Antara Iman, Ilmu, dan Amal

Ditulis pada 30 December 2008 - kategori : Refleksi Kiyai - 44 Komentar - dibaca 2,535 kali

kiyaiKita harus yakin dan menguasai hal-hal yang berkenaan dengan Islam, pada saat yang sama, kewajiban kita adalah mengamalkan apa yang menjadi ajaran Islam itu. Proses pengamalan inilah yang dinilai oleh Allah swt.

Allah menilai amal seseorang sesuai dengan petunjuk-petunjuk-Nya. Bagi Allah, amal yang memiliki nilai tinggi di hadapan-Nya adalah amal yang dilakukan dengan iklas. Ikhlas artinya bersumber dari satu keyakinan dan berdasarkan ilmu yang benar, sehingga lahirlah perbuatan yang terbaik.

Jadi, amal yang ikhlas itu merupakan amal perbuatan yang berangkat dari keyakinan semata-mata karena Allah, bukan karena niat-niat lain yang ada di balik itu. Ciri dari sebuah perbuatan atau amal yang ikhlas adalah apabila ia dilakukan dengan cara yang terbaik (the best). Manusia yang berangkat dari niat yang benar, ikhlas kepada Allah kemudian dia mengetahui ilmu yang berhubungan dengan perbuatannya itu, pasti dia akan melakukan yang terbaik di dalam hidupnya.

Orang yang beramal atau bekerja seenaknya, berbuat ala kadarnya, melakukan sesuatu karena ingin dipuji orang bukan karena Allah, biasanya selalu melakukan perbuatannya itu tanpa dilandasi keyakinan dan kepercayaan yang utuh.

Demikian juga, ketika seseorang beramal atau berbuat sesuatu tanpa atas dasar ilmu yang benar, tidak didasarkan kepada teori-teori atau syariat-syariat yang telah ditetapkan, tanpa memenuhi syarat dan rukun dari pekerjaan itu. Pasti pekerjaannya itu tidak menghasilkan sesuatu yang terbaik. Mana mungkin seseorang bisa berbuat atau beramal baik, kalau dia tidak tahu ilmunya, pasti perbuatannya itu akan penuh dengan kesalahan-kesalahan.
Karena itu dalam melakukan apa saja, terutama yang berhubungan dengan agama Islam, baik dalam hubungan kita dengan Allah atau dengan sesama manusia serta alam ini. Maka kita harus berangkat dari sebuah keyakinan terlebih dahulu, keikhlasan dan ketulusan semata-mata karena Allah, tetapi pada saat yang sama kita melakukannya atas dasar ilmu yang telah kita miliki itu. Inilah makna dari amal yang ikhlas, maka ketika Allah menegaskan bahwa kita ini diberi hidup dan mati untuk menguji kita siapa di antara kita yang paling baik amal perbuatannya, amal ibadahnya.

Allah berfirman, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ’amala”. Kita harus artikan bahwa perbuatan yang paling baik itu adalah perbuatan yang berangkat dari niat yang ikhlas dan berdasarkan ilmu yang benar. Niat yang ikhlas saja tanpa ilmu pasti menimbulkan kesalahan-kesalahan, ilmu saja tanpa niat yang ikhlas pasti akan menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Karenanya, mengamalkan apa saja yang menjadi ajaran Islam yang kita yakini itu, harus berangkat dari kepercayaan dan keikhlasan yang ada di dalam hati kita, kemudian dilaksanakan berdasarkan ilmu pengetahuan yang ada di otak kita.

Ada tiga unsur utama yang harus ada di dalam sikap kita terhadap agama, yaitu iman, ilmu, dan amal. Maka, akan tidak ada artinya keyakinan kalau tidak ada amal perbuatan, tidak ada artinya ilmu yang kita punya kalau tidak melahirkan amal-amal sholeh dalam kehidupan kita, bahkan naudzubillah ilmu yang tidak bermanfaat. Justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan diri kita dan orang-orang lain di sekitar kita.

Lalu, bagaimana kita menggabungkan tiga hal tersebut? Apakah kita harus percaya dulu, kemudian belajar lalu beramal? Bukanlah itu cara yang harus kita tempuh, melainkan antara keyakinan, ilmu pengetahuan dan amal perbuatan haruslah diupayakan secara bersamaan, karena ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Ketiga prinsip dasar itu harus senantiasa kita asah, kita perbaiki setiap saat, agar kita dalam melakukan sesuatu, benar-benar berangkat dari keyakinan dan berdasarkan ilmu pengetahuan. Dari keyakinan kita melahirkan dorongan untuk selalu belajar-belajar dan berbuat sesuatu dengan ilmu yang kita punya itu.

Inilah tiga hal yang harus senantiasa dijadikan prinsip dalam hidup kita, yaitu antara iman, ilmu dan amal, antara keikhlasan dalam hati, kecerdasan dalam otak dan ketulusan di dalam beramal.

Bookmark artikel ini pada :

Ada 44 Komentar pada :
“Antara Iman, Ilmu, dan Amal”

  1. Mukti Ali Says:

    Sami’na wa atha’na
    saya bangga jadi santri Al-Amien, maaf ya pak yai belum sempat silaturrahmi secara langsung.
    sungguh saya sangat - sangat merindukan suasana itu, asah asih asuh melebihi ibu kandungku…
    Semoga Allah merahmati dan meridhoi…

  2. MAPENAacaoloh24JAM Says:

    …Kami selalu mendengar semua yang engkau sampaikan, doakan kami bisa memaknainya dalam tindakan. Kurindu padamu Ayah…

  3. stefanoePROMEG Says:

    Kata-katamu masih kusimpan dalam empedu, menjadi darah, detak dan nafas yang selalu beriringan. Kata-katamu mengalir memasuki ruas-ruas nadi, menembus pori. Sejak itu kau tanam kerinduanku padamu. Tapi aku malu, aku malu mengatakannya, karena, belum sempat kucium tanganmu di depan ibu, tiba-tiba takdir membawaku dan kau tunjukkan itu, jalanku. Rangkaikan untuk kami kata-kata rindang tempat kami berteduh saat hujan dan kemarau, tempat kami eja seluruh huruf, kata dan kalimatmu menjadi tindakan. “Hanya orang yang berkualitaslah yang bisa naik pentas” Kalimatmu masih terpampang di pintu depan kamarku, aku senang pernah merasakan lembut belaimu. Suatu saat nanti, takdir pasti membawa rinduku padamu K. Prof. Dr. Moh Idris Jauhari, Daa. Jazakumullah khairal jazaa..

  4. Ibnukum Says:

    Assalamu’alikum Wr.Wb.
    Salam sejahtera bapak Kiai. saya adalah salah seorang alumni TMI Al-Amien Prenduan. saya hanya ingin menginformasikan bagi teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah S1 dengan beasiswa, ada tawaran dari Universitas Paramadina. InsyaAllah beasiswa penuh. informasi lebih lanjutnya dapat diakses di http://www.paramadina.ac.id. Nama programnya adalah paramadina fellowship. pendaftarannya dimulai sejak Januari hingga sekitar bulan April. Namun dikarenakan alumni al-amien wajib mengabdi dan selesai pada pertengahan tahun, tentu kebijakannya ada pada pihak pondok. Terima kasih dan Arju du’aakum ya Syaikh…

  5. terimakasih atas segala ilmu yang bapak Kiai berikan kepada ananda, tulisan bapak Kiai penuh dengan hujan kasih sayang, ananda sangat bersyukur karena Allah telah memberikan guru kepada ananda seperti Bapak Kiai, seorang yang kaya wawasan namun tetap tawadlu’

  6. Okta Says:

    saya mulai belajar dgn antum melalui dunia maya agar langkah ini selalu antum kontrol.
    syukron ya ab….

  7. stefanoePROMEG Says:

    Selamat jalan sahabat, guru, ayah..
    -tunggu aku di sorga itu-

  8. Arbain Nurdin Says:

    Assalamu’alaikum. syukron bapak kyai telah menulis artikel ini, yang tentunya penuh dengan nuansa religi sehingga bagi para pembaca khususnya saya dapat mengambil hikmah. amien. akan tetapi yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana thoriqah kita dalam menjalankan ketiga aspek tersebut secara istiqomah? karena salah satu sebab yang mengakibatkan kita terlena adalah lingkungan di sekitar kita.

  9. alhamdulillah

    salam pak kyai, terima kasih atas ilmunya
    sangat bermanfaat

  10. Ariyant Says:

    Assalamu’alaikum Pak Kiyai,,
    Terima kasih untuk ilmunya…semoga bermanfaat untuk semuanya..
    Salam Kangen dari Mas Abdul Syukur di Indramayu(TMI), yang mengaku pernah menjadi santri Pak Kiyai Idris Jauhari..
    Mas Abdul Syukur nitip pesan, minta doanya supaya cepat dipertemukan dengan jodoh yang baik.amiiiiiiin!!!
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

  11. Shamdani Says:

    assalamualaikum wr.wb.
    saya ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada bapak kiai yang telah mendidik saya sehingga sekarang saya menjadi orang yang berguna terutama bagi diri saya pribadi dan masyarakat sekitar disini.
    al-hamdulillah…sekarang saya telah merintis dakwah di kalangan pekerja Pertamina dan menjadi guru bahasa arab di SDIT BIS daerah balikpapan baru perumahan elit pegawai pertamina..semua itu karena didikan dan bimbingan bapak kiai yang selalu trus mendoakan saya tanpa henti…
    semoga allah membalas semua kebaikan bapak kiai..
    dari ananda yang rindu akan tausiyah bapak kiai…

  12. sami’na wa ato’na ya abaana…syukran ‘ala kulli khoirin.. jazakumullah fiddunya wal akhiroh..amien

  13. ABDUL HAKIM(FIORENZA 24) Says:

    Iman, Ilmu dan Amal. tiga kata ini singkat tapi penuh makna, dengan kata-kata ini saya selalu merindukan ayahanda bapak Kiyai Haji M. Idris Djauhar, Jazakumullah Khairon Katsiro. semoga bapak Kiyai dan seluruh keluarga besar PP. Al-Amien selalu diberikan kehidupan yang Barakah Amien. Mohon doanya karena pada saat ini ananda lagi melanjutkan studi di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.
    Wassalamualaikum

  14. Oci_briboz Says:

    Terima kasih abah. pada saat ini, kami sadari, ilmu-ilmu yang pernah abah berikan pada kami, tak satupun sia-sia. konsep iman, ilmu, dan amal yang ayah berikan, alhamdulillah bisa membawa kami menuju ladang kesuksesan. kami anak-anakmu yang tengah belajar di pondok salaf, alhamdulillah bisa dikatakan melebihi kakak-kakak kelas kami, hanya dalam jangka waktu kurang dari 2 bulan. ini semua tak luput dari rasa syukur kami kepada Allah, atas dikaruniakannya kami 3 hal penting. nikmat iman kepadaNya, nikmat otak yang sedikit, dan nikmat guru sekaligus ayah yang penuh kasih sayang. terima kasih abah. doa kami selalu menyertaimu.

  15. Mang_Udin Says:

    Ass. Pak Kiyai, Maaf sebelumnya karna saya hendak mengkritik sedikit, memang secara ideal seorang Manusia harus melaksanakan 3 hal tersebut, namun pada kenyataannya tidak mungkin manusia mampu untuk dapat melakukan segala sesuatu dengan tiga hal tersebut bersamaan. karena tidak semua memiliki kemampuan dalam memahami ilmu maka kapan dia harus beriman dan beramal soleh? maka seandainya boleh saya usulkan dapatlah pak kiai berikan suatu tahapan didalamnya. kalau menurut saya sebaiknya seseorang itu menyempurnakan keyakinan iman dulu karna dengannya dia lebih mantap dalam mencari ilmu dan dengan iman yang kokoh ilmu yang dimiliki (walau sedikit) dapat diamalkan dengan ikhlas karena ALLAH S.W.T.
    Karena tidak sedikit orang yang tinggi ilmunya namun rendah imannya maka mereka menjadi 2 Macam type manusia
    1. PENIPU , dengan ilmunya dia berusaha merugikan orang awam (dia tidak beriman karena jika dia beriman tentu dia faham bahwa ALLAH S.W.T. selalu mengawasi.
    2. TOKO AGAMA , yakni orang yang berdagang ilmu agama dengan ceramah, dan dakwah yang bertarif tinggi. padahal dakwah Rasulullah S.A.W. seperti air hujan yang disampaikan cuma-cuma ke segala penjuru bumi.
    Semoga Pesantren Pak Kiai memiliki Fokus yang Tinggi untuk masalah IMAN ini.
    Wallahu a’lam bi showab

  16. tirta prawitasari Says:

    elia..elia..elia..
    lima sabakhtany???
    min fadhlikum ya aby…

  17. sankanparan Says:

    min fadhlikum ya aby…

  18. CAEM.. Says:

    dari beberapa idealisme yang terpampang dalam dunia media cetak juga dunia membar tentang adanya peperangan terhadap jil, saya cukup tergelitik karena saya pikir hal itu adalah langkah ketidak dewasaan, bukankah dengan adanya konferensi langsung dengan pihak terkait akan lebih bagus dan efesien?setelah kembali pada jargon komandan perang yang sangat mengagumkan
    “langkah yang tepat adalah bagaimana kita terlebih dulu dapat enciderai kepala”
    maaf bingkaian ini bukanlah sebuah ke_sok tahuan

  19. dwiyono tandoer Says:

    Syukron Bpk Kyahi… Jazakumullah Khair…. Dzu’aukum almatlub, ana fi biladil muqaddasah makkah al-mukarromah

  20. Ach.sya'bie Says:

    Dari daerah PT INCO sorowako. Kami tengadah tangan kapada- Nya, tuk kebahagiaan antum dan ikhwan2 semua. Afwan Kiayi atas segala khilaf

  21. badrudin Says:

    Tereimakasih pa kyai,atas ilmu yang pak kyai berikan kepada kami,walaupun saya tidak mondok di pesantren pa kyai tapi saya selalu ingat hadis Rasulullah Alullama warasatul anbiya,syukron.(Saya punya shohib murid pa kyai Abdul qodir jaelani yang pernah kuliah di lipia Jakarta,mohon kirim Email ke ainsinqof@yahoo.co.id) Syukron kasiron pa kyai,mohon maaf apabila tidak sopan

  22. Hadi Cirebon Says:

    syukron…
    pak kyai maaf kalau saya selalu mengecewakan.
    wal ‘afmu.

  23. Rosihan Anwar(alfadensi) Says:

    Asw. Pak kiyai sebelumya afwan belum bisa silaturrohim. sesungguhnya saya sangat2 rindu dengan pak kiyai.membaca taujih pak kiyai yang luar biasa makna di dalamnya. Alhamdulillah ana bangga menjadi alumni al amien pak kiyai krn al amin lain pada yang lain mengajarkan kepada santrinya nilai keikhlasan.Alhamdulillah itu menjadi atsar bagi ana. Ana sering keluar ceramah ke daerah -daerah dan luar negeri,nilai keikhlasan ini yang selalu ingat.minta doanya pak kiyai semoga ana bisa istoqomah.ibnukum Rosihan Anwar (Al Fadensi)

  24. TIADA KATA YANG PATUT KU UNGKAPKAN DALAM LISAN MAUPUN HATI HANYA RASA TERIMAKASIH YANG MENDALAM YANG TELAH MEMBERIKU JALAN UNTUK MENGETAHUI APA-APA YANG TIDAK AKU KETAHUI SEBELUMNYA.
    SARAN KU KEPADA SEMUA PEJUANG UNTUK TIDAK PATAH SEMANGAT DALAM memperjuangkan amanah yang telah di berikan oleh bapak kiai.dan terimakasih bapak ku mudah-mudahan niat antum selalu beriringan dengan ridho ilahi. Amin

  25. hevy febriansyah Says:

    assalamualaikum pak kiyai, sungguh saya sangat bersyukur jadi santri al-amien,dari bekal yang hevy terima alhamdulillah bisa menjadi peganggan hidup dalam mengarungi kehidupan ini.mhn maaf pak kiyai hevy belum sempat ke madura.doa hevy selalu untuk pak kiyai.amien

  26. [...] ———————————- Dikutip dari: http://www.al-amien.ac.id [...]

  27. Yuri_bandung Says:

    Walaupun saya hanya 2 thn mondok di al-amien tp Pak kiai sudah memberikan bnyk inspirasi bwt sy. Allhamdulillah atas izin Allah Sy beserta rekan” disini sedang mencoba mengamalkan ilmu dr pak kiai dngn merintis sebuah pondok modrn yg sudah berjalan 4 thn dan alhamdulillah sudah di huni oleh 50 santriwan/santriwati. Mohon do’anya dari Pak kiai untuk kemajuan lembaga ini. Syukron kasiron, mohon maap sy telah lancang

  28. yudha jaya Says:

    barakallohu alaika ya ustadzi..mengutip potongan ayat 2 surat al-mulk di atas, saya ingin melanjutkan bahwa perbuatan kita dilihat dari dua hal saja; hati yang ikhlas (semata-mata Alloh SWT) dan perbuatan kita sesuai ajaran Islam. menurut saya ketulusan amal saja tidak cukup ketika harus melanggar aturan alloh SWT. contoh seorang yang tulus melayani orang lain dalam transaksi ribawi jelas itu haram.

  29. Hj. Lien Herlina,SE Says:

    dua tulisan pak kyai sudah saya simak’ alhamdulilah sarat dengan makna meski saya bukan alumni pontren manapun tapi saya sependapat iman saja tidak cukup tapi harus bersinergi ketiga unsur iman ,ilmu dan amal dengan landasan ke ikhlasan .teriring do,a semoga pak Kyai sehat dan selalu dalam lindunganNya . lien bandung

  30. mta crew Says:

    Artikel penyejuk jiwa yang sungguh bermanfaat. Terutama untuk mengokohkan semangat dan ghiroh untuk mengaplikasikan Motto Pondok

    Mohon ijin untuk mengutik

  31. mta crew Says:

    Artikel penyejuk jiwa yang sungguh bermanfaat. Terutama untuk mengokohkan semangat dan ghiroh untuk mengaplikasikan Motto Pondok

    Mohon ijin untuk mengutip

  32. adnan hasan_Buton Says:

    waLau mata tak bertatap TeLingapun kadang tak mendengar namun goresan nasehat ini adaLah pengobat kerinduan dan penyejuk jiwa waLau tak semua kita Laksanakan tp motifasi ini adaLah pemberi wajah baru bagi ku…………….

    I Miss U Pon - Pes aL-amien………………….

  33. Ruslani Bondowoso Says:

    Allahumma ‘Allimna ‘Ilman Yanfa’una Wanfa’na bima ‘allamtana. Amien….Jazukumullah pak kiyai..Nyu’on barokah du’a epon.

  34. Ramdan Purnama Says:

    integrated points; iman-ilmu-amal… barakallah yaumik wa asa yaj Allahu lana hayatun thayyibah…..

  35. Ahmad Qusayri Says:

    tak terasa air mataku membasahi jiwaku yg kering bila mengingat pesan-pesan pak kiyai.semoga allah swt selalu memberi nikmat sehat, iman dan umur yg amat panjang kpd pak kiyai.amien

  36. khoirul anwar Says:

    sudah empat tahun saya meninggalkan pondokku tercinta namun rarsanya suasana has pondokku belum pergi dari benakku. subhanallah…semoga pondokku tetap jaya hatta yaumil kiyamah. amiem…….

  37. ainol yakin Says:

    saya akan masuk ke pondok.
    saya pernah mempunyai kakak yg bernama moh rosyd
    apakah anda kenal?
    jakarta.

  38. nurdinvijaylubis Says:

    sukroon kasiron.. ya ayahanda walaupn ananda dmedan sana, hati ananda hany pd almamater tercinta. banyk kenangan yg indh bersama SIECA 97 sekali lg mohon maaf ananda pd asatied dan mudhorok

  39. REZA RIHANI Says:

    mercy pak Kiyai, pesan ayahnda is always in my heart.

  40. faisal karnain Says:

    ya Allah berkahkanlah para kyai dan guru semua…….amin

  41. latifah sabit Says:

    saya rindu taujih jenengan kiyai, arju dua’akum…….

  42. latifah sabit Says:

    kiyai…ada beberapa hal yang ingin saya konsultasikan ke jenengan..saya guru MA di sebuah desa yang mayoritas pendidikan agamanya minim sekali. beberapa hal yang pernah saya alami di pondok saya praktekkan disana dan al-hamdu walau masih harus terus membenahi tanpa bosan ada hasil yang memamg tidak maksimal pi saya akan terus berusaha. dan sekarang saya diberi amanat untuk merintis MI yang akan segera didirikan diangkat sebagai kepsek MI merupakan amanat yang berat…maka dari itu saya mohon doa, saya akan sellu rindu dengan iman,amal,ilmu. saya selalu haus akan nasehatmu, saya mohon doa dari segenap semua redaksi.

  43. anis wahdi Says:

    sesuai dengan falsafah pondok kita…

    BERIMAN SEMPURNA

    BERILMU LUAS

    BERAMAL SEJATI

    semoga ananda bisa menjalankan itu semua…. agar menjadi alumni yang membanggakan…

    alumni angkatan 26 (avicenna) di pulau dewata…

  44. Abu Aziz Says:

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Alhamdulillah, Pak Kiyai, saya minta izin meng copy paste tulisan pak kiyai, kemudian saya print dan saya sebarkan kebeberapa teman yang tidak biasa mengakses internet,saya merasa tulisan ini musti dibaca oleh orang banyak. mohon maaf dan terima kasih.

Beri Komentar :