bocah itu membuka. Tampak sekeping uang seratus rupiah. Koin logam itu nampak seperti yang memilikinya. Kusam, dekil dan kotor.

“Uang cepek itu?! Wahahaha!!” penjaga itu ngakak, “… buat beli apa sekeping uang itu? Segenggam semen saja tidak cukup! Ha ha ha… Sudah sana pergi!!”

Bocah itu bergeming. Si penjaga menjadi jengkel.

“Hush!! Sana pergi!! Ayo, pergi!!”

“Tapi uang ini?!”

“Kantongi saja uang itu! Biarkan beranak dulu sampai sepuluh ribu, baru sumbangkan di sini… Sudah sana!!“

Penjaga itu mengambil kotak sumbangan dan dibawanya untuk dihitung. Si bocah yang banyak kudisnya itu berjalan gontai menjauh.

Ternyata… setelah perhitungan akhir, dana sudah terkumpul hingga melebihi anggaran. Maka masjid pun mulai dibangun. Waktu itu bulan Juli. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Bupati sendiri.

Semula, pembangunan masjid berlangsung dengan lancar. Bulan Agustus, pondasi sudah selesai dan tahap pengerjaan utama pun dimulai. Bahan-bahan material lancar dan para kuli pun bekerja dengan giat dan penuh semangat. Pertengahan Agustus, bagian belakang masjid sudah selesai. Tiang-tiang penyangga utama pun mulai dipasang. Lalu, suatu yang aneh pun terjadi.

Masjid itu dibangun dengan delapan tiang penyangga utama. Tiap dua tiang kebagian satu arah mata angin. Nah, ketika dua tiang sebelah utara selesai, pembangunan dilanjutkan dengan tiang sebelah timur. Anehnya… Ketika kedua tiang timur itu hampir selesai, dua tiang di sebelah utara itu retak, dan salah satunya runtuh. Untung tidak ada yang tertimpa reruntuhan.

Mandor dan arsitek pun marah-marah. Setelah reda, kedua tiang sebelah timur diselesaikan lantas tiang yang runtuh itu diperbaiki. Kejadian yang sama terulang. Ketika diperbaiki, tiang sebelah timur gantian yang retak, dan runtuh.

Kejadian ini mengherankan orang-orang. Maka dicari penyebabnya.

Semennya tidak bermasalah. Air juga tidak. Pasir juga. Pokoknya, bahan-bahan material itu bersih. Jadi, apa penyebab runtuhnya tiang itu?

Untuk mengatasi itu, para pekerja ditambah. Tiang-tiang utama akan dibangun secara bersamaan. Ternyata berhasil. Tiang-tiang itu sukses tertancap kokoh di pondasi. Namun, masalah lain datang dan tak kalah anehnya. Bentuk dan sudut-sudut tiang itu miring dan tak sejajar. Beda dari rancangan. Ini tentu membuat heran. Karena para arsitek ibukota itu telah menghitung dengan cermat dan teliti. Para pekerja pun tak merasa salah ketika membangun. Mereka bekerja seperti biasa…

Bupati bukan main bingungnya dengan masalah pembangunan masjid itu. Beberapa pakar bangunan dan geometri didatangkan untuk ditanyai tentang itu, namun hasilnya nol. Bupati malah semakin pusing dengan angka-angka ruwet yang disodorkan para ahli itu. Tiba-tiba, di sela-sela rasa peningnya, Pak Bupati teringat akan kakek tua yang menyejukkan itu. Barangkali, dia bisa dimintai nasehat, pikirnya.

Sebelum Bupati menyuruh ajudannya untuk mencari, kakek itu ternyata sudah datang duluan ke kediamannya. Wah, kebetulan, sorak Bupati. Seperti biasa… Setelah dijamu dan basa-basi ala kadarnya, Bupati yang lagi bingung itu pun menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Ki… Aki sudah dengar tentang keanehan dalam pembangunan masjid itu?”

“Woo… sudah, Anakku!! Dan aku merasa ada yang tidak beres…”

“Wah!! Dari segi apa itu, ‘Ki?!”Semen? Pasir? Konstruksi? Pondasi?”

“Bukan, Anakku… Bukan masalah material… Aku merasa ada yang tidak beres pada bahan-bahan ‘spiritual’-nya…”

“Maksud Aki, doa kita kurang mustajab?”

Kakek tua itu mengelus-elus janggutnya.

“Hmmm…. Aku rasa bukan yang semacam itu… Coba kau tanyai anak buahmu! Apakah selama merancang, membeli bahan-bahan, ketika pengumpulan uang sumbangan ada sesuatu yang janggal… Kalau memang benar ada, harus cepat diperbaiki!!”

“Ng… Misalnya Aki?!”

“Misalnya… Uang untuk membeli semen itu hasil curian… Atau, air untuk menyirm dan mengolah adonan itu mengambil tanpa seiizin pemilik, ätau… ya, yang semacam itulah…”

Bupati manggut-manggut mendengar kata-kata kakek tua berilmu itu.

Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung memanggil seluruh anak-buah dan karyawannya. Mereka semua itu dikumpulkan di ruang tamunya. Ada sekretaris Bupati. Para arsitek. Penjaga uang sumbangan. Para kuli, karena begitu banyaknya, maka diwakili oleh seorang mandor. Hadir juga di sana kakek tua yang berilmu itu.

“Saudara-saudara sekalian… Saya mengumpulkan anda semua ini untuk membicarakan suatu masalah. Dan tentu di antara anda ada yang sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan. Ini tentu menyangkut masalah pembangunan masjid…”

Terdengar bisik-bisik di sana-sini. Bupati mendehem.

“Dengarkan sejenak… Sudah kita ketahui bersama. Bahwa pada pembangunannya, terjadi beberapa kejadian aneh yang tidak lazim. Untuk itulah saya bertanya pada saudara-saudara sekalian : Apakah tidak ada kejadian yang janggal sewaktu saudara melaksanakan tugas?”

Terdengar lagi kasak-kusuk. Ada yang minta penjelasan.

Lalu diterangkan tentang sesuatu yang janggal itu, oleh kakek tua berjanggut putih. Semuanya manggut-manggut, dan mulai mengingat-ingat.

Ternyata kesemuanya mengaku tidak ada kejadian janggal. Namun, tiba-tiba penjaga uang sumbangan mengacungkan tangannya.

“Ya, saudara Penjaga… Ada kejadian apa?!” tanya Bupati.

Penjaga uang itu diam. Sepertinya malu mengungkapkannya.

“Ayo… Tak apa-apa!! Manusia itu pasti khilaf dan bersalah, kok!! Ada apa?!”

Setelah didesak, akhirnya penjaga itu membuka mulutnya.

“Begini Pak… Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Waktu hari terakhir pengumpulan uang sumbangan, kalau tak salah sebelum Maghrib… Ada seorang bocah laki-laki kumal, kotor, compang-camping, bau wah… pokoknya amburadul… Mendekat ke saya. Saya kira dia minta-minta, eh ternyata mau menyumbang. Saya tanya, ‘Berapa yang mau kau sumbang?’ dia membuka tangannya dan tampak satu keping uang logam seratusan… ‘Saya ikhlas, Bang!’ katanya… ”

“Lalu?!”

“Saya tolak sumbangannya itu… Karena, saya pikir : Untuk hidup saja dia tak bisa mencukupi kebutuhannya, malah sok menyumbang. Saya pikir tidak pantas uang dari seorang bertangan kotor dan bau melebur menjadi masjid… Mungkin ini kejadian janggal yang saya alami…”

Semua orang mengangguk-angguk mendengar ceria Penjaga itu. Kemudian sang kakek berjenggot putih angkat suara.

“Hmm… Sikapmu yang menolak tadi itu salah, Penjaga… Kenapa? Karena, pemberian siapa pun, sekecil apa pun, kalau si pemberi ikhlas, kita tak boleh menolaknya. Kalaupun menolak, itu harus dengan cara yang halus… Yang tak melukai perasaan pemberinya…”

Penjaga itu tersentak. Teringat ketika dia membentak-bentak bocah itu.

“Mungkin… Tuhan tidak rela kita membangun masjid, hanya karena ada sedikit ‘kesombongan’ kita : Menolak sekeping logam yang masuk. Akhirnya jadi….”

Penjaga itu menangis.

“Sekarang. Apa yang harus kita perbuat, Aki?!” tanya Bupati, setelah merenung cukup lama.

“Hmm… Sekarang kita harus menemukan si bocah gelandangan itu! Meminta maaf atas perlakuan salah seorang dari kita, kemudian menerima sumbangannya dengan senang hati…”

Semua orang kembali mengangguk-anggukkan kepala.

“Bagaimana ciri-ciri bocah itu?!” tanya salah seorang.

“Bocah itu… Kotor, hitam, kumal… Pokoknya seperti gelandangan jalan!” jawab penjaga itu, “… Dan tubuhnya… Mulai dari wajah, tangan sampai kaki dipenuhi dengan penyakit kudis…”

“Oo… Joko Kudis?!” teriak salah seorang, yang ternyata adalah seorang mandor dengan kumis melengkung.

“Joko Kudis?! Oo… Bocah itu, tho…?!”

“Ya… ya… Bocah itu memang terkenal karena penyakit kudisnya, sehingga dijuluki Joko Kudis. Entah siapa nama aslinya?!”

“Ayo kitä cari dia!!”

“Ya, benar!!”

“Äyo!!”

Beberapa orang pun berpencar mencari Joko Kudis ke seluruh penjuru kota Adijaya. Akhirnya, ketika hari menjelang malam, bocah itu baru ditemukan : sedang asyik berdendang di jembatan hijau di daerah selatan.

“Joko Kudis?!” tanya salah seorang. “…Ayo ikut!!”

“Kemana?!” tanyanya dengan wajah polos.

“Dipanggil Pak Bupati…”

“Pak Bupati?! Benar?!”

“Iya, benar!! Ayo… Naik mobil!!”

Joko Kudis langsung mau diajak ke rumah Bupati, walaupun tidak tahu ada apa dan mau diapakan. Sampai di sana, sudah banyak yang menyambut. Si penjaga uang menyeruak.

“Joko Kudis!! Masih ingat, Abang?! Maafkan Abang, ya?!”

Bocah lelaki itu melihatnya dengan kening berkerut. Lantas tersenyum.

“Oo… Abang yang menjaga uang untuk masjid, ya?! Apa kabar, Bang?!”

Semua orang terenyak. Terharu. Bocah ini pernah dibentak, diusir, dicaci-maki dengan kasar… Eh, dengan polosnya bertanya ‘Apa kabar?’

Bupati itu turun tangan, lantas bertanya.

“Joko sekarang mau nyumbang buat masjid lagi?!”

Mata bocah itu langsung berbinar-binar. “Wah?! Bolehkah saya ikut nyumbang?! Benar?! Bolehkah?!”

“Tentu saja, ‘Cah bagus…” kata kakek berjenggot putih sambil mengelus-elus rambut Joko Kudis yang acak-acakan itu.

“Untung uang seratusan ini masih ada… Ini, saya menyumbang!!” kata Joko Kudis sambil menyerahkan uang logam kumal dan hitam ke tangan Bupati.

“Terima kasih, Joko Kudis…”

Lantas. Uang dari Joko Kudis itu pun dicampur dengan dana yang ada. Dan akhirnya melebur menjadi semen, pasir, keramik dan lain sebagainya.

Pembangunan masjid pun dilaksanakan ulang.

Dan ternyata memang benar apa yang dikatakan kakek tua yang menyejukkan itu. Pembangunan berjalan sesuai rencana, tanpa ada kejadian-kejadian aneh seperti sebelumnya. Dalam waktu yang cukup singkat, masjid itu pun sudah bediri megah di tengah-tangah kota. Semua orang mengaguminya.

Dan untuk mengenang jasa bocah kecil kumal yang sekarang tak ketahuan rimbanya itu, maka nama Joko Kudis digunakan sebagai nama masjid kebanggaa kota Adijaya itu.

Ternyata. Pemberian barang kecil dan kumal, dari orang yang juga kecil dan kumal, ternyata tidak bisa kita ukur hanya dengan sekelebatan. Ternyata bisa menimbulkan kesan yang luar biasa. Sebaliknya, pemberian barang yang besar dan hebat, dari orang yang juga besar dan hebat, biasanya tidak berkesan apa-apa… Kecuali tentunya, pemberian oleh Yang Maha Besar dan Yang Maha Hebat, yang tiada taranya….

Bisri Mustova, alumni TMI Al-Amien Prenduan, 2003. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.