Belajar dari Jhermudi dan Nasionalisme Etnis;
Ditulis pada 26 December 2009 - kategori : Artikel - 4 Komentar - dibaca 124 kaliDatanglah ke Masalembu tahun 70-an, sebuah pulau kecil yang secara ekologis-geografis, terletak pada posisi lintang : 5° 31’ sampai dengan 5° 35’ LS serta penduduk yang beraneka suku dan kebudayaan. Pulau yang eksotis untuk ukuran pariwisata. Membayangkan Masalembu adalah seperti melihat sebuah pulau dengan pasir putih, laut yang hijau dan pesona ikan sekawanan berjumpalitan.
Pulau Masalembu seringkali dikenal masyarakat luas sebagai pulau burung Jambul Kuning, sebuah satwa yang dikenal indah dengan jambul berwarna kuning di kepalanya.
Selebihnya, Masalembu adalah pulau yang memiliki satwa laut yang begitu banyak. Bahkan pada masanya, Masalembu dikenal sebagai pensuplai ikan terbesar ke daerah Banjarmasin, Sampit, Muncar dan sekitarnya.
Keadaan seperti ini sangat beralasan, karena Masalembu memang mempunyai daya tampung yang sangat tinggi terhadap struktur biodiversitas habitat, seperti terumbu karang, mangrove, pesisir litoral, rumput laut (algae), dan daerah umbalan (upwelling area) yang menjadi penopang sumberdaya ikan dan non-ikan dengan nilai ekonomis yang tinggi.
Hasil pertanian di daerah Masalembu tak kalah menarik, beraneka tumbuhan hidup dengan subur, kecuali padi.
Untuk sampai ke Masalembu, cukup menyewa sebuah perahu besar atau perahu pribadi dan berlayarlah ke perairan Masalembu pada bulan apapun kecuali bulan Agustus atau musim gelombang, karena jika berlayar pada bulan tersebut, bisa sangat beralasan jika kapal yang ditumpangi menjadi karam di lautan seperti Thampomas II yang kapal bekas itu.
Pulau Masalembu tahun 70-an adalah sekumpulan suku yang saling berdampingan, hidup berkelompok bagian, namun penuh kesahajaan satu sama lain. Suku bugis, hidup dengan tenang di dalam rumah panggung yang mereka bangun. Suku mandar hidup dengan penghasilan melaut berkelompok di pesisir bagian timur pulau Masalembu.
Sedang suku Madura hidup dengan semangat religius yang sangat menjaga kehormatan wanita dan harga diri mereka dengan tanean lanjheng, sambil lalu bertani segala macam pala wija. Semangat religius yang tinggi itu menempatkan seorang wanita berada pada kehormatan tertinggi. Dimana batas tanean lanjheng merupakan suatu batas kehormatan seorang wanita, suatu batas keluarga batih. Masuk dalam batas itu berarti menghina seluruh keluarga, dan tidak ada jalan lain kecuali diselesaikan dengan carok.
Kesemua suku yang ada hidup dengan kehidupan yang mapan dan saling menguatkan. Semula, masing-masing suku di pulau Masalembu tidak memperbolehkan anak cucunya menikah silang, dengan kata lain seorang Madura tidak boleh menikah dengan seorang Bugis, Bugis tidak boleh menikah dengan Mandar dan seterusnya.
Namun lama kelamaan, sikap ekstrim seperti di atas berubah seiring berjalannya proses akulturasi budaya. Tidak hanya pernikahan, namun juga adanya pemakaian egar yang sama-sama diterima oleh ketiga suku terbesar di Masalembu.
Suasana rukun seperti ini terus berlanjut. Hingga pada tahun 80-an, Masalembu semakin harmonis, tidak ada Bugis yang rasis, tidak ada Madura yang merasa paling gagah, tidak ada Mandar yang merasa paling dulu mendapat sinar. Semua merasakan nikmatnya persatuan.
Dulu sekali, untuk melintasi laut dan sampai ke pulau Madura atau Jawa, orang Masalembu cukup melenggang di lautan dengan sebiduk perahu yang tak begitu besar. Dengan itu, masyarakat Masalembu sudah cukup memenuhi kebutahan mereka yang begitu kompleks barang waktu setahun.
Bercerita tentang Masalembu tahun 70-an tentu sangat mengagumkan. Semua kebutuhan terpenuhi dengan penuh kesadaran, proses hidup rukun yang penuh pertimbangan duduk sama rendah, tinggi sama mulia. Pemenuhan kebutuhan dilakukan sendiri tanpa banyak diatur pemerintah.
Masalembu pada masanya, mengalami kejayaan atas bimbingan para kepala suku dan pemuka agama. Pemerintah tidak banyak andil di dalamnya, seakan masyarakat Masalembu memiliki prinsip “Masalembu adalah bumi kami, jangan jajah dan jangan jarah, kami cukup hidup bersahaja!”.
Namun kalimat di atas kini tidak ada lagi, peralihan pemerintahan dari orde baru ke reformasi, membuat kesadaran memerintah dan berpolitik hidup dalam diri masyarakat Masalembu, banyak orang ingin menjadi penguasa dan memerintah di Masalembu tanpa sadar bahwa Masalembu bukan daerah kekuasaan.
Selain itu, kesadaran hidup “berdemokrasi” teradopsi secara tidak sadar, seperti seorang bayi yang tidak mau lagi menetek kepada Ibunya, karena secara tidak sadar mereka ditipu dengan pemahit rasa di putting ibu mereka agar tidak kembali menyusu. Ada sebuah kepalsuan dan kebodohan paradigma tentang demokrasi.
Perumpamaan bayi menetek seperti itu sama halnya dengan masyarakat Masalembu yang latah, melupakan suatu identitas kesatuan dan persatuan agar selalu menjadi suatu etnis yang berbudaya dan berkemanusiaan dalam mempertahankan dan menumbuhkan jiwa berkebangsaan dan bernegara Indonesia.
Selain itu, arus reformasi yang disebut-sebut sebagai egara bagi masyarakat Indonesia mampu membuat suatu statemen baru dalam egara masyarakat Masalembu. Mereka menuhankan demokrasi tanpa memasukkan egara-unsur kemanusiaan yang benar. Demokrasi dibahasakan sebagai suatu proses kesetaraan dan kebebasan untuk menggapai suatu kebahagiaan pribadi, bukan untuk kesejahteraan bersama.
Pasca reformasi, masyarakat Masalembu terutama kaum elit merancang kepengurusan serta membuat agenda kegiatan organisasi egara. Tapi bukan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kejayaan Masalembu, melainkan untuk kesejahteraan pribadi dan golongan.
Walaupun dulu memang ada rasisme Bugis, Mandar, dan Madura di Masalembu. Namun apa yang diusahakan mereka berada di atas asas kesejahteraan golongan mereka untuk menumbuh-kembangkan sumber daya yang ada di Masalembu, ras adalah kehormatan bagi mereka, tapi kawasan Masalembu adalah kehidupan untuk bertahan, sehingga tidak ada pemenuhan kebutuhan secara rakus dan semena-mena terhadap alam.
Pada tahun 70-an, orang Masalembu tidak akan segan-segan mengusir suku sendiri yang membuat kerusakan di laut. Misalnya melakukan pemburuan berlebihan, melakukan penangkapan ikan yang semena-mena dan hal lain yang merugikan. Dari itu, di sisi lain mereka juga menjaga kelestariannya.
Sebagai bukti dari itu, ketika musim gelombang egara maka akan banyak orang meletakkan egara di lautan sebagai tempat hidup satwa laut dan kelestarian terumbu karang, mereka secara gotong royong akan meletakkan daun-daunan dan egara ke dalam laut untuk tempat hidup satwa laut.
Begitulah perkembangan kejiwaan masyarakat Masalembu dalam waktu yang cukup singkat. Sebuah indikasi bahwa kesadaran memimpin-menguasai tidak membuat Masalembu menjadi lebih baik.
Sebab itu mari egara ke Masalembu, sebuah pulau yang kini ditinggal jauh satwa burung “jambul kuning”, pulau dengan jalan yang rusak dari segala sisi. Pulau yang apabila ingin bepergian ke kota—Sumenep atau Jawa, harus menunggu kapal perintis seminggu lamanya.
Datanglah ke Masalembu, maka akan banyak pemandangan lembaga pendidikan yang para kepala sekolahnya hijrah ke Sumenep dan tidak tinggal di Masalembu. Sebuah kantor kecamatan dan desa yang kepala kantornya tidak ada di kantor kecamatan dan desanya.
Haha, mari lihat kembali dan mengenang tahun 70-an silam, apa yang berubah dari pulau Masalembu? Pulau yang begitu bening hingga mata indah memandang terumbu karang, atau satwa yang dulu indah berenang beterbangan.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, sebenarnya tidak sesulit apa yang dipikirkan. Mari kita lihat Masalembu dari sisi manusianya sebagai pengendali budaya dan generator penggerak egara egara.
Jika tahun 70-an segala urusan diserahkan kepada kepala suku yang menjunjung tinggi kesejahteraan, melihat alam sebagai sahabat kehidupan. Saat ini banyak pemimpin Masalembu melihat tahta dan kekuasaan sebagai suatu kedudukan untuk meraih kebahagiaan pribadi. Tidak memperhatikan kawasan, satwa dan alam raya.
Melihat Masalembu pasca reformasi, sama seperti melihat sebuah perahu yang sudah dirakit dengan gotong royong dan dilayarkan ke laut lepas, terhempas badai dan gelombang. Semakin gaduh orang berbicara siapa yang salah dan bertanggung jawab atas semua egara musibah yang terjadi, semakin banyak pula yang terus menyalahkan orang lain sambil rakus mengambil segala kebutuhan pribadi yang bukan haknya.
Masing-masing orang bergegas ingin menjadi pemimpin, menggantikan jhermudi yang telah meninggal karena kapal telah tenggelam dan karam.
Masalembu, masyarakat dan kepemimpinan. Suatu hubungan setali tiga uang yang tidak bisa dipisahkan. Melihat kondisi yang tidak baik di pulau Masalembu, saya jadi teringat suatu puisi Tagore.
“Mereka bangun rumah dari pasir, mereka rajut kapal dengan daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam…”
Dari puisi Tagore yang saya ingat ini, sebenarnya ingin digambarkan bahwa masyarakat yang ingin membuat “ egara egara” yang baik harus dilakukan dengan material yang baik, baik sumber daya manusia, alam, dan waktunya. Sangat tidak akan mungkin seseorang membangun rumah dari pasir, atau merajut kapal dengan daun kering.
Jika Masalembu sebagai imvirontment diposisikan sebagai tempat hidup, masyarakat diposisikan sebagai elemen penopang dalam pewarnaan kehidupan, maka di sinilah pemimpin diharap menjadi jhermudi yang dalam filosofi nelayan selalu ada di belakang, untuk menunjukkan arah dan tujuan serta sebagai pengendali bagi seluruh penumpang.
Seorang jhermudi tidak lantas menjadi orang yang menyuruh dan menguasai perahu, jhermudi dalam prakteknya akan berusaha membuat penumpang nyaman dan mengarahkan perahu pada tujuan yang benar serta mengatur strategi menangkap ikan yang baik.
Hal ini perlu diangkat ke permukaan, bahwa seorang pemimpin utamanya bagi Masalembu, harus ikut menguasai filosofi kepemimpinan jhermudi ini. Dalam sejarah pelayaran, hampir tidak ada jhermudi yang mau menang sendiri dalam mengambil keputusan, tidak ada yang mau main kekerasan tanpa musyawarah. Sebab ada banyak pertimbangan yang harus diambil dan dipikirkan agar tidak semua penumpang kapal merugi atau bahkan tenggelam dan mati.
Misal begini, jika suatu saat egara ke Masalembu maka tanyakan pada nahkoda, apakah nahkoda bisa menjamin keselamatan pribadinya, jika kesalamatan penumpang kapal terancam? Nahkoda (jhermudi) dengan penumpang dan perahu atau kapal, kesemuanya adalah suatu kesatuan, tidak bisa didefinisikan satu sama lain secara parsial. Kapal tidak ada gunanya tanpa penumpang, atau jika keduanya ada tapi tidak ada nahkoda, maka pelayaran akan sangat tidak memungkinkan.
Begitulah prinsip pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin untuk Indonesia, seorang pemimpin untuk suatu kejayaan bangsa dan egara. Seorang pemimpin tidak boleh merasa tenang pada saat masyarakatnya merasakan kesengsaraan. Begitupun, seorang pemimpin tidak boleh merasa tenang jika alam sebagai tempat hidup dan berkehidupan rusak atau dirusak.
Jalan di Masalembu itu kawasan hidup untuk hidup, jadi jika terus dibiarkan rusak dan bergelombang dari segala sisi, maka riwayat akhir dari Masalembu adalah kematian yang disebabkan oleh pemimpin dan masyarakat secara umum.
Kembali pada jhermudi, dalam mencari ikan seorang jhermudi adalah seorang yang ikut melempar jala dan menariknya kembali ke atas perahu. Jika sudah selesai, maka jhermudi lagi yang bersusah payah melintasi laut mengarahkan perahunya. Memang sosok yang paling susah dalam menjala ikan (nelayan) adalah jhermudi, yang dalam sisi lain kesusahan dan pengorbanan itu dijawab dengan penghormatan, penghargaan dan jatah uang lebih dari yang lain. Nah, itulah sejatinya pemimpin.
Menjadi pemimpin dalam filosofi nelayan, adalah memberikan yang terbaik. Sedangkan hal lain berupa uang lebih, penghormatan dan kekuasaan itu adalah bonus yang diterima dari perjuangan besar tanpa harus diminta.
Seorang jhermudi dalam kamus nelayan, dia harus lebih tahu banyak tentang bagaimana cuaca dan cara menangkap ikan yang baik, akan sangat tidak mungkin jika keahlian seorang jhermudi di bidang nelayan berada di bawah rata-rata kawan-kawannya yang lain.
Hal seperti ini menjadi suatu cerminan bagi pemimpin, bahwa menjadi kepala adalah menafsirkan segala sesuatu dengan baik dan diaplikasikan secara positif-konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam arti lain, menjadi pemimpin adalah membuat suatu metode yang baik dengan belajar pada alam dan pengalaman. Sehingga dengan itu, ditemukan suatu metode yang baik dan diterima oleh masyarakat banyak. Hal ini menjadi suatu prioritas, karena kesatuan masyarakat yang baik akan membantu jalannya pemerintahan yang baik, masyarakat bersatu karena terjamin kesejahteraannya. Pemerintah bersatu karena terjamin pemerintahannya dan kesejahteraannya sebagai pejabat.
Mengingat kembali jhermudi, saya kembali mengingat bahwa setiap perahu memiliki satu jhermudi. Dalam arti lain, masing-masing jhermudi menjadi pemimpin yang baik bagi suatu kawasan yang kecil. Sehingga kapal pesiar dengan mudah berlabuh dan menurunkan segala kekayaan dan menukar barang dari suatu derah ke daerah lain tanpa takut jika suatu saat ada perahu kecil yang merampok perahu besar. Seperti halnya ada banyak daerah yang merampok kekayaan egara atau sebaliknya.
Unsur kesejahteraan dan pendidikan kepribadian yang baik menjadi penting, agar pemimpin masing-masing biduk menciptakan kesejahteraan bersama-sama anak buahnya untuk suatu masyarakat yang memiliki control social yang baik.
Maka datanglah ke Masalembu untuk melihat suatu drama hidup. Drama hidup yang buas memangsa yang jinak dan lemah, agar kita mampu mengingat bahwa dahulu Masalembu memiliki nasionalisme etnis dengan filosofi jhermudi, menjadi pengayom dan pelindung serta mampu dihargai dengan baik.
Bukankah sebuas-buas harimau jika selalu didekati dan dielus—dalam arti manusia, diberi pengertian—akan menjadi jinak. Turun bersama rakyat untuk suatu keutuhan egara dan kesejahteraan bersama, bangun dari desa sebagai suatu komunitas yang kompleks. Maka Indonesia akan menemukan jati diri secara sendirinya, sebagaimana sebuah perahu yang dipimpin oleh seorang jhermudi yang handal akan menemukan ketentraman dalam kapal serta memiliki kesejahteraan masing-masing tanpa malu lagi mengaku sebagai nelayan.
Jika demikian habislah kalimat “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”.
Ach. Nurcholis Majid Alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2006 asal Masalembu. Tulisan ini menjadi Esai terbaik dalam Kompetisi Esai Mahasiswa 2009 yang diadakan oleh TEMPO Institute bekerjasama dengan Wantanas RI


Anilisis yang bagus, kau letakkan sejarah sebagai pandangan sebelum melangkah ya nurcholis….
Luar Biasa, tulisan anda bergerak bagai gelombang di ’segitiga bermuda’ indonesia….
Masalembu dulu dan kini bagai dua warna yang berbeda….
setitikpun tiada rona yang menyatukannya.
subhanallah esai ini benar2 kualitas al-amien punya…
jazakallah…
mampir ke :
pintuislam.blogspot.com
sangat bagus..
tapi nasionalisme dipertebal jga.
itu yg penting