Demokrasi Relegius

Ditulis pada 30 November 2008 - kategori : Galeri Buku, Karya Asli - 4 Komentar - dibaca 199 kali

demokrasi-relegius-idris-thahaJudul Buku : Demokrasi Relegius
Penulis : Idris Thaha*
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun Terbit : Januari, 2005
Tebal : 378 hlm.

Inilah buku pertama yang membahas secara komperatif dan kritis pemikiran politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais, dua tokoh Muslim Indonesia mutakhir, tentang hubungan Islam dan demokrasi. Cak Nur, demikian Nurcholish Madjid dikenal, berhasil memisahkan beban-beban politik kaum Muslim Indonesia dari stigma pendukung negara Islam. Ia sekaligus mengangkat beban psikologis umat dari kungkungan pemikiran sempit mengenai negara melalui pembaharuan pemikiran Islam.

Namun jika Cak Nur lebih banyak berada pada dataran ide-ide semenjak masih sebagai aktivis, maka Amien telah melangkah jauh ke dataran praksis politik. Sempat menjadi “penentang keras” rezim Orde Baru, memimpin reformasi, mendirikan partai politik, dan menjabat Ketua MPR RI, ia kemudian ikut mengantar demokrasi kepada alam baru lewat pemilu langsung presiden dan legislatif, demokrasi kepada alam baru lewat pemilu langsung presiden dan legislatif.

Sebagai pewaris sebutan “Natsir Muda” dari mendiang M. Natsir yang dikenal dengan demokrasi teistikya, kedua berhasil menunjukkan secara elegan bagaimana pelembagaan nilai-nilai spiritual Islam ke wilayah politik praktis. Cak Nur dan Amien, pada akhirnya, menjadi contoh par exellence bagi apa yang disebut dalam buku ini sebagai demokrasi religius.

* Idris Thaha, alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 1986. Kini tercatat sebagai dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Bookmark artikel ini pada :

Ada 4 Komentar pada :
“Demokrasi Relegius”

  1. Mukti Ali Says:

    Demokrasi Religius, saya termasuk pendukung buku ini dan penting untuk dijadikan refrensi dalam membangun politik bangsa yang kehilangan arah..

  2. yudha jaya Says:

    Sayyid Quthub pernah menerangkan tentang perbedaan satu kaum dengan kaum lainnya, diantaranya pola pikir, hati nurani, akhlak, pandangan hidup. Kemudian beliau menerangkan juga:
    “Rasulullah melarang kaum muslimin bertasyabbuh dalam pakaian dan penampilan, gerak dan tingkah laku, perkataan dan adab. Rasulullah juga melarang kaum muslimin untuk menerima (hukum/aturan/ideologi) selain dari Allah SWT.

    demokrasi tidak akan pernah match dengan Islam, walaupun dipaksakan.

  3. yudha jaya Says:

    secara spirittual, politk Islam memiliki formula khusus yang vis a vis berbeda dengan demokrasi,

  4. zainal ar Says:

    Demokrasi kok Religius??? kalo religius ya langsung sistim islam aja, demokrasi itu khan falsafah bikinan manusia… kalo hukum kehidupan (politik, ekonomi, dll) ya harus mutlak hukum Qur’ani dan Hadits…

    demokrasi=sekularisme=penderitaan rakyat

Beri Komentar :