Sajak-sajak Lutfi Andi Zulkarnain

Ditulis pada 4 April 2009 - kategori : Karya Sastra - 12 Komentar - dibaca 397 kali

PAGAR KAYU

pagar kayu mengetuk hatiku dalam dalam
kubuka pintu, dan kupersilahkan masuk setelah mencuri
sedikit pandang dari resah wajahnya
ia bercerita sambil menyeruput segelas teduh hangat
“seorang pencuri memperhatikan isi hatimu berhari
sudah kuusir tapi tak juga mau pergi.”
bisa kulihat tangannya yang semakin gemetar, dadanya
yang serasa terbakar

aku tersenyum dan menepuk pundaknya
“sudahlah, tidak usah dipikirkan. ia memang telah
mencuri sebagian hatiku tadi malam”.

Nov. 22, 07


CINTA

kopyah dan sajadah adalah sahabat lama, karib
suatu hari kopyah marah sekali, karena ditinggal
sajadah ke masjid
waktu subuh yang biasanya segar hanya tinggal debur
menyadari kesalahannya, sajadah minta maaf
kopyah akhirnya sadar, ia memaafkan sajadah
mereka bersalaman,
sambil sama sama memasuki hati
menerkam nurani
mereka tahu ada cinta yang tersembunyi

aug. 19, 07


ADZAN

bahagia itu bernama adzan
begitulah ia mengenalkan diri
setelah sedih dan perih diusirnya dari kantor pagi
yang pengap
adzan baik sekali, bahkan senyumnya menentramkan hati
setiap kali ia datang, ada lantunan indah mengiringi

tiap kali aku berdo’a, satu hal yang tidak pernah dan
boleh lupa
Tuhan, jangan pisahkan adzan dariku

aug. 19, 07

LAGU CERMIN

cermin menyindir rambutku yang panjang ketika aku
bercermin
“kau jelek sekali, masih gantengan aku”
aku kesal, tapi tahu cermin memang lagi banyak masalah
mungkin ia sedang mencoba lari dari masalah dan
menjadikanku korbannya
duh kah… tak apalah, sebentar lagi juga reda sendiri

tak lama, cermin tambah keras teriaknya
kalau tadi cuma ejekan kecil, sekarang malah jadi lagu

ho ho… cermin kreatif juga
apakah aku harus marah?
ah biarlah, selama jadi manfaat
“kau jelek sekali, masih gantengan aku

aug. 19, 07


MENULIS PUISI

setelah menyelesaikan bacaan kumpulan puisi di sebuah
majalah
aku menangis sendiri di kamar mandi
menangisi debu yang terasa semakin suram saja
tak tahukan mereka ada yang lebih pekat di sini ?

puisi puisi datang dan pergi
bertemu dan berpisah
hidup dan mati
dan yang terakhir
tetap tinggal atau terbit
ada harap yang selalu tak pernah terbeli

Aug. 20, 07

DALAM KISAH INI

dalam kisah ini, kita bertemu dalam sebatang pohon
airnya yang bening mengalir menetes netes lewat daun
telinga
dingin sekali, sedingin bibirmu
sedingin resah kita yang tak pernah lagi terasa semu
seperti dulu

dalam kisah ini kita tak lagi memeluk dedaun yang
lembab
sekali lagi, tak lagi kita dapatkan embun yang jatuh
tertumpu
pada dinding jantung, atau pada resah burung seperti
dulu
hingga kita tak bisa lepas dari dahan dahan sepi itu

Jun. 28, 07

BIODATA PENULIS

Luthfi Andi Zulkarnain. Lahir di Lumajang 31 Oktober 1988. Aktif di Sanggar Sastra Al-Amien dan FLP cabang AL-AMIEN, komunitas sastra Bengkel Kata dan sebagai redaktur di majalah sekolah QALAM. Pernah juara I dalam lomba cipta puisi Komunitas Senja Andalas “Saatnya Pemuda Berkarya” tahun 2007. Juara III dalam lomba cipta puisi musibah Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) 2007. Esainya dibukukan sebagai salah satu dari 20 besar Lomba Penulisan Esai Remaja 2006 YKAI dan UNICEF. Sekarang menetap di Sumenep Madura untuk menyelesaikan studinya di IDIA PRENDUAN.

Bookmark artikel ini pada :

Ada 12 Komentar pada :
“Sajak-sajak Lutfi Andi Zulkarnain”

  1. pada tiap baris katamu
    ada mekar bunga doa bertangkai rindu
    rindu pada kencan penuh cumbu
    rindu pada kemenangan yang tertunda sepanjang jalan penuh rambu
    namun ada saja yang selalu membelai manja padaku
    memintaku menunggu
    karya terbarumu
    akhirnya aku hanya bisa berkata padamu
    “good luck for you”

  2. muhammad Amrullah Says:

    Kawan seperjuangan! arah langkah anda masih panjang…….teruskan perjuangan sebagai abdi pondok dan abdi bangsa…saya yakin anda sangat dibutuhkan masyarakat pada masa yang akan datang…ttd_Amrullah Exs BEM IDIA Prenduan

  3. sulis gingsul Says:

    aku suka PAGAR KAYUMU

  4. zaka Says:

    idia….salamkan kerinduan untuknya.
    dari melati yang tak seindah mawar namun abadi wanginya.

    kebersamaan yang kita bina memilki esensi yang tidak lagi tunduk pada rotasi waktu. ia mampu menyibak hegemoni ruang yang mengikat. maka aku ada di tepianmu bukan hanya ketika jasad ini kau hirup aromanya, ketika terlintas di benakmu semangat untuk menyatu dalam rindu maka akulah penunggumu.
    zaka, Stevanieca 04. lagi ngembel di deket monas. aku dilupakan waktu tapi diingat pelangi. aku melupakan sejarah tapi menulis kisah………kau menulis catatan kecil di dinding cemara yang terlalu tinggi sehingga aku tak mampu mengejanya, akhirnya aku menirumu,,menjajah huruf-huruf tak berdosa itu untuk menyampaikan kutukan dari belenggu rindu di kalbumu…..

  5. fathorrahman Says:

    pantep coy……

  6. ndah Says:

    hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan makanan pagi. bukan pula eraman hangat di malam yang dingin. namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi, detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan. sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.
    never say die! ^_^

  7. KAMI ANGKATAN 40-15 (FOURTY RAIZENT) MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430 H.

  8. abd rosi rohman Says:

    buat tm2 gw di ponpes al amein prenduan smoga trz maju n trz brsh ok brow

  9. dhe Says:

    wah…mantab ne temen2 asatidz bisa postingin karya2 mereka…boleh karya tmen2 di luar ditampilkan juga d webx al-amien…???

  10. alief Says:

    manter tenan mass puisinya…

  11. luthfi Says:

    I just wanna say”HOW ARE YOU AL-AMIEN???????”….

  12. imam on32 Says:

    hehehhehehehehehe………. lama tak jumpa kawan. kmana ja?! sms gw ga pernah dibalas lo…!!!! salam BRIBOZ ja dech….

Beri Komentar :

Lokasi para pengunjung halaman ini
Anda adalah pengunjung ke :
Sejak 01 Desember 2008
:: Lihat statistik ::