Bila Malam Itu Malaikat
Ditulis pada 7 December 2008 - kategori : Karya Sastra - 3 Komentar - dibaca 281 kali
Matahari baru saja tenggelam di antara deru nafasku yang tersenggal-senggal. Aku sengaja berlari meninggalkan kepekatan yang memburuku. Begitu juga teman-temanku yang ada dalam pasukan ini. Magrib ini kami harus menemukan tempat persinggahan untuk sekedar berbuka puasa dan beristirahat untuk tidur. Hutan belantara yang baru saja aku lalui, bukan saja berbahaya karena binatang buasnya. Tapi lebih dari itu, aku berada di wilayah tempat musuhku bersemayam.
Sebetulnya aku dan seluruh temanku ini tidak sudi menyebut mereka musuh. Karena toh mereka juga adalah sama seperti kami, anak yang lahir dari rahim bangsa ini. Namun, apa boleh buat, aku hanya bawahan yang menuruti komando komandannya. Menurutnya mereka telah melanggar undang-undang negara ini, tepatnya ingin memisahkan diri dari kesatuan NKRI. GAM, begitu mereka menyingkat namanya dari suku kata Gerakan Aceh Merdeka.
Aku sangat membenci tugas ini, keluhku berapa kali pada Majlis, teman terdekatku di pasukan ini. Tugasku ini hampir-hampir membuatku stres. Apalagi ketika terbayang kembali dalam otakku seorang anak kecil yang meninggal terkena peluru nyasar dari senjataku. Aku begitu menyesal, aku masih ingat bagaimana darah kental itu merembas dari tubuhnya yang munyil. Peluru itu tepat menghujam ulu hatinya. Ketika itu, yang ada di mataku adalah banyangan anakku yang mungkin umurnya sama sepertinya. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya keluarga anak kecil itu, apalagi hari itu adalah hari pertama puasa yang bagi sebagian keluarga menjadi hari spesial.
“Aku akan puasa sebulan penuh Yah,” kira-kira begitu anakku Fauzan di awal bulan ramadhan tahun lalu. Ah, begitu sedihnya orang tua anak itu.
Kami tiba pada sebuah rumah yang cukup besar, tepat ini cukup bagi 20 orang yang ada dalam pasukan ini. Komandanku segera memohon agar pemilik rumah itu mempersilahkan kamu untuk tinggal semalam di rumahnya. Tanpa keberatan sedikitpun lelaki yang berada di beranda rumah itu menganggukan kepala.
“Ramadhan penuh berkah, tidak baik bila menolak tamu seagung bapak tentara sekalian,” begitu ujarnya.
Teman-temanku tersenyum mendapat perhatian yang cukup baik. Karena tidak semua orang Aceh mau membantu tentara seperti kami. Medan di Aceh sangat sulit diprediksi, banyak warga aceh yang tidak bersedia menerima kehadiran kami di rumahnya. Karena tidak jarang setelah mereka membantu kami, mereka didatangi oleh pihak GAM dan diancam dengan segala hal, hal ini benar-benar meneror batin warga Aceh sendiri.
***
Malam ini aku tidak bisa tidur, aku begitu resah, benar-benar resah. Bayangan wajah anak yang kutembak dua hari lalu kembali menghantui, suaranya yang samar terdengar yang memanggil-manggil bapak dan ibunya itu begitu pilu dan aku tak sanggup membendung suara yang membayang itu.
Aku memutuskan pergi ke masjid yang tak jauh dari rumah ini. Aku berpamitan dengan temanku yang saat itu sedang bertugas jaga takut-takut ada serangan mendadak dari pihak lawan.
Nyanyian syahdu binatang kecil malam, tarian rumput dengan melodi resik dedaunan membuatku sedikit terhibur. Setidaknya, aku bisa merasakan ketenangan walau hanya untuk sementara waktu.
“Mas benar mau pergi?” tanya istriku. Seperti biasa nadanya terdengar amat cemas. Bila seperti itu aku tidak tega memandangnya, aku sedikit menunduk dan menyeruput teh hangat yang disediakan istriku.
“Sebentar lagi Ramadhan, Mas tidak mau bersama keluarga lagi. Anak kita sudah berumur 5 tahun, ia juga butuh kasih sayang, butuh kebersamaan seperti anak lainnya,” lanjut istriku. Aku kembali terdim, aku berpikir jawaban yang tepat agar istriku tidak begitu kecewa kepadaku.
“Bukan aku tidak mau bersama keluarga. Tapi ini memang tugas yang harus kuemban dan kamu harus mengerti itu sayang, pahamilah suamimu ini…,” aku menunggu reaksinya, ia terpekur. Wajahnya yang putih tampak cerah, kerudung birunya membungkus rapih kepalanya.
“Ayah…,” kemudian anakku datang kepadaku dan menggelantung manja di tanganku.
“Ayah tidur bareng Ardi malam ini yah?”
Aku menatap wajah istriku, mungkin ini adalah jawaban yang ia haturkan kepadaku.
Ah…, begitu resahnya dada ini. Betapapun anak adalah permata keluarga yang begitu indah. Dan anak yang kutembak itu… tangisan itu… ah lebih dari sebuah kesedihan yang melampaui batas sekalipun.
Aku membenamkan diriku dalam dzikir setelah aku sampai di masjid. Tuhan, bila seribu dzikir ini mampu membuat segala kegundahan dan keresahan ini hilang, maka aku akan melapalkan lebih dari itu. Namun, semua benar-benar tampak sebagai bayangan keharuan yang amat mendalam. Aku ketuk pintu-Mu Tuhan, aku ketuk. Ampunilah aku, ampuni…
Sekelebat bayangan kurasakan tiba-tiba masuk ke dalam masjid ini. Aku mencoba melihatnya. Ternyata orang itu, orang yang telah dengan ikhlas mempersilakan kami tinggal untuk beberapa saat. Ia tampak terperanjat, ketika melihatku tengah berada dalam masjid itu.
Namun orang itu tampak menguasai dirinya dengan baik. Ia memberikan senyuman ramahnya kepadaku, aku membalasnya dengan senyuman yang tak kalah ramah. Ia kemudian shalat tak jauh dariku. Aku pikir aku butuh teman untuk mencurahkan segala kegundahan hatiku. Tak lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengobrol dengannya.
Orang itu sangat familiar sekali, ia menanggapi semua yang aku ceritakan dengan amat antusias. Aku pun kemudian menceritakan segala hal yang meresahkan hatiku selama ini. Termasuk tentang seorang anak Aceh yang telah aku tembak.
“Aku benar-benar merasa bersalah. Aku tidak bisa membayangkan betapa orang tua itu amat menderita …,” ujarku lirih.
Akupun kembali teringat anak laki-lakiku yang sering membanggakan diriku sebagai tentara. “Aku ingin menjadi tentara seperti ayah,” kata-kata itu terus membayang dalam pusara kenangan masa lalu.
Ia menatap mataku yang berkabut, tampak ia begitu terharu dengan cara pandangku. Tidak banyak tentara yang memiliki cara pandang sepertiku. Atau mungkin ia merasa heran pada diriku, karena selama ini tentara lebih banyak meresahkan warga dengan adanya beberapa penyiksaan terhadap warga sipil, khususnya mereka yang dianggap memiliki hubungan dengan GAM.
Aku menatap lelaki itu, namun laki-laki itu seakan memberikan suatu misteri padaku. “Bila malam itu malaikat, niscaya tidak ada seorangpun yang berbuat jahat. Dan baru kali ini aku melihat tentara seperti kau yang menjadikan malam itu malaikat!” ujarnya sambil memandang pekatnya malam itu.
Namun, percakapan kami terhenti dengan lecutan senjata menembus kening malam. Tak lama pertempuran kecilpun terjadi. Aku ingin bergegas ke sana. Namun orang tua itu menahanku untuk tidak beranjak.
“Aku yakin tak seorang anakpun di dunia ini yang mau menjadi yatim,” terangnya padaku. Kemudian ia berjalan menuju mimbar dan menasehatiku untuk menetap di sana. “Jangan bertindak gegabah. Untuk saat ini kau cukup mengikuti intruksiku.”
Aku mengikuti orang tua itu. Aku tidak mendengar lagi lecutan senjata. Aku yakin para tentara yang baru bangun tidur itu tak sanggup menanggulangi serangan mendadak.
Beberapa tapak kaki terdengar mamasuki masjid. Aku mendengar percakapan kecil antara orang tua itu dengan beberapa sosok yang aku yakini sebagai GAM.
“Sudah kau bunuh?” tukas mereka. Tak begitu jelas orang tua itu menjawab. Namun kekecewaan orang yang baru saja datang membuat jawabannya semakin jelas.
“Kabur? Bagaimana kamu ini? Aku sengaja memberitahumu bahwa tentara yang membunuh anakmu itu ada di masjid. Kalau aku tahu begini jadinya, akan aku bunuh dengan tanganku sendiri.”
Nada kekecewaan itu tampak pergi seirama dengan suara tapak kaki mereka yang tampak begitu berat. Aku tak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu padaku. Namun, aku hanya bisa merenungi kata-kata yang ia ungkapkan padaku. Kau juga telah menjadikan malam ini malaikat, Pak!
Langgar Batuporo Timur
Kedundung Sampang, 15 Nop. 06
Syarif Hidayatullah. Alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2006 asal Depok. Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Internasional antar Siswa tahun 2006 yang diadakan oleh FLP dan Universitas Negeri Jakarta.


kaifa haluk? pemuja sastra para Alumni
alhamdulillah bagus. teruslah nulis…
jadikan semua itu langkah menuju hidup serahmu di masa depan