Search Results For “pembangun”

Dosen IDIA Menjadi Duta MORA ke Kanada

Ustad Encung Hariyadi ke KanadaIDIA Prenduan – Program Bantuan Short Course Community Outreach pada Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia merupakan salah satu program penunjang guna mendukung kegiatan pokok program pembangunan pendidikan Islam yang menjadi tanggung jawab Kementerian Agama. Program bantuan Short course tersebut merupakan wujud komitmen DIKTIS untuk memberikan akses yang luas bagi dosen dalam rangka mengembangkan metodologi baru diranah implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam bidang disiplin ilmu agama, sosial, dan humaniora. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Rencana Strategis (renstra) Pendidikan Islam Kementerian Agama 2010-2014, yaitu peningkatan mutu relevansi dan daya saing pendidikan Islam.

Program bantuan Short Course dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan metodologi baru dalam melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di lingkungan PTAI. Secara umum, program bantuan short course memfasilitasi upaya pengembangan metodologi baru bidang pengabdian kepada masyarakat. Namun demikian, program bantuan short course juga memberikan ruang yang cukup lapang untuk aksi partisipatif dalam halfacilitation and training approaches for community change, mobilizing assets for community-driven development, learning organizations and change, dan advocacy and engagement. Inti dari semua itu adalah agar peserta dapat mentransformasi kondisi sosial khususnya penguatan kualitas hidup komunitas.

Kegiatan yang memiliki dasar hukum dalam Undang-Undang ini berhasil diikuti oleh salah seorang dosen IDIA Prenduan, Encung Haryadi, M.Fil.I. dan 11 dosen PTAI negri dan swasta se-Indonesia lainnya. Mereka berhasil lolos ketika proses penyeleksian yang dilakukan pada tanggal 23-25 Agustus 2013 lalu di Hotel Ciumbluit Bandung, oleh tim penilai yang terdiri atas unsur tim ahli dari Supporting Islamic Leadership in Indonesia (SILE) dan Ministry of Religious Affairs (MORA) atau yang biasa dikenal dengan Kementerian Agama RI.

Berdasarkan agenda yang dikeluarkan oleh DIKTIS, Kegiatan ini akan dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan yaitu dari bulan September s/d November yang bertempat di Coady Internasional Institute, Antigonish, Canada. Adapun agenda kegiatan yang beliau ikuti selama berada di Canada yaitu Facilitation and Training Approaches for Community Changes danMobilizing Assets for Community-driven Development  yang akan berlangsung dari tanggal 23 September 2013 s/d 11 Oktober, Advocacy and Engagement dan Learning Organizations and Change dari tanggal 21 Oktober 2013 s/d 8 November 2013. Sementara 10 hari lainnya dibulan Oktober yaitu independent Study dan study lapangan bersama masyarakat St. Andrews dan penduduk Havre Bouchre Nova Scotia Antigonish Kanada. (red.697)

Peresmian Toko Buku IDIA Prenduan

toko-bukuIDIA Prenduan - IDIA Prenduan kini memiliki toko buku yang memadai. Kemarin, Jumat (15/03/2013), proyek pembangunan toko buku IDIA Prenduan akhirnya selesai dan secara resmi dibuka, ditandai dengan prosesi gunting pita oleh  Rektor IDIA Prenduan, KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA.

Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa memiliki Toko Buku yang representatif adalah salah satu cita-cita IDIA Prenduan sejak dulu. “Mudah-mudahan toko buku ini nantinya dapat menyuplai buku bagi lembaga pendidikan sekitar Al-Amien Prenduan, dan juga bisa menjadi rujukan utama bagi mahasiswa dalam mencari buku,” tutur Kiai Ahmad di hadapan para Kiai dan tokoh masyarakat sekitar kampus.

Cukup luas, toko buku ini dibangun dengan ukuran 8×18 m. Selain menyediakan buku dan ATK, pengurus toko buku juga menyiapkan kafe kecil di dalam ruangan. Qosim, salah satu pengurus mengatakan, bahwa toko buku ini merupakan “anak” dari IDIAMART, karena biaya pendiriannya bersumber dari laba IDIAMART.

Pembangunan Gedung Perkantoran Terpadu

komadYAP- Keinginan memiliki gedung perkantoran terpadu Yayasan Al-Amien, Dewan Riasah Al-Amien, dan Badan Pengawas, akan segera terealisasi. Hal itu ditandai dengan dimulainya pembangunan gedung perkantoran tersebut di atas tanah bekas gedung Kommad (Kompleks Madinah) di lingkungan TMI Al-Amien Prenduan sejak Selasa (19/02/2013).

Pembangunan gedung perkantoran terpadu berukuran 11.50 x 32.50 meter ini diperkirakan menelan biaya sebesar 300 juta dan diharapkan selesai sebelum pendaftaran santri bảru tahun 2013 yang akan datang. “Saya harap bangunan ini cepat selesai,” ungkap KH. Marzuqi Ma’ruf, selaku Ketua Yayasan Al-Amien Prenduan, ketika meninjau lokasi, Senin (18/03/2013)

Biro Ekonomi & Sarana

Biro Ekonomi dan Sarana dan secara khusus mengelola laju perekonomian dan pengembangan sarana fisik lewat unit-unit usaha yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Selain itu, biro ini juga memback-up sirkulasi keuangan dalam proyek-proyek pembangunan sarana fisik yang tak pernah berhenti sepanjang tahun.

Maka tak heran, jika sepanjang tahun Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan selalu membangun sarana baru, merenovasi serta menyempurnakan sarana yang ada di setiap lembaga. Untuk menunjang kegiatan tersebut, sebagai pelaksana harian yang terjun langsung di lapangan, dibentuk beberapa divisi, yaitu: 1. Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren); 2. Badan Usaha Non Koperasi (BUNK); 3. Pelaksana Pemeliharaan dan Perluasan Tanah Wakaf (P3TW); 4. Pelaksana Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Fisik (P3SF).

Koperasi Pondok Pesantren (KOPONTREN) 

Kopontren membawahi unit-unit usaha yang dikelola oleh beberapa alumni dan simpatisan pesantren, unit-unit usaha tersebut adalah: Wartel dan Warnet, Toko Bangunan, Unit Home Industri, Usaha Kesejahteraan Keluarga (UKK), Unit Tahu-Tempe, serta unit-unit usaha lain yang tergabung dalam Serba Usaha. Beberapa unit usaha tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

- Unit Toko Bangunan

Secara umum program Unit Toko Bangunan adalah: melakukan penyehatan usaha toko bangunan, meningkatkan volume usaha dan pendapatan, membina hubungan yang harmonis dengan konsumen dan produsen, menyediakan seluruh kebutuhan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dan masyarakat sekitarnya, terutama bahan-bahan dan alat-alat bangunan, meningkatkan daya saing dan pelayanan terhadap konsumen, mengembalikan kepercayaan produsen/sales kepada toko bangunan dan melakukan penagihan hutang piutang.

- Usaha Kesejahteraan Keluarga (UKK)

Unit UKK adalah unit yang menjadi soko guru dari perjalanan ekonomi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini. Adapun program-program UKK memiliki 5 program pokok, yaitu: Meningkatkan volume usaha dan pendapatan, membina hubungan yang harmonis dengan konsumen dan produsen, menyediakan seluruh kebutuhan bahan pokok (sembako), camilan dan minuman bagi santri dan keluarga Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan serta masyarakat sekitar, mengkoordinir kebutuhan sembako di lingkungan pondok dan melakukan penagihan hutang piutang. Unit UKK juga diproyeksikan sebagai embrio dari pusat perbelanjaan terlengkap dan menjadi gerbong lokomotif bagi perkembangan ekonomi pesantren yang sangat diimpikan bersama.

- Unit Tahu Tempe

Usaha ini tergolong unit industri yang sangat potensial, karena di samping memiliki pangsa pasar yang jelas, juga karena mutu dan kualitas produknya mampu bersaing, dan telah menempatkan unit ini menjadi salah satu unit usaha yang diperhitungkan oleh kompetitor dengan prospek yang menjanjikan. Sejarah mencatat bahwa usaha tahu dan tempe merupakan produk lokal yang sulit digeser oleh produk asing manapun karena sudah menjadi tradisi.

- Unit Home Industri

Unit Usaha Home Industri menyediakan makanan ringan yang memenuhi standar kesehatan. Dengan mentargetkan 5 program pokok yaitu: peningkatan omzet usaha, pendirian tempat yang layak untuk produksi, mengkoordinir unit usaha dalam pengadaan makanan ringan khususnya di dalam pondok, memperluas jangkauan pasar, menjaga mutu dan kualitas makanan ringan sesuai standar kesehatan. Unit ini memiliki prospek yang cukup bagus dan pangsa pasar yang menjanjikan, sebab racikan bahan-bahan membuat makanan ringan juga pangsa pasar yang sangat signifikan sebab produk ini sangat digandrungi oleh santri, guru dan masyarakat sekitar pondok.

- Unit Wartel

Unit Wartel yang dikelola oleh Kopontren terdiri dari dua lokal, satu unit terletak di pinggir jalan raya, dimana sebagian besar pelanggannya adalah masyarakat di luar Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, dan satu unit lainnya terletak di dalam komplek Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Putra II. Unit Wartel ini juga melayani penjualan pulsa HP, sehingga diharapkan bisa mendongkrak pendapatannya di masa-masa yang akan datang.

BADAN USAHA NON KOPERASI (BUNK)

Badan Usaha Non Koperasi (BUNK) bergerak di bidang usaha Non Koperasi yang khusus menangani usaha lembaga dan yayasan. Adapun BUNK membawahi bidang Unit Usaha Percetakan, Unit Usaha Jasa Transportasi, Unit Usaha Pengolahan Rajungan, Unit Usaha Pabrik Es, dan Unit Usaha SPBU.

- Unit Usaha Percetakan

Bidang usaha percetakan ini mempunyai aktivitas yang sangat padat terutama dalam cetak-mencetak buku pelajaran, majalah, kalender, brosur dan lain-lain. Keberadaan unit usaha percetakan ini, selain mendukung program pondok juga merupakan potensi pasar yang sangat signifikan, karena percetakan ini didukung oleh tenaga-tenaga operasional yang kreatif, inovatif dan profesional.

- Unit Usaha Jasa Transportasi

Unit Usaha Jasa Transportasi merupakan unit yang bergerak di bidang penyewaan kendaraan darat, sampai saat ini Unit Usaha Jasa Transportasi ini masih memiliki 1 unit bis dan unit colt/taksi yang melayani penyewaan untuk masyarakat umum.

- Unit Pengolahan Rajungan (Processing Crab)

Unit Usaha Pengolahan Rajungan berlokasi di desa Pekandangan. Unit ini mempunyai prospek yang sangat bagus dengan nilai ekonomis cukup strategis. Unit ini bergerak dalam pengolahan daging rajungan yang dikemas dalam bentuk kalengan dan berorientasi ekspor. Unit ini juga bekerjasama dengan PT. Phillips Seafood Indonesia yang berpusat di Pasuruan. Hal ini patut disyukuri bahwa pangsa pasar dan jumlah pesanan sangat besar, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya beberapa kendala yang dihadapi. Namun obsesi unit ini ke depan masih harus dipertahankan dan dikembangkan agar menjadi unit usaha yang maju.

Selain untuk memperkaya dinamika perekonomian di pondok pesantren Al-Amien Prenduan (bisnis) dan menunjang investasi material pendidikan, Unit Usaha ini juga sebagai sarana praktikum akademis para santri di bidang lingkungan hidup, perkebunan atau tumbuhan, dan seni alam. Sekaligus dalam rangka memperindah lingkungan pesantren sebagai sebuah pengamalan bahwa dunia pesantren tidak hanya berkecimpung dalam dunia kitab, ritual, moral, dan intelektual akan tetapi juga soal bisnis dan estetika sebagaimana yang dikatakan oleh pengasuh dan pimpinan pesantren saat perestuannya. Dan semua itu-sekali lagi-tetap di atas satu dasar dan satu misi besar li’izzil islam wal muslimin.

- Bidang Usaha Lain

Selain unit-unit usaha di atas, BUNK juga mengembangkan investasi ke perusahaan-perusahaan lainnya seperti pabrik ES, SPBU, perternakan, perkebunan dan lain-lain. Dan Alhamdulillah sampai saat ini beberapa unit usaha memberikan kontribusi dalam sendi perekonomian di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

PELAKSANA PENGADAAN DAN PEMELIHARAAN TANAH WAKAF (P3TW)

Pelaksana Pengadaan dan Pemeliharaan Tanah Wakaf (P3TW) khusus menangani pertanahan seluruh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Sampai saat ini luas tanah wakaf pondok mencapai 50 ha. Jika ditinjau dari master plan luas lokasi pondok, secara umum sebenarnya sudah cukup memadai, namun ada beberapa lembaga yang ada masih mengalami kesulitan dalam membangun gedung dan fasilitas lainnya, dikarenakan keterbatasan lahan dan dana untuk pembebasan.

PELAKSANA PENGADAAN DAN PEMELIHARAAN SARANA FISIK (P3SF)

Pelaksana pengadaan dan pemeliharaan sarana fisik (P3SF) merupakan divisi khusus yang menangani pembangunan dan pemeliharaan sarana yang ada, dengan cara merenovasi sesuai kebutuhan dan penyempurnaan yang belum selesai karena diburu waktu untuk segera dimanfaatkan atau karena keterbatasan dana pada saat pembangunan.

P3SF tidak hanya membangun dan membangun sarana fisik bagi perkembangan pondok pesantren Al-Amien Prenduan, tanpa memikirkan penataan master plan di pondok ini. Rupanya master plan ini menjadi fokus divisi P3SF agar mengacu pada fungsi, visi dan misi pondok dan berorientasikan kepada islami, tarbawi dan ma’hadi.

Sekretariat

Dalam tugas kesehariannya, sekretariat memiliki 3 bagian: Tata Warkat, Information and Communication Center (ICC) dan Al-Amien Video Shooting (AVS)

Tata Warkat 

Bagian ini tugas sehari-harinya akrab dengan komputer, mengelola korespondensi dan kearsipan.

ICC (Information and Communication Center)

Information and Communication Center (ICC) adalah lembaga Pusat Informasi dan Komunikasi (PIK) di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, visinya menjadi lembaga informasi dan komunikasi yang handal dan berkompeten di Al-Amien Prenduan. Sedangkan misi utamanya adalah:

  • Membentuk jaringan informasi (LAN) di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
  • Menyediakan informasi bagi seluruh pihak  yang memerlukan

Ruang lingkup kerja operasional ICC adalah:

  • Menyediakan informasi ke dalam dan keluar Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
  • Mengembangkan sistem informasi dan Komunikasi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
  • Membangun dan mengembangkan SDM di bidang TIK yang handal

Dalam pelaksanaannya, ICC membawahi 3 divisi:

Div. Pelayanan Informasi. Divisi pelayanan informasi bergerak dalam pengelolaan website dan XL SDC. Hingga saat ini, website kita telah dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi-informasi penting seputar Al-Amien Prenduan. Saat ini pula informasi penerimaan santri baru telah bisa diakses baik lewat SDC maupun website al-amien.

Div. Pengembangan ICT. Pengembangan ICT yang telah berjalan adalah pembangunan jaringan intranet untuk seluruh kantor di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Keberadaan jaringan ini diharapkan akan membantu dan mendukung kinerja ICC di masa mendatang, sebagai bentuk pelayanan informasi yang mudah dan cepat.

Pemeliharaan jaringan intranet di lingkungan Al-Amien Prenduan.

Pengembangan website Al-Amien Prenduan (www.al-amien.ac.id). Konten website diklasifikasikan secara lebih rinci, sehingga dapat memberikan informasi kepada semua pihak yang memerlukannya. Selain itu, website juga diarahkan untuk menjadi sarana komunikasi dari pihak luar dengan pondok secara langsung.

Div. Pengembangan SDM. Divisi ini bekerja pada tataran pengembangan SDM di bidang teknologi informasi. Termasuk di dalamnya adalah penyediaan bahan ajar bagi guru dan santri baik yang berkenaan dengan teknologi informasi maupun bahan ajar yang berbasis teknologi informasi.

AVS

Al-Amien Video Shoting mengelola dokumentasi baik berupa foto atau video. Walaupun dengan peralatan yang sederhana, cukup  kiranya untuk keperluan dokumentasi khususnya di lingkungan sendiri.

Struktur YAP 

Ketua: KH. Moh. Marzuqi Ma’ruf, Lc; Wakil ketua: KH. Ach. Shabri Shiddiq, S.So.I, Sekretaris: H. A. Tijani Syadzili, Lc; Bendahara: H. Abd. Mu’iz, M.Th.I; Kepala Biro Pendidikan dan Pembudayaan: Drs. Suhaimi Zuhri; Kepala Biro Dakwah dan Pengembangan Masyarakat: KH. Umarul Faruq, Lc; Kepala Biro Alumni dan Kaderisasi: Fahmi Fattah, S.Sos.I; Kepala Biro Ekonomi dan Sarana: H. Moh. Bakri Solihien, S.Pd.I; Pusat Studi Islam: Ach. Shodiqil Hafil, M.Th.I

Sejarah Berdiri

Sejarah berdiirinya, pondok pesantren AL-AMIEN PRENDUAN tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan agama Islam di Prenduan itu sendiri. Karena Kiai Chotib (kakek para pengasuh sekarang) yang memulai usaha pembangunan lembaga pendidikan Islam di Prenduan, juga merupakan Kiai mengembangkan Islam di Prenduan. Usaha Pembangunan lemba ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari usaha adik ipar beliau, Kiai Syarqowi yang hijrah ke Guluk-guluk setelah kurang lebih 14 tahun membina masyrakat Prenduan dalam rangka memenuhi amanat sahabatnya, Kiai Gemma yang wafat di Mekkah.

Sebelum meninggalkan Prenduan untuk hijrah ke Guluk-guluk, Kiai Syarqowi meminta Kiai Chotib untuk menggantikannya membimbing masyarakat Prenduan, setelah sebelumnya menikahkan beliau dengan salah seorang putri asli Prenduan yang bernama Aisyah, atau yang lebih dikenal kemudian dengan Nyai Robbani. Dengan senang hati Kiai Chotib menerima amanah tersebut.

Beberapa tahun kemudian, sekitar awal abad ke-20, Kiai Chotib mulai merintis pesantren dengan mendirikan Langgar kecil yang dikenal dengan Congkop. Pesantren Congkop, begitulah masyarakat mengenal lembaga pendidikan ini, karena bangunan yang berdiri pertama kali di pesantren ini adalah bangunan berbentuk Congkop (bangunan persegi semacam Joglo). Bangunan ini berdiri di lahan gersang nan labil dan sempit yang dikelilingi oleh tanah pekuburan dan semak belukar, kurang lebih 200 meter dari langgar yang didirikan oleh Kiai Syarqowi.

Sejak saat itu, nama congkop sudah menjadi dendang lagu lama pemuda-pemuda prenduan dan sekitarnya yang haus akan ilmu pengetahuan. Ngaji di Congkop…mondok di Congkop…nyantri di Congkop… dan beberapa istilah lainnya. Dari congkop inilah sebenarnya cikal bakal Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN yang ada sekarang ini dan kiai Chotib sendiri ditetapkan sebagai perintisnya.

Tapi sayang sebelum congkop menjadi besar seperti yang beliau idam-idamkan, kiai Chotib harus meninggalkan pesantren dan para santri-santri yang beliau cintai untuk selama-lamanya. Pada hari sabtu, tanggal 7 Jumadil Akhir 1349 / 2 Agustus 1930 beliau berpulang ke haribaan-Nya. Sementara putra-putri beliau yang berjumlah 8 orang sebagian besar telah meninggalkan Congkop untuk ikut suami atau membina umat di desa lain. Dan sebagian lagi masih belajar di berbagai pesantren besar maupun di Mekkah. Sejak itulah cahaya Congkop semakin redup karena regenerasi yang terlambat. Walaupun begitu masih ada kegaitan pengajian yang dibina oleh Nyai Ramna selama beberapa tahun kemudian.

Periode Pembangunan Ulang

Setelah meredup dengan kepergian kiai Chotib, kegiatan pendidikan Islam di Prenduan kembali menggeliat dengan kembalinya kiai Djauhari (putra ke tujuh kiai Chotib) dari Mekkah setelah sekian tahun mengaji dan menuntut ilmu kepada Ulama-ulama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Beliau kembali bersama istri tercinta Nyai Maryam yang merupakan putri salah seorang Syekh di Makkah Al-Mukarromah.

Sekembali dari Mekkah, KH. Djauhari tidak langsung membuka kembali pesantren untuk melanjutkan rintisan almarhum ayah beliau. Beliau melihat masyarakat Prenduan yang pernah dibinanya sebelum berangkat ke Mekkah perlu ditangani dan dibina lebih dahulu karena terpecah belah akibat masalah-masalah khilafiyah yang timbul dan berkembang di tengah-tengah mereka.

Setelah masyarakat Prenduan bersatu kembali, barulah beliau membangun madrasah yang baru yang lebih teratur dan terorganisir. Madrasah baru tersebut diberi nama Mathlabul Ulum atau Tempat Mencari Ilmu. Madrasah ini terus berkembang dari waktu-waktu termasuk ketika harus berjuang melawan penjajahan Jepang dan masa-masa mempertahankan kemerdekaan pada tahun 45-an. Bahkan ketika KH. Djuhari harus mendekam di dalam tahanan Belanda selama hampir 7 bulan madrasah ini terus berjalan dengan normal dikelola oleh teman-teman dan murid-murid beliau.

Hingga akhir tahun 1949 setelah peperangan kemerdekaan usai dan negeri tercinta telah kembali aman, madrasah Mathlabul Ulum pun semakin pesat berkembang. Murid-muridnya bertambah banyak, masyrakat semakin antusias sehingga dianggap perlu membuka cabang di beberapa desa sekitar. Tercatat ada 5 madrasah cabang yang dipimpin oleh tokoh masyarakat sekitar madrasah. Selain mendirikan Mathlabul Ulum beliau juga mendirikan Tarbiyatul Banat yang dikhususkan untuk kaum wanita. Selain membina madrasah, KH. Djauhari tak lupa mempersiapkan kader-kader penerus baik dari kalangan keluarga maupun pemuda-pemuda Prenduan. Tidak kurang dari 20 orang pemuda-pemudi Prenduan yang dididik khusus oleh beliau.

Hingga akhir tahun 1950-an Mathlabul Ulum dan Tarbiyatul Banat telah mencapai masa keemasannya. Dikenal hampir di seluruh Prenduan dan sekitarnya. Namun sayang kondisi umat Islam yang pada masa itu diterpa oleh badai politik dan perpecahan memberi dampak cukup besar di Prenduan dan Mathlabul Ulum. Memecah persatuan dan persaudaraan yang baru saja terbangun setelah melewati masa-masa penjajahan. Pimpinan, guru dan murid-murid Mathlabul Ulum terpecah belah.

Periode Pengembangan

Periode Pendirian Pesantren (1952 – 1971)

Menjelang akhir tahun 1951, di tengah keprihatinan memikirkan nasib Mathlabul Ulum yang terpecah KH. Djauhari teringat pada Pesantren Congkop dan almarhum ayahanda tercinta, teringat pada harapan masyrakat Prenduan saat pertama kali beliau tiba dari Mekkah. Beliaupun bertekad untuk membangkitkan kembali harapan yang terpendam, membangun Congkop Baru.

Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun sebuah langgar atau mushalla yang menjadi pusat kegiatan santri dan para ikhwan Tidjaniyyin. Akhirnya setelah kurang lebih 1 tahun, walaupun dengan sangat sederhana Majlis Tidjani pun berdiri tegak. Maka tepat pada tanggal 10 November 1952 yang bertepatan dengan 09 Dzul Hijjah 1371 dengan upacara yang sengat sederhana disaksikan oleh beberapa santri dan Ikhwan Tidjaniyyin, KH. Djauhari meresmikan berdirinya sebuah Pesantren dengan nama Pondok Tegal. Pondok Tegal inilah yang kemudian berkembang tanpa putus hingga saat ini dan menjadi Pondok Pesantren Al-Amien seperti yang kita kenal sekarang ini. Karena itulah tanggal peresmian yang dipilih oleh KH. Djauhari disepakati oleh para penerus beliau sebagai tanggal berdirinya Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN.

Di Majlis Tidjani yang baru berdiri inilah, KH. Djauhari mulai mengasuh dan membimbing santri-santrinya. Semula hanya sebatas Ikhwan Tidjaniyyin yang datang dan pergi, kemudian datanglah santri-santri yang berhasrat untuk bermukim. Pada awal-awal tersebut pendidikan dan pengajaran lebih ditekankan pada penanaman akidah, akhlak dan tasawuf, selain juga diajarkan kitab-kitab dasar Nahwu dan Shorrof.

Pada tahun 1958 Departemen Agama membuka Madrasah Wajib Belajar (MWB) secara resmi dengan masa belajar 8 tahun. KH. Djauhari sangat tertarik dengan sistem madrasah ini, karena selain pelajaran agama dan umum juga diajarkan pelajaran keterampilan dan kerajinan tangan. Maka pada pertengahan tahun 1959 beliau membuka MWB di Pondok Tegal, sementara Mathlabul Ulum beliau jadikan Madrasah Diniyah dengan nama Mathlabul Ulum Diniyah (MUD) yang diselenggarakan pada sore hari hingga kini.

Selain mendirikan MWB beliau juga mendirikan TMI Majalis, diilhami oleh sistem pendidikan Kulliyatul Mu’allimien Al-Islamiyah Pondok Modern Gontor. Terutama setelah putra beliau Moh. Tidjani mondok di sana. Didorong oleh obsesinya untuk mendirikan sebuah pesantren besar yang representatif beliau merintis madrasah tingkat menengah di Pondok Tegal. Untuk madrasah yang baru ini beliau secara sengaja memilih nama Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah atau TMI, tafa’ulan terhadap KMI Gontor yang sangat beliau kagumi. Apalagi setelah melihat hasil yang dicapai oleh putranya, Moh. Tidjani setelah setahun mondok di sana.

Selain mendirikan TMI Majalis KH. Djauhari juga pernah mendirikan Sekolah Lanjutan Pertama Islam yang diprakarsai oleh beberapa orang pemuda Prenduan. Namun lembaga ini hanya bertahan selama 2 tahun karena kesalahan manajemen dan kesibukan para pengelolanya. Lalu muncul pula ide serupa beberapa tahun kemudian beliau mendirikan kembali Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) yang pada akhirnya kemudian disatukan dengan TMI Majalis dengan sistem terpadi yang kemudian menempati lokasi baru di desa Pragaan Laok.

Pada akhir era 70-an KH. Djauhari begitu kecewa dengan perkembangan umat Islam yang semakin terpecah belah oleh politik dan partai. Sementara, hasratnya yang begitu besar untuk mendirikan pesantren besar yang representatif bagi pengkaderan generasi muda muslim. Untuk itulah putra beliau, Muhammad Idris Jauhari yang baru menyelesaikan pendidikan di KMI Gontor tidak beliau perkenankan untuk melanjutkan studi keluar daerah. Bahkan beliau minta untuk membantu beliau dalam banyak kegiatan, mengajar santri, mengimami sholat, mengisi pengajian, mengurusi pondok dan lain-lainnya. Saat itu, seolah-olah beliau hendak berpamitan sekaligus meninggalkan amanat besar yang harus dilanjutkan oleh putra-putri beliau. Dan memang tidak lama kemudian, pada hari jumat 18 Rabiuts Tsani 1371 / 11 Juni 1971 beliau berpulang ke rahmatullah dengan tenang di dampingi oleh istri, anak dan keluarga beliau.

Periode Pengembangan Pertama (1971 – 1989)

Sepuluh hari sepeninggal KH. Djauhari, masyrakat Prenduan bermufakat untuk menjariyahkan sebidang tanah seluas 6 ha kepada putra almarhum, Moh. Tidjani Djauhari yang baru pulang dari Makkah untuk didirikan di atasnya pesantren yang representatif sesuai dengan cita-cinta almarhum semasa hayatnya. Tanah tersebut 2,5 ha berasal dari hasil pembelian yang harganya ditanggung oleh dermawan Prenduan, Kapedi dan Pekandangan sedangkan sisanya yang 3,5 ha berasal dari jariyah ahli waris almarhum Haji Syarbini yang disponsori oleh putranya Haji Fathurrahman Syarbini.

Di lokasi baru inilah kemudian yang dikembangkan ke arah selatan, barat dan utara sehingga saat ini luasnya kurang lebih 12 ha, yang kemudian dikenal dengan Pondok Al-Amien Komplek II yang sekarang menjadi pusat seluruh kegiatan AL-AMIEN PRENDUAN. Sebelum memulai pembangunan komplek II ini, kiai Moh. Tidjani Djauhari bersama kiai Muhammad Idris Juhari melakukan safari panjang ke beberapa pesantren terkenal di Jawa Timur dalam rangka mohon izin dan doa restu untuk mendirikan sebuah pesantren baru sekaligus melakukan studi banding dalam rangka mencari format yang paling cocok untuk masyrakat madura yang memang berciri khusus pula.

Namun, kiai Moh. Tidjani sementara tidak bisa meneruskan proses pendirian pesantren baru ini karena beliau harus segera kembali ke Mekkah untuk menyelesaikan Magisternya yang hampir tuntas. Maka walau awalnya keberatan, beban tanggung jawab untuk melanjutkan cita-cita almarhum diterima oleh Kiyai Muhammad Idris Jauhari. Apalagi ada jaminan kebebasan untuk berkreasi dan berbuat. Lagi pula ini hanya sementara dan di belakang beliau ada banyak pihak yang siap mendukung seluruh kegiatan pondok.

Berdasarkan hasil safari panjang yang dilakukan sebelumnya itulah, konsep tentang Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN yang baru, yang mencerminkan cita-cita almarhum KH. Djauhari Mendirikan Pesantren Ala Gontor tapi tidak melupakan nilai-nilai tradisi ke maduraan yang khas dirumuskan. Maka pada tanggal 10 Syawal 1371 atau 03 Desember 1971 dalam sebuah upacara yang sangat sederhana tapi khidmat, bertempat di serambi Bu Jemmar dan dihadiri oleh beberapa anggota panitia dan guru-guru, Kiyai Muhammad Idris Jauhari meresmikan berdirinya pesantren baru, dan beliau sebagai direkturnya.

Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah atau lebih dikenal dengan TMI, begitulah lembaga pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN tersebut dinamakan. Pemilihan nama ini sesuai dengan harapan dari almarhum yang menginginkan beridirinya sebuah lembaga pendidikan serupa dengan KMI Gontor. Di awal perjalanannya lembaga baru ini banyak mendapatkan tentangan dari beberapa pihak yang belum mengerti tentang dasar, acuan dan prinsip sistem pendidikannya yang menjadi acuannya.

Walaupun mendapatkan tantangan dari luar dan dalam, namun proses pendidikan tetap berjalan dengan baik. Wisuda pertama dilaksanakan pada tahun 1978 bersamaan dengan kedatangan KH. Moh. Tidjani Djauhari yang sedang pulang kampung. Bersamaan dengan wisuda tersebut dihelat pula peringatan tujuh tahun TMI yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan dan wali santri.

Untuk membantu tugas sehari-hari kiai dan guru-guru juga sebagai media latihan berorganisasi maka pada tahun 1975 dibentuklah Organisasi Santri yang bernama OP TMI dan Gudep Pramuka. Yang kemudian bermetamorfosa menjadi ISMI hingga saat ini.

Walaupun mengembangkan pesantren di lokasi baru, Pondok Tegal sebagai sebuah warisan dari almarhum tetap dipertahankan bahkan dikembangkan. Untuk itulah pengelolaan kegiatan pendidikan sehari-hari diserahkan kepada kiai Musyhab yang merupakan keponakan KH. Djauhari sekaligus menantu beliau. Sedangkan KH. Muhammad Idris Jauhari fokus mengelola TMI di lokasi baru.

Selain mengembangkan Pondok Tegal pada tahun 1973 juga dibuka Pondok Putri I di atas tanah milik kiai Abdul Kafi dan istrinya Nyai Siddiqoh keponakan KH. Djauhari yang memang dikaderkan secara khusus oleh beliau. Pendirian Pondok Putri I ini sendiri diawali oleh datangnya beberapa remaja putri Prenduan kepada Nyai Siddiqoh untuk mondok dan belajar secara khusus kepada beliau. Kedatangan remaja putri lainnyapun berulang di beberapa waktu setelahnya. Hal inilah yang mendorong beliau untuk membangun lokasi khusus untuk penginapan dan pemondokan mereka. Sehingga sejak tahun 1986 secara resmi Pondok Putri I berdiri dan sejak itu dikenal dengan Pondok Putri Al-Amien I atau Mitri I. Beberapa pengembanganpun dilakukan untuk memajukan Pondok Putri I sebagaimana halnya Pondok Tegal.

Pengembangan yang dilakukan tidak hanya di Pondok Putri I saja, sejak awal didirikannya telah ada hasrat yang besar untuk membangun Pondok Pesantren khusus putri yang bersistemkan TMI. Maka pada awal tahun 1975 dibangunlah SP Mu’allimat namun terpaksa diganti dengan MTs. Putri karena beberapa faktor. Namun pada tahun ajaran 1983/1984 beberapa wali santri datang untuk mengantarkan putrinya di lembaga pendidikan yang bersistem TMI bukan MTs. maupun MA. Obsesi lama tersebutpun muncul kembali ke permukaan. Maka setelah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, tepat pada tanggal 10 Syawal 1405 / 29 Juni 1985 dalam sebuah upacara yang sederhana di salah satu ruang belajar MTs. Pondok Putri I. Dra. Ny. Anisah Fatimah Zarkasyi yang saat itu sedang mudik dari Mekkah meresmikan berdirinya Tarbiyatul Mu’allimat Al-Islamiyah (TMaI) dan KH. Mahmad Aini ditunjuk sebagai direkturnya.

Hingga tahun 1983 TMaI masih menempati lokal MTs Pondok Putri I sampai akhirnya pindah ke lokasi baru, menempati tanah yang dijariyahkan oleh Hajjah Maryam. Di atas tanah seluas 1000 m2 yang terletak di sebelah barat rumah beliau tersebutlah kemudian dibangun lokal pertama milik TMaI. Dari lokal berbentuk L inilah TMaI mulai berkembang setapak demi setapak hingga seperti saat ini.

Alhamdulillah setelah enam tahun menjalankan program pendidikannya, pada tanggal 15 Ramadan 1411 / 31 Maret 1991 TMaI berhasil mewisuda alumni pertamanya sebanyak 11 orang. Kesebalas orang tersebut adalah mereka yang bertahan dari 25 orang saat pendaftaran awal pada tahun 1985.

Di lain sisi, sejak awal pembangunan TMI telah disadari pentingnya mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi di lingkungan AL-AMIEN PRENDUAN. Utamanya adalah untuk menampung alumni TMI yang berhasrat untuk melanjutkan pendidikannya namun masih di dalam pondok. Maka disepakatilah untuk mendidikan pesantren tinggi dengan nama Pesantren Tinggi Al-Amien (PTA) Fakultas Dakwah dengan KH. Shidqi Mudzhar sebagai dekannya dan KH. Jamaluddin Kafie sebagai pembantu dekan sekaligus pelaksana harian.

Selanjutnya ketika Menteri Agama, Bapak Munawwir Syadzali, MA berkunjung ke Al-Amien pada tanggal 04 Dzulhijjah 1403 / 11 September 1983 beliau diminta untuk meresmikan Pesantren Tinggi Al-Amien. Dan sesuai dengan peraturan pada masa itu Pesantren Tinggi diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Amien (STIDA) yang pada 24 Rajab 1402 / 29 Januari 1992 melepas wisudawannya sebanyak 43 orang.

Periode Pengembangan Kedua (1989-sekarang)

Tanggal 27 Januari 1989, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA kembali dari Mekkah Al-Mukarromah. Kemudian disusul oleh KH. Maktum Jauhari, MA pada tahun 1990 yang baru saja menyelesaikan Magisternya di Al-Azhar Cairo. Sejak saat itulah Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN memasuki masa pengembangan baru. Pengembangan-pengembangan semakin cepat berjalan karena sinergi yang semakin solid.

Pengembangan pertama yang dilakukan adalah Pendirian Ma’had Tahfidh Al-Qur’an (MTA). Pendirian MTA ini didasari pada obsesi lama untuk mencetak generasi Hafadzah Al-Qur’an yang mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan ummat. Maka pada tahun 1990 pendirian MTA dimulai dengan membuka kembali program Jamaah Tahfidz di kalangan santri senior TMI. Lalu kemudian pada pertengahan bulan Sya’ban 1411 / Februari 1991 KH. Muhammad Idris Jauhari bersama KH. Ainul Had dan KH. Zainullah Rais berkeliling ke beberapa Ma’had Tahfidzil Qur’an di Jawa Timur, Jogjakarta hingga ke Jawa Tengah untuk studi banding dan mencari pola serta sistem yang paling representatif bagi Ma’had Tahfidzil Qur’an Al-Amien.

Dengan perantara Syekh Bakr Khumais, seorang dermawan Arab Saudi Syekh Ahmad Hasan Fatihy bersedia menyediakan dana yang cukup untuk membuka lembaga khusus bagi MTA yang terpisah dengan TMI. Maka pada dengan segala persiapan yang matang pada tanggal 12 Rb. Awal 1412 / 21 September 1991 KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA meresmikan berdirinya MTA dengan jumlah murid pertama sebanyak 28 orang.

Pengembangan kedua adalah pembangunan Masjid Jami’ AL-AMIEN PRENDUAN. Hal ini telah terobsesi sejak lama, sejak beliau masih berada di Mekkah Al-Mukarromah. Beliau menginginkan di tengah-tengah kampus Al-Amien nantinya dibangun sebuah masjid yang besar, megah, indah dan multifungsi. Maka sepulang dari Mekkah beliau pun membentuk Panitia Pembangunan Masjid Jami’ AL-AMIEN PRENDUAN. Segera setelah panitia dibentuk pembangunan masjid tersebut dimulai. Segala daya dan upaya dilakukan untuk mensukseskan pembanguan masjid besar ini. Untuk teknis pembangunan PT. Adhi Karya dan Pondok Modern Gontor pun di gandeng.

Pembangunan masjid besar seluas 48 x 40 meter ini berjalan secara bertahap dari tahun ke tahun. Proses pembangunannya kadang berlari, merangkak bahkan merayap sesuai dengan kebutuhan dan dana yang ada. Hingga akhirnya seluruh bagian utama masjid tersebut selesai tepat bersamaan dengan perayaan kesyukuran 45 tahun berdirinya AL-AMIEN PRENDUAN. Pada perhelatan akbar itu pula Menteri Agama meresmikan Masjid Jami’ AL-AMIEN PRENDUAN. Total keseluruhan pembiayan yang dihabiskan hingga saat itu mencapai Rp. 1.293.005.000.

Pengembangan selanjutnya adalah peningkatan status Sekolah Tinggi Dakwah Al-Amien (STIDA) menjadi Sekolah Tinggai Agama Islam Al-Amien (STAI) dengan dibukanya Jurusan Pendidikan Agama (Tarbiyah) pada tahun 1995. Lalu pada tahun 2001 status STAI ditingkat kembali menjadi Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) dengan dibukanya 3 jurusan baru, Pendidikan Bahasa Arab (Tarbiyah), Jurusan Tafsir Hadis (Ushuluddin) dan Jurusan Akidah Filsafat (Ushuluddin).

Memasuki tahun 2002, AL-AMIEN PRENDUAN memasuki usianya yang ke 50. Untuk menyambut usia emas ini digelar peringatan Kesyukuran Setengah Abad Al-Amien dengan aneka kegiatan yang berlangsung selama 20 hari lamanya. Pada peringatan ini pula diresmikan MI Ponteg sebagai MI percontohan oleh Mendiknas RI. Beberapa pengembangan terus dilakukan, diantaranya adalah pendirian MTA Putri pada tahun 2006.

Setelah 18 tahun berjuang mengembangkan AL-AMIEN PRENDUAN, pada tanggal 15 Ramadhan 1428 KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA wafat dan meninggalkan amanah pengembangan AL-AMIEN PRENDUAN kepada KH. Muhammad Idris Jauhari dan kiai-kiai dan guru-guru yang lain.  KH. Muhammad Idris Jauhari kemudian wafat pada hari Kamis, 08 Sya’ban 1433 H/28 Juni 2012 Pukul 06.55 WIB pada usia ke-60. Kepemimpinan kemudian diserahkan kepada adik beliau KH. Maktum Jauhari, MA. Patah tumbuh, hilang berganti. Demikian pepatah menggambarkan bagaimana perkembangan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN sejak didirikannya hingga saat ini.

/p

Pembangunan Darud Diyafah & Taman TMI Putri

Mohon do’a restu dan dukungan dana untuk Pembangunan Darud Diyafah (tempat penerimaan tamu) dan Taman di TMI Putri Al-Amien Prenduan. Berikut ini kami lampirkan rincian kebutuhan dan site plan bangunan.

Info lebih lanjut hubungi:

KH. Harun Ar-Rasyid: 0819351596451
KH. Drs. Suyono Khatthab: 081803194804
Telp/Fax: (0328) 821777
Email: tmi@al-amien.ac.id

[mudslide:picasa,0,pp.alamien.prenduan,5745879356097283697]

Download gambar

Peletakan Batu Pertama RSI


Mimpi memiliki Rumah Sakit Islam (RSI)  segera menjadi kenyataan. Gong pendirian Rumah Sakit Islam (RSI) Al-Amien ditabuh ditandai dengan Peletakan Batu Pertama oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, H. Saifullah Yusuf (29/09/11).

Pendirian RSI Al-Amien awalnya merupakan mimpi dan cita-cita (alm) KH. Muhammad Idris Jauhari, dan telah direncanakan sejak kurang lebih 3 tahun yang lalu. Rencana ini menjadi tema sentral Silaturrahim Nasional Al-Amein Prenduan 2011 lalu, dan mendapat dukungan penuh dari alumni, abituren dan simpatisan, baik moral maupun materi. Ketika itu, dalam beberapa jam saja terkumpul dana sekitar 25 juta untuk bangunan dan wakaf tanah.

“Memang tidak seberapa jika dibanding dengan total biaya yang dibutuhkan  untuk membangun RSI, tapi antusiasme para alumni dan simpatisan perlu diapresiasi positif. Donasi awal ini mudah-mudahan menjadi penanda untuk donasi-donasi selanjutnya,” ucap Saiful Bahri, salah satu panitia pendirian RSI.

Pendirian RSI Al-Amien diperkirakan menelan biaya sekitar 4,5 M. Pendiriannya didasarkan atas Surat Keputusan Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep (Nomor: 503.17/01/435.021/2010), dan rekomendasi Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep (Nomor: 445/2359/435.102/2009), serta rekomendasi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumenep (Nomor: 660.2/185/435.204/2010).

Proyek pembangunan dipimpin oleh H. Slamet Fiddien. Perkembangan pembangunan RSI Al-Amien selanjutnya bisa diikuti melalui website RSI di http://rsi.al-amien.ac.id.

KH. Moh. Tidjani Djauhari, M.A.

khmoh-tidjani-djauhari-maduraUlama, Cendekiawan, dan Mujahid Tarbiyah

Pengabdian kepada umat harus senantiasa dilakukan secara kaffah, total dan maksimal. Demikian prinsip yang mengakar kuat di jiwa (alm) KH. Moh. Tidjani Djauhari, M.A. hingga maut menjemputnya, Kamis, 27 September 2007. Ibarat matahari, kehadiran Tidjani, tidak saja sebagai penebar cahaya, ia adalah cahaya itu sendiri yang mampu menerangi ruang kesadaran umat Islam dari segala penjuru.

Matahari Itu Terbit

Moh. Tidjani dilahirkan pada 23 Oktober 1945 di Prenduan, sebuah desa kecil 22 km di sebelah timur kota Pamekasan dan 30 km di sebelah barat kota Sumenep. Kelahirannya menyempurnakan suara genderang kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkraman kolonialisme. Mendidihkan gemuruh jihad para mujahid fi sabilillah ketika mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia dengan segala jiwa dan raga. Saat itu, Prenduan, juga kota-kota lainnya di Indonesia, berada dalam euforia kemerdekaan setelah 350 tahun lamanya hidup dalam kerangkeng penjajah.

Moh. Tidjani adalah putera keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, KH. Djauhari Chotib, adalah seorang ulama besar, tokoh Masyumi, dan pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kepemimpinan KH Djauhari di Hizbullah, berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan mental kepemimpinan Tidjani di masa mendatang.

Ditilik dari silisilah ayahnya, ada darah keturunan KH. As’ad Syamsul Arifin, ulama kharismatik pendiri PP. Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, mengalir di jiwanya. “Almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah sepupu dari nenek saya. Jadi masih keluarga sendiri,’ tukasnya suatu ketika. Sedangkan dari pihak ibunya, Nyai Maryam, ia adalah keturunan Syaikh Abdullah Mandurah, salah satu muthowib di Mekkah asal Sampang, Madura, yang banyak melayani jamaah haji Indonesia.

Sejak kecil, Moh. Tidjani tumbuh berkembang dalam ranah pendidikan Islam yang sangat kental. Hal itu tak lepas peran ayahnya, Kiai Djauhari, yang berobsesi kelak Tidjani mampu menjelma pribadi muslim yang memiliki mental dan kepribadian yang tangguh. Karena itu, Tidjani kecil sangat akrab dan menikmati pendidikan keagamaan yang telah diterimanya sejak kecil. Tahun 1953, Tidjani menapakkan kakinya di bangku Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ulum Al-Washiliyah (MMA). Di sinilah, ia memulai belajar dasar-dasar ilmu pengetahuan. Hari-hari baginya adalah kesempatan emas untuk mengasah diri dan memperluas wawasan keilmuan. Tidjani sebagai matahari kecil mulai menebarkan cahaya. Cahayanya menelisik dan meranumkan senyum masyarakat Prenduan saat itu yang menaruh harapan besar di pundaknya.

Dari Gontor ke Saudi Arabia

Mengetahui minat dan bakat intelektual yang terpendam dalam Tidjani cukup besar, tahun 1958, Kiai Djauhari mengirimnya untuk nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apalagi, Kiai Djauhari cukup kagum dengan sistem dan pola pendidikan modern yang diterapkan di pondok pimpinan KH. Imam Zarkasyi itu. Sebuah pondok yang tidak mengenal kamus dikhotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Di sinilah, Tidjani memulai petualangan ilmu pengetahuannya. Tidak saja ilmu-ilmu keagamaan an sich yang ia pelajari, melainkan juga keterampilan dasar kepemimpinan dan manajemen. Tidjani dikenal santri yang cerdas. Tak ayal, prestasi akademik tertinggi pun selama nyantri Gontor diraihnya.

Bulan Januari 1964, Tidjani tamat dari KMI Gontor dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) (ISID sekarang, red) sekaligus menjadi guru KMI Gontor. Waktu itu, Tidjani dipercaya sebagai sekretaris Pondok dan staf Tata Usaha PTD. Jabatan ini tergolong baru di Gontor. Jadilah Tidjani sebagai sekretaris pertama di Pondok Modern Gontor. Posisi sebagai sekretaris ia manfaatkan dengan maksimal. Jabatan inilah yang memungkinkannya untuk melakukan interaksi secara luas dengan berbagai pihak secara intens, tak terkecuali dengan (alm) KH. Imam Zarkasyi, yang kelak menjadi mertuanya, setelah Tidjani mempersunting putrinya, Anisah Fathimah Zarkasyi. Inilah kado paling berharga dalam petualangan panjang Tidjani belajar di Gontor, sekaligus menandai lahirnya babak baru komunikasi edukatif antara Al-Amien dan Gontor.

Setelah mengabdi setahun di Gontor, tahun 1965, Tidjani melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah. Ia diterima di Fakultas Syariah. Kesuksesan studinya di universitas ini, di antaranya, berkat usaha kakeknya, Syeikh Abdullah Mandurah. Tahun 1969, Tidjani tamat belajar tingkat license dari Fakultas Syariah Jamiah Islam Madinah dengan predikat mumtaz. Tak puas, tahun 1970, Tidjani melanjutkan studi magisternya di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah, hingga akhirnya lulus tahun 1973, dengan tesis “Tahqiq Manuskrip Fadhail Al-Quran wa Adaabuhu wa Muallimuhu li-Abi Ubaid Al-Qosim” (Keistimewaan Al-Quran: Etika dan Rambu-rambunya dalam Perspektif Abu Ubaid Al-Qosim). Sebuah kajian mendalam tentang sebuah manuskrip kitab tentang Al-Quran yang dikarang oleh Abu Ubaid Al-Qosim, seorang ulama Syam, yang hidup sezaman dengan Imam Syafi’ie. Bahasa asli kitab ini masih menggunakan bahasa Romawi. Untuk kepentingan inventarisasi dan pendalaman bahan penelitian ini, Tidjani menjelajahi perpustakaan-perpustakaan di Turki, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Spanyol hingga Mesir. Alhasil, penjelajahan intelektual-akademisi yang cukup melelahkan itu mengantarkannya meraih predikat mumtaz (cum laude) dari Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah.

Selain aktivitas kampus, sejak 1967-1986, Tidjani aktif berkiprah dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), Saudi Arabia, baik sebagai sekretaris, ketua, dan terakhir tercata sebagai penasihat PPI.

Menggayuh Karier di Rabithah ‘Alam Islami

Kisah ini bermula ketika M. Natsir – dai, ulama, politisi, ketua Partai Masyumi, dan mantan Perdana Menteri Pertama Republikkha-tidjani-madura Indonesia (1950-1951) — menghadiri undangan sebagai tamu pemerintah Saudi Arabia untuk mengetahui tim ulama dari Saudi Arabia, Irak, Tunisia, Maroko dan Mesir guna mengantisipasi problematika tanah Quds setelah jatuh ke tangan Zionis Yahudi tahun 1967. Saat itu, M. Natsir tercatat sebagai anggota Rabithah Alam Islami dan Muktamar Alam Islami. Kedatangan M. Natsir dimanfaatkan oleh Tidjani untuk berkenalan dan bersilaturrahim. Tidjani mengagumi sosok M. Natsir sebagai pibadi besar dan berwibawa. Tidjani masih tercatat sebagai mahasiswa di Jamiah Islamiyah Madinah.

Dalam kunjungan selanjutnya, M. Natsir mendengar ada putra Indonesia yang meraih predikat terbaik di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah. Mengetahui itu, M. Natsir takjub dan segera mencari informasi siapa putra Indonesia itu. Yang kemudian diketahui bernama Moh. Tidjani. Atas prestasi yang dicapainya itu, tahun 1974, M. Natsir merokemendasikan Tidjani untuk diterima bekerja di Rabithah Alam Islami. Sejak tahun itulah, Tidjani resmi berkarier di Rabithah Alam Islami dengan jabatan pertama sebagai muharrir (koresponden) yang tugas mengurusi surat-menyurat yang datang dari berbagai penjuru dunia. “Pak Natsir minta saya agar tidak pulang ke Indonesia dan belajar dulu di Rabithah. Saya menerima nasihat tersebut,” kenang Tidjani.

Kariernya di Rabithah melesat cepat. Beberapa jabatan penting pernah direngkuhnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988).

Keaktifannya di Rabithah Alam Islami inilah yang mengantarkannya menjelajahi berbagai negara di belahan dunia: Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia. Di antaranya, tahun1976, Tidjani mengikuti Konferensi Islam di kota Dakkar, Senegal. Pada tahun yang sama, hadir dalam Konferensi Islam Internasional di Mauritania, Afrika. Tahun 1977, Tidjani mengikuti Seminar Hukum Islam di Chou University, Tokyo, Jepang. Sementara pada tahun 1978, Tidjani mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Velenova University, Philadelpia dan Dallas, Texas, Amerika Serikat.

Antara tahun 1978-1982, Tidjani terpilih sebagai salah wakil Rabithah yang dikirim sebagai tim rekonsiliasi untuk menuntaskan masalah muslim Mindanau, Piliphina. Tugas yang sama dibebankan kepadanya, ketika tahun 1983, dikirim sebagai tim rekonsiliasi masalah politisasi agama di Burma dan konflik di Bosnia. Pada tahun ini pula, Tidjani mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Birmingham dan Leeds University, Inggris.

Berlabuh di Al-Amien Prenduan

Ketika kariernya Rabithah Alam Islami berada di puncak. Tidjani memutuskan untuk pulang kampung halaman. Ibarat kacang, Tidjani tidak pernah lupa kulitnya. Bulan Januari 1989, Tidjani beserta keluarga tiba di Indonesia setelah kurang lebih 23 tahun lamanya bermukin di Tanah Suci, Mekkah. Tidjani sudah mencicipi asin garam perjalanan dakwah lewat organisasi Rabithah Alam Islami. Bahkan, manis pahitnya kebudayaan Timur Tengah sudah ia rasakan. Dalam komunikasi Bahasa Arab, boleh dikatakan, lisan Tidjani adalah lisan Arab.

Kepulangannya di Al-Amien Prenduan disambut gegap gempita. Tidjani memaknainya sebagai babak baru perjalanan dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan. Misinya adalah merealisasikan dan menyempurnakan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, yang telah didirikan oleh ayahnya, Kiai Djauhari Chotib, tahun 1971, menjadi lembaga pendidikan Islam ala Gontor yang berkualitas, kompetitif, dan bertaraf internasional.

Bersama Idris Jauhari, adiknya, yang lebih awal eksis membina pondok sejak tahun 1971 dan Maktum Jauhari, adiknya, yang tiba dari Kairo, Mesir, setahun kemudian. Serasa mendapat amunisi baru, ketiganya, ditambah unsur pimpinan yang lain, bergerak cepat melakukan pembenahan dan penyempurnaan. Hasilnya, di antaranya, adalah pembangunan Masjid Jami’ Al-Amien (1989) dan membuka Ma’had Tahfidzil Quran (MTA) (1991) serta mengembangkan status Sekolah Tinggi Agama Islam menjadi Institut Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA), dan pendirian Pusat Studi Islam (Pusdilam) (2003).

Dalam kurun waktu 18 tahun (1989-2007), Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah menjelma sebagai pondok yang representatif, disegani, dan berwibawa, sekaligus sebagai pondok tempat menyiapkan kader-kader pemimpin umat yang kompeten dan mumpuni. Hingga September 2007, sebanyak 5.243 santri, yang berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia dan negera-negara tetangga, belajar dan menempa diri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Dari Madura untuk Bangsa

“Jangan membangun di Madura, tapi bangunlah Madura,” demikian tegas Tidjani, pada sebuah kesempatan, menyikapi rencana industrialisasi Madura yang didahului dengan pembangunan jembatan Suramadu. Timbulnya dampak negatif-destruktif dari pembangunan Suramadu menjadi kekhawatiran banyak pihak, tak terkecuali Kiai Tidjani. Bersama ulama se Madura yang tergabung dalam Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA), Tidjani melakukan serangkaian kegiatan, agar nantinya, pembangunan di Madura berjalan dalam koridor yang selaras dengan nilai-nilai budaya Madura yang islami. Ia menolak keras eksploitasi Madura demi kepentingan ekonomi semata.

Ide segarnya tentang “provinsiliasi Madura” hingga menjadikan Madura sebagai “Serambi Madinah” mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Respon itu seperti tertuang dalam Hasil Kesimpulan Seminar Ulama Madura tentang Pembangunan dan Pengembangan Madura (1993), Piagam Telang Madura (1997), Rumusan Sarasehan “Menuju Masyarakat Madura yang Madani” (1999), Deklarasi Sampang (2006).

Terkait pebangunan di Madura, Tidjani menegaskan ada dua (2) hal yang harus segera dilakukan. Pertama, pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat Madura berdasarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang kokoh untuk meminimalisir dampak pembangunan. Kedua, pendidikan. Pendidikan terkait dengan penyiapan SDM yang berkualitas, hingga nantinya masyarakat Madura mampu memanfaatkan pembangun bukan malah dimanfaatkan oleh pembangunan. Nantinya, masyarakat Madura tidak lagi menjadi “orang asing” di negerinya sendiri.

Layaknya seorang kiai, sayap dakwah yang dikembangkan Tidjani tidak saja berputar pada persoalan Madura saja, totalitas pengabdian dan kiprahnya menjangkau segala persoalan bangsa, baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

Tidjani berusaha merekam segala detail persoalan dan problematika yang dihadapi umat Islam saat ini. Ketika aksi pornografi dan pornoaksi merebak dan meresahkan masyarakat, Tidjani beserta ulama BASSRA membuat pressure agar persoalan ini segera dituntaskan. Saat umat Islam Palestina diinjak-injak martabatnya oleh Zionis Yahudi, Tidjani, lewat BASSRA, mengutuk keras aksi biadab Zionis Yahudi dan menyerukan aksi solidaritas dari seluruh umat Islam sedunia.

Kecendekiawanan dan ketokohannya memantik apresiasi positif dari berbagai pihak. Berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain, Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jatim (1995-2000), salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren (BSPP) (1998), dan Ketua II Majlis Ma’had Aly Indonesia (2002)

Setelah 62 Tahun

Setelah 62 tahun, Tidjani mengabdikan dirinya untuk umat dan bangsa. Allah memanggilnya ke haribaan-Nya dengan senyum, Kamis dini hari (27/9) sekitar pukul 02.00 WIB di kediamannya. Almarhum wafat akibat penyakit jantung. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini meninggalkan seorang istri (Ny. Hj. Anisah Fathimah Zarkasyi), 3 putra (KH. Ahmad Fauzi Tidjani, MA, Imam Zarkayi, Abdullah Muhammadi), 5 putri (Hj. Shofiyah, Hj. Aisyah, Afifah, Amnah, dan Syifa’), dan 2 cucu (Syafiqoh Mardiana dan Ayman Fajri).

Selamat jalan Kiai! Semoga Allah menerima amal baik dan menempatkan Kiai di surga-Nya. Amin.