Sembilan Wasiat Rasulullah SAW (Bag. 1)
Ditulis pada 3 August 2009 - kategori : Refleksi Kiyai - 42 Komentar - dibaca 1,920 kali
Dalam Kitab “Misykat al-Mashobih” lit-Tibriziy, Kitab “Al-‘Aqd al-Farid” lil Andalusy, Kitab “Al-Bayan wa at-Tabyin” lil Jaahidh, dan Kitab “Bahjah al-Majalis” li Ibni Abdil Bar disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Tuhanku telah berwasiat kepadaku dengan 9 perkara, dan aku wasiatkan kepada kalian (untuk melaksanakannya) : Tuhanku berwasiat (1). agar aku berlaku “ikhlas’ baik secara tersembunyi atau terang-terangan, (2). agar bersikap “adil” baik pada saat ridho atau marah (3) agar bersikap “sederhana” baik dalam keadaan kaya atau miskin (4) agar aku “memaafkan” orang yang dholim kepadaku, (5) agar aku “memberi” kepada orang yang mencekalku (6) agar aku “menyambung silaturrahim” dengan orang yang memutuskannya (7) agar aku menjadikan “diam”ku untuk berpikir (8) agar menjadikan “bicara”ku sebagai dzikir (9). dan agar menjadikan “pandangan” ku untuk mengambil i’tibar. (HR. Razin)
Sembilan Wasiat (Nine Commandments) yang disampaikan Allah kepada RasulNya dan beliau sampaikan kepada umatnya ini, sungguh merupakan pedoman dan tuntunan hidup kita dalam segala aspek kehidupan. Kalau kita mampu mengimplemetasi kannya dalam keseharian kita, sesuai kemampuan kita, insya Allah kita akan menjadi manusia yang “baik” di sisi Allah dan “terhormat” di mata makhluqNya. Kemudian mengingat terbatasnya ruang yang tersedia, dan mencermati kandungan isinya sekaligus untuk memudahkan ingatan, maka baiklah kita coba kelompokkan Sembilan Wasiat ini menjadi 3 (tiga) trilogi sebagai berikut :
1. Al-Ikhlash fis-Sirri wal ‘Alaniyah (Bersikap Ikhlas Secara Tersembunyi atau Terang-terangan)
Al-Ikhlas (sincerity, surrender) artinya memurnikan segalanya hanya untuk Allah semata, memulai segalanya dari Allah, melakukannya karena Allah dan mengakhirinya untuk Allah.. Lawan dari ikhlas adalah semua kondisi hati yang muncul dari maksud-maksud untuk selain Allah, seperti “riya’” (berbuat karena ingin dipuji orang) atau “ujub” (bangga dengan diri sendri, merasa diri paling baik) dan lain-lainnya. Riya dan ‘Ujub ini merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, Bahkan Rasulullah menganggap riya’ sebagai “syirik ashghor” (syirik terkecil) yang paling beliau takuti untuk menimpa umatnya, karena kebanyakan syirik –dalam segala bentuknya – memang bersumber dari riya’ .
Dalam hadits ini, Allah dan RasulNya menyuruh kita, untuk senantiasa bersikap “ikhlas” dalam segala kondisi; dimana dan kapan saja ; baik secara tersembunyi (sendirian, diam-diam, di tempat-tempat tertutup, tanpa diketahui orang) ataupun secara terang-terangan (ketika bersama orang lain atau di tempat-tempat terbuka). Ketika sendirian, barangkali kita bisa bersikap ikhlas dengan mudah, karena kita terhindar dari sifat riya’ atau pamer, walaupun kita harus tetap hati-hati dengan sifat ‘ujub yang seringkali muncul dalam hati, secara diam-diam. Namun ketika kita berada di tempat terbuka atau bersama orang-orang lain, seringkali kita kesulitan untuk bersikap ikhlas yang sebenarnya, karena penyakit-penyakit hati tersebut (terutama riya’) pada suasana yang demikian begitu mudah muncul di hati kita, tanpa kita sadari. Na’udzubillah.
2. Al-‘Adl fir-Ridho wal-Ghodhob (berlaku “adil”, dalam keadaan Rela atau Marah)
Al-‘Adl (justice, fairness) artinya bersikap seimbang, sama, fair, terhadap dua objek yang bertolak belakang atau meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan porsi dan proporsinya. Lawan dari adil adalah “dholim” (injustice), yang berarti aniaya kepada diri sendiri atau kepada orang lain serta sikap-sikap yang menjurus pada ketidak-adilan, seperti tirani, sewenang-wenang, memihak, merampas hak-hak orang lain, dan lain-lainnya. Dalam Islam, keadilan menempati posisi yang sangat sentral dan strategis dan merupakan “inti dari substansi” ajaran Islam, terutama dalam aspek kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Jika ada agama yang menjadikan kasih sebagai inti dari ajarannya, Islam tidaklah demikian. Kasih dalam kehidupan pribadi, apalagi sosial, bisa berdampak buruk dan negatif Sekedar contoh, seorang hakim seringkali tidak tega menghukum seorang penjahat, gara-gara dia kasih atau sayang kepada si penjahat tersebut, dengan berbagai latar belakangnya.. Jadi, keadilan yang ditegakkan dengan sebenar-benarnya pasti mengandung kasih, Tapi kasih, apalagi yang berlebihan, justru seringkali bertolak belakang dengan keadilan dan rasa keadilan. Dalam hal ini, Al-Quran memerintahkan kita untuk selalu bersikap adil, hatta kepada diri sendiri, kepada ayah ibu, dan kepada keluarga dekat kita (QS, An-Nisa’, 4, 135). Bahkan kita diperintahakan untuk tetap bersikap adil kepada musuh-musuh kita, walaupun kita tidak suka kepada mereka (Al-Maidah, 5, 8): Subhanallah wa shodaqollah.
Dalam hadits ini, Allah dan Rasulnya menyuruh kita untuk senantiasa bersikap “adil” dalam segala situasi dan kondisi, kepada siapa dan kepada apa saja. : baik ketika kita sedang ridho (suka, senang, like) maupun ketika kita sedang ghodhob (marah, tidak suka, dislike). Sikap ridho/like, biasanya muncul karena adanya hubungan kekeluargaan atau persahabatan, karena punya interes tertentu, baik pribadi atau kelompok, bahkan bisa karena adanya unsur sogok menyogok (risywah). Sedangkan ghodhob/dislike, biasanya muncul karena adanya penyakit-penyakit dalam hati (ghillun fil qolb), seperti dendam, iri hati, hasud, dll. Berlaku adil dalam keadaan ridho “sama sulitnya” dengan berlaku adil dalam keadaan ghodhob Karena itu, seseorang yang sedang terlibat dalam suatu masalah, atau sedang dikuasai oleh nafsu “like or dislike”, sebaiknya tidak menjadi hakim yang memutuskan suatu masalah, karena bisa menjurus pada kedholiman dan ketidak adilan.
3. Al-Qoshd fil Ghina wal-Faqr (Bersikap “sederhana” dalam keadaan Kaya atau Miskin)
Al-Qosd (sederhana, simplicity) artinya bersikap apa adanya, tidak berlebihan dan sesuai dengan kebutuhan. Lawan kata dari al-qoshd adalah (ta’addy, tajawuz, exceeding, overleap) artinya bersikap berlebihan atau melampaui batas-batas kebutuhan atau batas-batas kewajaran. Secara tersirat, dalam kata al-qoshd ini, sebenarnya terkandung makna “adil” yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan porsi dan proporsinya. Sekedar contoh, untuk memenuhi kebutuhan atau menjalankan tugas sehari-hari, sebenarnya kita hanya memerlukan 1 (satu) mobil, umpamanya.. Tapi karena kita kaya, kita justru membeli 3 atau 4 mobil sekaligus dengan alasan yang terkesan dibuat-buat (artifisial). Dalam posisi ini, kita tidak lagi disebut sederhana. karena kita sudah melakukan pemborosan (tabdzir), bahkan kesombongan (takabbur) yang sangat tercela. Sebaliknya, apabila tanpa mobil, kita tidak mungkin bisa menjalankan tugas-tugas dengan baik, umpamanya, tapi kita tidak mau membelinya padahal kita mampu untuk itu, maka kita tidak lagi disebut sederhana tapi sudah menjurus ke derajat kikir atau bakhil. Dalam Al-Quran disebutkan : Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula mengulurkannya seulur-ulurnya (terlalu pemurah), sehingga kamu jadi tercela dan menyesal (Al-Isro’, 17. 19)
Allah dan Rasulnya menyuruh kita untuk bersikap “sederhana”, baik dalam keadaan kaya (berkecukupan, sedang berkuasa) ataupun miskin (berkekurangan, sedang tidak berkuasa) Dalam keadaan miskin, bersikap sederhana memang tidak terlalu sulit, karena dia memang miskin dan tidak mampu untuk bersikap berlebihan. Tapi harus disadari bahwa tidak sedikit orang yang miskin atau pas-pasan, namun cara hidupnya boros dan berlebih-lebihan. Inilah orang yang paling celaka, dalam konteks kesederhanaan itu, Sebaliknya dalam keadaan kaya, bersikap sederhana itu memang agak sulit, karena dengan kekayaan itu sebenarnya dia punya peluang untuk hidup berlebihan atau berfoya-foya. Tapi dengan penuh kesadaran, dia memilih untuk hidup sederhana dan menampakkan kesederhanaan dalam segala aspek kehidupannya Inilah sebenarnya orang yang paling arif dan bijaksana Kiranya tepatlah apa yang dikatakan para Ahli Hikmah : “Orang yang paling celaka adalah orang miskin yang hidupnya berfoya-foya, dan orang yang paling bijaksana adalah orang kaya yang hidupnya sederhana”. Jelasnya, sederhana itu bukan berarti pasrah atau menyerah pada nasib, tapi sederhana adalah pilihan sikap bathin yang bersumber dari kesadaran hati yang paling dalam dan mengandung semangat atau optimisme untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Demikianlah Trilogi Pertama (tiga hal yang saling terkait) dari “Sembilan Wasiat Allah dan RasulNya” kepada kita. Semoga bisa dilanjutkan dengan pembahasan tentang Trilogi II dan III, pada edisi-edisi berikutnya.
Ikhlas, Adil dan Sederhana memang merupakan suasana bathin yang harus melahirkan keyakinan dan komitmen yang kokoh dalam hati kita, tapi pada saat yang sama, kita harus bisa membuktikan ketiganya dalam prilaku dan budaya kita sehari-hari. Semuanya ini akan memiliki “nilai tambah” yang signifikan dan determinan, kalau bisa dilakukan oleh mereka yang saat ini sedang menerima amanat khusus dari Allah SWT, baik berupa amanat kekuasaan (Umaro’/Penguasa), atau berupa amanat ilmu pengetahuan (Ulama’/Cendikiawan), maupun yang berupa amanat kekayaan (Aghniya’/Hartawan), karena mereka inilah sebenarnya yang menjadi 3 pilar tegaknya kahidupan dunia ini, untuk mencapai kebahagian di akhirat nanti, selain dukungan, simpati dan doa-doa para Grass-Roots (Fuqoro’/Rakyat Kecil). Wallahu A’lam wa Ahkam
(dimuat dalam majalah Qalam ed. 4, Juli 2009)


Syukran pak kiai dan ananda mohon ijin mengcopy untuk renungan
terima kasih pak kyai….semoga jadi petujuk jalan hidup saya.
terima kasih pak kyai….semoga jadi petunjuk jalan hidup saya.
Mohon doa’ restunya…saya yang jauh dari al-amien akan selalu merindukan al-amien. terima kasih banyak atas semua….semoga bpk. kyai idris selalu sehat. dan berkembang al-amien terus…
budi
mantan anggota P3SF
alhamdulillah mudahan apa yang diberikan kepada semua orang melalui pak kyai…jalannya ilmu akan bermanfaat bagi bangsa kita untuk menuju jalan yang lurus kedepannya,,, amin
Jazakumullah khoiran katsiron pak kiyai, saya mau minta izin untuk mengkopi makalah ini agar bisa jadi bahan renungan pribadi
Syukron kastir pak kiyai,mugeh-mugeh arajeeh mamfaatah.. Amien
Saya alumni Al-Amien, yang selalu merindukan Al Amien memberikan dukan dan semangat moga-moga Pak Kyai Idris Senantiasa dalam lindungan Allah, saya yang jauh di Sumatra Utara senantiasa mengikuti Perkembangan Pesantren. Terima kasih atas semua Ilmu yang di berikan, Sekarang Saya bekerja di PT Bridgestone Sumatra Rubbert Estate. Bagian Quality Control.
Syukron katsiron ya syekh…
pak kyai berkaryalah turus agar kami sebagai alumni al-amien tidak hampa akan jati diri kami
dan kami harap pak kyai slalu memberi nasehat kepada kami….
AL-hamdulillah
Ananda gersang dan tandus, nasehat dari pak yai al-mukarrom yang bisa menyejukkan hati ananda.
terimakasih pak kyai semoga nasehat pak kyai menjadi pegangan hidup saya. saya almni TMI 1992.Saya bekerja di Said Bawazir TRD Corp(FOOD Stuuf) KSA Sebagai Branc Supervisor.salam buat semua pengasuh Pon-Pes Al-Amien.
Alhamdulillah akhirnya bisa berjumpa dengan Pak kiyai walau hanya dengan tulisan…saya kangen dengan nasehat2 Pak Kiyai. Mudah2an saya bisa mempraktekkannya. Mohon maaf dan Doanya Pak Kiyai…Semoga Pak Kiyai selalu dalam keadaan sehat dan dalam Lindungan Allah
saya orangtua dari santri alief alfaruq dari banjarmasin sangat terkesan selama 4 hari di al amien
ya Allah…berilah kesempatan bagi hamba tuk berjumpa dan memeluk ayahanda,guru, kiyahi..yang telah lama tak bersua..Doa pak kiyahi selalu ananda harapkan di negeri seberang.
saya averose 03. terima kasih banyak atas semua bimbingan dan nasehat kyai idris dari dulu hingga sekarang. jg mohon maaf atas semua kesalahan selama di pondok. semoga kyai selalu dalam lindungan Allah. Amin..
salam rindu selalu.
Allahuakbar! luar biasa bimbingan semua kiai dan ustadz ketika ku di Al-Amin sangat bermanfaat ketika aku sekarang berada di medan juang yang sebenarnya. alhamdulillah sekarang aku sudah menjajaki kuliah S2 di UMS Surakarta. Subhanallah! trimakasih banyak wahai para pencetak generasi Islam dan qurani. semoga ilmu yang bermanfaat ini terus mengalir samudera pahalanya pada antum semua. sekali lagi trimakasih.
assalamu’alaikum..pak kiyai..ketika saya lihat foto pak kiyayi ….saya teringat semua ajaran dan pengajaran selama saya dipondok …doakan saya menjadi santri yang sholeh..semoga pak kiyayi sehat selalu….panjang umurnya…klo boleh usul adakan juga forum tanya jawab tentang berbagai kajian ilmu…keislaman yang lain seperti aqidah, fikih, dan kajian pemikiran-pemikiran kontemporer…sebagai bekal tambahan walaupun sekarang kami gak di pondok lagi (online educat)
Alhamhulillah kami yang diluar masih dapt menimati petuah dari pak kyai, setelah ananda melihat foto pak Kyai dingin rasanya hati ini. ana berharap pak kyai terus memberi wejangan kepada para alumni diluar. oh ya usulan forum tanya jawab online ananda sangat berharap untuk ditindaklanjuti. karena diluar sini lain dengan ketika di pesantren. sukron
Alhamdulillah,,, berkat wasiat pak kyai ananda terasa damai menikmati kehidupan ini,, Ananda ingin sekali bersama pak kyai lagi. Syukron Jazakumullah Khoiron KAtsiron Amien.
Assalamu’alaikum wr.wb.
kita saling bersilaturahmi lewat internet mengingatkan kita sekelas waktu di gontor sekian puluh tahun yang lalu. di usia yang senja, ada yang menjadi pak kyai di perenduan dan ada yang menjadi islamic economist. ilaa liko’.
Assalaamualaikum Pak Yai..ananda alumni 1997.terakhir berkunjung 2003.walau jauh dan jarang jumpa nanda sll kirim doa dan smga pak yai sll sehat walafiat.nanda mhn doa pak yai.sbb sampai saat ini nanda msh nganggur.hamid indramayu.
Salam sejahtera sll buat SIECA 97.Nur hamid ana mnt no hp tmn2 sieca kirim ke email sultan_hamid2001@yahoo.com atau ke 081324269228.
Alhamdulillah. saya selalu senang dengan semua nasihat pak kiyai. ingin sekali silaturahmi ke pondok tuk bertemu pak kiyai. tapi karena jarak yg lumayan jauh, saya belum bisa pak kiyai. namun hal yang pak kiyai selalu ajarkan. mulai terasa, karena saat ini istri saya sudah mulai mengandung. begitu beratnya menjadi seorang ayah. sedangkan pak kiyai mempunyai anak didik begitu banyaknya. sangat berat menjalaninya. tapi pak kiyai benar-benar telah menjadi ayah kami. yang selalu kami banggakan & kami rindukan. Do’a kami selalu untukmu. Mudah-mudahan Allah selalu memberi kesehatan padamu wahai ayahanda tercinta. Amien.
Syukron Ayahanda…
ananda mohon izin untuk mengkopy wat bahn renungan dan refleksi diri (Muhasabah)…
ananda juga mohon doa dan barokahnya agar ananda selalu berada dalam rahmat dan taufik Allah…
amien..
Jazakumullah khoiron…
ana alumni SCIENTIFIECA 97 setelh membca refleksi ayahanda.. merasakn dekat dengan ayahanda tercinta walaupun ananda di medan tp terasa di pondk. ananda doakn ayahanda dan para asatied dan muallim tetap dalam lindungan ilahi robby. no hp 081376718950
Makasih ya ayahnda, semoga ayahnda selalu diberikan kekuatan, kesehatan lahir dan bathin. Tak taulah hati ini…setelah membaca refleksi ayahnda hati ini kembali tersiram kembali, sejuk kembali. Tak ada yang beda dari dulu dan dulu. ayahnda tetap di hati. always. Sanctifya 97
trimakasih pak kyai.ananda izin mengkopi untuk bahan renungan saya.semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan ananda mohon doa dan barokahnya agar ananda slaku berada dlm rahmat-taufk Allah.amin…salam takdim Ananda.
Semoga Pak Kiai selalu mendapat limpahan Rahmat dari Allah SWT…
Terima kasih untuk semuanya, semoga ini membawa manfaat dan hidayah untuk kita semua. Mohon do’anya Pak Kiai….
wasiat ke-2 Rasulullah: “Bersikap sederhana ketika kaya atau miskin”. adalah sikap yang patut dan wajib diteladani. orang-oarng miskin munkin akan lebih banyak mengamalkan hal ini, apalagi mereka sampai tahu wasiat Rasul, tidak tahupun mereka sudah lebih dulu mengamalkannya. karena disamping mereka dari segi harta sudah pas-pasan,pergaulanpun hanya berkisar pada golongan menengah ke bawah. disamping itu, mari kita lihat, para kyai saat ini. yang nota bene mereka sudah hafal betul dengan wasiat kanjeng Rasul ini . sudahkan mereka mengamalkannya, sudahkah mereka mau bergaul dengan masyarakat awamnya? sudahkah mereka siap menanggalkan lebel ke-kyai-annya ketika mereka bergumul dengan masyarakat bawah?. Siapakah yang pantas dijuluki “ULAMA WARATSATUL AMBIYA” yang oleh Allah dijamin ketenangannya ketika menghadap-Nya (انّما يخشى الله من عباده العلماء).apakah mereka yang tidak tahu wasiat Nabi tapi sudah dengan hati ikhlas melaksanakannya, atau mereka yang menjadi penyambung Sabda Nabi namun mengkhianatinya?
Alhamdulillah, terima kasih pak kyai…semoga kami bisa melaksanakan wasiat Rasulullah. mohon doanya pak kyai….
saya hanya mohon restu dan ke ikhlasan pak kiyai dari semua kesalahan yang telah saya perbuat selama saya menuntut ilmu di al-amien
Trima kasih tak terhinga buat kyai Idris yg saya cintai dan saya banggakan atas semua nasehatnya dari dulu dan seterusnya. dan saya sebagai santrinya yg paling banyak salahnya pada priode 2003 memohon maaf atas semua kesalahan tersebut baik yg disengaja ataupun yg tidak disengaja selama nyantri di al-Amin.
semoga Kyai Idris selalu sehat dan dipanjangkan umurnya oleh Allah sampai ada pengganti yg cemerlang seperti beliau.
Amin…!!!
alhamdulillah sekian lama saya mencari kabar tentang al-amien akhirnya saya temukan kembali rumah saya suri tauladan saya pembimbing saya orang tua saya sekaligus penyejuk hati. mudah mudahan sya bisa mengikuti wasiat nabi yang telah bapak kyai paparkan diatas. karya dan bimbingan pak kyai melalui artikel yang pak kyai terbitkan semoga menjadi bermanfaat bagi semua ummat. amien..
ass
jazakallah pa kyai …
semoga taufiq dan hidayah Allah senantiasa mengiringi segala aktifitas pak kyai …amiin
mohon do’anya !!!!
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk melaksanakan wasiat seperti yang bapak kiyai sampaikan. Mohon doakan agar kami para santri dimatikan dalam keadaan berimana dan bertaubat. Amin
Alhamdulillah, terima kasih pak kyai…semoga kami bisa melaksanakan wasiat Rasulullah. mohon doanya pak kyai….
semoga saya bisa melaksanakan wasiar itu dengan baik..
dan bisa melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari
ketika saya selesai membaca artikel ini saya jadi teringat dengan nasihat ayahanda ketika saya masih di al-amin… ” jika Hatimu kotor… kekotoran itu akan mengalir keseluruh tubuhmu.., Bismillah… pergi dan bersihkan hatimu itu agar mengalir kesucian kesluruh tubuh mu..” itu mungkin sedikit makna kesimpulan ananda ketika membaca artikel ini Wallahu khairu jazza, semoga ayahanda senatiasa ada dalam keridhoan Allah swt…Amien..
syokron kiai,,, ana mw minta ijin untuk mngcopy file ne….