Lima Hal yang Harus Dihindari
Ditulis pada 4 April 2009 - kategori : Refleksi Kiyai - 59 Komentar - dibaca 1,350 kali
Dari Anas bin Malik r.a. berkata: setiap Rasululullah saw. selesai melakukan shalat jama’ah bersama kami, beliau selalu menghadap kami dan tidak sekalipun meninggalkan doa ini:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala ‘perbuatan yang menghinakan’ aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala ‘kawan yang menyakitkan’ aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala ‘angan-angan yang melalaikan’ aku.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala ‘kefakiran yang menyebabkan aku lupa’.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala ‘kekayaan yang menjerumuskan’ aku.”
(HR Al-Bazzar dalam kitab Mujma’ az-Zawaid Lil-Haitsami)
Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita berdzikir dan berdoa kepada Allah swt. Ada kalanya disebutkan dalam bentuk dzikir dan doa yang diucapkan oleh para nabi, rasul dan sholihin terdahulu, ketika menghadapi situasi-situasi tertentu. Ada juga doa dan dzikir yang bersifat umum, kemudian dijelaskan oleh Rasulullah saw fadhilah doa tersebut. Demikian juga dalam hadits, banyak sekali disebutkan, bahwa Rasulullah saw seringkali mengajarkan kepada para sahabat r.a. doa dan dzikir untuk diamalkan pada situasi-situasi tertentu, atau untuk diamalkan secara umum, seperti doa yang disebutkan pada awal makalah ini.
Dalam hadits tersebut, ada lima hal yang seharusnya kita mohon kepada Allah swt. agar kita terhindar darinya. Tentu saja pada saat yang sama, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk selalu menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
Perbuatan yang Menghinakan
Perbuatan yang menghinakan adalah perbuatan yang menyebabkan pelakunya “hina dan tercela” di mata Allah dan di mata manusia. Biasanya perbuatan ini disebut “fahisyah atau fawahisy” (perbuatan keji) yang tergolong “kaba-ir” (dosa-dosa besar). Perbuatan ini selalu menimbulkan kerugian kepada orang lain serta meninggalkan dampak-dampak sosial yang sangat negatif dan berbahaya, seperti zina, minuman keras, main judi, bergunjing (ghibah), mencuri, merampok, dll. atau yang biasa kita kenal sekarang dengan prostitusi, pornografi, pornoaksi, pelecehan seksual, melakukan kebohongan publik (buhtan), korupsi, kolusi dan nepotisme, memprovokasi, black campaign (fitnah), dll.
Kawan yang Menyakitkan
Menyakitkan bisa saja terjadi secara fisik, seperti memukul, mencederai, atau mencuri hak milik kita. Tapi bisa juga menyangkut harga diri dan kehormatan diri kita, seperti berkhianat, menohok dari belakang, menyebarkan buhtan atau fitnah, dll. Kalau semua itu dilakukan oleh “musuh” kita, tentu saja hal yang wajar, karena dia memang musuh kita, tapi kalau ini dilakukan oleh “kawan” yang selama ini menjadi patner kita dalam suka dan duka, menjadi mitra kita dalam berbagai usaha dan bidang kehidupan, tentu saja ini sangat menyakitkan.
Angan-angan yang Melalaikan
Setiap manusia normal pasti memiliki keinginan, obsesi atau ambisi. Ini adalah wajar dan manusiawi. Tetapi begitu obsesi atau ambisi tersebut muncul dari dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali, maka ia akan menjadi masalah serius yang sangat berbahaya. Inilah boleh jadi yang dimaksud “melalaikan” dalam hadits ini. Sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seseorang atau kelompok memiliki ambisi yang tak terkendali untuk kaya, berkuasa, menang, atau untuk meraih dukungan massa, umpamanya, karena ambisi yang tidak terkendali, sampai-sampai dia menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya tersebut.
Kemiskinan yang Menyebabkan Lupa
Kemiskinan yang menyebabkan lupa adalah kemiskinan yang menyebabkan kita “serba tergantung” kepada orang atau makhluk yang lain, baik dalam bidang ekonomi, keamanan, kesehatan, budaya, pendidikan, dll. Ketergantungan (interdipendensi) inilah yang sangat berbahaya dalam kehidupan pribadi atau kelompok. Bahkan ada ulama yang berpendapat bahwa ketergantungan kepada makhluk adalah “awal dari syirik”, karena seseorang yang sangat tergantung kepada makhluk, pada hakikatnnya dia telah menafikan—atau paling tidak menyekutukan—Sang Khaliq, Allah swt. yang Mahakaya dan Berkuasa. Na’udzu billah min dzalik.
Kekayaan yang Menjerumuskan
Pada hakikatnya, kekayaan—sama dengan kemiskinan—adalah salah satu bentuk “ujian” dari Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya. Kalau si pemilik kekayaan lulus dalam ujian ini, maka dengan kekayaannya tersebut, dia akan lebih dekat kepada Allah, Sang Pemberi Kekayaan. Tetapi, apabila tidak lulus, maka dengan kekayaannya tersebut, dia justru akan semakin jauh dari Allah. Hal yang terakhir ini terjadi, karena dua sebab. Pertama, bisa karena proses pengumpulannya memang menyimpang atau tidak sesuai dengan syara’, atau, kedua bisa juga karena sifat tama’ dan kikir yang berlebihan yang melekat dalam dirinya. Inilah barangkali yang dimaksudkan dengan “menjerumuskan’ dalam hadits ini. Padahal kelak di akhirat, orang yang memiliki kekayaan akan ditanya oleh Allah, dari mana dan bagaimana dia memperoleh kekayaan tersebut dan untuk apa saja dia menafkahkannya.
Demikianlah lima hal yang seharusnya kita mohon kepada Allah agar tidak sampai menimpa diri kita, karena kelima hal tersebut sungguh sangat berbahaya dan membahayakan bagi kehidupan kita, baik secara pribadi, dalam keluarga ataupun dalam berbangsa dan bermasyarakat. Tetapi doa tersebut harus sesuai dan sejalan dengan usaha yang kita lakukan. Tidak boleh berseberangan apagi bertentangan. Bagaimana doa kita akan dikabulkan (ijabah), jika kita tidak berusaha sesuai dengan apa yang kita minta (istijabah)? Memang antara ijabah dan istijabah terdapat benang halus yang saling melengkapi. Mari kita renungkan kemudian amalkan.


salam ta’dzim buat guru kami di al-amien…..
rasa bangga dan sedih bercampur senang bisa melihat wajah pak K.Idris Jauhari..mdh2n beliau senantiasa di beri kesehatan….dan al-amien ttp exsis…..
trimakasih atas nasehat pak.kiyai….
ass. refleksi ini mengingatkan ananda d’almamater.dulu pernh pak kiyai memberikn naseht pd km semua. salam sll buat arek_ sieca 97. contack person 081376718950
Assalamualaikum Wr.Wb,
Mohon izin pak kiyai untuk mengcopy artikelnya. syukron
dari website pondok pesantren al amien ini,,
insya allah saya merasa masih menjadi santri pondok al amien…..!
terima kasih pak kiyai atas ilmu yang tela kau beri dulu….?!
jangan selalu melihat keatas, tapi melihatlah ke bawah, siapa, apa bagaimana, kemana kita. Tanpa itu kita lupa akan segalanya. Belajar di Al-Amien harus membuat kita bangga. Karna dari pondok Al-Amien semua kita tahu arti semuanya. Dari hidup dan untuk mati.
Salam ta’dzim buat segenap dewan kiyai/ Nyai dan asatidz/ustadzat
Rasa bangga dan sedih bercampur senang bisa melihat foto KH. Moh Idris jauhari. Semoga senantiasa Allah SWT memberkahi kita semua. Amien…
Mohon maaf yang sebesar2nya, dan saya kangen sekali suwan ke almamaterku tercinta.
Terima kasih tak terhingga atas ilmu dan nasehat yang Bpk. kiyai berikan, dan saya masih haus nasehat dan ilmu bpk kiyai….
Assalamu’alaikum Wr Wb
Salam Hormat dan Ta’dzin ananda dari kejahuan… di bulan yang penuh berkah ini, saya hanya slalu berdo’a buat almamaterku, ibu kandungku ter cinta “Al-Amin” moga Allah senantiasa memberikan rahmat dan ridhoNya khususnya Kesehatan untuk Bapak Kiayi Moh. Idris Djauhari, mohon maaf abaku, ayahku, guruku yang selamanya akan saya kenang jasamu.rasa kangen, rindu, senang melihat foto dan isi makalah karangan bapak Kiayi mengingatkan ananda atas segalanya…… mohon maaf pak kiayi air mata ini sudah tak dapat terbendung lagi, salam silaturrahmi dan ta’dzin Abdul Hadi Sekeluarga dari Ujung Hutan Kalimantan Barat.
sungguh luar bisa nasehat-nasehat ayahanda kyai Idris…
betapun kita ini sudah tidak berada di ma’had al-amien tercinta.. namun… namun… hati ini masi terasa masih berada ada disana, ketika ananda membaca nasehat-nasehat ayahanda. terasa sekali kedekatan yang medalam…. ananda tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mu… hanya do’a yang bisa ananda balas atas segala jerih payah, para kyi serta asatidz dan asatidzah.. semoga Allah swt. memudahkan dalam setiap langkah-langkahnya dan selalu diberi kesehatan lahir serta bathin…
Ja’alanallahu minal ‘aaidin wal faaidzin fi kulli ‘aamin wa antum bi khoir.
selamat Hari Raya Iedul Fitri 1431.H.