Category: Catatan

Resonansi Doa Sang Kiyai

kh-muhammad-idris-jauhariAL-AMIEN, nama itu menggema dalam pita kognisi masyarakat yang mendengar namanya, ia adalah pesantren modern yang melahirkan generasi berkelas yang diperhitungkan di masyarakat, dibuktikan oleh aktualisasi para alumninya yang tersebar seantero nusantara. Kala itu, Al-Amien dikenal dengan beberapa keunikan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Setidaknya ada empat keunikan yang sangat menonjol, yaitu: pertama, Al-Amien tampil sebagai pesantren modern, kedua, Al-Amien membekali santri dengan kompetensi bahasa Arab dan Inggris, ketiga, Otonomi kurikulum TMI Al-Amien dan independensinya dari semua golongan, dan keempat, Al-Amien mendelegasikan santri berprestasi untuk studi lanjut ke luar negeri.

Empat keunikan itu yang membuat pesantren Al-Amien memiliki derajat pembeda dengan pesantren lainnya. Sebagai pesantren yang dilabelkan pesantren modern, ia membuka akses terhadap perkembangan yang positif dari luar dengan tetap merawat warisan luhur dalam tradisi salaf. Keharuman namanya terhembus pula dari para alumninya yang terserap dalam segala macam profesi dan pekerjaan, tentu mereka memiliki nilai lebih yaitu kecakapan berbahasa Arab dan Inggris serta kompetensi lain yang melengkapi keahlian mereka.

Santri Al-Amien memiliki kecerdasan majmuk atau multi skill (multi terampil; istilah KH. Idris Djauhari). Berbagai macam ragam program intra dan ekstra yang digelar dalam kurikulum hidup dalam pesantren, jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, membayangkan pesantren hanya belajar ilmu agama semata. Hingar-bingar di Al-Amien, nuansa pendidikan penuh dengan program dan kegiatan. Pendidikan kecakapan diprogramkan pada seluruh santri untuk memilih pendidikan keterampilan wajib dan keterampilan pilihan, mulai dari kecakapan motorik kasar hingga motorik halus. Wajar, kalau kemudian para alumninya telah memiliki kecakapan multi. Berbekal kecakapan itu mereka para alumni mampu beraktualisasi diri dan berkembang di masyarakat.

Pesona dan keharuman nama Al-Amien yang demikian itu, membuat orang tua saya terpanggil untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren Al-Amien. Keputusan yang berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, merupakan keputusan yang tidak populer karena banyak stigma negatif yang menghalangi keputusan itu. Saat itu di tahun 1980, animo dominan masyarakat lebih cenderung ke pesantren salaf, namun orang tua saya mampu menembus batas kecenderungan mayoritas. Orang tua saya berkeyakinan kuat bahwa generasi yang lahir dari Al-Amien akan menjadi generasi yang “qowiyun amiin”.

Nama Al-Amien, memiliki kekuatan resonansi yang terpancar dari kekuatan doa para kiyai dan aura keikhlasan yang menjiwai seluruh praktik kehidupan pesantren, tidak heran bila para santrinya datang dari seluruh pelosok negeri, pencitraanya menteladani penyandang titel “Al-Amien” baginda rosul Muhammad SAW. Resonansi doa dan keikhlasan para pengasuh mampu menghantarkan kesuksesan para santri. Barokah doa dan keikhlasan dalam pengasuhan itulah yang menjadikan pesantren Al-Amien layak bagai “ibu kandung”, tempat naung kita.

Menjadi santri di pondok pesantren Al-Amien selama enam tahun merupakan deret waktu yang cukup lama. Hal demikian, saya tidak memandang sebagai penjara suci tetapi sebagai proses “persemedian” untuk mendapatkan beberapa “kesaktian mandraguna”. Dalam proses persemedian banyak aral lintang yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan, tidak semua santri yang mampu melalui rentetan cobaan dan ujian dengan baik. Bersyukur, saya termasuk yang lolos dan lulus melaluinya dan menjadi santri yang sujana.

Cara nyatri yang saya praktikkan kala itu, berbeda dengan para santri pada umumnya, saya jadikan “sajadah” sebagai sarana yang multiguna. Banyak fungsi sajadah yang  digelar untuk melakukan berbagai kegiatan; (1) di atas hamparan sajadah saya melakukan ibadah shalat dan dzikir, (2) “peragihan belajar” sering saya lakukan di atas sajadah sambil menunggu waktu adzan berkumandang, dan (3) hingga tidurpun saya gelar dengan alas sajadah.

Biasanya saya menggelar sajadah di pojok depan bagian utara dari masjid (mushalla Baiturrahman saat itu), siapapun teman sudah faham bahwa sajadah dan posisi tempat itu sudah istiqomah milik saya. Di luar kesadaran saya bahwa cara-cara yang demikian ternyata telah mampu membangun kecerdasan spiritual dalam diri saya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan spiritual berkontribusi 65% terhadap kesuksesan. Istimewanya lagi, bahwa dengan mediasi sajadah, saya menemukan “halawatal iman” (manisnya iman) sebagai intisari dari proses nyantri.

Sebagai generasi santri tahun 80-an, saya diasuh dengan dua model dan iklim pendidikan, separuh dari hidup saya berada di iklim pendidikan kedisiplinan (behafioristik), pemandangannya adalah perlakuan dengan tindak kekerasan dan bentak-bentak, dan separuhnya lagi berada di iklim pendidikan dengan pendekatan kasih sayang (konstruktifistik), pemandangannya kala itu adalah  penyadaran dan pengayoman. Tulisan ini tidak untuk mendukung atau memperdebatkan salah satu dari keduanya, tetapi cenderung memilih konvergensi keduanya.

Apapun pilihannya, itu hanya suatu pendekatan dalam praktik pendidikan. Ada hal lain yang lebih penting dari kedua pendekatan tersebut yaitu pendekatan spiritual. Saya senantiasa meyakini bahwa setiap kata dan perbuatan kiyai adalah doa, dan doa itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dahsyat dalam setting nurani dan akal budi santri. Beberapa nasihat pengasuh (almarhum; KH. Tidjani Djauhari dan KH. Idris Djauhari) yang terus segar dalam ingatan saya, adalah;

“Jangan jadi karyawan, tapi jadilah orang yang punya karyawan…”
“Jarrib wa laahidh takun aarifan…”
“Mengabdi, berjasa dan berkembang…”
“Al-Amien sudah memberi kunci hidup….”
“Al-muhafadhotu alal qodiimissholih wal akhdu bil jadiidil ashlah…”
“Mencetak santri sebagai mundzirul qoum…”
“Apapun profesi kamu setelah keluar dari pesantren jangan tinggalkan profesi guru…”
“Kalau kamu hidup di luar pesantren, kamu akan menemukan kehidupan sosial masyarakat yang berkotak-kotak, masuklah dari salah satu kotak komunitas sosial yang mampu memberikan perubahan dan perkembangan…”

Nasihat beliau bagai organisme yang terus hidup mencari tempat yang strategis dalam relung kalbu.

Pola pengasuhan Al-Amien begitu kuat membangun kepribadian yang “berkarakter Al-Amien”. Karakter itu dibawa hingga keluar menjadi alumni; mengabdi, berjasa dan berkembang. Itulah visi dan misi yang terbentuk dalam diri santri dan alumni. Mengemban visi dan misi itu tentu hingga kini belum selesai. Sepulang saya dari medan juang masa pengabdian di Kalimantan Timur, saya bertekad untuk kuliah. Saya bingung untuk memilih kampus, saya minta doa restu dari kiyai, sang kiyai menyarankan saya untuk kuliah di Pamekasan, karena beliau menginginkan ada alumni Al-Amien yang menonjol di Pamekasan. Beliau memberi saya doa dan restu dengan kalimat; bismillah.., kalimat itu masuk terpatri dalam hati saya yang paling dalam. Akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan (STAI Yunisma saat itu).

Resonansi doa sang kiyai menghantarkan saya menjadi pimpinan organisasi, hampir setiap organisasi yang saya masuki, saya terpilih menjadi pemimpin, diantaranya adalah; sebagai Presiden Mahasiswa di Senat Mahasiswa UIM, menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat UIM, Diangkat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Pamekasan dan terpilih sebagai Ketua Umum IPNU Cabang Pamekasan. Kemampuan memimpin organisasi sebenarnya telah terbentuk dari Pesantren Al-Amien melalui penggemblengan demi penggemblengan di organisasi santri yang ada di pesantren.

Kiprah saya di berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa membuat saya mampu beraktualisasi diri. Menjadi seorang aktifis organisasi mahasiswa menjadi modal sosial untuk tampil di ranah publik (mundzirul qoum). Banyak manfaat yang dirasakan dalam beroganisasi ekstra kampus, diantaranya; memberikan kemampuan analisis sosial, kematangan nalar dan peta berfikir, knowledge share, penyiapan mental dalam melakukan resolusi konflik dan tentu manfaat utamanya yaitu kemampuan mengorganisasi massa. Sungguh sangat penting menempa kemandirian, sikap bertanggungjawab, keteladanan (nufudz), kedisiplinan dan keleluasan berfikir, kendati itu semua sudah dibangun sejak dini di Al-amien.

Kesibukan saya dalam kegiatan ekstra kampus tidak mengabaikan untuk berprestasi di intra kampus. Walhasil, saya berhasil menyandang gelar sarjana dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Prestasi sebagai wisudawan terbaik menghantarkan saya untuk diangkat sebagai pegawai tetap dan dosen tetap di UIM. Untuk tidak menyiakan waktu, saya langsung manfaatkan kesempatan untuk studi lanjut pada jenjang S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi pendidikan ekonomi, dengan beasiswa dari DIRJEND DIKTI.Wawasan pada  program studi ekonomi itulah yang membelokkan arah hidup saya, bahwa eksistensi hidup di masa yang akan datang berada dalam genggaman tangan para ekonom. Dan ilmu ekonomi yang saya peroleh di kampus disadari tidak boleh berhenti dari teori ke teori, tetapi dari teori ke implementasi.

Maka saya rintis usaha sebagai pelaku ekonomi di ritel alat-alat kesehatan, apotek dan resto. Kesibukan ekonomi yang menjatuhkan pilihan untuk pamit mininggalkan dunia kampus. Hidup antar dunia; pesantren, kampus dan dunia usaha, apa sambungannya?. Saya sering bercerita pada teman-teman alumni Al-Amien, “kalau saya tidak digembleng di Kopontren, mungkin saya tidak pernah punya toko di tiga kabupaten, kalau saya tidak belajar melarat di pengurus KOPDA (PURUM), mungkin saya tidak pernah punya Rumah Makan (Resto) sebagaimana saat ini”. Pada puncak rintisan usaha menata ekonomi itulah, saya tersadar akan pesan sang kiyai bahwa “apapun profesi kamu, jangan tinggalkan profesi guru…”. Bersamaan dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk mewaqofkan diri sebagai dosen di IDIA Al-Amien.

Akhir cerita, saya meyakini bahwa pada setiap kenikmatan yang terjadi pada saya, ada keterlibatan sebuah kekuatan dahsyat, yaitu; dorongan supranatural yang bersumber dari resonansi doa sang kiyai. Amiin…ya mujiibassaailiin. Alhamdulillah, terimakasih Al-Amien.

Dr. H. Mashuri Toha, M.Pd

(Alumni TMI Al-Amien Tahun 1992, USIECA)

Sekarang Aktif Sebagai Dosen IDIA Prenduan

Semangat Juang dan Keikhlasan Guru Al-Amien

pimpinan melantikSetiap fase pendidikan yang saya lalui memiliki kesan tersendiri. Namun, saya mengakui bahwa nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menjadi fase pendidikan yang paling sangat berkesan. Tujuh tahun lamanya saya nyantri di Al-Amien, enam tahun sebagai santri dan satu tahun sebagai ustadz (pengabdian).

Bukan berapa banyak ilmu ukurannya, namun nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam mengarungi hidup adalah alasannya. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Amien menjadi tempat belajar paling berkesan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang saya dapati. Mental kuat dengan semangat juang yang besar adalah anugerah terbesar yang saya peroleh dari pondok tercinta ini.

Mental kuat dan semangat juang adalah pelajaran yang tidak hanya diajarkan di kelas. Tapi saya jumpai juga di masjid, kamar, lapangan, BPSK dan tempat-tempat lainnya. 24 jam hidup dalam pondok selalu mendapati setiap sudut dengan kegiatan-kegaitan positif yang mengarah pada pembentukan mental dan semangat para santri.

Benar, 24 jam proses pendidikan yang saya terima selama nyantri di Al-Amien. Bangun tidur pukul 3 pagi hingga ayyuhalikhwan memanggil pukul 9 malam, para asatidz dan muallim bergantian mendidik santri.
Tidur malam pun juga bagian dari pendidikan. Di saat jam tidur malam, di sudut-sudut pondok terdapat pendidikan tentang arti pengorbanan. Dengan mengorbankan jam tidur satu bulan satu kali, para santri bergantian menjadi bulis menjaga keamanan pondok dan seluruh penghuni pondok.

Rentetan pendidikan yang saya peroleh selama nyantri, mengajarkan saya untuk memaknai ikhlas dengan sempurna. Kita selalu mendengar bahwa ikhlas adalah tidak mengharapkan imbalan, ikhlas tidak digaji dan konotasi lainnya yang mengartikan ikhlas sebagai bentuk jasa tanpa upah.

Tidak salah, namun hanya fokus kepada imbalan, upah dan bayaran akan menggiring pikiran kita bahwa ikhlas tidak ada kaitannya dengan kualitas kerja dan jasa itu sendiri. Di sinilah Al-Amien memaknai ikhlas dengan proporsional.
Do the best and give the best adalah makna ikhlas yang diajarkan kepada santri. Lakukan terbaik dan berikan terbaik adalah cerminan sang pelaku kegiatan melakukannya dengan ikhlas. Praktik dari nilai yang sangat mulia ini dengan mudah dijumpai di kelas-kelas, lapangan, kamar, bahkan kamar mandi.

Saya selalu mendapati para asatidz dengan penuh semangat melangkahkan kaki dari kamar menuju masjid, kelas, kamar dan lapangan untuk memberikan berbagai pendidikan dan latihan. Dari berbagai kelas terdengar suara-suara santri belajar, ada yang mengaji, menghafal, melantukan mahfudzat dengan berbagai lagu.

Di lapangan, berbagai bentuk olahraga dan beladiri. Di BPSK dan di Gugus Depan, Palang Merah Remaja dan pecinta Pramuka berlatih. Di masjid, berbagai kegiatan seperti shalat, mengaji, tasyji` (member motivasi) dan kelompok-kelopok kajian, bahasa dan sastra hanyut dalam diskusi.

Semua tempat di atas, dipimpin oleh ustadz atau muallim yang begitu semangat tak kenal lelah. Dari raut muka mereka tampak keikhlasan, bukan karena saya mengetahui gaji mereka yang tidak seberapa, tapi karena saya meyakini mereka ikhlas dari totalitas mereka mendidik, mengajar dan melatih para santri.

Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana Ust. Suhaimi Syatroh dengan penuh semangat mengajarkan “al-Adyan” dengan suara yang sangat keras dan jelas men-syarah buku yang telah dia hafal dari cover to cover.

Para wali kelas yang begitu tekun mengajar dan tak bosan menjadi tempat santri mencurahkan permasalahan yang dihadapi. Memperhatikan dan menilai seluruh kegiatan santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Untuk kemudian menjadi bahan bagaimana mendidik dan mengarahkan santri kepada kegiatan-kegiatan yang lebih baik.

Para asatidz dan muallim yang mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab, memimpin kajian-kajian keilmuan dan kesusasteraan di sekitar masjid di sore hari hingga adzan maghrib berkumandang. Menggambarkan betapa saya beruntung dididik oleh mereka yang tak hanya tak digaji, namun juga berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik.

Semangat juang para asatidz dan muallim di atas, juga mengajarkan para santri akan arti tawakkal sebenar-benarnya. Manusia hanya memiliki kewajiban berusaha, usaha dengan semangat juang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Namun Allah Swt jugalah yang menentukan segalanya.

Dari itu, semangat juang yang dicontohkan oleh guru-guru di Al-Amien mengajarkan bahwa kesuksesan tidaklah dilihat dari hasil akhir semata. Kesuksesan adalah melalui berbagai proses kehidupan dengan semangat juang tanpa putus asa.
Demikianlah guru-guru di Al-Amien, saya selalu mendapati mereka begitu semangat dalam mengarahkan santri untuk menjadi generasi yang unggul. Semangat juang mereka mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Muwafik Maulana
Alumni TMI Al-Amien Prenduan (Angkatan 31). S1 Al-Azhar University, Egypt,
dan S2 INCEIF (International Center Education for Islamic Finance) University, Malaysia.

Alhamdulillah, Saya Mendapat Beasiswa Belajar Bahasa Spanyol di Kolombia

kolombia rezise “من جدّ وجد

(Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan).

 Kalimat itulah yang yang pertama kali saya pelajari ketika belajar di bumi Djauhari dan selalu saya ingat. Tidak terasa sudah sembilan tahun saya meninggalkan amamater tercinta, Al-Amien Prenduan, guna mengimplementasikan ilmu yang telah saya pelajari di sana. Tahun 2008 menjadi tahun pelepasan bagi saya dan teman-teman angkatan 3319 dari pondok pesantren Al-Amien yang telah menjadi rumah kedua saya selama 5 tahun lamanya. Di tahun itu pula saya mulai berkelana menuntut ilmu di kota pelajar, Yogyakarta. Di kota yang menjadi tujuan favorit pelajar nusantara inilah saya menghabiskan waktu setelah selesai studi di TMI AL-AMIEN Prenduan.

Guru-guru saya di Al-amien selalu berpesan agar tidak lupa berikhtiar, berdo’a, dan bertawakkal. Alhamdulillah berkat barokah ilmu dari beliau dan semangat belajar, akhirnya pada tahun ini saya punya kesempatan untuk belajar bahasa Spanyol di negara yang mempunyai perbedaan 12 jam dengan Indonesia yaitu Kolombia, Amerika Selatan. Saya mendapatkan beasiswa yang ditawarkan langsung oleh negara ini (Kolombia red.) yang ditujukan kepada mahasiswa dan tour guide dari berbagai negara di Asia Australia, dan New Zealand selama 4 bulan dari Agustus – November 2017.

Tanggal 30 mei yang lalu saya menerima pemberitahuan via e-mail bahwa saya lulus dan terpilih sebagai peserta Program ELE FOCALAE / ASIA + yang diadakan pemerintah Kolombia pada semester II tahun 2017 di Kolombia. Bahagia sekali rasanya mendapat kabar tersebut, bahkan sempat tidak percaya sampai saya cek dan baca berulang-ulang e-mail tersebut. Dari ribuan pelamar beasiswa dari berbagai negara di Asia ditambah Australia dan New Zealand, saya menjadi salah satu peserta yang terpilih dari Indonesia. Bangga sekali rasanya bisa terpilih menjadi salah satu peserta dan juga jerih payah yang telah saya lakukan dan persiapkan selama kurang lebih  berbulan-bulan terbayar sudah. Tanggal 21 Juli 2017 menjadi hari pemberangkatan saya bersama 6 orang peserta dari Indonesia lainnya dari berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Jakarta, Magelang, Semarang, Bandung, dan Garut.

Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari program ini guna meningkatkan SDM di Indonesia khususnya dalam bahasa Spanyol. Mengingat di Indonesia minim sekali tempat kursus, sekolah, institusi, atau perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Spanyol. Sehingga jumlah SDM yang bisa berbahasa Spanyol di Indonesia sangatlah sedikit sementara kebutuhan guide berbahasa spanyol yang mumpuni terus meningkat mengingat wisata Indonesia dengan slogannya “wonderful Indonesia” terus diminati turis asing khususnya dari spanyol dan negara Amerika Latin yang mayoritas berbahasa spanyol.

Prakarsa program ELE FOCALAE (sekarang lebih dikenal dengan ELE ASIA+ krna cakupan negara yang berpartisipasi telah bertambah) lahir pada tahun 2012 dengan kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri, Patti Londoño Jaramillo, ke beberapa negara di Asia Tenggara. Selama kunjungan ini otoritas pariwisata di wilayah tersebut menyoroti peningkatan wisatawan yang berasal dari negara-negara berbahasa Spanyol dan meminta Pemerintah Kolombia untuk melakukan kolaborasi untuk melatih pemandu wisata mereka dalam bahasa Spanyol.

Komitmen Kolombia diwujudkan pada pertemuan Kelompok Kerja Kebudayaan, Olahraga, dan Pendidikan Amerika Latin dan Asia Timur (FOCALAE), yang terdiri dari delapan belas negara di Amerika Latin dan enam belas negara di Asia Timur.

Dengan demikian, pada tahun 2012, Kementerian Luar Negeri Kolombia membentuk Badan Kerjasama Internasional Kolombia (APC-Colombia), ICETEX, Instituto Caro y Cuervo, dan institusi pendidikan tinggi dengan program pengajaran bahasa Spanyol yang diakui sebagai bahasa untuk mengembangkan inisiatif. Program ini terlaksana sejak tahun 2013 berkat kerja sama entitas tersebut dan menerima 60 orang setiap tahunnya untuk belajar bahasa Spanyol di Kolombia.

Pada tahun 2016, dalam versi keempat dari program ini terdapat peserta yang berjumlah 32 pemandu wisata dan 28 siswa berasal dari Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, China, Mongolia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Brunei dan Selandia Baru. Universitas tuan rumah yang terpilih adalah Universidad Autónoma de Bucaramanga dan Universidad Santo Tomás de Aquino di Bucaramanga; EAFIT dan Universidad Pontificia Bolivariana di Medellín; Universidad la Gran Colombia di Armenia; Universidad de Caldas di Manizales; Pontificia Universidad Javeriana dan Universidad de la Sabana di Bogotá.

Program ini merupakan full bright schoolarship, dengan kata lain program ini membayar semua keperluan peserta mulai dari tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Kolombia, pembuatan Visa, biaya living cost perbulan, dll. Jadi, kita benar-benar tidak lagi harus mengeluarkan uang sepeserpun krna setiap bulan kita menerima uang dari pemerintah Kolombia yang ditransfer langsung ke akun bank kita yang juga dibuatkan oleh pihak pemerintah Kolombia.

Pada tahun 2017, peserta yang mengikuti program ini bertambah menjadi 74 orang. Tahun ini peserta yang diambil memang lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang diikuti oleh 60 orang. Hal ini dikarenakan penyelenggara merasa program yang berjalan selama 4 tahun (sejak 2013 sampai tahun 2016) telah sukses dan mendapat respon positif dari berbagai negara di Asia, maka dari itu pada edisi ke-V ini mereka menambah kuota penerima beasiswa dengan memperluas negara yang berpartisipasi seperti (India, Nepal, Bangladesh, Maladewa, Butan, Mongolia, Australia, dan New Zealand). Indonesia mendapat jatah peserta terbanyak yaitu 7 orang di antara peserta negara-negara lainnya. Setelah mengikuti training selama 5 hari di ibukota kolombia, Bogota, seluruh peserta yang berjumlah 74 orang berangkat ke kota yang telah dibagi guna menghabiskan 4 bulan selanjutnya belajar bahasa spanyol.

Saya ditempatkan di kota Armenia, ibukota dari Departamento del Quindio. Suatu kota yang sangat tenang, orang-orangnnya baik dan ramah, tidak terlalu banyak kemacetan, dan yang paling penting adalah kota ini merupakan sumbu dari pertanian kopi terpenting di Kolombia “eje del cafetero” yang daerahnya diakui dan dilindungi oleh UNESCO, jadi kualitas kopinya tidak perlu diragukan lagi. Di kota ini saya belajar di sebuah universitas bernama Universidad La Gran Colombia Armenia mulai dari agustus sampai akhir november nanti.

Saya sangat senang mendapatkan beasiswa belajar bahasa spanyol di tempat terbaik untuk belajar bahasa spanyol, Kolombia. Bukan hanya bahasa, saya juga belajar budaya, gastronomi, gaya hidup, wisata, dan tarian local di sini seperti Ballenato, Horoppo, Merengge, Salsa, Bachata, dll.

Saya ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada guru-guru saya di TMI Al-Amien Prenduan khususnya kepada KH. Tidjani Djauhari (alm.), KH. Idris Djauhari (alm.), dan KH. Mahtum Djauhari (alm.) allahummaghfirlahum. Karena berkat ilmu dan barokah yang telah beliau berikan dan ajarkan, alhamdulillah saya dapat kesempatan belajar di Kolombia. Terima kasih pula kepada asatidz (guru-guru) yang telah mengajari saya banyak hal dari awal saya mondok sampai saya lulus.

Pesan saya untuk para santri dan alumni Al-Amien prenduan agar tetap berijtihad dalam menuntut dan mengamalkan ilmu agar apapun yang kita dapatkan menjadi barokah dan berguna bagi diri kita, keluarga, masyarakat, dan agama.

Romi Maulidi

Alumni TMI AL-AMIEN Prenduan tahun 2008

1001 Kata Hikmah Yg Menginspirasi

buku ust samson

Judul Buku : 1001 Kata Hikmah Yg Menginspirasi
Penulis: KH. Samson ‘La Tahzan’ Rahman & Imron Iskandar
Jumlah Halaman: 276 Halaman
Ukuran: 17,5 x 11,5 cm
Harga: Rp.35.000,-
Pemesanan Hub:
021-8490 0935 , 0853 3064 6404, 0816 952 281, 0878 8699 2756 (WA) PIN BB 28F16214
Atau Dapatkan di Toko Buku Terdekat:

Bursa Nurul Fikri-Depok, Gramedia, Gunung Agung, Pustaka Barokah,    UD Saudara (Buyung-Senen), Pustaka Amani dll.

Untaian-untaian hikmah bersastra tinggi yang dihimpun dalam buku 1001 Kata Hikmah Yang Mengispirasi ini berasal dari ungkapan-ungkapan bijak para ulama salaf (zaman dahulu) & khalaf (masa kini), lahir dari hasil pengolahan kata, rasa, jiwa & makna yang penuh inspirasi & motivasi.
Pesan-pesan & nasehat-nasehat tersebut tidak sembarang diucapkan, ia muncul & terucap dari refleksi, reaksi & aksi mereka dari beragam peristiwa, pengalaman & pengamatan hidup.
Mutiara-mutiara hikmah dalam buku ini berisi pesan, seruan, arahan, inspirasi, peringatan, motivasi, potret kehidupan serta rambu-rambu spritual yang dikemas dalam kalimat-kalimat yang bersastra tinggi & singkat namun memikat, dibingkai dengan ungkapan-ungkapan sederhana namun menggetarkan.
Buku ini penuh dengan taburan-taburan hikmah, nasehat & pesan-pesan dari ulama salaf maupun khalaf yang sudah tidak asing lagi bagi orang-orang bijak, pendidik, santri & dunia pesantren. Tapi buku ini sangat perlu untuk dibaca & dikaji oleh siapapun, termasuk Anda!

_____________

Buku 1001 Kata Hikmah yang Menginspirasi, berkat didikan “keras” para ustadz saya belajar menaklukkan kehidupan yang keras dan tidak boleh disikapi dengan lembek.

Al-Amien Prenduan yang merangsang jiwa untuk melahirkan karya, meledakkan energi dan menepatkan potensi. Di zaman-zaman itu telah melahirkan banyak nama ada Jamal D. Rahman di ranah sastra, ada Amir Faishal Fath di wilayah tafsir, ada Mun’im Sirry di hukum Islam , ada Sahli Mahmud pimpinan pondok pesantren di Indramayu, ada Idris Thaha dosen UIN Jakarta, ada Amin Tsamud, bos travel haji, dan tentu masih banyak lagi sosok-sosok bernama yang lahir dari rahim Al-Amien Prenduan yang dulu sangat prihatin namun penuh kejuangan bert, bersendikan kemandirian.

Karya Buku ke-37 alumni TMI Al- Amien Prenduan tahun 1987

Keajaiban Cinta dan Sisi Lain Al-Amien

sisi lain al-amien

“Cara bersyukur seorang penulis dengan cara menulis.” (KH. Moh. Idris Jauhari)

Kegiatan tulis menulis paling tidak dirasa sangat akrab semenjak Sekolah Dasar di SDN Blega 03, namun begitu mencintai puisi dan menuliskannya, paling tidak semenjak nyantri di Al-Amien Prenduan.

Meski saya dilahirkan di kalangan pesantren salaf, yang notabennya sangat mencintai kitab kuning, menelaah peninggalan ilmu-ilmu ulama salaf namun kecintaan saya pada puisi, tak bisa saya bohongi.

Paling tidak tahun 2003-2005 kecintaan saya pada puisi diuji, ayah melarang saya untuk menekuni dunia puisi, beliau lebih menyarankan agar saya memperdalam kitab kuning, biar mutiar salaf tetap terjaga, meski pesantren Al-Amien adalah perpaduan modern dan salaf bukan berarti saya harus lari dari kitab kuning.

Kitab kuning juga diajari di Al-Amien namun perbedaan dengan pesantren salaf dalam pengajaran kitab kuning adalah cara menyikapi kitab kuning dan cara menerjemahkan. Pesantren Al-Amien lebih condong pada penerjemahan/pemaknaan hurriyah (bebas), madzhab yang dianut dalam pelajaran fiqh untuk Tsanawiyah adalah Imam Syafi’ih sementara untuk Aliyah para santri diajarkan bidayatul mujtahid agar para santri bisa memilah dan memilih madzhab yang hendak dianut, agar tak gampang menyalahkan penganut madzhab lain.

Apakah pesantren Al-Amien NU atau Muhammadiyah, hal inilah yang paling sering ditanyakan masyarakat? Pesantren Al-Amien netral, santri-santrinya boleh memilih NU atau Muhammadiyah, namun jika menjadi imam shalat subuh harus pakai qunut, sebagai media pembelajaran sementara makmum boleh ikut qunut atau tidak.

Ragam kegiatan yang ada di Al-Amien, yang merupakan perpaduan modern dan salaf yang membuat saya betah. Namun kecintaan saya pada puisi tetap berlanjut tanpa sepengetahuan orang tua.

Barulah tahun 2005 setelah karya saya dimuat di Radar Madura, ayah saya mengizinkan saya menulis puisi, di tahun yang sama dapat penghargaan dari UNESCO karena ikut menyemarakkan Hari Puisi Sedunia, kami pun dilantik jadi pengurus Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) oleh Jamal D Rahman tepatnya hari Jum’at 20 Mei 2005.

Menyadari kemampuan dalam dunia tulis menulis pas-pasan saya lebih menyukai berselancar ke dunia maya, berkenalan dan membaca karya-karya penulis lewat internet, tepatnya 2008 setelah internet masuk ke pesantren Al-Amien dengan LABKOM.NET yang dimiliki.

Internet menjadi jalan alternatif saya dalam berkarya dan mengenal ragam karya penulis dalam dan luar negeri.

Berada dalam pesantren bukan alasan menutup diri dari kemajuan teknologi, itulah yang saya rasakan. Saya pun dikirim buku oleh rekan-rekan penulis dari Malaysia, Singapura dan Taiwan, lewat internet pulalah yang membuat Pipiet Senja tertarik datang ke Al-Amien lewat perkenalan singkat kami, saat saya menjadi ketua penyelenggara pembuatan antologi cerpen reliji lintas negara, kunjungan Pipiet Senja pun berjalan tiap tahun semenjak 2010-2012.

Lewat puisi pulalah saya diberi kesempatan membacakan puisi di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011) dengan pakaian daerah Madura membaca Haiku Sakera dalam bahasa Madura. Kegiatan membacakan puisi dalam acara sastra berlanjut ke berbagai tempat di Indonesia bahkan Malaysia seperti di UPSI Perak, Rumah PENA dan Ipoh dalam acara Kongres Penyair Sedunia ke-33 pada tahun 2013.

Mencintai hobi dengan sepenuh hati, bisa menjadi jalan mengabdikan diri dengan suasa hati yang riang itulah yang saya alami. Semua takkan pernah terjadi tanpa restu Ilahi dan tanpa jasa-jasa orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung mengantarkan pada apa saja yang ingin kita raih.

Doa, kemauan yang kuat disertai usaha sepenuh hati adalah kunci sukses, tanpanya kita ibarat debu diterbangkan angin.

Mengharapkan keajaiban tanpa pernah melakukan sesuatu adalah hal yang konyol, melupakan jasa-jasa orang lain merupakan bentuk ingkar atas kehidupan, sebab tak ada kesuksesan bisa diraih tanpa bantuan orang lain. Terlalu mengantungkan kesuksesan pada bantuan orang lain, tanpa berusaha berjalan di atas kaki sendiri merupakan bentuk ingkar atas karunia Allah, karena tak percaya pada karunia yang dimiliki, sebab pada hakikatnya manusia punya naluri pemimpin dan naluri sebagai hamba bertuhan. Akhir kata izinkan saya tuang puisi berjudul RAMALAN sebagai catatan saya, yang paling tidak mencakup pandangan, harapan dan rupa doa dari saya yang telah mengajarkan ragam kembara hati, terimakasih seluruh keluarga besar pesantren, yang masih istiqomah mengabdi.

Ramalan

Kelak, Al-Amien jadi taman puisi/Berbagai negeri silih berganti/Memetik bunga imaji/Atau sekedar berbagi risalah hati//Selalu ada yang akan berganti rupa/Sekedar mengurai jejak kembara/Namun Al-Amien: madu waktu/Diperkenalkan ragam kalbu//

Madura, 29 April 2014

Moh. Ghufron Cholid, Alumni TMI Al-Amien, 2006, Majlis Keluarga Ma’had Al-Ittihad Junglong Komis, Kedungdung Sampang.

Bagai Syamsu Tabriz bagi Seorang Rumi

ust nuskholis“Bapak Kiai wafat, pukul 06.55”. Pesan singkat itu terkabar lewat akun twitter. Kemudian bersambutan kabar lewat dering telepon, facebook dan tangisan. Hanya satu tahun sejak saya pamit untuk berangkat ke Kairo, Mesir, beliau sudah terburu pergi untuk tenang. Tapi saya merasakan kepedihan seperti ombak yang dihasut angin untuk berdebur. Tak ada batasnya, tak ada ruang untuk berhenti.

Beliau tidak hanya terkenang, tetapi seperti pertunjukan. Ingatan-ingatan berhamburan. Dari bunyi kenalpot sepeda motor Bravo yang khas membangunkan kami untuk qiyamul lail sedari jam dua malam tiba. Sajadah merah atau hijau, dan tempat shalat di samping kiri bagian depan, hingga saat-saat saya benar-benar intens berdialog tentang hidup, tentang jodoh, tentang apa yang dimaksud merdeka.

Saya bertemu dengan beliau pada Juni 2002. Waktu itu saya baru mendaftar sebagai santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Pertemuan antara seorang kiai besar dengan kami yang lucu-lucu. Saya ingat senyum beliau yang tipis-tipis itu, kata-kata yang tulus penuh hikmah, dan sesekali menyebut nama kami satu-persatu seperti seorang ayah kepada anaknya.

K.H. Muhammad Idris Jauhari menjadi sosok guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya. Tidak hanya karena sejarah mencatat, perjuangannya dimulai sejak beliau berumur 19. Namun juga, karena keaktifan beliau membina dan memberi petuah-petuah yang praktis.

Sejak selesai dari Pondok Modern Gontor, beliau berjuang. Beliau tidak lagi hidup seperti kawan-kawannya yang lain, mengembara atau menikmati masa muda dengan segala kebebasan dan kegembiraan. Beliau lebih memilih jalan lain, jalan pengabdian, memperjuangkan masa muda dan mencerdaskan anak bangsa. Barangkali itu sebabnya, beliau sangat tahu cara menghadapi setiap santrinya yang bermasalah. Dari santri yang harus digenggam dengan pengawasan yang sangat erat, hingga yang dilepas degan untaian doa-doa.

Beliau seperti dikelilingi kebahagiaan hanya jika mengabdi, mengurusi santri, dan akhirnya mengorbankan yang beliau miliki. Termasuk kesehatan.

Dan kami terus saja membuat masalah. Merokok di kamar mandi, kabur dari pondok, atau tidak ikut shalat jamaah. Seperti tak tahu setiap yang bergerak akan aus. Kami tidak sadar, bahwa dengan itu, sedikit demi sedikit pikiran pak kiai semakin penuh. Akibatnya, stabilitas kesehatan beliau menurun.

Tetapi semangat pengabdian beliau adalah satu-satunya yang bergerak tanpa pernah aus. Bagi beliau, eksistensi seseorang terlihat dari dedikasinya.

 “Saya lebih bangga pada alumni yang menjadi pemimpin pondok kecil atau guru ngaji daripada alumni yang menjadi pejabat.” Demikian yang sering saya dengar dari beliau. Bahkan, setiap kali acara wisuda, beliau selalu menyelipkan kalimat ini: “Apa pun profesimu, kamu harus berjiwa guru dan pemimpin”.

Itu mungkin sebabnya beliau mengabdi sejak usia dini. Beliau memilih jalan-jalan sempit nan tenang, yang mengantarkan pejalan kaki sampai lebih selamat. “Luruskan niat, bersyukur, bershalawat, dan berterimakasihlah kepada siapa saja yang sudah mengajari kita,” lanjutnya.

Saya tidak bisa membayangkan, seorang muda yang cerdas, hanya menghabiskan waktu dengan pengabdian di tanah tembakau yang kering, sementara di waktu luang belajar secara otodidak. Tidak ada ambisi untuk meraih gelar master, doktor dan predikat-predikat lainnya. Bagi beliau, “Gelar doktor tidak lagi dibutuhkan oleh orang setua saya”. Kesuksesan beliau dalam belajar secara otodidak inilah, yang dicatat oleh Zamhari dalam buku Belajar Otodidak Sampai Mati.

Ah, mengingat itu semua, adalah seperti menyusun puzzle yang kemudian berubah jadi wayang dan film sejarah yang mengagumkan. Sementara kami teriris-iris sendiri oleh khilaf dan duka, oleh kebodohan dan kesombongan.

Lalu petuah-petuah seperti ini, “Saya tidak menyuruh kalian untuk berzikir lama-lama. Tetapi di mana pun dan dalam keadaan apa pun kamu, shalatlah pada waktunya dengan berjamaah, membaca Al-Quran walau satu ayat, dan jangan lupa, fi ayyi makanin kana anta santriyun” (di mana pun kamu berada, kamu adalah santri) seperti menjadi background dalam pewayangan itu. Kata santriyun mungkin tidak ada dalam indeks kamus bahasa Arab, tapi beliau mengartikan itu sebagai bentuk moral seorang penuntut ilmu di pesantren. Moral sebagai orang yang toro’ ocak ka reng toah (patuh kepada orangtua), memiliki niat yang lurus, beribadah dan bermanfaat.

Begitu yang sering kami dengarkan setiap malam menjelang tidur sambil menahan rasa kantuk, atau pada Jumat pagi ba’da shalat Shubuh, serta teladan dalam praktik yang sama dengan penuh tawadu dan istiqamah.

Tahun 2006 saya lulus dari pondok, kemudian mengabdi di almamater. Saat itulah saya banyak menimba ilmu dari beliau secara lebih dekat tentang banyak hal. Tentang jodoh dan hari-hari yang menggelisahkan. Itulah ketika saya harus menerima ungkapan “mak jhu kemmi?” (kok kayak orang kebelet?).

Masa itu bagi saya adalah masa galau. Pikiran-pikiran berkeliaran ke dalam ruang-ruang yang tak tercapai. “Apa yang membuatmu tenang dan lebih dekat dengan Allah, itulah yang baik.” Kata-kata itu yang membuat saya mantap untuk mendapatkan istri yang baik. Waktu itu, Kiai Idris sama sekali tidak menghakimi, apalagi mencemooh. Masalah jhu kemmi (kebelet) karena terburu-buru menikah, saya rasa beliau hanya bergurau, dan itu yang membuat saya berpikir lebih panjang dan ingin sampai pada pembuktian.

Mula-mula, beliau tidak begitu mengenal saya, kecuali ketika ada urusan kesekretariatan yang tak beres, atau saat musyawarah pimpinan untuk menjadi notulis. Beliau hanya mengenal saya sebagai salah seorang sekretaris pondok.

Dan perlombaanlah yang mendekatkan saya. Berkali-kali saya mendapat undangan penyerahan hadiah lomba, berkali-kali pula saya meminta izin untuk keluar pondok sekaligus meminta restu. Tidak bisa saya pungkiri, ketika mencium tangan beliau, seperti ada rasa lain yang menghambur. Seperti ada langit yang menurunkan embun-embun pada daun, dan rasa lega yang luar biasa. Ya, seperti mendapat dukungan alam semesta.

“Jangan lupa, nama baik pondok ada dalam sikap kamu, kubah Al-Amien ada di atas pundak kamu,” dan saya tersentuh oleh kalimat itu, seperti seorang pengantin pria yang diserahi seorang perawan solehah. Sejak itu, saya selalu bisa menangis jika berhadap-hadapan, atau menatap gambar beliau yang kharismatik beraut tenang.

Saya terus bergairah menulis, tidak hanya karena ingin lebih baik, tetapi amanah, dukungan, dan kepercayaan beliau terus menderas dalam semangat saya. Saya akan terus menulis pagi, siang dan malam, jika pun beliau menyuruh itu.

Tetapi ya, semangat adalah rasa cinta juga. Kadang tumbuh dan berkembang, kadang layu dan menunggu gugur. Jika semangat saya sudah tak bisa diandalkan, semisal darah pada musim dingin. Saya akan mendatangi beliau pada musim Shubuh. Biasanya tepat setelah zikir shalat Shubuh, saya segera menunggu di teras rumah beliau, untuk sekedar mencium tangan beliau lalu mendengar pesan atau beliau.

Itulah istimewanya, beliau adalah seorang guru yang menempatkan murid sebagai sejawat, yang tidak perlu digurui, tapi disadarkan.

“Ada apa?” tanya beliau sambil menarik kopiah putihnya ke belakang. Saya kaku, sebab saya sering susah mengutarakan sesuatu kepada orang yang saya kagumi.

“Saya terlalu banyak dosa, Pak Kiai,” jawabku. Itu tentu bukan apa yang ingin saya ucapkan. Tetapi itulah yang saya rasakan dan terucap.

“Berpikir punya dosa itu bagus!”

Saya menunduk. Saya takut itu ironi.

“Kamu berarti sadar. Orang sadar, memiliki peluang untuk baik. Sadar itu sudah potensi, tetapi potensi saja tidak cukup. Kamu harus berusaha untuk menjadikan diri kamu lebih baik.”

“Saya selalu takut, Pak Kiai.”

“Kok takut? Susah kalau kamu takut. Saat kamu jalan, kamu tidak takut kan kalau suatu saat akan jatuh? Nah hidup juga seperti itu. Niatkan yang baik, berjalan di jalan yang benar, kalau jatuh atau salah jalan, ya bangun dan cari jalan yang lebih baik. Kamu bersyukur masih bisa sadar, tapi kesadaran itu bisa hilang jika tidak dimanfaatkan untuk berbuat.”

Saya benar-benar menangis saat mendengar itu. Padahal saya selalu takut ditanyakan tentang dosa-dosa saya, apa pelanggaran yang saya lakukan di pondok, atau beliau akan marah karena saya melakukan kesalahan-kesalahan itu.

Dan saya benar-benar menemukan guru yang bisa membuat saya berubah dari seorang yang tertutup menjadi lebih terbuka, terbuka juga terhadap kemungkinan-kemungkinan.

Kesederhanaanlah yang membuat saya menaruh hormat lebih kepada beliau. Beliau, dan  kiai-kiai kami yang lain, berpenampilan sama seperti ustaz-ustaz lain yang ada. Memakai baju koko, sarung, kopiah putih, kadang hitam, sajadah, dan senter saat waktu subuh dan petang.

Beliau adalah guru yang intens mengajarkan kami cara hidup sebagai manusia. Pelajaran hidup dari hal-hal kecil, cara berjalan dengan tidak menyeret sandal, tidak mengambil barang-barang syubhat. Bahkan sabun mandi yang ada di dalam selokan sekalipun, kami tidak boleh mengambilnya. Beliau yang mengajari kami tata cara bersikap yang baik, dengan penjabaran Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah.

Tahun 2010, beliau terbaring sakit yang kesekian kalinya. Ini yang paling parah, beliau komplikasi. Beliau terus menangis saat melihat kami. “Saya hanya berdoa, ya Allah matikanlah saya, jika saya tidak bermanfaat lagi bagi orang lain. Tetapi jika sebaliknya, saya memohon kesembuhan.” Kata-kata itu keluar dari beliau seperti hendak pergi, sementara kami menampung rasa sedih yang demikian penuh.

Kami masih belum bisa secara istiqamah melakukan shalat jamaah, belum melakukan pengabdian yang baik, dan belum juga berbuat dengan niat yang tulus, seperti yang beliau pesankan hampir di setiap ceramah beliau. Padahal sering beliau katakan, “Citra pondok dan almamater ini selanjutnya benar-benar dipertaruhkan di atas pundak kalian.”

Saat itu, saya memeluk dan mencium beliau dengan tangis yang berurai.

“Terimakasih, Nak, atas doa-doa tulusmu.”

Saya menangis, lebih perih lagi. Sangat jarang saya mendengar ucapan syukur itu dari orang-orang yang berada di ketinggian derajat, tetapi bapak kiai dengan mudahnya mengucapkan itu kepada kami, murid-muridnya yang sering nakal dan tak patuh aturan.

Alhamdulillah, beliau sakit tidak lama. Beliau sudah bisa rawat jalan, dan diperbolehkan kembali ke pondok. Itu adalah rasa bahagia sekaligus menimbulkan kekhawatiran. Sebab, kehidupan bagi beliau adalah dedikasi. Dengan kursi roda, dengan tangan yang sulit digerakkan, beliau tidak pernah lepas dari shalat jamaah bersama-sama santrinya.

Beliau seperti hendak berkata, “Saya yang sakit, masih bisa berjamaah, bagaimana yang sehat?” Tapi beliau selalu membantah keadaan sakitnya, “Saya tidak sakit. Saya masih bisa berpikir dan berbuat.” Bagi beliau, rasa sakit itu adalah ketika tidak bisa lagi berbuat lebih untuk pengabdian.

Itulah sebabnya, bapak kiai selalu menegur beberapa ustaz yang menunda pekerjaan dengan alasan penyakit ringan. “Kalau ada tugas, tunda dulu lah sakitnya itu…,” begitu gurau beliau sambil menyindir. Kami yang tidak memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, kadang-kadang menunda pekerjaan, hanya karena sakit gigi, sakit kepala, dan alasan-alasan yang sepertinya terlalu dibuat-buat. Jauh dibanding pembuktian bapak kiai saat mengalami gangguan kesehatan.

Mungkin tidak ada yang kekal kecuali kenangan-kenangan, kecuali rasa cinta yang dirawat dan diperjuangkan. Pagi sekali, saya harus mendengar kabar itu: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, KH. Muhammad Idris Jauhari meninggal dunia, 28 Juni 2012, pukul 06.55 WIB. Mendengar kepergian seseorang yang berada dalam jiwa, akan terlampau sulit diurai dengan rasa sabar dan tawakkal. Rentang waktu yang tak begitu lama sejak kelahiran beliau 28 November 1952.

Beliau bagi saya adalah semisal Syamsu Tabrizi bagi seorang Rumi. Bagi Rumi, Syamsu Tabrizi adalah pribadi penuh pesona rohani, yang membakar dunia batinnya, menyalakan hatinya, dan menariknya ke dalam pusat pusaran Cinta Ilahi yang sempurna. Maka, Rumi amat terluka ketika sufi dari Tabriz, Iran, itu pergi meninggalkannya, dan tak kembali lagi. Sementara, saya terluka tidak hanya dalam hati. Saya juga terluka oleh kebodohan diri dan kekhilafan atas pesan-pesan beliau. Beliau pernah berkata, “Anak-anakku, saya dihormati bukan karena kemuliaan yang saya miliki. Tetapi karena Allah menutupi aib-aib saya.”

Saya kadang berpikir cara berjumpa, untuk sekedar meminta maaf, untuk sekedar meminta restu, mencium tangannya, lalu bergairah untuk menjalani hidup. Saya kehilangan apa yang menjadi darah bagi tubuh.

Saya takut tidak bisa mengalahkan bayang-bayang sendiri, sementara “pahlawan-pahlawan kecil” terlanjur beliau sematkan. “Di hati kami, kalian adalah pahlawan pejuang harapan kami. Menangkanlah perjuangan ini!”

“Sadarlah selalu, Anak-anakku … Kalian adalah orang yang berharga. Karena itu, hargailah diri kalian. Tapi jangan sekali-kali minta dihargai. Orang yang meminta-minta dihargai biasanya memang tidak berharga. Hargai diri kalian sesuai dengan harga yang sebenarnya. Jangan terlalu mahal, sehingga kalian tidak laku dan dijauhi orang. Tapi juga jangan terlalu murah, sehingga akhirnya kalian menjadi orang-orang yang tidak berharga sama sekali. Dan yang terpenting, letakkanlah diri kalian pada tempat yang berharga, agar harga diri kalian tetap tinggi dan tidak jatuh.”

Dan engkau terus bersama kami dalam kalimat-kalimat yang memanjang dan menghunjam. []

 

Ach. Nurcholis Majid, alumnus TMI Al-Amien Prenduan, 2006. Kini, mahasiswa Pasca Sarjana Ma’had Ad-Dirasat Al-Islamiah li Imam Al-Baquri, Kairo, Mesir. 

Limit dan Border

Penghujung tahun 1996, menjelang tahun baru 1997. Ujian Akhir Tahun—begitu kami biasa menyebutnya—baru saja berakhir. Tinggal Kuliah Kemasyarakatan, lalu libur panjang. Tetapi kami, santri-santri kelas akhir, punya kesibukan yang berbeda. Beberapa hari ke depan, kami akan segera diwisuda. Itu artinya kami akan bernyanyi bersama di hadapan para undangan dan hadirin. Maka sibuklah gitaris-gitaris angkatan kami menyetem gitar serta mencari not dan kunci. Di tempat lain, para pujangga kami juga sibuk menyusun puisi perpisahan, berharap akan lahir puisi paling mengharukan. Kami, termasuk yang bukan gitaris dan pujangga, terus berlatih koor 2-3 kali sehari, menyanyikan lagu Oh Pondokku (Hymne Al-Amien Prenduan belum ada saat itu) dan beberapa lagu gubahan kami sendiri. Lalu gladi kotor, gladi resik, dan segeralah kami akan tiba di puncak. Wisuda. Absah menyandang predikat alumni TMI.
Tetapi bukan itu saja. Pondok kita saat itu sedang mengadakan perhelatan besar. Peringatan dan Kesyukuran 45 Tahun Al-Amien Prenduan. Banyak alumni yang pulang. Banyak pula tokoh yang berkunjung. Beberapa di antara mereka diberi kesempatan berbicara di depan para santri. Salah satu yang saya ingat adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin (Pimpinan Muhammadiyah sekarang) yang bercerita tentang kekagumannya pada Kyai Maktum. “Beliau ini,” tutur Pak Din, “adalah satu-satunya kawan yang tidak pernah saya kalahkan di bidang akademis selama di Gontor.”  Belakangan, ketika nyantri di Gontor, saya berulangkali memperoleh kisah-kisah luar biasa tentang reputasi intelektual kyai saya yang satu ini. Kapan-kapan, saya akan ceritakan kisah-kisah tersebut.
Selain Pak Din, saya juga terkesan dengan pidato (alm.) Nurcholish Madjid. Tidak banyak yang saya tahu tentang Cak Nur waktu itu, selain bahwa beliau adalah tokoh yang kontroversial. Apa yang beliau bicarakan di hadapan para santri juga tidak sepenuhnya saya pahami. Terlalu berat, meski saya kira beliau sudah berusaha menyederhanakannya. Apalagi cara beliau menyampaikannya sangat datar. Tidak seperti Zainuddin MZ yang mengalun dan memukau. Tetapi, sejak sore ketika saya mendengar pidato Cak Nur itu, saya jadi tahu perbedaan antara dua buah kata dalam bahasa Inggris. Dan mengingat minat dan kemampuan bahasa Inggris saya yang tidak bagus-bagus amat, itu sudah bisa dibilang sebuah prestasi.
Dua kata itu adalah limit dan border. Yang pertama berarti “batas”, yang kedua berarti “perbatasan”. Yang pertama adalah sesuatu yang memang tidak bisa kita lampaui, yang kedua adalah sesuatu yang perlu dan harus kita lewati. Sore itu, menjelang Maghrib, Cak Nur mengajari kami untuk pandai-pandai membedakan antara limit dan border, antara batas dan perbatasan.
Cak Nur berbicara panjang lebar tentang perbedaan dua kata ini. Tapi saya tidak ingat sedikit pun darinya. Satu-satunya yang melekat dalam pikiran saya adalah dua kata itu berikut konteksnya. Limit dan borderLimit dan border. Baru beberapa tahun setelah itu, saya sadar bahwa pesan Cak Nur tidak sesederhana makna limit dan border yang tertera di dalam kamus. Oh ya, baru belakangan pula saya tahu bahwa untuk kata yang kedua, bisa juga digunakan kataboundary.
Saya termasuk penggemar cerita-cerita silat. Saat kuliah semester-semester awal di Yogyakarta, hampir setiap malam Minggu saya habiskan dengan membaca berjilid-jilid novel silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang saya sewa dari persewaan buku di dekat kos. Saya juga suka komik silat, seperti Kungfu Boy. Entah kenapa, saya selalu merasa bahwa para pendekar dalam cerita-cerita silat itu hadir dan membuat perbedaan melalui kemampuan mereka mengembangkan diri dan kemampuan, melintasi perbatasan.
Saya juga suka membaca buku-buku biografi. Saat kelas enam dulu, setiap santri diwajibkan menyusun tulisan tentang biografi tokoh idolanya. Saya menulis tentang Muhammad Iqbal, seorang pemikir, penyair dan filsuf dari Pakistan (lebih tepatnya, dari India, karena Pakistan baru lahir berkat jasa tokoh idola saya ini). Saya juga baca biografi Soekarno dan Hatta. Juga M. Natsir dan KH. Imam Zarkasyi. Setiap kali membaca tentang tokoh-tokoh tersebut, selalu saya ingat kutipan dari Thomas Carlyle, “Sejarah terus berputar dengan ‘orang-orang besar’ itu menjadi porosnya.” Ya, saya pikir itu benar. Kita harus menjadi “orang besar” untuk tercatat sebagai “poros sejarah”. Dan orang-orang besar itu adalah mereka yang mampu melintasi perbatasanmereka sendiri.
Lalu, masih saat kuliah di Yogyakarta, saya membaca sebuah ulasan tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Tidak saya ingat pasti siapa penulisnya. Yang jelas, tulisan itu menyadarkan saya bahwa salah satu kunci kesuksesan Rasulullah SAW terletak pada terciptanya sekelompokminoritas kreatif di sekeliling beliau. Ya, minoritas yang kreatif. Perubahan dalam skala yang besar, atau sebuah revolusi, seringkali tidak mempersyaratkan, pada awalnya, bahwa seluruh masyarakat meyakini dan memperjuangkan hal yang sama. Perbedaan antara sebuah gerakan yang sukses dan yang gagal acapkali terletak pada ada atau tidaknya segelintir orang yang memperjuangkan gerakan tersebut secara cerdas, militan dan tanpa kenal lelah—sekelompok minoritas yang kreatif. Dalam konteks sejarah hidup Rasulullah SAW, minoritas kreatif itu adalah sahabat-sahabat terdekat beliau. Mereka istimewa karena mereka meyakini sebuah cita-cita tentang kejayaan Islam, lalu memperjuangkannya habis-habisan, melintasi perbatasan.
Kita seringkali menciptakan batas bagi kemampuan kita sendiri. Kita meyakininya sebagai garis yang yang tidak mungkin kita lintasi. Padahal, ia sejatinya adalah perbatasan, sesuatu yang mestinya kita ciptakan untuk suatu saat kita lampaui. Memang selalu ada batas untuk kemampuan kita, tetapi kita barangkali tidak pernah dan tidak perlu tahu di mana batas itu. Kadang-kadang kita gagal mengembangkan diri lantaran terlampau yakin bahwa kita sudah sampai di garis batas.Sampai hari ini, misalnya, saya tidak pernah bisa memainkan gitar untuk mengiringi satu lagu secara utuh. Barangkali itu karena saya dahulu menciptakan batas yang terlalu sempit untuk kemampuan saya memainkan gitar, lalu meyakininya sebagai sebuah garis yang tidak terlampaui. Banyak kawan-kawan saya dahulu yang menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa yang sulit dipelajari. Bahkan mungkin ada juga di antara kita yang berpikir bahwa diri mereka tidak akan pernah bisa beribadah setekun dan sekhusyu’ para kyai. Mereka tidak sadar bahwa tepat pada saat mereka berpikir semacam itu, mereka sesungguhnya telah menetapkan batas yang mengungkung dan mengerdilkan diri mereka sendiri.
Menyadari perbedaan antara batas dan perbatasan itu bisa melahirkan istiqâmah, sebuah perpaduan antara optimisme, konsistensi, persistensi, dan kreativitas. Orientasinya adalah bagaimana menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dalam beribadah, kita menjadi sadar bahwa kita bisa lebih baik dari hari ini. Dalam belajar, kita menjadi yakin bahwa kita bisa lebih cerdas dari hari ini. Dalam berlatih, kita menjadi tahu bahwa kita bisa lebih terampil dari hari ini. Lantaran kita mengerti bahwa kita hari ini belum mencapai batas akhir kemampuan kita.
Seperti Rasulullah SAW yang mengingatkan kita untuk menjadikan hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Seperti para sahabat Nabi yang tidak pernah berhenti meyakini kebenaran ramalan Rasulullah SAW bahwa Islam suatu saat nanti akan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Seperti Thariq ibn Ziyad yang membakar perahu pasukannya agar mereka tidak punya pilihan lain selain menaklukkan Andalusia. Seperti Thomas Alva Edison yang tidak menyerah meski 9.994 kali gagal dalam percobaannya menciptakan bola lampu. Seperti para kyai dan guru yang tak pernah lelah memarahi dan menegur kesalahan kita. Seperti para santri yang terus beribadah dan belajar, melawan kantuk dan lelah di badan. Dan seperti banyak yang lain lagi. Karena mereka tahu bahwa yang terbentang di depan bukanlah batas, tapi perbatasan—bukan limit, tapi border.

Seperti pondok kita. Terus maju, melintasi perbatasan, dan jaya, hingga di akhir masa. Amin.

Oleh: KH. Ghozi Mubarak Idris, MA

“Ta’jil” Buku Karya Ust. Ach. Nurcholis Madjid, S.Kom.I

buku-takjilJudul    : Ta’jil
Penulis : Ach. Nurcholis Majid
Tebal     : x + 120 hlm
Harga    : Rp. 29.400,-
ISBN      : 978-602-225-456-0

Mungkin ini isyarat bagi pintu yang kehilangan kuncinya. Ramadhan datang lagi, sementara orang-orang telah pergi begitu tenteram. Bahkan ada yang pergi begitu pagi sekali, pagi sekali lewat jendela bulan.

Seperti penanda waktu, kita tidak pernah benar-benar tahu Ramadhan datang lagi. Saat banyak orang yang memiliki kesehatan jauh lebih baik dari kita, memiliki kekayaan jauh lebih banyak, pergi tak kembali. Ada banyak kisah tak terulang, ada banyak keceriaan jauh menghilang. Lalu siapa yang menjamin Ramadhan kembali saat ini?

Barangkali ini memang isyarat, sebelum lampu dimatikan. Sebab saat Ramadhan datang, sementara kita mengucapkan marhaban ya Ramadhan, sudah banyak masa lalu menjadi asing. Termasuk juga, kegelisahan-kegelisahan yang belum terselamatkan dengan Ramadhan lalu.

Ramadhan, barangkali merupakan rekreasi spiritual yang teramat perlu disambut dengan meriah. Tetapi tidak melupakan cara terbaik untuk melepasnya sebagai masa lalu yang dirindukan. Tubuh dan pikiran menemukan tujuan hidup yang hilang dari kesibukan. Tubuh yang telah lama jadi ulat, agar bersegera jadi kupu-kupu.

Karenanya, setiap kali berekreasi, harusnya kita selalu berusaha untuk lebih lapang, tidak membawa semua barang di rumah untuk dipindahkan ke dalam list barang bawaan. Perjalanan diam-diam mencari ketenangan agar lebih membahagiakan. Rekreasi adalah bentuk penyegaran untuk lebih tentram. Mereka yang tentram, akan jauh lebih nikmat menjalani rekreasi. Mereka yang lebih gampang bergerak dengan kelapangan, akan lebih cepat menemukan beragam keindahan.

Suatu ketika Rasulullah bersabda. “Di dalam surga ada delapan pintu, salah satunya bernama rayyan, hanya orang berpuasa yang dapat memasukinya”. Tentu ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Puasa menjadi rekreasi yang begitu membahagiakan. Karena tidak berakhir dengan tuntutan kembali yang melelahkan. Sebab tujuan akhirnya adalah bunga-bunga, dan kefitrahan sebagai manusia suci, ada banyak khilaf yang bisa termaafkan, dan ada banyak maaf yang bisa tersampaikan.

Tapi sekarang saya merenung, benarkah saya adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang lapang, sehingga bisa menikmati Ramadhan dengan nyaman dan penuh kedamaian. Sebagaimana orang-orang yang pergi dengan damai itu. Sebagaimana orang-orang yang melupakan benci dan dendam seperti membuang sampah itu.

Saya terus merenung, bukankah saya sering berdusta. Selain sering juga mengkhianati Allah, dengan menempatkanNya sebagai malaikat yang patuh, dengan terus memaksa untuk mengikuti keinginan yang saya pinta. Bukankah sambil lalu mengucapkan marhaban ya Ramadhan, saya masih saja membawa beban ke dalam Ramadhan. Kadang terbawa juga kebencian dan dendam. Padahal yang paling harus dibenci adalah dendam. Padahal Ramadhan hanya untuk orang yang berluas ketabahan dan berlapang permaafan.

Marhaban ya Ramadan. Ya Allah, jika Engkau rela, lapangkanlah kami dengan kasih sayangMu, kuatkan kami dalam kesederhanaan, sempurnakanlah kami dengan keikhlasan. Kami percaya Engkau maha Mendengar dan Pengabul segala permintaan. Terimakasih Allah, masukkan kami dalam kedamaian Ramadhan. Sebab, setiap daun akan kemuning, kuningkanlah kami pada saat yang matang. Amien.

#Alumni TMI Tahun 2006 dan saat ini aktif mengajar di TMI

KH. Muhammad Idris Jauhari (1952-2012): Konseptor Pendidikan Mu’allimien

KH. M. Idris Jauhari2Kamis (28 Juni 2012 M/8 Sya’ban 1433H) menjadi hari penuh duka. KH. Muhammad Idris Jauhari, atau populer disebut Kiai Idris dan akrab kami sapa Ustadz Idris, menghembuskan napas terakhir di kediamannya Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura.

Hingga kini dan sampai kapan pun, sosok kharismatik beliau tak akan lekang dari ingatan, karena begitu besar jasa dan sumbang pemikiran beliau dalam dunia pendidikan Islam di Tanah Air.

 Bagi santri beliau seperti saya, sosok Ustadz Idris adalah pribadi mengesankan. Meski telah tiada, tak jarang sosok beliau muncul dalam mimpi saya. Beberapa waktu lalu beliau datang menyambangi mimpi saya, hingga saya tergugah menulis kenangan ini.

Entah mengapa. Mungkin karena begitu dekat ikatan batin beliau dengan para santri. Sebagai santri angkatan keempat, delapan tahun saya hidup, dibesarkan, dan beliau bimbing di kampus tercinta Al-Amien Prenduan.

Tentu banyak kenangan hidup yang mengesankan mengenai Ustadz Idris, bahkan hingga saya menjadi alumni dan berkiprah di dunia luar. Hampir setiap sore, misalnya, saya dan kawan-kawan bermain sepakbola atau bola voli di lapangan samping rumah beliau. Tak jarang beliau turun ke lapangan ikut bermain, dengan tetap memakai sarung yang dijinjing-jinjing.

Selagi dulu mendapat giliran menjadi bulis (piket) malam, entah mengapa saya selalu ditugaskan berjaga di teras kediaman beliau. Di tengah malam beliau tiba-tiba keluar rumah membawa makanan. Pernah sekali beliau keluar membawa gitar dan mengajak kami bernyanyi. Kala itu lagu-lagu karya Ebiet G. Ade sedang hits, dan kami pun bernyanyi diiringi gitar yang beliau mainkan.

Pada diri sosok kharismatik ini tampak tersimpan jiwa seni, yang karyanya kini kita warisi. Misalnya, bersama almarhum Ustadz Bakir Hasan, Guru Bahasa Indonesia yang sastrawan asal Aengpanas Kapedi, beliau beberapa kali menggubah lagu. Kami pun termotivasi hingga membentuk sanggar-sanggar sastra, lembaga penerbitan, kaligrafi, bahkan kelompok teater al-Hilal.

Dibawah bimbingan beliau dan para Ustadz berdidikasi, plus sarana seperlunya, kami para santri mampu menemukan bakat masing-masing. Rekan kami Jamal D Rahman menemukan bakatnya sebagai penyair saat membuat puisi  indah tentang mata air yang baru saja keluar dari sumur yang sedang digali di pondok untuk memenuhi kebutuhan air yang langka.

Saya mencatat, setidaknya tiga mata pelajaran yang selalu beliau ajarkan langsung kepada kami. Yaitu, Didaktik Metodik, Balaghah dan Bahasa Arab. Dengan pilihan itu, tampaknya beliau ingin menekankan betapa penting ketiganya ketimbang diserahkan pengajarannya kepada guru lain. Ketiganya pun terkait seni, yaitu seni mendidik/ mengajar dan seni sastra.

Di tiap kesempatan pertemuan, beliau tak henti-henti mendorong tiap santri untuk langsung terjun ke masyarakat setelah lulus dari pesantren. Di acara pelepasan santri kelas enam, misalnya, beliau berjam-jam memberi ceramah dan pengarahan yang intinya mendorong santri berdakwah dan mendidik masyarakat dimanapun berada.

Ilmu yang diterima santri di pondok beliau anggap cukup memadai untuk membimbing umat. Dan itu beliau buktikan sendiri dengan mengambil peran sebagai dai dan pendidik di pesantren dan masyarakat. Selepas menjadi alumni Pondok Modern Gontor, beliau langsung mengelola Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tanpa merasa harus lebih dahulu kuliah diperguruan tinggi.

Kala masih muda, ketika memulai Pesantren Al-Amien dari nol, beliau seratus persen berusaha menerapkan ajaran gurunya Kia Imam ZarkasyiKH. Moh. Idris Djauhari di Gontor, almamaternya. Untuk membesarkan Al-Amien, beliau pun mengajak sejumlah rekan alumni Gontor, seperti Ustadz Abbasi Fadhil dan Jamaluddin Kafie, serta Ustadz Fadholin yang kini tinggal di Lamongan.

Ustadz Idris selalu mendidik santri dengan disiplin yang keras, sama seperti para Kiai Gontor.  Itu dimulai dari diri beliau, misalnya serius menyiapkan bahan pelajaran sebelum masuk kelas. Pada mulanya, kesiapan mengajar setiap guru beliau awasi sendiri, dan belakangan diformulasikan sehingga menjadi sistem pengajaran di Al-Amien.

Hampir setiap malam, usai makan di dapur belakang kediamanya, para guru beliau cegat mampir di saung samping rumah mendiskusikan ragam persoalan. Banyak ide tulisan saya lahir dari diskusi-diskusi semacam itu.

Diam-diam saya bertindak sebagai pencatat, lalu menuliskan ide yang menarik, seraya mengirimkan tulisan-tulisan tersebut ke beberapa media massa.

Beliau juga ketat memegang prinsip pesantren, dan enggan berkompromi terhadap hal-hal yang melanggar ajaran Islam, khususnya akidah. Prinsip keikhlasan, misalnya, merupakan harga mati di pondok sebagai refleksi dari akidah tauhid. Itu sebabnya, beliau tak segan meminta santri atau bahkan Ustadz untuk keluar dari pondok dengan alasan-alasan syar’i.

Beliau mentah-mentah menolak intervensi luar ke pesantren, terutama di masa orde baru. Otoritas Kiai di pesantren betul-betul beliau pelihara. Independensi pesentren tak boleh ditawar-tawar. Apapun bantuan yang ditawarkan, berupa uang ataupun tenaga, akan selalu melewati filter beliau agar tak mengkontaminasi pondok dan penghuninya.

Namun demikian, Ustadz Idris merupakan salah seorang Kiai Madura yang sangat terbuka terhadap ide, pemikiran dan orang baru. Hob de Jung, antropolog Belanda, pernah tinggal di Pondok untuk meneliti budaya Madura. Begitu pula pakar Islam dari Gereja Katolik Tom Michel SJ pernah pula beliau layani berdiskusi di pondok.

Tak aneh beliau kaya pengetahuan. Meski tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, Ustadz Idris banyak menelorkan inovasi baru dalam pendidikan dan pengajaran di pesantren. Saya kaget ketika pondok telah mempraktikkan konsep kompilasi dasar (Komdas) dan pilihan (Kompil), yang belakangan diterapkan dalam konsep pendidikan nasional.

Beliau pula yang merumuskan konsep pendidikan Mu’allimien secara utuh, ilmiah dan terstruktur, sehingga menjadi rujukan standar bagi pesantren-pesantren mu’adalah di Indonesia. Konsep itu dilengkapi dengan bangunan epistemologi keilmuwan Islam, yang menjadi dasar titik tolak konsep Komdas dan Kompil tadi.

Inspirasi utama rumusan konsep itu memang dari Gontor dan sejumlah lembaga Mu’allimien, seperti Muhammadiyah Yogyakarta dan Persatuan Umat Islam (PUI) Majalengka. Tapi Ustadz Idris mampu merumuskan konsep Mu’allimien yang bisa diterima semua pesantren, bukan hanya yang modern seperti Pondok Gontor, tapi juga yang Pondok Salafi seperti Pesantren Sidogiri.

Saya kira, itulah sumbangan terbesar Kiai Idris bagi dunia pendidikan di Tanah Air. Tapi selama ini, gagasan, ide maupun inovasi beliau jarang terekspos ke luar. Beliau memang tak pernah mau menonjolkan diri dengan konsep-konsep dan rumusan brilian itu, hingga  konsep besar seperti pendidikan Mu’allimien tersebut seolah lahir begitu saja.

Bahkan, beliau enggan tampil di pentas publik, karena baginya tugas mendidik di pesantren tak boleh terganggu. Beliau lebih memilih tinggal di dalam pondok, mencurahkan seluruh hidup, pikiran, waktu dan tenaga hanya untuk pesantren. Dengan ikhlas, penuh dedikasi, beliau berdakwah dan mendidik, demi mengharapkan ridha Allah SWT semata.

Selamat jalan, Ustadz. Jazakumullah atas ilmu, jasa, dan perjuanganmu demi Islam.

Allahummagfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Ahmadie Thaha, Alumni TMI Al-Amien Prenduan Tahun 1980.

Merindukan Anak Dari Rantau

kh-muhammad-idris-jauhariKepuasan seorang ibu setelah anaknya dewasa, tidak hanya terletak pada seberapa banyak materi yang telah diraih dan dikumpulkan. Lebih dari itu, adalah seberapa besar kerinduan anak untuk kembali ke pangkuan sang ibu.

Kisah Malin Kundang merupakan perwakilan dari tesis di atas. Kekayaan dan kegagahan Malin Kundang tidak mampu menjadikan sang ibu merasa senang dan bahagia. Alih-alih menjadi suatu kebanggaan, sang ibu malah mengutuknya menjadi batu, tepat setelah Malin Kundang menampakkan kecongkakannya.

Tentu saja, tidak ada yang mau mengulang kisah Malin Kundang. Tetapi, orang-orang yang berperangai sepertinya masih ada di dunia ini, dan pasti juga ia secara tidak sadar dikutuk nasib, walaupun dalam hati ibunya tidak terbesit kalimat kutukan.

Siklus kehidupan seorang anak dengan orang tua adalah semacam pohon yang berbuah, setelah buahnya matang, maka dia akan jatuh kembali ke bumi untuk mendedikasikan dirinya kepada setiap yang membutuhkan. Bumi sejatinya adalah ibu, setiap kedewasaan berarti juga jatuhnya buah ke dasar bumi.

Dalam kehidupan pesantren, hubungan santri dengan pondok adalah semacam anak dengan orang tua. Setiap santri yang pernah diam dan menuntut ilmu adalah tanggung jawab pesantren. Pun demikian dengan keberadaan santri, ia sejatinya adalah seorang anak yang bertanggung jawab atas kedewasaan yang ditanamkan oleh sang ibu. Semakin dewasa dan menua usia, semakin bertambah juga tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi pesantren. Karenanya, menjadi sangat aneh jika ada seorang santri kehilangan rasa rindunya pada pesantren yang pernah dipijakinya.

Jika keterpurukan rasa rindu menimpa, bisa bisa jadi penyebabnya adalah rasa keterasingan. Dalam ilmu psikologi hal ini biasa dilakukan oleh seseorang dengan menarik diri dari kontak dengan yang lain, seseorang sebetulnya ingin berkomunikasi dengan orang lain, tetapi dia diacuhkan keberadaannya diabaikan, sehingga kemudian dia merasa tidak nyaman dan tidak mau berkomunikasi dengan siapa pun.

Tesis-tesis di atas, mungkin sama sekali tidak terjadi dalam diri alumni Pondok Pesantren AL-AMIEN Prenduan, akan tetapi untuk berjaga-jaga, silaturrahim nasional, atau yang selalu akrab dengan sebutan SILNAS dipilih sebagai media untuk mempererat hubungan orang tua dan anak, pesantren dan santrinya, santri dengan santri lainnya, berkisah tentang proses kreatif, memikirkan visi-misi pesantren—khoiru ummah dan mundzirul qaum yang muttafaqih fid dien—atau sekedar bernostalgia. Sebutan santri, tentu bukan hanya berlaku bagi mereka yang menyandang gelar alumni, tetapi juga bagi mereka yang pernah hidup di bawah atap asrama (rayon) pesantren, bahkan termasuk mereka yang pernah menginjakkan kaki di tanah pesantren. Dalam konteks ini menarik dikutip pepatah Belanda ”Woorden wekken, woorbeelden trekken” yang artinya: ”Kata-kata itu menyadarkan, contoh-contoh teladan itu menarik,”

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa salah satu cara yang paling baik dalam menghidupkan adat istiadat pada peserta adalah dengan mengajak mereka melihat seorang pengetua yang dihormati anak melakukan hal tersebut (Ki Hajar Dewantara, 1952:55).

Karenanya, untuk membuat anak kembali melanjutkan misi suci pesantren, alumni diharap kembali ke tanah pesantren, mendengarkan nasihat, fatwa para kiai, meresapi indahnya kenangan tidur di bawah langit-langit kamar yang semakin tua, dan mendengar bunyi lonceng yang tak pernah pekak di telinga.

Ach Nurcholis Majid